A N U
G E R A H

T E R
I N D
A H
By : ATHIYAH KARIM
ANUGRAH
TERINDAH
Suasana dikampus pagi cukup padat, khususnya dikelas
mahasiswi semester 6, yang lagi ngadain rembukan, soalnya pada mau praktek,
begitupun juga dengan “ Dina Amaliyah “ mahasiswi terbaik dikampus jurusan
Kebidanan Universitas “ UI “ Jakarta, gadis berjilbab nan cantik ini menjadi
ketua diskusi para mahasiswi dan dosen-dosen. Akhirnya tempat tugas praktek
udah ditetapkan dan Dina mendapat tempat tugas dirumah sakit “ Islami “ Jakarta, kawasan Jakarta
Utara.
“Alhamdulillah
akhirnya tibalah saat untuk bertugas.“ ucap Dina lirih menyambut tugas yang
akan ia laksanakan selama 6 bulan kedepan dengan penuh gembira.
Senin pagi yang cukup cerah secerah hati Dina yang
mulai bersiap-siap untuk praktek pertamanya dirumah sakit yang cukup ternama di
Jakarta Utara, rumah sakit Islami, dan Dina tidak sendiri, ia dan keenam
kawannnya bertugas ditempat tersebut, Lia, Efi, Sinta, Devi, Rohmah.
Setibanya dirumah sakit, mereka disambut dengan ramah,
sempat ada interview juga, tapi sayang sang pemimpin alias ketua dokter disana
sudah tidak ada, beliau sudah pensiun dan akan segera digantikan oleh putranya
yang masih berada si Singapura untuk mengadakan
penelitian dan study banding
disana, baru satu minggu kemudian datangnya. Jadi, Dina dan kawan-kawan tidak
bisa praktek hari itu juga , musti nunggu pimpinan dulu, karena beliau yang
akan mengatur tugas-tugas mereka. Jadi, hari itu mereka hanya mempelajari
keadaan rumah sakit, dan berkeliling-keliling menyapa dan berkenalan dengan
seluruh jajaran staf dirumah sakit yang cukup besar itu.
“Waaah…rumah
sakit ini bangunannya indah sekali ya Din?” ujar Lia seraya mengamati
bangunan-bangunan di rumah sakit tersebut.
Dina
yang mendengar celotehan Lia Cuma senyum-senyum aja, begitupun juga dengan
kawan-kawannya yang lain, maklum, biar udah di Jakarta, Lia yang asalnya dari Madiun ini
masih terlihat agak kolot. He…he…he…
1 minggu kemudian. Dina dan kawan-kawan sedang menunggu
diruang meeting yang ada di rumah sakit tersebut sambil berharap-harap cemas,
semua pada diam.
“Din…?!”
Sandra memulai pembicaraan.
“Ya
San ada apa?” Sambut Dina ramah, ia memang memiliki sifat yang ramah, lembut,
supel, sehingga Dina mempunyai banyak sekali teman.
“Kira-kira
tugas kita ntar berat gak ya?” Sandra cemas.
“Tenang
San, insya Allah apapun itu, kita pasti bisa melewatinya, selama kita
benar-benar mau berusaha.”
“Oh…gitu
ya Din, makasih!”
“Kira-kira
ketua rumah sakit ini sapa ya?” Devi penasaran.
“Alaaah…paling-paling
juga udah bapak-bapak, udah tua, aduh…moga-moga gak galak aja, kalo menurut
bayangan gue sih, ini pak ketua orangnya pasti gemuk, kumisnya tebal,
galak…aduh enggak banget deh.” Sinta membayangkan, teman-temannya pun pada cekikikan.
Tak berapa kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara
pintu dibuka, lalu…
“Assalamu’alaikum
warohmatullahi wabarokatuh, selamat pagi!” Sapa pak ketua.
Dengan
serempak mereka menjawab
“Wa’alaikumsalam
warohmatullahi wabarokatuh.”
Dan betapa terkejutnya mereka menatap sosok pria yang
berada dihadapan mereka bukanlah seorang bapak-bapak tua yang gendut, berkumis
tebal dan galak, seperti apa yang telah dibayangkan oleh Sinta, melainkan
seorang pemuda tampan, berkacamata, putih, tinggi, tegap, tubuh atletis,
berkumis tipis, ditambah lagi dengan bibirnya yang yang merah tipis dan janggut
didagunya yang sedikit tak telalu tebal, wajah-wajah agak Chinese gitu deh….
Mirip ama actor china Jimmy Lin
Kontan semua cewek-cewek yang masih duduk dibangku
kuliah itu pada tertegun dan terpesona dibuatnya. Apalagi pemuda tersebut
terlihat sangat ramah, disiplin, rapi, wangi, dan santun, friendly banget
lagi…waaah gak kukuh.
“Mari
silahkan duduk!” Pemuda tersebut mempersilahkan, dan semuapun mulai duduk dan
pada interview, dengan introduction terlebih dahulu.
“Perkenalkan
nama saya Muhammad Fahmi Ar.Royan, panggil saja dr.Fahmi, saya bertempat tugas disini baru 1 tahun,
sebagai dokter umum dan juga spesialis anak. Mudah-mudahan selama mbak-mbak
bertugas disini bisa merasa nyaman, tenang, dan puas kalopun ada hal-hal yang
kurang difahami nantinya tidak usah sungkan-sungkan untuk bertanya dan saya
juga mohon maaf karena terlambat menyambut anda semua disini karena saya masih
ada tugas diluar negeri.”
“Ah…gak
apa-apa kok Mas, eh maaf dokter!” Celetuk Efii sekenanya.
Semua
pada tertawa mendengar celetukan Efi.
“Untuk
tugas-tugasnya sudah saya serahkan kepada Ibu Latifah, beliau adalah dokter
spesialis kandungan terbaik dirumah sakit kami, dan anda juga bisa menghubungi Ny.Lasmi
selaku bidan disini, oh ya perlu anda semua ketahui bahwasanya disini kami juga
memiliki beberpa peraturan yang harus ditaati oleh semua karyawan, pekerja, dan
staf dirumah sakit ini yaitu yang pertama adalah : setiap waktu sholat tiba,
kami mengadakn sholat jama’ah secara bergantian, kecuali yang beragama non
islam dan bagi semua karyawan dirumah sakit ini yang muslimah kami wajibkan
untuk memakai jilbab, kecuali yang non muslimah, bagaimana? Sanggup?” tanya
dokter Fahmi, seraya melirik Sandra, Sinta dan Evi yang tidak mengenakan
jilbab,
Mereka bertiga hanya menjawab dengan angggukan kepala
saja, walau sebenarnya mereka agak keberatan juga.
“Baiklah
kalau begitu, cukup begini saja dulu, mengenai hal-hal lain yang belum anda
semua pahami, bisa ditanyakan kepada Ny.Latifah dan Ny.Lasmi selaku pembimbing
anda semua nanti. Selamat bertugas dan semoga sukses!” Sambut dr.Fahmi
mengakhiri,
Tiba-tiba Sinta nekat mengulurkan tangannya untuk
berjabat tangan dengan dr.Fahmi, namun sayang dr.Fahmi menyambutnya hanya
dengan mengatupkan kedua tangannya, sebagai tanda bahwa ia tidak terbiasa dan
tidak bisa berjabat tangan dengan lawan jenisnya yang tidak mahrom. Sintapun
mengerti, ia Cuma cengingisan aja dan jadi tersipu malu.
“Assalamu’alaikum!”
Lanjut dr.Fahmi seraya meninggalkan ruangan diskusi.
“Wa’alaikumsalam.”
Jawab 6 gadis tersebut serempak.
Ketika si dokter tampan udah pergi, gadis-gadis itupun
pada ngerumpi
“Uhh…dasar
tuh orang, sombong banget sih? Udah bikin aku tengsin lagi.” Ucap Sinta yang
lagi ngedongkol, dan kawan-kawannya pun pada ketawa-ketiwi.
“Lagian
kamu, ngapain sih pakek nyulurin tangan segala!” sambung Efi.
“Ih…sebelnya
peraturannya itu loh yang musti ngewajibin kita pakek jilbab, aku kan paling gak suka,
udah gerah, panas lagi, jadi gak keliat lagi deh rambut indahku ini, mana abis
rebonding lagi.” Sandra ngomel.
“Sabar
San, coba aja dulu, secara perlahan-lahan, insya Allah kamu bisa kok!!!”
Nasihat Dina.
“Eh…eh…tapi
tu dokter tampan banget loh…waaah…jangankan 6 bulan, 6 tahun atau bahkan sampai
60 tahun gue betah pastinya lama-lama tugas disini?” Devi menghayal.
“Huh..mimpi
kali yee…..langkahi dulu mayatku” balas sinta,
“Alaaaah….kalian
apa-apaan sih, paling-paling dia juga udah punya anak punya istri dan………aku mau
loh…..jadi istri keduanya hihihihi……..”sambung Rohmah mengharap,
sementara
Dina cuma senyum-senyum saja mendengar kawan-kawannya yang lagi ngerebutin dr.
Fahmi,
“Eh….Din,
loe kok diem aja sih?” Tanya Sandra yang ngeliatin Dina dari tadi cuma
senyum-senyum saja.
“Gak
ah…aku gak ikutan” ucap Dina seraya tertawa pelan, meski sebenarnya ia agak
kagum juga sama dokter tampan dan sopan itu,
“Tapi….jaman
kayak gini jarang sekali ada cowok yang nolak bersalaman dengan cewek, malah
kebanyakan si cowok dulu yang mulai hmmm…..bener-bener alim kayaknya pemuda itu
pasti beruntung sekali wanita yang bisa mendampinginya” Dina bergumam dalam
hati.
Tak terasa satu bulan telah berlalu, Dina dan
kawan-kawan pada sibuk dengan tugas-tugasnya memeriksa ibu-ibu hamil, merawat
bayi-bayi yang baru di lahirkan, memeriksa balita-balita yang sedang sakit,
bahkan sampai membantu proses persalinan, dan Efi, Sandra serta Sinta,
merekapun telah berjilbab. “Din..ternyata pake jilbab itu enak ya? Adem banget
rasanya, kepala juga gak kepanasan kalo pas lagi kena sinar matahari langsung,”
ujar Sandra suatu ketika,
”Alhamdulillah…seneng
deh rasanya, akhirnya kamu pake jilbab, itu memang kewajiban kita untuk pake
jilbab menutup aurot kita San” nasehat Dina lagi.
“Ntar
ajarin aku make jilbab yang bener ya Din?” pinta Sandra,
Dina
yang sedari kecil udah terbiasa memakai jilbab, mengiyakan permintaan Sandra,
begitupun juga dengan Efi dan Sinta,
“Sejak
bertugas di rumah sakit ini, hati aku jadi merasa tenang banget Din, apalagi
sejak kita di wajibkan sholat berjamaah bareng-bareng tiap waktu, aku jadi on
time juga sekarang sholatnya, Jujur aku dulu suka bolong-bolong sholatnya,” Efi
berkisah,
“Alhamdulillah
ada hikmahnya juga kita bertugas disini, Allah udah memberikan hidayah-Nya
kepada kita semua,” sambut Dina lega melihat perubahan-perubahan positif pada teman-temannya.
Saat lagi asyik ngobrol pada jam
istirahat, tiba-tiba terdengar suara bedug yang sudah bertalu-talu dari masjid
sebelah rumah sakit yang sudah di bangun oleh si empunya rumah sakit itu.
“Eh
udah waktunya sholat, kita sholat yuk ?”, ajak Rohmah,
mereka pun bersama-sama berjalan menuju
masjid, sementara Lia, ia lagi nunggu dan duduk-duduk di taman deket masjid,
karena lagi berhalangan, lagi dapet cuti gitu deh…
Bangunan masjid dan rumah sakit tak kalah megahnya,
interiornya begitu indah, dinding-dinding yang di hiasi dengan keramik berwarna
coklat, lantainya pun di beri permadani yang indah pula, membuat siapapun yang
beribadah disana merasa nyaman dan dapat beribadah dengan khusyuk, ditambah
lagi dengan suasananya yang sejuk nan teduh karena di sekitar masjid ada
pohon-pohon besar yang cukup rindang, kebersihannya pun terjaga dengan baik.
Saat lagi pada sibuk melepas sepatu, tiba-tiba
muncullah sosok sang idola, siapa lagi kalo bukan dr. Fahmi, terlihat ia lagi
buru-buru dengan wajah yang masih agak basah karena habis wudhu’, serta
tetesan-tetesan air yang sesekali masih menetes dari sebagian rambut kepalanya
yang agak jabrik, menambah ketampanan sang dokter, ia berjalan terburu-buru
menuju masjid, sementara tangan kanannya terlihat membawa Alqur’an kecil.
“Eh…..eh
itu kan si
Mr. tampan”, ujar Devi memberitahukan kepada semua teman-teman,
maklumlah
walau bekerja dalam satu rumah sakit, mereka jarang bertemu, apalagi dr. Fahmi
sangat sibuk sekali, ia mempunyai banyak sekali pasien, apalagi sebagai dokter
umum dan dokter specialis anak, pelayanannya terkenal sangat ramah, sabar, baik
dan telaten pada semua pasien-pasiennya, begitupun sebagai pemimpin , ia sangat
tegas, mandiri, ramah, rajin serta disiplin, sosok pekerja keras, ia juga
dikenal sangat ramah kepada semua orang, pada saat lagi bertugas, ia
benar-benar tegas dan disiplin, sedang di luar tugas, dr. Fahmi juga di kenal
humoris dan suka bercanda.
“Assalamualaikum”
sapa dr. Fahmi,
“wa’alaikumsalam”,
sahut enam gadis itu,
setelah
menyapa enam gadis tersebut, dr. Fahmi langsung pergi seraya tersenyum, ia pun
langsung masuk ke dalam masjid, rupanya ia mau mengaji sebentar sebelum adzan dii
kumandangkan.
“Idih….tuh
orang kok kayaknya cuek gitu sih ama cewek?”, seloroh Devi,
”iya
tuh” sambung Sandra,
sementara
Dina, ia kagum,
“Hari
gini masih ada pemuda yang mau meluangkan waktunya untuk membaca Alqur’an
sebentar di sela-sela kesibukannya”, kata Dina di dalam hatinya walau
sebenarnya ia juga suka mengaji.
Setelah selesai sholat berjama’ah, sebagian karyawan
dan pekerja dirumah sakit itu pada makan siang di kantin rumah sakit, kantin
khusus para karyawan, Dina dan kawan-kawannya pun ikut makan siang di kantin,
setelah memesan makanan, merekapun duduk berkelompok, tak di sangka-sangka terlihat
dr.Fahmi lagi jalan bareng dr. Daniel, sahabat karibnya sejak masih duduk dii
bangku sekolah SMA, rupanya sang dokter lagi memesan secangkir kopi,mereka
asyik bercanda, bahkan saking asyiknya, sesekali terlihat dr. Daniel usil
menggelitiki pinggang dr. Fahmi yang suka geli, melihat pemandangan seperti
itu, enam gadis tersebut jadii ikutan cekikikan,
“Eh
liat tuh dr. Fahmi, dia lagi kegelian, lucu ya?” komentar Devi seraya tertawa,
“
Eh …eh denger-denger kalo cowok ataupun cewek suka
geli, pasangan hidupnya ntar dapat yang cantik atau tampan” sambung Lia,
“
Ah masak sih ?” komentar Rohmah
“
Eh Dina kan
gelian juga” Rohmah mengingatkan,
“Apaan
sih?” Dina membantah,
“Waaaahhh….serasi
nih yeee….”, seloroh Sinta,
mereka
pun asyik bercanda juga dan gak di duga-duga dr. Daniel dan dr. Fahmi nyamperin
mereka,
“Assalamualaikum!”,
Ke
enam gadis itu pada terkejut,
“
waalaikumsalam” jawab mereka,
“
Lagi pada makan siang ya?” sapa dr. Fahmi,
“
iya dok” sahut Lia,
“ dokter udah ?” sambung Efi,
“
sudah nih” jawab dr. Fahmi singkat seraya menunjukkan rantang makanan
bontotannya,
“oh…..lagi
menikmati masakan istri ya dok?” lanjut Efi,
dr.
Fahmi yang mendengar pertanyaan Efi langsung tertawa seraya melirik dr. Daniel
tanpa menjawab, dr. Fahmi langsung pamit untuk kembali melanjutkan tugasnya,
“
saya duluan ya? Assalamualaikum !”,
“waalaikum
salam!” jawab enam gadis itu serempak.
“dr.
Fahmi itu masih lajang, dia belum punya istri, makanan yang dia makan itu
masakan bundanya, dia orangnya gak suka makan diluar, biasa….anak mama” kisah dr.
Daniel yang juga ramah,
“
waaaahhhh….beneran dok? dr. Fahmi masih lajang ? kirain……” sambung Sandra.
“Iya
dia masih lajang, memang sih usianya udah 27 tahun dan bundanya masih suka
maksa dia buat segera menikah”,
”masak
sih dok?” Rohmah semangat,
“kenapa? Kamu mau?” sambung dr. Daniel,
merekapun
pada ketawa,
“ogah
ah dok, saya sih udah punya tunangan” kisah Rohmah,
“kalo
Dokter udah punya istri?” Tanya Sinta, dengan semangatnya dr. Daniel menjawab
“
udah dong, masak pria tampan seperti diriku ini belum laku?” canda dr. Daniel,
mereka
semua pun tertawa hingga akhirnya mereka kembali pada tugas masing-masing.
Waktu demi waktu tak terasa terus berjalan dan pada
suatu ketika……
”Dina?”
dr.Latifah sang pembimbing memanggilnya,
“
iya bu ada apa?”,
“
kita hari ini ada meeting sebentar, kamu ikut ya?” ajak dr. Latifah,
“baik Bu!” jawab Dina mantap,
“
ya sudah kalo begitu kita kesana sekarang, kita sudah di tunggu sama dr.
Fahmi,” ajak dr. Latifa,
mereka
berduapun berjalan bersama-sama menuju ruang meeting, rupanya ada hal penting
yang akan di bahas dan rapat pun di mulai…,
dr.
Daniel yang menjadi pimpinan rapat kali ini.
“Assalamualaikum
Warohmatullahi Wabarokatuh, Selamat siang!”
“waalaikum
salam warohmatullahi wabarokatuh”,
“
langsung saja saudara- saudara sekalian, begini, rumah sakit kita ini akan
melakukan pembangunan, kita akan membangun suatu ruangan dimana ruangan
tersebut akan menjadi ruangan khusus bagi anak-anak, ada ruang pemeriksaan dan
ruang rawat inap, karena kita tahu anak-anak sulit sekali bila di ajak berobat,
mereka takut kepada dokter, takut pada jarum suntik dan sebagainya, oleh karena
itu kami memiliki suatu konsep model dan bentuk ruangan tersebut, yang di dapat
dari dr. Fahmi, beliau sempat berkonsultasi dengan para arsitek ternama disana,
untuk gambaran jelasnya biarlah dr. Fahmi yang akan menjelaskan,
“
silahkan dr. Fahmi ?!’,
“terima kasih dr. Daniel, Assalamualaikum
warohmatullahi wabarokatuh………”,
dr.
Fahmi pun menjelaskan rancangannya yang ia gambarkan melalui proyektor dari
laptopnya, setelah menjelaskan bla….bla…bla, dr. Fahmi pun membuka ruang
diskusi, mempersilahkan para karyawannya untuk berpendapat atas rancangannya
itu. Semua bertepuk tangan dan bangga,
”
wah….bagus sekali Dok,” puji dr. Latifah,
tapi
tidak dengan Dina, ia pun segera menyampaikan aspirasinya,
“instruksi
Dok”, ujar Dina seraya mengacungkan tangannya,
“iya mbak silahkan”, dr. Fahmi jadi terkejut,
“
begini Dok, saya mohon maaf sebelumnya jika pendapat saya ini kurang berkenan,
tapi menurut pendapat saya rancangan itu terlalu mewah, terlalu canggih pula,
memang bagus, tapi pastinya akan membutuhkan dana yang cukup besar pula, dan
rancangan itu kurang sesuai dengan jiwa anak-anak yang masih gemar bermain dan
sebagainya, ini menurut saya”, ujar Dina tegas, “Hmmmm….anda punya konsep
rancangannya?” Tanya dr. Fahmi ramah,
Dina
pun terkejut, ia sama sekali tidak memiliki konsepnya,
“maaf
saya tidak punya Dok”, sahut Dina seraya menggigit bibirnya,
tapi
ia benar-benar gadis yang cerdas, berani memberikan kritik tapi ia juga
bertanggung jawab,dr. Fahmi jadi heran,
”
terus?” Tanya dr. Fahmi,
“
begini Dok, kalau saya di beri kesempatan, saya akan membuatkan konsep
rancangan bangunannya, bagaimana?” Dina menawrkan diri,
“Hmmm…baiklah
kalau begitu saya beri anda waktu satu hari satu malam untuk membuatnya, dan
besok anda sudah harus mempunyai konsepnya,karena proyek ini akan segera di
laksanakan sekitar 3-4 hari lagi dan saya juga sudah menghubungi arsiteknya,
bagaimana mbak? Bisa ?” Tanya dr. Fahmi,
Dina
bingung,
“apa?
Cuma satu hari satu malam? Bagaimana bisa aku menyelesaikannya dalam waktu
sesingkat itu?, tapi apa boleh buat, dia harus melaksanakan tugas itu sekaligus
sebagai penunjang nilai-nilai akademiknya supaya bisa lulus,
”
baik Dok, akan saya usahakan,” sahut Dina tegas.
Seusai rapat, Dina langsung mengutak-atik laptopnya,
merancang rancangan yang sesuai dan dengan dana yang tidak terlalu besar.
Sampai malam harinya Dina masih juga belum mendapatkan
ide, padahal jam udah menunjukkan pukul 02.00 WIB dini hari,
“
aduuuuhhh….gimana nih, padahal besok pagi udah mesti presentasi, “
“ya
Allah…..”, Dina bener-bener bingung dan ia memutuskan untuk sholat tahajjud
terlebih dahulu, matanya terasa panas sejak sore tadi, ia sibuk melototin
laptopnya, kepalanya juga pusing, hatinya gundah……Dan……..
“Alhamdulillah….akhirnya
kelar juga”, ujar Dina,
“
yess….besok pagi tingaal presentasi, mudah-mudahan hasilnya memuaskan, terima
kasih ya Allah…..” dan Dina pun segera beristirahat sejenak sebelum subuh tiba.
Esok paginya Dina segera menemui dr. Latifah dan dr.
Daniel, meetingpun kembali dimulai.
“Bagaimana
mbak, sudah selesai konsepnya? tanya dr. Fahmi,
“
sudah Dok, bisa dimulai presentasinya?” tanya dr. Fahmi lagi yang udah mulai
penasaran dengan hasil rancangan Dina,
“
siap Dok”,
Dengan membaca Bismillah Dina pun mulai
menyalakan laptopnya, ia sambungkan ke proyektor dan ia pun memulai
presentasinya, dan hasilnya benar-benar memuaskan, dengan rincian dana yang
tidak terlalu besar pula, semua orang dibuat kagum olehnya,pertanyaan demi
pertanyaan ia jawab dengan tepat. Hasil karyanya benar-benar memukau, dengan
rancangan kamar anak-anak yang di hiasi dengan hiasan dinding tokoh-tokoh
kartun kesukaan mereka, tempat tidur yang nyaman, ada tamannya juga dan
beberapa mainan, serta para perawat dan dokter yang memakai kostum yang
lucu-lucu dengan menggunakan kostum tokoh-tokoh pahlawan ataupun cerita
kerajaan, sehingga anak-anak jadi betah hingga mereka sembuh dan tidak takut
lagi pada dokter-dokter. Tepuk tangan yang begitu meriah di dapat oleh Dina, ia
merasa lega,
“
wah bagus, bagus sekali mbak,” puji dr. Daniel,
dan
sang pemimpinpun memberikan komentarnya.
“Sebelumnya
kami ucapkan terima kasih banyak atas usaha mbak Dina yang sudah merancangnya
dengan apik dalam kurun waktu yang begitu singkat, tapi kamu juga mohon maaf
karena kami tidak bisa……….” dr. Fahmi menghentikan kata-katanya,
semua
orang yang berada di ruang meeting tersebut jadi terkejut, suasanapun menjadi
tegang, begitupun dengan Dina, ia yang tadinya lega jadi lesu seketika,
“
maaf kami tidak bisa mengabaikan begitu saja, hasil karya mbak Dina kami
terima”, jawab dr. Fahmi seraya tersenyum,
“Alhamdulillaaaah”,
Dina jadi lega,
“
selamat ya mbak, kamu hebat”, puji dr. Latifah dan yang lain.
Tiga hari kemudian tiba-tiba aja Dina di panggil oleh
dr. Daniel ke ruangannya,
“
ada apa Dok?” tanya Dina,
“
begini mbak, dr. Fahmi sangat sibuk sekali akhir-akhir ini, dan dia butuh
seorang asisten, maukah kamu menjadi asistennya?”,
“saya pak?” Dina terkejut,
“iya,
Anda, bisa kan?”,
Dina bingung,
“
tapi saya kan
jurusan kebidanan Dok, bukan perawat ataupun spesialis anak”, Dina menjelaskan
jurusannya.
“Iya
saya tahu, saya rasa praktek kamu disini sudah cukup, saya juga termasuk orang
yang mengatur tugas-tugas kalian semua disini, dan ini tugas khusus buat kamu
karena menurut saya kamu seseorang yang
mempunyai kelebihan, bagaimana?” tanya dr. Daniel lagi,
“
Ah gak begitu juga Dok, tapi terima kasih banyak atas kepercayaan dokter kepada
saya, Baiklah jika menurut Dokter demikian, saya akan melaksanakan tugas ini”,
sahut Dina, walau dia masih agak ragu juga,
“
oke kalau begitu, besok pagi kamu sudah bisa bekerja di ruangan kamu, disebelah
ruangan dr. Fahmi, dan tugas kamu adalah mengurus jadwal presentasi, membantu
pemeriksaan, serta menemani dr. Fahmi menghadiri acara-acara seminar kesehatan atau
bahkan mewakilinya ketika dr. Fahmi sedang sibuk dan satu lagi membantu
menyiapkan segala keperluan dr. Fahmi, ok?”,
“
baik Dok, terima kasih banyak atas kepercayaannya, saya akan berusaha untuk
melaksanakan semua tugas-tugas itu dengan baik”,
“
oke!, dan ini adalah merupakan nilai plus buat kamu karena tugas ini pastinya
merupakan tantangan juga kan
buat kamu, yaaa..anggap saja ini adalah kuliah baru buat kamu dan kamu jadi
bisa punya pengalaman baru, iya kan
?” jelas dr. Daniel.
“Iya…
benar Dok, terima kasih Dok”, jawab Dina dengan mantap.
”
Hmm……benar juga kata dr. Daniel ini, bisa jadi pengalaman baru buatku”, kata
Dina dalam hati.
Dina
pun memasuki ruang tugasnya,ia mulai beres-beres dan bersiap-siap pindah ke
ruangan yang bersebelahan dengan dr. Fahmi, ia pun sempat ngobrol sebentar
dengan kelima temannya.
“Apaaaa
?? ” Devi terkejut mendengar cerita Dina
yang di angkat jadii asistennya dr. Fahmi,
“
kok nggak nyambung banget sih ? jurusan kebidanan malah dapat tugas jadi
asisten dan perawat anak-anak, gak ngaco apa ya?” komentar Devi,
“
iya tuh Din, salah orang kali tuh dr. Daniel?”, komentar yang lain,
“
ya enggaklah Vi, salah orang juga enggak mungkin, jelas-jelas aku yang di
panggil dan di pilih, udahlah, biar ini jadi tantangan dan pengalaman baru buat
aku, nah karena aku dah pindah tugas, sementara ketua kelompok kita biar di
gantikan ama Lia aja yah?”
”Okelah
Din kalau begitu, tapi selamat ya?! Semoga sukses !”,
Dina pun bersalaman dengan teman-temannya,
mereka saling berpelukan, tak lupa Dina juga mengucapkan banyak terima kasih
kepada dr. Latifah pembimbingnya, semua member ucapan selamat kepada Dina,
tiba-tiba
Sinta berkomentar,
“
ssssttt………eh…..apa jangan-jangan dr. Fahmi naksir kali ama Dina dan ini cara
dia buat ngedeketin Dina agar lebih mengenal lagi ama Dina”, ujar Sinta
berbisik,
“apaan
sih Sin?” sanggah Dina,
“ Emmm…udah…gaet aja sob, dari kita-kita kan Cuma elo yang belom
punya pasangan, moga jodoh ya?”, canda kawan-kawannya yang lain,
“
hey…hey…stop, please deh jangan ngawur donk, lagian mana mau dia sama
aku
? ” balas Dina,
“
hm…. Kalian pasti cemburu ya? Canda Dina,
merekapun semua pada tertawa.
Pagi ini Dina telah memasuki ruang tugas barunya,
sebuah ruangan yang cukup besar berada di lantai tujuh rumah sakit itu, ruangan
yang bersebelahan dengan ruang kerja dr. Fahmi, dinding-dinding pemisahnya adalah
kaca besar yang cukup bening dan tertutup oleh tirai tipis, selain itu
pemandangan kota Jakarta terlihat begitu jelas, karena semua dindingnya terbuat
dari kaca tebal nan bening, ditambah lagi dengan AC yang berada di ruangan
tersebut, menambah kesejukan di ruangan tersebut, ada televisi dan ruang tamu
juga sebagai ruang konsultasi antara dokter dan pasien. Fasilitas di ruangan
tersebut cukup lengkap, dii meja kerja Dina juga sudah ada computer dan laptop,
jadi ia tidak perlu lagi menenteng laptopnya kemana-mana. Kondisi ruangan ini
juga cukup rapi, begitupun juga dengan ruang kerja dr. Fahmi, terlihat sangat
rapi. Kali ini Dina datang lebih awal, rupanya dr. Fahmi masih belum datang.
Dina mempunyai kesempatan untuk beres-beres terlebih dahulu. Lima belas menit kemudian dr. Fahmi datang,
ia pun menyapa asisten barunya itu,
“
Assalamu’ alaikum, selamat pagi”, sapa dr.Fahmi,
“
Waalaikumsalam, selamat pagi juga Dok”, sahut Dina,
dr.
Fahmi agak terkejut juga karena Dina yang menggantikan
dr.
Siska, asisten lamanya yang diangkat
menjadi PNS dan bertugas di tempat lain.
“
Loh…jadi mbak yang jadi asisten saya sekarang ?” tanya dr. Fahmi,
Dina
tampak bingung kenapa dr. Fahmi bertanya demikian,
“iya
Dok, memangnya kenapa? Ada
apa ?”, tanya Dina.
”
Oh….enggak…enggak ada apa-apa, ya… kalo begitu selamat bertugas ya, semoga
sukses !”, sahut dr. Fahmi singkat,
“
baik Dok, terima kasih”, Dina pun merasa lega,
sementara
dr. Fahmi, ia sedang memikirkan sesuatu, seraya memainkan dagunya,
“
ini pasti kerjaan si Daniel”, gumamnya lirih,
ia
pun segera keluar kembali dan menemui dr. Daniel.
“ Assalamu’ alaikum” sapa dr. Fahmi,
“Wa’alaikumsalam,
eh apa kabarmu sob pagi ini?” sahut dr. Daniel.
“Dan,
kamu apa-apaan sih? Aku kan minta asisten yang
sudah berpengalaman, ya… maksudku ibu-ibu gitu seperti ibu Siska, kenapa kamu
malah nyuruh mbak Dina, dia kan
lain jurusan ?” protes dr. Fahmi.
“Oh…jadi pagi ini kamu nemuin aku cuma untuk
protes akan hal itu? selera kamu jelek banget sih?” balas dr. Daniel.
“maksud
kamu?” dr. Fahmi tidak mengerti.
“Fahmi…Fahmi..,
masak dari dulu kamu minta ibu-ibu terus, sekali-kali yang muda lah biar
refresh, lagian aku lihat mbak Dina itu orangnya cerdas sekali, dia punya
potensi yang besar dalam dirinya, ya…aku tahu dia beda jurusan dengan tugasnya
sekarang, tapi please kasih dia kesempatan, aku yakin dia pasti bisa
menjalankan tugas ini, oke?!,” dr. Daniel memastikan.
“Yah…
terserah kamu saja”, sahut dr. Fahmi pasrah.
“Udahlah
bro, santai aja, gak usah ngedongkol gitu, oke…aku minta maaf, aku salah, tapi…ya masak kamu gak ada
sedikitpun waktu untuk mendekati seorang wanita, kamu kok kayak anti banget
sama wanita, sudahlah…lupakan masa lalu itu, tidak semua wanita jahat bro,ini
sudah saatnya kamu buka mata hati kamu, ingat usia kamu, jangan sampai deh kamu
jadi perjaka tua yang gak mau nikah”, jelas dr. Daniel,
sementara
dr. Fahmi cuma diam saja dan langsung beranjak pergi sembari mengucapkan salam.
Dina dapat mengerjakan semua tugas-tugasnya dengan
baik, tak terasa sudah tiga minggu ia bertugas sebagai asisten dr. Fahmi, ia
memang benar-benar gadis yang cerdas dan berdedikasi. Pelayanannya kepada
pasien begitu ramah, banyak pasien yang suka di rawat olehnya, terutama pasien
anak-anak, karena Dina juga sangat suka dengan anak-anak, dan suatu ketika
tanpa sengaja, dr. Daniel yang berjalan-jalan menjenguk para pasien, dia
melihat Dina yang tengah menyuapi salah satu pasien anak-anak dengan penuh
perhatian. “Eh….Fahmi…Fahmi…liat tuh ?!, itu kan si Dina”, ujar dr. Daniel.
“
Iya benar, memangnya kenapa?”, sahut dr. Fahmi agak cuek.
“
aku bilang juga apa, liat tuh banyak sekali pasien-pasien yang merasa nyaman di
rawat olehnya, terutama anak-anak, dia bisa mengerjakan semua tugas-tugas dari
kita, iya kan?,
dia sangat berbakat”, puji dr. Daniel yang melihat Dina dari kejauhan.
“iya”,
jawab dr. Fahmi singkat.
Disuatu siang yang cerah, terlihat ada seorang wanita
cantik berjilbab memasuki ruang kerja dr. Fahmi
”Assalamu’alaikum”,
sapa wanita itu,
“
Wa’alaikum salam”, jawab Dina.
“
dr. Fahminya ada ?” tanya wanita itu seraya membawa rantang makanan, rupanya
itu makan siang siang untuk sang Dokter,
“ada mbak”, jawab Dina singkat,
tak
berapa lama dR. Fahmi keluar dari ruangannya.
“Assalamu’alaikum,
hai sayang”, sapa wanita itu.
“Wa’alaikum
salam cinta, loh…sama siapa kesini?” sahut dr. Fahmi seraya langsung memeluk
wanita itu dan cipika-cipiki.
“
ya sendiri donk, nih aku bawain makanan kesukaan kamu “
“wah
asik nih, makan bareng yuk cinta?”, ajak dr. Fahmi,
“enggak
ah sayang, aku buru-buru, soalnya ada undangan di sebuah acara nih, aku pulang
dulu ya….jangan lupa makanannya di habisin loh….!”,
“pasti”,
jawab dr. Fahmi dan wanita itu segera pamit pergi.
“
Itu pasti kekasihnya dr. Fahmi, cantik juga”, gumam Dina lirih, karena biasanya
yang mengantar makanan dr. Fahmi adalah bundanya dr. Fahmi sendiri, tapi kali
ini adalah seorang wanita dan mereka berdua terlihat begitu mesra.
Pas jam makan siang, sehabis sholat, Dina ngumpul
bareng temen-temennya.
“Eh
gimana? Udah ada PDKT belom?” tanya Sandra pada Dina,
“
hush !….ngawur, jangan bicara sembarangan, dr. Fahmi itu sudah punya pacar’”,
jawab Dina.
“Loh…kok tau?” tanya Devi,
“
iya tadi ceweknya tuh datang kesini nganterin makan siang buat dr. Fahmi”, Dina
berkisah.
“Wah…cemburu
ya?”, goda Lia pada Dina.
“Apaan
sih, gak lucu tau? Sapa juga yang cemburu”, sanggah Dina,
“wah
sayang sekali gak kebagian”, ujar Sandra.
Di
suatu malam ……
“Fahmi….?!Fahmi….?!”,
bunda memanggilnya.
”iya
bunda?”, jawab Fahmi seraya menghampiri bundanya,
“makan malam sudah siap sayang”, ajak sang
bunda,
“iya
bunda”.
Pas
lagi makan, mereka juga saling berbicara serius,
“
kamu kapan mau nikah mi ? bunda udah gak sabar nih pengen segera punya cucu
lagi ”, tanya bunda.
“ Belum ada calonnya bunda”, jawab Fahmi
singkat.
“
Masak sih cowok setampan adik mbak ini gak ada yang mau? Perasaan banyak loh
cewek yang naksir sama kamu”, goda mbak Ella,
”
gak ada yang cocok mbak”, jawab Fahmi sekenanya,
“gimana
kalo bunda yang nyariin ?,”
“dijodohin
maksud bunda ?”, tanya Ella.
“
Iya”, jawab bunda singkat,
“gimana Mi?”, tanya bunda,
“yaaaaaa
…… terserah bunda aja lah”, sahut Fahmi singkat.
“
Kamu gak keberatan di jodohin?”, tanya mbak Ella,
“ya…kenapa
tidak Mbak, insya Allah pilihan bunda gak akan salah, kalo aku nyari sendiri
tapi gak cocok sama bunda kan ribet juga”,
jawab Fahmi seraya mencomot ikan tempe,
Bunda
cuma senyum-senyum aja.
“ Gini loh Mi, papa kamu punya sahabat karib
sejak waktu masih duduk di bangku kuliah dulu, nah sahabat papa kamu itu
seorang pengusaha sukses, dia punya banyak anak gadis, salah satunya mau di
jodohin sama kamu, gadis itu masih kuliah, kalo gak salah dia ambil jurusan
kesehatan juga, gimana?” tanya bunda.
“Yah….terserah bunda lah, apa yang menurut
bunda baik, insya Allah baik juga bagi Fahmi”, jawab Fahmi.
Hari ini di rumah Dina lagi ada acara hajatan,
yach….kakak Dina besok pagi mau menikah dan Dina lagi sibuk menghias tangan
kakaknya dengan henna,
“
eh Din, denger-denger nih, kalo ada gadis yang ngebantu menghias tangan
pengantin, konon katanya dia bakalan nyusul nikah juga”, ujar Lia.
Yah
temen-temen Dina itu lagi pada ngumpul di rumah Dina buat bantu-bantu.
”
Apaan sih, hari gini masih percaya kayak begituan?”, sanggah Dina.
“Iya Din, mbak juga pernah dengar soal itu,
dan kayaknya bener, soalnya mbak dulu sempat ngiasin tangan temen mbak pas mau
jadi pengantin”, sambung mbak Vina kakaknya,
“tuh
kan, bener
apa kataku? ”, ujar Lia lagi.
“Wah…berarti
Dina mau nikah juga nih, kira-kira siapa ya pasangannya?”, goda yang lain,
mereka
pada ketawa-ketiwi, karena di godain terus, Dina beranjak pergi, ia jadi
tersipu malu, ia pun segera turun dari kamar kakaknya, ia menemui ibu-ibu yang
lagi sibuk memasak di dapur, pas lagi turun dari tangga, tak disangka-sangka ia
melihat sosok dr. Fahmi beserta bunda, ayah dan wanita yang beberapa waktu lalu
mengirimi dr. Fahmi makan siang.
“Loh…itu kan dr. Fahmi? Apa aku gak salah liat?”,
gumam Dina lirih.
Terlihat
ayahnya berpelukan begitu akrab dengan ayah dr. Fahmi.
“Dina….sini
nak?” panggil ibunya,
“iya bu”, Dina pun segera menghampiri ibunya,
”kenalin
nih….ini ibu Husna, sahabat ibu dan ayahmu”, Dina pun menyalami ibunya dr.
Fahmi.
“Loh
mbak Dina?”, sapa dr. Fahmi terkejut
“Dokter?”
Dina juga terkejut.
“Loh….jadi
kalian sudah saling kenal?”, Tanya bundanya dr. Fahmi.
“iya bunda, gadis ini asistennya Fahmi di
rumah sakit”, jawab Ella.
”ooh…..jadi
kalian bekerja di satu rumah sakit?” tanya ibu.
“iya bu”, jawab Dina.
“kenalkan
ini anak saya yang pertama, kakaknya Fahmi”, bundanya dr. Fahmi memperkenalkan.
“Oh…jadi
mbak kakaknya dr. Fahmi? Kiraiiiiiiiiin…..” semua pada tertawa…..
”Iya
nak…mereka berdua ini sering dikira pacaran, saking deketnya sebagai kakak
adik”.
“Ella”,
mbak Ela memperkenalkan diri seraya menyalami Dina,
”Dina”,
sahut Dina singkat.
Malam
itu dr. Fahmi terlihat begitu tampan, ia mengenakan kemeja lengan pendek
berwarna biru dongker dengan motif garis-garis putih, dan malam itu dr. Fahmi
juga tidak mengenakan kacamatanya, ketampanannya terlihat makin jelas dengan
alis yang agak tebal dan bulu mata yang agak lentik, ditambah lagi dengan
hidungnya yang mancung, style deh.
Esoknya perhelatan besar di mulai, Dina hari itu
tampak begitu cantik dengan gaun sutera motif bunga-bunga yang ia padukan
dengan jilbab paris
putih motif bunga-bunga pula. Ia terlihat sibuk menemui dan menjamu para tamu
undangan, tak terkecuali keluarga besar dr. Fahmi yang turut hadir sebagai tamu
undangan. Terlihat dr. Fahmi sedang menggendong keponakannya yang masih kecil
dan berusia sekitar tiga tahun anak mbak Ella, Dina pun menghampiri dr. Fahmi
yang lagi duduk-duduk bersama keponakannya seraya menyuguhkan minuman dan
kue-kue.
“Mari
Dok, silahkan di cicipi?! ”,
“iya
terima kasih, eh Ryan mau juga? ”, dr. Fahmi menawarkan kue brownies coklat
kepada keponakannya itu.
“Mau
om!”, jawab anak kecil itu singkat.
dr.
Fahmi pun mencicipi kue yang di suguhkan oleh Dina.
“Emmmm….kuenya enak sekali”, puji dr. Fahmi,
“bikin
sendiri ya?” tanya dr. Fahmi.
“Iya
kebetulan kue yang ini saya yang bikin sendiri Dok”, jawab Dina.
“Wah…hebat
sekali, selain jago dirumah sakit, ternyata mbak juga jago masak ya?”, puji dr.
Fahmi.
“Ah…biasa
saja Dok, tapi terima kasih ya Dok”, jawab Dina merendah.
“Iya…sama-sama,
ih adik lucu sekali siapa namanya ?” Dina menyapa keponakan Fahmi
“
Namaku Lyan, kakak namanya ciapa ?” balas Ryan
“
Nama kakak, D I n a, “
“
Kakak cantik cekali ya mau gak jadi cewekku “ goda Ryan polos
Dina
yang mendengar celotehan Ryan jadi ketawa ajah,
“
Hayoooo Ryan gak boleh nakal loh ! “ sambut dr. Fahmi
“heheheheh, ya sudah saya permisi dulu dok,
mau menjamu tamu-tamu yang lain”, Dina mohon diri dari hadapan dr. Fahmi.
“Oh ya…mari silahkan mbak, terima kasih banyak
ya”.
“
sama – sama Dok !”
Suatu siang pas jam makan siang tiba, bunda datang
membawa makan siang buat putra tercintanya
.“Assalamu’alaikum”,
sapa bunda,
“wa’alaikusalam”,
“eh nak Dina, apa kabar?”,
“Alhamdulillah
baik bunda”, ujar Dina seraya mencium tangan bunda Husna,
“aduh…kamu makin cantik aja ya nak?!, puji
bunda kepada Dina.
“Oh
ya…Fahminya ada?” tanya bunda lagi,
“dr.
Fahmi ada kok bunda, tapi beliau masih memeriksa pasien di kamar rawat inap”.
Pas
lagi ngobrol berdua, tiba-tiba dr. Fahmi datang dan bunda memaksa Dina untuk
makan siang bersama-sama di ruangan tersebut dan dr. Fahmi juga tidak merasa
keberatan sama sekali.
Di
lain tempat, dr. Daniel makan siang bersama-sama dengan dr. Lasmi, istrinya dan
lima orang
gadis kawan Dina, sambil makan, mereka
asyik ngobrol.
“Oh…jadi
dr. Fahmi gak punya pacar ya Dok?”,
“iya…dia
itu gak pernah pacaran, tapi bukan berarti dia gak normal”, canda dr. Daniel.
“Memangnya
kenapa ya Dok?” selidik Sandra.
“
Gini, dulu waktu masih duduk di bangku kuliah di Singapore, kita punya seorang
sahabat lagi, saya, Fahmi dan almarhum Rico. Rico meninggal bunuh diri karena
di tinggal sang kekasih, ceritanya dia cinta banget sama ceweknya itu, hanya
saja, kekasihnya itu hanya mempermainkan-nya saja, Fahmi yang waktu itu usianya
paling muda dari kami jadi berfikir bahwa wanita itu jahat dan kejam, tapi itu
dulu, sekarang udah gak lagi kok, ya….mungkin memang masih belum ada yang sosok
wanita yang memikat hatinya”, kisah dr. Daniel.
“Wah…..kasihan
ya Dok, ?” “
“tapi
buanyak sekali loh gadis-gadis yang naksir dr. Fahmi, tapi dr. Fahminya aja yang gak mau”, lanjut dr. Lasmi,
”dia
maunya dijodohin gitu?”,
“hah?
Dijodohin?” tanya Sandra.
Sepulang dari kerja, Sandra bareng ama Dina karena
rumah mereka berdekatan, di tengah-tengah perjalanan, Sandra bercerita kepada
Dina soal dr. Fahmi, Dina jadi kagum sama dr. Fahmi,
“jarang
ada ya laki-laki yang punya pola pikir mau di jodohin kayak gitu?” komentar
Dina,
“iya
Din, pasti beruntung banget cewek yang jadi pendamping hidupnya kelak, karena
dia satu-satunya cewek yang bisa dapetin hati dan cintanya dr. Fahmi seutuhnya”,
Sandra juga jadi kagum sama dr. Fahmi.
Sutu ketika Dina bareng dr. Fahmi menghadiri acara
seminar kesehatan di daerah Bandung,
mereka tidak hanya berdua, tapi juga bersama dengan dr. Anita yang juga sebagai
dokter spesialis anak selain dr. Fahmi.
Di
tengah-tengah perjalanan, handphone Dina berbunyi,
”tit…tit…tit…tit…”
ada sms rupanya.
“Mbak
masih pake handphone butut kayak gitu?”, canda dr. Fahmi.
Dina
tertawa,
”hehehe…iya
dok, soalnya hp ini saya dapat hadiah ulang tahun dari ayah dulu waktu masih
duduk di bangku SMA”, kisah Dina
“kenapa
gak minta di beliin yang baru aja”,
”
iya sih sempat kepikiran juga sih,tapi…biarlah, nunggu di beliin suami aja
kapan-kapan”, balas Dina,
“wah….udah ada calonnya ya?”, lanjut dr.
Anita,
”
hehehe…..belum”, jawab Dina polos.
“Ah
masak sih cewek secantik mbak belum punya pacar?”. Bohong itu dosa lho”, goda dr.
Fahmi sambil menyetir mobil,
“nggak ah dok, dokter ini bisa aja, masak
orang jelek kayak saya di bilang cantik, tapi…saya ogah pacar-pacaran gitu,
mending langsung nikah aja”, celetuk Dina seraya tertawa,
“ya…bener
banget tu mbak”, jawab dr. Fahmi singkat.
Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba dr. Fahmi
menghentikan mobilnya di depan sebuah masjid.
”Maaf
sebentar ya bu, maaf saya maui berhenti dulu, soalnya ada panggilan darurat”,
ujar dr. Fahmi seraya terlihat lagi menahan sesuatu,
”iya
silahkan saja dok, tidak apa-apa”, jawab dr. Anita mempersilahkan, dr. Fahmi
pun segera pergi sembari berlari kecil,
dr.
Anita jadi cekikikan.
“He..he..he..dr.
Fahmi…dr. Fahmi, kebiasaan deh!” ujar beliau
“memangnya ada apa ya bu?” tanya Dina tak
mengerti.
“Itu
tuh si dr. Fahmi, tiap pergi kemana aja selalu saja bawaannya jadi pipisan”,
jelas dr. Anita sembari terus tertawa,
“Oooh..!”
jawab Dina singkat seraya ikutan tertawa, tapi dia lagi-lagi di buat kagum sama
dr. Fahmi, jarang-jarang ada cowok yang mau ngejaga kesucian dan kebersihan pas
buang air kecil, kebanyakan malah pipis sembarangan.
Tak
berapa lama dr. Fahmi pun datang,
“maaf ya bu, agak lama sedikit”, ujar dr. Fahmi
sambil nyengir,
“makanya
cepetan nikah dok, biar gak pipisan lagi”, canda dr. Anita,
“loh? Emang ada hubungannya ya bu?” sahut dr.
Fahmi polos,
dr.
Anita malah menjadi-jadi ketawanya.
Di suatu hari yang tidak begitu cerah, terlihat dr.
Daniel lagi ngobrol serius dengan dr. Fahmi, tak berapa lama tiba-tiba dr.
Fahmi nyamperin Dina yang lagi sibuk ngetik, Dina Nampak seperti lagi
kesulitan.
“Ada apa mbak? Kok kayaknya
ada masalah?”,
“ini
dok saya lagi kesulitan nemuin jawaban dari artikel kesehatan ini, bingung
gimana nyari persamaan kimianya?”, tegas Dina.
“oh gitu, sini biar saya liat dulu”, Dr. Fahmi
pun ikutan ngecek.
“Wah…sepertinya
mbak salah ngitungnya nih, ini caranya bukan gini, tapi gini mbak”, dr. Fahmi
pun membantu Dina memecahkan persoalannya dengan telaten dan sabar.
“Oh…gini
ya dok caranya, terima kasih ya dok”, Dina bangga,
“sama-sama, oh ya, nanti sore saya ada
undangan pesta ulang tahun gitu deh, dan saya berniat ngajak mbak kesana,
kira-kira nanti mbak ada acara nggak?”,
“saya
dok? Gak salah?”, Dina benar-benar terkejut atas ajakan dr. Fahmi,
“enggak
mbak, mbak bisa kan?”,
“
mmmmmm….. baiklah dok, insya Allah saya nggak ada acara nanti sore”.
“Hah…syukurlah”,
dr. Fahmi bernafas lega,
“memangnya
kenapa dr. Fahmi musti mengajak saya?”, tanya Dina penasaran.
“Jadi gini mbak, orang yang ulang tahun ini
adalah gadis yang bener-bener gila, yang udah bikin saya illfil, masak dia ngejar-ngejar
saya terus”, ungkap dr. Fahmi,
“memangnya
kenapa dok?”, selidik Dina yang mulai akrab dengan dr. Fahmi,
“nanti
mbak akan tau sendiri kok jawabannya, sepulang tugas, kita langsung kesana
ya?!”,
“baik dok”.
Sore hari setelah tugas selesai semua dan setelah pada
ganti pakaian, dr. Fahmi pun mengajak Dina menuju tempat acara ulang tahun
teman dr. Fahmi, mereka pun sampai di sebuah gedung,
selama
perjalanan, Dina duduk di jok belakang, maklum bukan mahrom, jadi gak mungkin
Dina duduk di jok depan samping dr. Fahmi.
Mereka berdua langsung masuk ke gedung tersebut, dan
gadis yang ternyata bernama Linda itu pun menghampiri Fahmi.
“Hai
sayang, makasih ya udah mau dateng”, ia hendak mencium pipi dr. Fahmi, tapi dr.
Fahmi coba tuk menghindar.
“Oh
ya…ini kadonya buat kamu, selamat ya!”, ujar dr. Fahmi,
“aduh
sayang, repot-repot banget sih, makasih banget yach? So sweet”.
Kini Dina benar-benar paham mengapa dr. Fahmi menolak
habis-habisan cinta gadis itu, meski konon katanya gadis itu terus saja
mengejar-ngejar dr. Fahmi, gadis itu mengenakan gaun yang serba terbuka, dengan
hanya sebatas menutupi dada saja, sementara punggungnya terbuka lebar, memang
sih, longdresnya panjang ke bawah, tapi belahannya begitu panjang hingga hampir
membuat daerah intimnya kelihatan.
“Astaghfirullahal’adzim”,
ucap Dina dalam hati, ia pun jadi malu sendiri.
“Ini
siapa sayang?” tanya Linda menatap Dina dengan pandangan yang agak sinis.
“Oh..kenalin
ini Dina tunanganku”, jawab dr. Fahmi sekenanya,
“apa?, jadi kamu sudah punya tunangan?”, tanya
Linda terkejut,
“iya”,
sahut dr. Fahmi mantap.
“Selamat
ya Mi !”, jawab gadis itu singkat seraya langsung beranjak pergi tanpa
menyalami Dina terlebih dahulu,
Dina
pun terkejut bukan main.
“Hah?!
Tunangan? Sejak kapan aku tunangan sama dr. Fahmi?” Dina berkata dalam hati, ia
pun protes.
“
Dokter, maksud dokter tadi itu apa? Kenapa dokter bilang saya tunangan dokter?
Kenapa gak bilang-bilang dulu kalo mau main sandiwara? Saya kan gak siap dok?! Protes Dina,
dr.
Fahmi Cuma ketawa-ketiwi.
“Oh
ya, maaf ya mbak, abis mepet gitu sih, jadi aku gak sempet bilang kalo kita
musti sandiwara gini, maaf ya?” jelas dr. Fahmi.
“Dokter ada-ada aja, bikin aku jadi jantungan
gini”, gumamnya lirih,
sementara
dr. Fahmi merasa lega karena ia merasa Linda gak akan ngejar-ngejar dia lagi.
Minggu pagi yang cerah, Dina menyempatkan diri untuk
berbelanja di pasar terlebih dahulu sebelum kerumah sakit, yah…karena tugas
prakteknya gak ada liburnya, jadi ia dan kawan-kawannya musti kerumah sakit
tiap hari, dari pagi hingga sore hari, sementara dr. Fahmi, ia libur
sabtu-minggu.
“Aduh,
dompet aku mana yah?, Dina lagi bingung karena dompetnya hilang,
“duh jangan-jangan tadi jatuh waktu aku di
pasar”, ia pun mengubrak-abrik isi tasnya,
tiba-tiba
terdengar suara yang tidak asing lagi.
“Assalamu’alaikum”,
sapa dr. Fahmi,
“Wa’alaikum
salam dokter”, Dina bener-bener terkejut.
“Loh,
bukannya hari ini libur dok?”, tanya Dina heran,
“iya
mbak, ada masalah mbak ? kok kayaknya bingung gitu?”, tanya dr. Fahmi.
“iya
dok, dompet saya hilang”, sahut Dina sedih,
“mbak
nyari ini yah?”, tanya dr. Fahmi seraya menunjkkan sebuah dompet padanya,
“loh, ini kan dompet saya dok? Dokter nemuinnya
dimana?”,
“tadi
saya nemuinnya waktu lagi jalan ke pasar, yah..saya biasa nganter bunda belanja
ke pasar tiap pagi, terus saya nemuin dompet ini, pas saya cek, ternyata punya
mbak, makanya saya buru-buru kesini, nih, lain kali ati-ati ya?!” Ujar dr.
Fahmi seraya memberikan dompet tersebut kepada Dina.
“Terima
kasih banyak ya dok, jazaakallah biahsanal jazaa’ !” ucap Dina.
“Amin”,
jawab dr. Fahmi singkat, ia pun segera pergi kembali.
Penampilan dr. Fahmi hari itu benar-benar beda banget,
dengan memakai kaos t-shirt berwarna putih belang-belang merah, di padu dengan
jaket jeans dan celana jeans, serta topi yang berwarna merah di balik,
benar-benar penampilan seorang pemuda, jauh dari kesehariannya yang selalu pake
kemeja, dasi dan jas putih serta kacamata putihnya, sedang kali ini sang dokter
pujaan memakai kacamata hitam dan sepatu sport, wangi banget lagi, benar –
benar mengagumkan.
Sabtu malam yang begitu cerah, Seluruh pegawai rumah
sakit Islami pada ngumpul buat ngehadirin dan ngerayain pesta pernikahan dr.
Andi, tak terkecuali dr. Fahmi, Dina dan ke enam rekannya semua turut hadir
pada acara pernikahan tersebut, acara
begitu meriah, apalagi dr. Andi yang lulusan pesantren, di acara resepsinya
diselipkan acara pengajian yang dihadiri oleh salah satu Ustadz ternama yaitu
Ustadz Al Habsyi, malam itu Fahmi berpenampilan cukup berbeda doski sengaja
pakek sarung, baju koko bercorak batik, dan peci putih, bener – bener
cakep dan cocok dengan wajahnya yang
mirip actor Jimmy Lin,
“
Eh Din liat tuh dr. Fahmi, cakep banget ya?” celoteh Sandra, sambil menunjuk
kearah dr. Fahmi yang lagi asyik bercanda bareng dr. Daniel
“He’em
“ sahut Dina singkat setelah memperhatikan sejenak penampilan sang dokter
Pas
acara dimulai ternyata dr. Fahmi tampil membacakan Tilawah Alqur’an , Semua
orang benar – benar terpukau mendengarkan bacaan ayat – ayat suci Alqur’an yang
dilantunkan oleh dr. Fahmi, bgitu juga dengan Dina, ia benar – benar terharu,
dan tidak menyangka dr. Fahmi bisa juga menjadi seorang Qori’, suaranya begitu
indah dan merdu.
“
Ehm…. Ehem… “ Sandra ngeledekin Dina yang keliatan begitu menikmati alunan
suara dr. Fahmi membaca tilawah, sedang Dina ia Cuma senyum aja
Pas
acara ramah tamah, dr. Fahmi menyapa enam gadis yang bertugas dirumah sakitnya
tersebut
“
Assalamu’alaikum “ sapa dr. Fahmi ramah
“
Wa’alaikumsalam “ sahut ke enam gadis itu serempak
“Wah
dokter bener – bener hebat ya, jago tilawah juga, suara dokter bener – bener
bagus banget “ puji Sinta
“
Terima kasih banyak mbak Sinta, biasa aja kok gak bagus – bagus amat yang lebih
bagus masih banyak” Fahmi rendah diri
“
Beneran dok, bahkan tadi sampai ada yang tercengang – cengang loh “ lanjut
Sandra sambil melirik Dina, Dina pun jadi malu ia menyenggol Sandra supaya
tidak banyak ngomong lagi
“
Terima kasih mbak Sandra “ jawab Fahmi seraya tersenyum manis
Di suatu malam, ayah, bunda, mbak Ela dan dr. Fahmi
tampaknya ngobrol serius.
“Fahmi,
sudah saatnya kamu sekarang mencari pendamping hidup”, jelas sang ayah.
“tapi
Fahmi belum dapat yang cocok yah”,
“terus, ayah dengar dari bunda, kamu gak
keberatan kalo kami jodohkan dengan wanita pilihan ayah dan bunda, benar itu
Fahmi?”, tanya ayah lagi.
Fahmi
hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Jika
memang menurut ayah dan bunda itu yang terbaik, Fahmi ikut aja”,
“Nak,
kamu ingat gak sama gadis yang kita temui di pernikahan putrinya bapak Haji Rusli itu?”,
tanya bunda.
Rupanya
Fahmi langsung faham siapa gadis yang di maksud bundanya itu.
“Emmmmm
…..Dina maksud bunda?”, Fahmi terkejut,
sementara
bunda tersenyum sembari melirik ayah.
“Iya
nak, kamu betul sekali, gadis itu kelihatannya baik sekali, santun, cerdas
pula, bagaimana nak?”, tanya sang bunda lagi dengah hati-hati, takut kalau
Fahmi menolak, sementara dr. Fahmi, ia seperti sedang berpikir.
“Apa
mungkin dia yang akan menjadi pendamping hidupku, tapi aku tidak ada rasa
sedikitpun padanya.”
“Fahmi istikharah dulu bunda” jawab Fahmi
singkat.
Malam itu dr. Fahmi tampak gelisah, ia pun
segera melaksanakan sholat istikharah dan Alhamdulillah hasilnya pun bagus.
Esok paginya sang bunda buru-buru menemui Fahmi,
“gimana
nak hasilnya? Kamu sudah melaksanakan sholat istikharah?”,
“sudah bunda dan Alhamdulillah bagus”.
“Alhamdulillah
kalau begitu, nanti malam kita semua langsung kerumah H. Rusli saja untuk
meminangnya dengan segera”, ujar sang ayah penuh semangat.
“Apa
gak terlalu cepat yah?”, protes Fahmi,
“nanti
keburu di gaet orang Nak”, ujar sang bunda,
“iya
betul, siapa cepat, dia dapat”, lanjut ayahanda dr. Fahmi.
Sewaktu di rumah sakit dr. Fahmi tampak gundah,
sesekali ia melirik ke arah Dina yang berada di hadapannya dari balik dinding
kaca, merasa ada yang mengawasi,Dina pun balik menoleh ke arah dr. Fahmi dan dr.
Fahmi segera memalingkan pandangannya pura-pura membaca berkas,
“aneh…kok
kayak ada yang ngawasin aku dari tadi”, gumam Dina lirih, ya…curi-curi pandang
gitu deh hingga beberapa lama.
Malam harinya, keluarga besar dr. Fahmi bersilaturrahmi
kerumah keluarga Dina, dan semua berkumpul di ruang tamu.
“Begini,
mas Rusli, maksud kedatangan kami kesini adalah untuk meminang putri mas yang
bernama Dina amaliyah untuk kami jodohkan dengan putra kami Muhammad Fahmi
Arroyan dan kami juga mohon maaf atas kelancangan kami ini”,jelas ayah Fahmi,
sedang Fahmi, ia hanya menunduk saja ,malam
itu Fahmi berpenampilan cukup santun dengan mengenakan baju koko dan peci
hitam.
”Waaaaah..
tentu ini merupakan suatu kebahagian dan kehormatan besar bagi keluarga kami
mas Fadli, apalagi nak Fahmi ini sangat –sangat pintar,santun dan berdedikasi,
sholeh pula,tapi maaf, kami juga tidak bisa memutuskannya sendiri, kami juga
harus bertanya kepada yang bersangkutan agar kami tidak dicap sebagai orang tua
yang egois, walau sebenarnya untuk menjawab itu adalah hak penuh kami”, jelas
H. Rusli ayah Dina,
“iya,
silahkan mas”.
Dina terkejut bukan main mendengar ia akan di
jodohkan dengan dr. Fahmi, jangankan mimpi, membayangkannya saja ia tidak
pernah.
“Bagaimana nak?”, tanya sang ayah,
“maaf yah, Dina mohon izin untuk istikharah
terlebih dahulu”,
“baiklah,
silahkan nak, kami tunggu”, jawab H. Fadli,
Dina
pun segera mengambil air wudhu’ dan melaksanakan sholat istikharah, dalam do’a
ia menangis tersedu-sedu.
“Ya
Allah, inikah saatnya bagiku, diakah jodoh hamba ya Allah?”.
Setelah
selesai sholat, Dina pun segera turun dan memberikan jawabannya dengan di
dampingi sang ibu,
“bagaimana
nak?”, tanya bunda,
sedang
gadis yang masih berusia 20 tahun itu hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Al
hamdulillah kalau begitu bagaimana kalau hari pertunangan ini kita rayakan
tujuh hari lagi, biar semua saya yang atur”, ujar H Fadli bahagia.
Tanggal,
waktu dan segala persiapannya telah di bicarakan, sedang untuk tanggal
pernikahan semua sepakat menunggu Dina lulus terlebih dahulu, toh seusai
praktek, Dina akan sibuk mengurus skripsinya, semua lega dan gembira.
Acara
pertunangan pun di gelar secara sederhana dirumah Dina, hanya kerabat dan
keluarga besar yang hadir, seserahan pun di berikan kepada Dina, mulai dari
pakaian, mukena, peralatan sholat, tata rias dan sebagainya, dan bunda pun
melingkarkan sebuah cincin emas bertahtakan berlian, dimana di balik cincin
tersebut terukir nama Fahmi, jantung Dina begitu berdebar-debar, Hari itu Dina
tampak begitu cantik dengan dandanan yang minimalis,serta gaun sutra yang
begitu indah berwarna gold yang ia serasikan dengan jilbabnya pula. Dengan baju
model kebaya, terlihat body Dina yang begitu langsing dan ramping, semakin
menambah kecantikannya, sementara Dr. Fahmi, ia hanya mengenakan baju batik dan
celana hitam saja, ia pun terlihat begitu rapi dan tampan, keduanya hanya
saling melempar senyum saja.
Sebenarnya Dina juga sangat bahagia, karena sebenarnya
ia juga begitu mencintai dr. Fahmi, entah sejak kapan tepatnya ia mulai jatuh hati
pada sang dokter, biarlah menjadi rahasia hatinya.
Esok harinya semua orang di rumah sakit pada
ngeledekin mereka berdua, Dina jadi malu, sementara Fahmi ia cuek – cuek aja,
seolah – olah gak ada apa – apa, meski gitu Fahmi tetep ramah pada calon istrinya
itu, supaya Dina gak ngerasa curiga kalo sebenarnya ia gak cinta
Pas
tiba waktu untuk sholat berjama’ah Fahmi pun coba basa – basi ngajak Dina
berangkat ke masjid bareng,
“
Dinda, udah waktunya sholat, ke masjid yuk?! “ Ajak Fahmi
(“
Hah?! Dia panggil aq Dinda mesra amat?” ujar Dina dalam Hati)
“
Maaf Mas, Dina lagi dapet cuti “ sahut Dina sambil nyengir
“
Waaah enak donk ada cutinya, ya udah Mas sholat dulu yah?!” Fahmi mohon pamit
“
Iya Mas “
Tak terasa enam bulan telah berlalu, telah habis waktu
untuk tugas praktek dan ke enam gadis itu sudah harus kembali ke bangku kuliah
untuk segera menyelesaikan skripsinya, namun mereka tetap bahagia karena semua
dari mereka telah di terima bekerja dirumah sakit tersebut, begitupun dengan
Dina, ia tetap menjadi asisten pribadi dr. Fahmi, hanya saja kali ini ia tidak
tugas setiap hari, hanya pada hari jum’at dan sabtu saja dan biasanya pas hari
minggunya ia jalan-jalan bersama mbak Ella dan dr. Fahmi.
Selama bertunangan Fahmi gak pernah sekalipun telfon ataupun sms Dina,
kecuali ada hal – hal penting yang menyangkut dengan urusan di rumah sakit,
Dina pun mulai merasa ada yang janggal, tak dapat dipungkiri sebagai wanita ia
juga ingin sesekali mendapat perhatian lebih dari seseorang yang begitu special
baginya, ya yang romantis – romantis gitu deh, pernah sih sekali Fahmi
telfon itupun pas Dina lagi sakit,
Terdengar
suara handphone Dina mulai ngoceh, dengan lemasnya Dina terima telfon yang ternyata
dari calon suaminya itu
“
Hallo ! Assalamu’alaikum !” sapa Fahmi dari seberang
“
Wa’alaikum salam “ sahut Dina dengan suara yang agak parau
“
Gimana kabarnya Din? Mas dengar tadi dari temen – temen Dinda izin karma sakit,
Dinda sakit apa ?” Tanya Fahmi coba perhatian
“
Ya ni Mas, gak tau kenapa sejak kemarin sore kepala Dina pusing banget, semalam
malah panas semua badan ini “ ucap Dina agak manja
“
Udah priksa belom?”
“
belum Mas, tapi udah minum obat tadi, mungkin ntar juga udah sembuh “
“
Mungkin Dinda kecapekan, ya udah Dinda istirahat aja dulu, gak usah kepikiran tugas
di rumah sakit, Dinda istirahat aja dulu biar cepet sembuh “
“
Terima kasih banyak Mas”
“
Ya udah Moga cepet sembuh ya, Insya Alloh nanti sepulang dari rumah sakit, Mas
kesana ya, jenguk Dinda ama Bunda “
“
Amiiin, Gak usah repot – repot Mas, Dina juga udah gak apa – apa kok ?”
“
Ya udah met istirahat ya, Assalamu’alaikum !”
“
Wa’alaikum salam “
Sore harinya Fahmi pun menepati janjinya untuk menjenguk Dina yang lagi
sakit bersama Bunda,
“
Duuuuh anak bunda sakit apa sih?” Tanya Bunda seraya meletakkan telapak
tangannya di dahi Dina yang lagi duduk lemas di sofa
“
Gak apa – apa kok Bunda, mungkin cuma kecapekan saja “
“
Makanya kerja jangan diforsir sayang, banyak – banyak istirahat, Kamu juga Mi,
Dina jangan dikasih tugas yang berat – berat kalo sudah sakit begini kasihan kan?” tambah Bunda yang
juga nasihatin Fahmi, sementara Fahmi Cuma senyum – senyum aja.
“
Oh ya Jheng, kita ke belakang dulu yuk, saya ada ssesuatu yang mau saya
tunjukkan sama Jeng, barangkali juga Fahmi ingin ngobrol berdua dengan Dina?”
ajak Ibunya Dina
“
Oh iya mari Jheng “
Mereka
pun ditinggal berdua diruang tamu, lama mereka saling diam
“
Gimana Din? Udah enakan? ” Tanya Fahmi
mengawali pembicaraan
“
Alhamdulillah udah Mas, setelah minum obat dan vitamin tadi”
“
Maaf ya kalau misalkan selama ini Mas udah terlalu banyak ngebebanin Dinda
dengan tugas – tugas yang mungkin juga berat buat Dinda jalanin, jadinya Dinda
ampe sakit gini, Maaf ya?!”
“
Mas ngomong apa sih, Dinda gak apa – apa kok, Dinda sakit bukan karena tugas –
tugas dari Mas, ya memang sih akhir – akhir ini agak susah tidur gak tau
kenapa, mungkin karena itu aja”
“
Oh “ sahut Fahmi singkat
“
Atau Mungkin lagi ada yang dipikirin nih?” goda Fahmi
Dina
hanya tersenyum saja, suasana yang tadinya agak kaku mulai hangat dan ceria,
“
Mas bisa saja, tapi mungkiiiin memang benar apa yang Mas bilang barusan “
“
Waaaah, emangnya lagi mikirin apa tuh?”
“
Lagi mikirin seseorang kayaknya Mas”
“
Gak usah mikirin Mas Din, Mas baik – baik aja kok “
“
Ih GR !” jawab Dina singkat, mereka
berdua pun pada tertawa
“
Oh ya ini Mas bawain pudink special buat Dinda ini Mas yang bikin sendiri loh”
Ungkap
Fahmi seraya meletakkan satu bungkusan di meja
“
Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Mas, Mas ini repot – repot amat sih ?”
Dina jadi makin senang
“
Gak repot kok Din, dimakannya nanti ajah ya setelah Mas pulang, soalnya Mas
malu “ canda Fahmi
Mendengar
kata – kata Fahmi Dina pun jadi tertawa
Malam harinya tak diduga – duga Dina mendapat
kiriman sebuah rangkaian kata dari Fahmi melalui sms,
“
Walau langit cerah namun bila tak ada sang surya maka senyaplah, sama seperti
dirimu, tanpa hadirmu maka sunyilah ….”
Dina
merasa jadi sembuh seketika setelah membaca pesan singkat dari Fahmi, Malam itu
hatinya benar – benar sangat berbunga - bunga
Minggu yang cerah Fahmi menemui Dina ditemani sama Mbak Ella dan juga
sang keponakan yang lucu siapa lagi kalo bukan Ryan, mereka habiskan waktu
jalan – jalan ke Puncak
Fahmi
banyak ngabisin waktunya dengan bercanda bersama keponakannya Ryan, melihat
keakraban mereka berdua Dina jadi ikutan seneng and ketawa – ketawa ngeliat
Ryan yang lagi kepingkal – pingkal di gelitikin sama Fahmi
“ Tantee… cini donk kok Cuma diem aja ?”
celoteh Ryan ngajak Dina main – main bersamanya
Dina
pun menghampiri Ryan, sementara Fahmi ia keliatan cuek aja
“
Tante, Om, kita naek peyahu itu yuuuk?!” ajak
Ryan sembari ngeliat perahu di tepi
danau di daerah puncak
“
Boleh “ jawab Fahmi singkat
“
Mbak kita mau kesana dulu yach, Ryan maksa naik perahu nih “ Fahmi mohon izin
kakaknya
“
Oh ya silahkan aja sayang, ati – ati ya!” sahut Ella yang sedari tadi lagi
asyik telfonan ama suaminya Arif yang lagi tugas ke luar kota
“
Yuuuk?!” ajak Fahmi
Mereka bertiga pun naik perahu muter – muter disekeliling danau,
“
Dinda, seneng gak hari ini ?” Tanya Fahmi
“
Ya pastilah Mas “ sahut Dina singkat seraya tersenyum begitu manisnya
Mendengar
jawaban Dina Fahmi jadi lega, walau ia masih belum dapat mencintai Dina, tapi
ia ingin selalu membuat hati Dina senang.
Sore ini
Fahmi benar – benar merasa kelelahan, seharian ini doski ngikutin acara seminar
kesehatan di daerah Bandung, tentunya juga ditemani sama Dina, tapi Dina lagi
duduk di jok belakang, mereka saling diam, sampai akhirnya Fahmi coba mulai
pembicaraan
“
Dinda, tadi Bunda mesen kita mampir kerumah dulu ya?! Gak apa – apa kan?”Tanya Fahmi
“
Gak apa – apa Mas”
Sampailah
mereka berdua di rumah Fahmi
“
Assalamu’alaikum !” sapa keduanya, seraya langsung mencium tangan Bunda
“
Wa’alaikumsalam, nah ini dia menantu Bunda, duuuh Bunda kangen banget sama kamu
Nak “
“
Sama Bunda, Dina juga udah kangen sma Bunda “
“
Kangen sama Bunda apa sama putranya Bunda “ goda Mbak Ella
Mereka
semua pada ketawa, sedang Fahmi ia langsung menuju kekamarnnya bergegas untuk
mandi.
Siang ini dirumah sakit lagi ada acara peresmian ruang rawat bagi anak –
anak yang konstruksi bangunanya adalah merupakan hasil pemikiran Dina, acara
tasyakkuran pun digelar cukup sederhana saja, semua orang pada ngucapin selamat
sama Fahmi terutama pada Dina, begitupun juga dengan Fahmi tak lupa ia ucapkan
selamat pada calon istrinya itu,
“
Selamat ya Dinda “ ucap Fahmi singkat
“
Terima kasih banyak Mas”
Pas
acara kelar dan tibalah acara makan bersama, Daniel terus saja ngeledekin Fahmi,
“
Ehm ….. ehm, selamat ya, wah jangan – jangan ntra ada acara special buat
berduaaan nih “ canda dr. Daniel
“
Apaan sih? Biasa – biasa aja tuh “ sahut Fahmi datar tanpa ekspresi
“
Ayolah Bro! masak sih loe gak pingin ngasih anything gitu buat calon istri loe,
kesuksesan yang kita raih ini juga berkat idenya dia juga ?”
“
Hai Shob ! aku tau itu, tenang ajah aku pasti ngasih anything ntar buat dia “
“
Wah bener tuh, apaan?”
“
Do’a, kalo dia emang jodoh aku ya semoga dia makin dekat sama aku, dan bisa
membuka hatiku untuk bias mencintainya, tapi kalo gak jodoh ya moga kita
pisahnya baik – baik “ jelas Fahmi
Daniel
seakan tak mengerti apa maksud Fahmi bilang kayak gitu
“
Maksudnya Bro?” apa loe gak cinta sama dia ?” selidik Daniel
Fahmi
Cuma diem aja, tanpa sengaja Dina sempat mendengar percakapan mereka pas lagi
lewat dibelakang mereka berdua, melihat sikap Fahmi yang seperti itu Dina pun
mulai curiga kalo Fahmi sebenarnya gak cinta sama dia, Fahmi mau bertunangan
dengannya hanya karena menuruti keinginan kedua ortunya,
Berhari – hari Dina masih juga terus memikirkan hal itu, ditambah lagi
dengan sikap Fahmi yang walaupun ramah padanya tapi terasa biasa – biasa saja
dan tak ada yang special, hatinya terus bertanya – tanya tanpa menemukan
jawaban yang pasti, hingga pada suatu ketika pas lagi di kampus.
“Din,
ada yang jemput tuh di bawah”, ujar temannya pas pulang jam kuliah.
“Siapa?”
Dina penasaran, ia gak pernah merasa ada yang jemput,
“tau
tuh, cowok kayaknya, buruan gih ! kayaknya udah dari tadi tuh cowok nungguin
elo !”, Dina pun bergegas turun, kelasnya berada di lantai 3 gedung UI.
Pas turun Dina kaget, ternyata yang menjemput adalah
calon suaminya
“Assalamu’alaikum!”.
Sapa Fahmi
“Wa’alaikumsalam,
Mas Fahmi? Kok tumben?”. tanya Dina
“iya
nih, tadi Mas lewat sini, sekalian aja jemput Dinda, udah waktunya pulang kan? Yuk?!” ajak dr.Fahmi
yang lagi bawa motor gedenya, dan ia terlihat semakin tampan dengan hanya
mengenakan kaos t-shirt berwarna hijau belang-belang makin keliatan jelas tubuh
atletisnya, dan celana borju berwarna coklat susu, serta topi berwarna senada.
Dina pun jadi makin pede diboncengin sama Fahmi.
Pas
lagi jalan
“kita
makan dulu yuk?” Ajak Fahmi.
Dina
hanya menganggukkan kepalanya saja.
Fahmi mengajak Dina lunch diwarung bakso yang
dikenal enak, yah walau ia tajir, tapi Fahmi lebih suka makan diwarung daripada
direstoran mewah nan mahal.
Setelah
pesanan datang Fahmi dan Dina pun menikmati lunch bareng-bareng.
“cobain deh, bakso disini enak banget loh
Dinda.”
“mas biasa makan disini?”
“iya,
ini adalah tempat makan favorit keluarga Mas. Jangan heran yah?! Maaf kalo Mas
gak ngajak Dinda makan-makan direstoran. Tapi ayah selalu mengajarkan kepada Mas bahwasanya kita harus
menghargai orang-orang kecil, karena mereka kita jadi besar, dan mereka juga
layak mendapatkan rizqi yang halal” jelas Fahmi.
“mas
ngomong apa sih? Dina juga gak pernah makan-makan direstoran, Dina lebih suka
makan-makan ditempat kayak gini” sanggah Dina.
“wah
sehati dong” canda Fahmi.
Bagi Dina Fahmi adalah sosok pria idamannya, selain
sholeh, rajin ibadah, Fahmi juga rajin menjaga kerapian dan kebersihannya, ia
juga bukan seorang perokok. Hal ini yang paling disukai Dina karena ia paling
benci akan bau asap rokok.
Selesai makan siang, Fahmi mengajak Dina jalan-jalan
sebentar ke pantai Ancol, sebelum mengantar Dina pulang, lagipula Fahmi juga
telah memohon izin kepada kedua orang tua Dina, jauh sebelum ia menjemput Dina
kekampus. Dan Dina juga tahu akan hal itu, tanpa persetujuan orang tuanya, ia
tidak akan pergi.
Sambil menikmati indahnya pantai keduanya pada diem,
sebenarnya ada 1 hal yang sangat mengganjal dihati Dina. Walau mereka sering
bersama, tapi sikap Fahmi sangat biasa-biasa saja padanya, seperti tidak ada
yang special. Bahkan ia sempat merasa bahwa Fahmi tidak mencintainya. Tak
berapa lama Dina memulai pembicaraan
“mas?!”
sapa Dina
“ya
Dinda?” jawab Fahmi datar tanpa ada ekspresi apapun
“Dina
boleh Tanya sesuatu gak? Tapi…mas jangan marah ya?!” pinta Dina
“ya
enggaklah Dinda, kenapa musti marah-marah? Memang ada apa?” Tanya dr.Fahmi
serius
“mas
jawab dengan jujur ya?! Jawab dengan sejujur-jujurnya”. “iya”. Sahut Fahmi
singkat
“mas,
Dina mohon maaf sebelumnya apabila pertanyaan Dina ini lancang dan menyinggung
perasaan mas.”
“
Silahkan saja Dinda, memangnya mau tanya apaan sih ?” Fahmi penasaran juga
“
Dina denger – denger dulu Mas Fahmi itu orangnya gak gampang jatuh cinta sama
perempuan, emangnya kenapa Mas ?
“
Loh, Dinda tau darimana? “ Fahmi terkejut
“
Ya adalah yang cerita dulu jauh sebelum kita tunangan “
“
Owh …. Pasti Daniel ya?” tebak Fahmi
Sedang
Dina ia Cuma diem aja mencoba untuk menahan segala kecamuk dihatinya
“
Emang bener Din, ya gaka tau juga kenapa bisa begitu, mungkin karena dulu Mas
takut, takut untuk jatuh cinta, karena dulu papa juga punya sahabat namanya
Rico, ya singkat cerita dia meninggal karena bunuh diri gitu hanya gara – gara
ditinggalin dan dibohongin sama ceweknya dia, dan karena itu juga dulu Mas
sempet mikir bahwa wanita itu kejam dan jahat, tapi sekarang udah gak lagi kok,
Dina tenang aja “ kisah Fahmi
“
Ya gak semua wanita jahat Mas “
Mereka
berdua terdiam kembali, suasana jadi hening lagi , lalu ….
“Mas?
Apa mas cinta sama Dina?” Tanya Dina pelan,
Sedang
Fahmi ia terkejut bukan main atas pertanyaan Dina itu, ia tidak pernah
menyangka bahwa Dina akan menanyakan hal itu, Fahmi pun bingung bagaimana harus
menjawabnya, lama ia diam, lalu, selama ini Fahmi menganggap Dina sebagai
adiknya
“maafkan mas Dinda, jujur mas masih belum bisa
mencintai Dinda”. Ujar Fahmi seraya menundukkan kepalanya menatap deburan ombak
yang menjadi buih,
sedang
Dina ia terkejut bukan main, bagai tersambar petir rasanya, hatinya begiru
perih, sakit, dan kecewa mendengar pernyataan Fahmi.
Ia tidak menyangka bahwa selama ini Fahmi tidak pernah
mencintainya. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya yang putih dan
halus bersamaan dengan deburan ombak yang keras menghantam bebatuan.
“Apa?!
Maksud mas? Jadi selama ini mas gak pernah cinta sama Dina?” Tanya Dina mencoba
untuk bersabar.
“Maafin mas Dinda, tapi…please jangan salah
faham, mas tidak cinta sama Dinda bukan karena mas cinta sama wanita lain, tapi
mas memang sama sekali gak pernah jatuh hati sama wanita manapun, sumpah demi
Allah.” Jelas Fahmi.
Lama
mereka saling diam, kemudian…
“Apa
gak sebaiknya kita batalkan saja acara pertunangan kita ini mas? Maafin Dina,
tapi Dina juga gak mau mas merasa tersiksa karena ikatan kita.”
“Dinda,
Dinda ngomong apa sih? Dinda pikir gampang ngebatalin semua ini? Lantas
bagaimana dengan perjodohan ini? Apa tidak akan menyakiti ke2 orang tua kita masing-masing
yang memang sangat menginginkan perjodohan kita ini?, sungguh mas sama sekali
gak pernah merasa menyesal apalagi kebeban sama ikatan kita ini Dinda , Mas
juga gak mau nyakitin perasaan Bunda yang sangat menginginkan Dinda untuk
segera menjadi menantunya”
“Jadi
mas gak mikirin perasaan Dina?. Ujar Dina Seraya meninggalkan Fahmi sendiri.
“Dinda, Dinda tunggu?! Dinda?!” Fahmi mengejar
Dina tapi udah keburu pergi dengan mengendarai taxi.
Sesampainya
dirumah ia langsung mengunci diri dikamar.
Dina
menangis sejadi-jadinya
“Kamu
jahat mas Fahmi, Dina benci sama kamu mas.” Ujar Dina dalam isak tangisnya,
hatinya begitu sakit, ternyata selama ini cintanya hanya bertepuk sebelah
tangan.
Malam harinya tak diduga-duga, dr.Fahmi datang
berkunjung bersama seluruh keluarga besarnya Fahmi memutuskan untuk mempercepat
pernikahan tanpa harus menunggu Dina lulus kuliah terlebih dahulu. Dina
benar-benar terkejut, ia makin tak mengerti akan jalan pikiran calon suaminya
itu, ia pun mohon izin kepada kedua orang tuanya untuk berbicara berdua saja
dengan Fahmi.
“Mas?
Ini semua apa maksudnya, kenapa mas malah mempercepat pernikahan kita? Mas
jangan permainkan perasaan Dina mas?” protes Dina seraya menitikkan air mata
“Dinda,
Dinda, Dinda tolong Dinda jangan berfikiran seperti itu?! mana mungkin mas mau
mempermainkan perasaan Dinda? Tolong dengar dulu maksud dan tujuan mas ini.”
Pinta Fahmi
“Dinda,
mas tau mas udah nyakitin perasaan Dinda, maafin mas, tapi tolong beri mas
kesempatan, mas ingin segera menikah, karena mas tau Dinda sangat mencintai
mas, izinkan mas kenali Dinda lebih jauh lagi, lebih dekat lagi, mas ingin belajar,
mas juga ingin mencintai Dinda seutuhnya, setulus hati mas, mas juga gak akan
jatuh cinta pada wanita lain, tapi mas juga gak mau kehilangan Dinda, tolong
beri mas kesempatan.” Tegas Fahmi,
Dina
jadi terharu mendengarnya.
“Jika
dalam waktu 1 tahun kita menikah, tapi mas belum juga bisa, maka mas akan
membebaskan Dinda, tapi mas juga ingin mencintai Dinda seperti Dinda mencintai
mas, dan bukankah kita bisa bersahabat, jika kita tidak bisa berlaku selayaknya
suami istri, Dinda mau kan?” ujar Fahmi seraya menitikkan air matanya pula,
Dina
jadi tak tega.
“Baiklah
mas, Dina mau, dan Dina juga akan berusaha menjadi istri mas yang baik.” Sahut
Dina seraya tersenyum.
“Benar
Dinda?” Fahmi seakan tak percaya,
Dina
hanya menganggukkan kepalanya. Fahmi pun kembali tersenyum
“Terima
kasih banyak Dinda.” Ujar Fahmi lega.
“Kita
lihat saja nanti mas, aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku, dan aku akan
menjadi satu-satunya dan wanita pertama serta wanita terakhir yang kau cinta.”
Kata Dina dalam hati.
Kesepakatan telah tercapai, dan semua telah dipersiapkan,
mulai dari undangan, gaun pengantin, gedung, dan lain sebagainya, tentunya
dengan rancangan yang sesuai dengan keinginan Fahmi dan Dina,
Hari
– hari mereka disibukkan oleh segala persiapan mulai dari mengantar undangan
kesana kemari, dsb.
Pada
malam hari menjelang pernikahan esok harinya Dina tak dapat memejamkan matanya,
hatinya gundah dan gelisah
“
Ya Allah….., apa arti dari semua ini Ya Allah …?” gumam Dina lirih
Begitupun juga dengan Fahmi hatinya berdebar – debar
tak karuan, ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi esok hari, seraya
memandangi foto Dina pas lagi bersama – sama dalam acara peresmian ruang rawat
anak – anak,
“
Maafin Mas Dinda, Mas tahu ini semua pasti sangat menyakitkan buat Dinda “
Dan tibalah saat-saat yang mendebarkan itu, Fahmi
terlihat begitu tampan dengan peci hitam, jas hitam yang dihias dengan bunga
dan kalung bunga melati terlihat ia juga mencukur bersih kumis tipis dan
janggutnya, dan merapikan rambutnya, begitupun juga dengan Dina ia tak kalah
cantik dengan kebaya putih dan kerudungnya, ia terlihat begitu cantik, seperti
bukan Dina, dandanannya juga tak begitu berlebihan.
Fahmi
terdengar begitu mantap ketika mengucapkan ijab qobull
“Qobiltu
nikachaha watazwijaha bil mahrill madzkur”,
“Bagaimana sah? tanya sang hakim, dan do’a
pernikahan pun telah dibacakan, Dina terharu, ia menitikkan air mata.
Tibalah sang pengantin pria menjumpai pengantin
wanita, jantung keduanya begitu berdebar-debar, dan Dina pun menyalami, mencium
tangan Fahmi untuk pertama kalinya, air matanya terjatuh ditangan sang suami,
lalu Fahmi menyentuh pundak istrinya, lantas mencium kening istrinya dengan
begitu lembut untuk yang pertama kalinya, jantungnya berdegup kencang tak
karuan, Fahmi pun menyerahkan mas kawin berupa uang tunai 22 juta rupiah,
beserta seperangkat perhiasan lengkap, emas bertahtahkan berlian seberat 22
karat, dan membaca sholawat Munjiyat serta do’a Khotmil Qur’an sesuai
permintaan Dina, sedang mahar berupa perhiasan dan uang tunai merupakan
pemberian dari dr.Muhammad Fahmi Ar-Royan kepada istrinya.
Acara resepsi pada malam harinya begitu mewah, dari
2000 undangan hampir semuanya hadir, pengantin terlihat bahagia duduk
dipelaminan dihalaman sebuah hotel mewah dihadapan kolam renang yang dihiasi
lilin-lilin dan bunga, makanannya pun enak-enak. Semuanya turut bahagia dan
mengucapkan selamat pada mempelai berdua. Teman-teman Dina, dr.Daniel beserta
istri, dan semua orang dirumah sakit pada hadir semua.
“Selamat
ya Mi, akhirnya kamu laku juga.” Canda dr.Daniel,
dr.Fahmi
tertawa mendengarnya.
“Semoga
langgeng, sakinah, mawaddah, warrohmah dan dikaruniai banyak momongan ya.” Sambung
Bidan Lasmi kepada Dina
“Amin…terima
kasih.”
“Oh
ya…ntar malem jangan lupa jamunya, and gak usah pakek kondom ya Mi.” canda dr.Daniel
lagi, membuat kedua mempelai jadi tersipu malu. Sedang dr.Fahmi ia melototin dr.Daniel
karena sudah bikin ia malu.
Acara tidak sampai disitu, Ada acara sungkeman, suap-suapan, buka kado
bareng, foto-foto bersama, dan yang terakhir Dr.Fahmi melingkarkan cincin
kawinnya dijari manis Dina, memakaikan anting, kalung, dan gelang.
Tampak Dina ngerasa geli ketika Fahmi melingkarkan
kalung dilehernya, membuat tamu undangan jadi pada ketawa. Dan lagi-lagi dr.Fahmi
kembali mencium kening istrinya, lagi-lagi dr.Daniel ngeledekin
“Hai
Fahmi! Kok Cuma keningnya doang? Cium dong?” kontan para tamu undangan jadi
ikut bersorak
“Cium! cium! cium!” tapi dr. Fahmi tidak
melakukannya karena hal itu adalah privasinya dan istrinya.
Malam semakin larut, acara pun telah usai, keduanya
pun makan malam bersama terlebih dahulu. Dan untuk yang pertama kalinya Dina
melayani sang suami, dengan mengambilkan sepiring nasi beserta lauk dan
sayurnya. Dan Fahmi pun mengajak doa bersama terlebih dahulu, malam itu Dina
terlihat cantik dengan mengenakan setelan sutra motif bunga-bunga berwarna ungu
beserta jilbabnya dengan warna senada pemberian dari dr. Fahmi. Fahmi pun
mengagumi kecantikan Dina malam ini.
“Dinda
cantik banget.” Puji Fahmi sambil makan
“Makasih Mas, Mas juga cakep banget.” Balas
Dina seraya tersenyum.
“Emm…kalo
ini sih udah dari dulu Dinda, bukannya Dinda naksir Mas juga kan?” goda Fahmi.
“Ih…GR
banget sih Mas?” sahut Dina, Fahmi cekikikan.
“Oh
ya Din, gimana kalo sekarang kita pakek sebutan laen aja, jangan Mas Dinda
gitu, kira-kira apa ya?”
Dina
juga ikutan berfikir.
“Mmm…gimana kalo Papa Mama?” ujar Dina agak
ragu.
“Wah…seru
juga tuh, mama.” Ujar Fahmi.
“Oh
ya ma, cincinnya pas kan?”
Tanya Fahmi seraya melihat cincin dijari Dina.
“Udah
pas kok pa.”
sahut Dina singkat.
Seusai makan Dina pergi menuju kekamarnya terlebih
dahulu, sementara Fahmi ia masih ngobrol sejenak dengan dr. Daniel yang masih
belum pulang
“Eh
bro…jangan lupa loe musti dapetin dia malem ini juga, loe ingat kan waktu kita
ikut pengajian yang menyatakan barang siapa yang bisa ngedapetin surganya dunia
dimalam pertamanya, maka rezekinya akan lancar, dan senantiasa disertai oleh
kesuksesan makanya loe jangan sia-siain malem ini, oke?!” bisik dr.Daniel
“Apaan
sih?” bantah Fahmi.
“Aduh,
gimana aku mau ngelakuinnya kalo aku gak cinta?” kata Fahmi dalam hati.
Ia
pun segera manuju kamar Dina, pas sampai dipintu depan kamarnya, Fahmi agak
ragu.
“Aduh…masuk
enggak ya?” ia jadi takut, ngebayangin yang serem-serem kayak di TV-TV
diperkosa ama istri . hehehehe... sementara Dina, ia gelisah tak karuan,
menunggu Fahmi suaminya, hatinya bercampur aduk rasanya.
“Aduh
gimana nih? Masuk enggak? Masuk enggak”. Fahmi berdiri didepan pintu kamar Dina
dengan perasaan gugup.
Tiba-tiba
ia dikejutkan oleh suara Ayah Dina
“Loh…kenapa
masih disini nak?” Tanya sang Ayah sembari tersenyum ramah. Fahmi pun jadi
terkejut tak karuan
“Hah?!
Oh…A…ayah, eh…e…i…iya yah?”
“Santai
saja nak, oh ya kamu minum ini dulu ya?” ujar Ayah Dina seraya menyerahkan
secangkir minuman yang mirip-mirip jamu gitu.
“Ini
minuman apa yah?” Tanya Fahmi polos.
“Ini
ramuan orang-orang tua dulu, ayo di minum”,
“fungsinya?”,
Tanya Fahmi lagi,
“fungsinya
nanti kamu tau sendiri”, ujar sang ayah,
Fahmi
pun meminumnya hingga habis, setelah itu,
“
ya sudah, sekarang kamu masuk sana
?!, sudah di tungguin”, perintah sang ayah seraya tersenyum ramah, Fahmi pun masuk, sebelum
membuka pintu, ia menarik nafas dalam-dalam lalu membaca basmallah,
“bismillahirrohmanirrohim”.
Fahmi pun masuk dengan mengucap salam,
“Assalamu’
alaikum !” sapa Fahmi,
“Waalaikumsalam
!”, jawab Dina yang berusaha untuk santai walau sebenarnya ia gugup juga,
terlihat
sang istri sedang duduk di tepi ranjang yang di hiasi oleh bunga mawar merah,
mawar putih dan melati berbentuk hati, hiasan kamar itu begitu indah dengan di
penuhi bunga-bunga harum semerbak, di tambah lagi dengan nuansa pink yang begitu
kental, ada pula buah anggur merah di samping ranjang pengantin, menambah
suasana semakin romatis.
Fahmi
pun menghampiri Dina dan kemudian duduk
di sampingnya, lamaaa……..mereka saling terdiam, lalu…..
”
Hmmm…. kita sholat sunnah berjamaah yuk ma ?!”, ajak Fahmi,
“baik pa, mama mo ambil wudhu dulu”, ujar
Dina,
“oke..papa tunggu”, ujar Fahmi yang rupanya
sudah ambil wudhu terlebih dahulu seusai makan malam tadi.
Di
dalam kamar mandi yang juga di hias sedemikian rupa, Dina berurai air mata,
“
Ya Allah, hamba masih belum melihat adanya cinta dimata suami hamba untuk
hamba, maafkan hamba jika hamba masih belum bisa melaksanakan semua kewajiban
hamba kepada suami hamba, karena hamba ingin adanya cinta di antara kami, bukan
hanya hasrat semata”, gumam Dina lirih dalam tangisnya.
Tak
berapa lama Dina pun keluar dari kamar mandi dan mereka berdua sholat sunah
berjama’ah. Fahmi pun berdo’a dan Dina mengamini, setelah itu Dina kembali
mencium tangan suaminya, hatinya terasa begitu perih, seusai sholat keduanya
kembali duduk bersama.
“Ma…papa punya kado special buat mama, di
terima ya ?”, ujar Fahmi sembari memberikan kado itu seraya tersenyum begitu
manisnya.
“Waduh
papa repot-repot banget sih, tapi terima kasih banyak ya pa ? tapi ini apa
pa?”, Tanya Dina seraya menerima kado dari suaminya itu.
“Yaa…
dibuka dong ?!”, ujar Fahmi, Dina pun membuka kado tersebut secara
perlahan-lahan, ternyata isinya adalah sebuah handphone baru model blackberry
gitu, dengan wallpaper foto Fahmi yang lagi pake topi merah dan kaos merah dan
lagi tersenyum ceria.
“Masya
Allah pa…? ini handphone buat mama ?” tanya
Dina dengan wajah sumringah.
“Ya
iyalah ma, emang mau buat siapa lagi, jadi gini, papa ingat dulu waktu kita ada
acara ke Bandung, mama pernah bilang kalo mama mau handphone baru yang dapet
dari pemberian suami, naah…, papa kan sekarang udah jadi suami mama, jadi boleh
kan papa beliin ini buat mama ?!, oh ya , hp kita sama lho ma, nomornya juga,
Cuma beda belakangnya aja, mama gak apa-apa kan kalo musti ganti nomor ponsel
?”,
Dina
benar-benar terharu.
“Masya
Allah pa, tapi…terima kasih banyak ya pa, mama gak nyangka papa masih inget
soal itu, tentu mama gak apa-apa kalo musti ganti nomor, ini semua kan dari papa,”
“pokoknya
apapun yang dari papa,mama pasti terima pa,
mulai hari ini, mama istri papa dan apapun yang mama lakuin, tentu mama mohon
ridho dari papa, kalo mama ada salah, papa jangan sungkan-sungkan negur mama ya
?”, ujar Dina memasrahkan diri pada suaminya,
Fahmi
jadi terharu, ia menitikkan air mata tanpa sengaja,
“terima
kasih banyak ya ma !”, ujar Fahmi seraya mencium kening Dina,
ada getaran-getaran aneh yang di rasakan oleh
Dina ketika Fahmi mencium keningnya, ia pun menitikkan air mata juga.
“Maafin papa ya ma, karena papa masih belum
bisa…….”, belum selesai Fahmi berbicara, Dina keburu menutup bibir Fahmi dengan
jarinya yang lentik.
“Pa…papa
gak usah minta maaf, papa gak salah apa-apa sama mama, mama ngerti kok gimana
perasaan papa,mama akan selalu mendampingi papa baik suka maupun duka, begini saja
mama sudah sangat bahagia menjadi istri papa dan mama akan selalu setia
menunggu cinta papa sampai kapanpun, mama akan menunggu, satu tahun, sepuluh
tahun atau bahkan lebih, mama rela walau seumur hidup mama tanpa cinta papa,
asalkan mama bisa berada di samping papa, mama sudah sangat bahagia pa…”,
“
terima kasih banyak ya ma, maafin papa, mama benar-benar wanita yang mulia,
semoga Allah selalu melindungimu ma”,
“amin…..”,
Fahmi
hanya menganggukkan kepalanya saja, kemudian Dina balas mencium pipi Fahmi,
keduanya saling berpelukan dan berderaian airmata.
“ Aku akan selalu mencintaimu mas”, ujar Dina
dalam hati.
“Ya
udah kita tidur yuk, papa capek”, ujar Fahmi.
“Baik pa”.
tiba-tiba
perut Fahmi terasa sakit, panas dan mulas.
“Aduh…aw
!”, ujar Fahmi mengaduh sembari memegang perutnya, ia merasa ada yang aneh
dalam tubuhnya, keringatnya bercucuran.
“Kenapa
pa ? ada yang sakit ?”, tanya Dina panik.
“Gak
tau nih, tiba- tiba perut papa sakit”, keluh Fahmi.
“Memangnya
tadi siang papa makan apa ? jangan-jangan papa salah makan lagi, sini mama
periksa”.
“Perasaan papa juga gak makan apa-apa ma,
tapi….seingat papa, papa tadi habis minum kayak ramuan gitu dari ayah”.
“apa
? ramuan ?”, Dina terkejut.
“Aduh…jangan-jangan
ayah ngasih jamu itu lagi sama mas Fahmi”, tiba-tiba Dina jadi cekikikan
setelah mengerti apa yang di maksud.
“Papa
ini lucu ya ?”,
“mama ini apaan sih, udah tau orang sakit
begini, mama malah ngetawain”, rengek Fahmi.
Tiba-tiba
Fahmi ngerasa jadi pengen pipis, ia pun segera berlari menuju kamar mandi,
setelah sakit perutnya sembuh, Fahmi mencicipi buah anggur yang ada di meja.
“Emm….buah
anggurnya manis banget lo ma, kayak mama “, goda Fahmi.
“Alah..gombal”,
sahut Dina,
“Loh beneran, nih papa suapin ?!”, ujar Fahmi
seraya menyuapi istrinya.
“Oh…ya
pa ? papa tidur dimana ? diranjang sini ? biar mama di sofa ya ?” tukas Dina.
“Mama..mama apa-apaan sih, kita kok jadi kayak
orang musuhan aja, ntar ketahuan lagi kalo bobo’nya pisah-pisah, kita bobo’nya
diranjang semua aja, papa janji, papa gak bakalan ngapa-ngapain mama kok, dan
papa minta soal ini biar kita berdua aja yang tau, jangan sampai ada orang lain
yang tau, apalagi orang tua kita, nanti mereka sedih lagi”, ujar Fahmi.
“Baik
pa”.
Malam itu mereka tidur seranjang dengan posisi
saling membelakangi, namun keduanya tak dapat memejamkan mata, terlihat Dina
agak kedinginan karena malam itu cuacanya sangat dingin.
“Ma…kalo
mama ngerasa dingin, mama nyandar aja di bahu papa, papa gak apa-apa kok”, ujar
Fahmi perhatian.
“Bener
gak apa-apa pa?”
“sini
ma ?”, pinta Fahmi,
Dina
pun menyandarkan kepalanya di bahu Fahmi.
“Nyesss…”
bahunya terasa dingin, namun yang membuat Dina merasa bersyukur, sangat-sangat
bersyukur, sikap Fahmi tetap ramah padanya, nggak dingin dan cuek bahkan untuk
bersikap kasar kayak di TV-TV itu.
Esoknya Dina dan Fahmi pergi ke Bali,
mereka dapat hadiah merayakan Honey moon disana. Mereka dapat liburan ke Bali selama 5 hari. Dan mereka habiskan
berkeliling-keliling ketanah lot, pantai sanur, pantai kuta dan lain sebagainya.
Sore hari Fahmi ngajak Dina menikmati indahnya
matahari terbenam dipantai kuta, suasana saat itu lagi rame, lagi banyak turis
asing yang lagi beradegan kissing. Fahmi pun buru-buru ngjak Dina pergi
“Astaghfirullahal
‘adzim, eh…kita balik aja yuk ma?!” ajak Fahmi.
Dina
yang mengetahui akan maksud Fahmi Cuma senyum – senyum aja
Setelah acara honeymoon selesai, Fahmi dan Dina balik
ke Jakarta. Dan
Fahmi yang ternyata juga sudah memiliki rumah sendiri. Mengajak Dina tinggal
bersamanya disana.
“Selamat
datang di istanaku ya ma?!” ucap Fahmi saat mereka sampai dirumah.
“Terima kasih pa?!”
“Yuk
masuk?” ajak Fahmi dan mereka berjumpa dengan seorang ibu-ibu yang disertai
suaminya.
“Kenalin ini bi Surti yang nanti nemenin mama
beres-beres dirumah ini, ngurusin semua urusan rumah, dan ini pak Imam suami bi
Surti.”
“Selamat
datang nyonya, semoga betah ya tinggal disini.” Ujar bi Surti setelah saling
berkenalan.
Fahmi mengajak Dina berkeliling melihat-lihat
kondisi rumah mereka. Ada kolam renang, kebun dibelakang rumah, kolam ikan,
lapangan basket, ruang makan, ruang bersantai disamping sebuah taman, beberapa
kamar, yang salah satunya adalah kamar mereka, ruang kerja, ruang untuk sholat
dan mengaji yang cukup luas, perpustakaan kecil, ruang tamu, ruang keluarga dan
satu ruangan kosong yang cukup luas dan dibiarkan kosong.
Dina
pun bertanya.
“Ini
ruangan apa pa?” Tanya Dina penasaran
“Ini
ruangan khusus, special buat mama, nanti kalo mama sudah lulus, mama sudah bisa
langsung praktek kerja disini, jadi gak perlu jauh-jauh kerumah sakit lagi,
biar mama bisa ngurusin rumah juga dan anak-anak kita nanti.” Tegas Fahmi,
Dina
pun jadi sangat terharu.
“Terima kasih banyak ya pa, mama gak nyangka
papa akan sebegitu pedulinya sama mama.”
“Harus
dong, tapi inget pesen papa, nanti kalau sudah jadi bidan jangan pernah
sekalipun mama terima pasien yang mau aborsi. Inget ya ma, itu dosa besar,
berapapun hasil yang mama terima dan sebesar apapun, papa gak akan pernah
rela.” Pesan Fahmi singkat.
Hari – hari sebagai pengantin baru memang begitu indah, Dina tetap
merasa bahagia walau Fahmi tak mencintainya karena sikap Fahmi yang begitu mengayominya membuat
ia merasa nyaman didekat suaminya itu, dan mereka pun kembali disibukkan oleh
tugas masing – masing, Dina terus melanjutkan kuliahnya, Fahmi pun bertugas di
rumah sakit seperti biasa,
Pas hari pertama mereka
masuk tugas ke rumah sakit Islami, setelah liburan honeymoon, kontan semua
staff dirumah sakit tersebut pada ngucapin selamat dan juga pada ngeledekin
mereka berdua juga tak terkecuali dr. Daniel
“
Ehm….. ehm… gimna rasany jadi pengantin baru Shob?” goda dr. Daniel
“
Hmmmmmm………………. Aku nyessel Bro “ tukas dr. Fahmi
Mendengar
jawaban Fahmi Daniel dan Dina sama – sama terkejut bukan main
“
Maksud kamu ?” selidik Daniel
“
Yah nyessel aja kenapa gak dari dulu aja ya aku nikahnya sama wanita cantik
Ini
“ canda Fahmi seraya merangkul Dina
“
Hmmmm… baru tau ya?” balas Daniel, mereka bertiga pun tertawa bersama.
Hari minggu yang begitu
cerah, Mbak Ella pun coba bersilaturrahim ke rumah Fahmi, nyatanya Fahmi lagi
keluar kota,
Dina pun lagi sendirian dirumah
“
Pa kabar adik mbak yang cantik ini?”
“
Alhamdulillah sehat mbak, Wah kebetuln sekali nih mbak Dina
lagi
kesepian nih “
“
Emang Fahminya lagi kemana Dik ?”
“
Mas Fahmi lagi ada tugas keluar kota mbak, tadi pagi – pagi sekali beliau
berangkat, dan Insya’ Alloh 2 hari lagi baru pulang “
“
Hhhhhhh ….. gitu emang lo punya suami sibuk, suami mbak juga gitu seriiing
banget ada tugas keluar kota,
jadi lagi kesepian nih ceritanya ?”
“
Iya mbak, makanya mbak nginep sini aja ntar “
“
Mbak si mau – mau ajah, tapi kan suami mbak
baru dua hari yang lalu datangnya dari luar kota, jadi pingin honey day gitu dah “ canda
Mbak Ella
“
Oh gitu yah, Ryannya kenapa gak diajak mbak?”
“ Si Ryan lagi pingin main – main sama papanya
katanya “
“
Oh ya Dik, mbak Cuma ngi ngingetin nih, kamu kudu pinter – pinter dandan terus,
jangan sampek enggak, ya ini si menurut cerita – cerita temen – temen mbak,
sekarang ini lagi banyak banget kasus perselingkuhan, makanya kita kudu pinter
– pinter jaga suami kita, apalagi Fahmi tuh masih muda banget, dia selalu
dikelilingi sama wanita – wanita cantik, entah perawat baru, atau pasien –
pasiennya, ya mbak percaya dan yaqin sih kalo si Fahmi itu type setia orangnya,
Cuma kan kita kudu sedia payung sebelum hujan “ nasihat Mbak Ella
“
Iya mbak terima kasih banyak “
Semalaman Dina tak dapat memejmkan matanya, kata – kata mbak Ella tadi
terus terngiang ditelinganya, ngebayangin wanita – wanita cantik yang ada disekitar
Fahmi, dulu ajah sbelum nikah, banyak banget gadis – gadis yang dateng ke rumah
sakit buat nemuin Fahmi, ada yang pura – pura sakitlah, pura – pura kambuh lagi
penyakitnya, dsb demi ngedapetin perhatian dari Fahmi, apalagi sekarang
mengingat Fahmi belum juga jatuh hati padanya, Dina pun jadi khawatir takut –
takut kalo Fahmi malah jatuh hati sama wanita lain, pas lagi gelisah tak
disangka Fahmi menelfonnya
“
Assalamu’alaikum Mama “
“
Wa’alaikum salam Pa “
“
Belum tidur nih ma?”
“
Belum Pa,
gak tau kenapa, mungkin karena cuacanya sekarang lagi dingin banget kali ya?”
“
Oh…., “
“
Papa lagi ngapain sekarang?”
“
Loh kan lagi
telfonan sama Mama “
Dina
jadi ketawa
“
Hehehehe, iya ding, ya maksudnya barusan “
“
Barusan papa lagi diskusi, ada dokter yang sangat berdedikasi disini Ma, masih
muda juga, dia juga specialis anak – anak,orangnya pinter lagi “ kisah Fahmi
“
cowok apa cewek pa?” selidik Dina
“
Cewek, namanya Ratna, lulusan Australia
lagi, “ lanjut Fahmi
Entah
kenapa mendengar itu hati Dina terasa sakit, ia jadi cemburu
“
Trus papa suka ?”
“
Aduh, mama ngomong apa sih? Ya gak mungkinlah, ma “
“
trus maksudnya cerita kayak gitu tadi apa?”
“
Duh jangan marah donk sayang, masak gitu ajah marah, jadi gini dia itu ternyata
masih saudara jauh sama papa, mama jangan marah dulu donk, papa kan belum
selesai ceritanya “ jelas Fahmi
“
Mama gak marah kok Pa, tapi paling tidak papa ngertiin perasaan mama donk masak
cerita wanita lain sama mama, pakek muji – muji segala tadi “
Mereka
berdua mulai sedikit berdebat lewat telfon
“
Iya deh maafin papa ma, ya udah. udah malem ni mama tidur gih, moga mimpi indah
yach, jangan marah lagi, jangan lupa pipis dulu, ambil wudhu’ and doa dulu ya
?!”
“
iya sama – sama pa “
“
assalamu’alaikum “
Wa’alaikumsalam
“
Klik,
handphone pun udah dimatikan, tapi gak tau kenapa malam ini hati Dina jadi
gundah sekali, ia sangat takut kehilangan Fahmi, Malam itu Dina menangis dalam
doanya
“ Ya Alloh, kuatkanlah hamba dalam menerima semua kenyataan pahit ini,
kenyataan bahwa suami hamba masih juga
belum dapat mencintai hamba, ampuni semua dosa – dosa hamba dan juga dosa –
dosa suami hamba, lindingilah ia Ya Alloh, Jauhkanlah ia dari segala fitnah,
Izinkanlah hamba untuk bisa terus bersama dengannya, karena hamba sangat
mencintainya karena-Mu, jodohkanlah kami didunia dan akhirat kami Ya Robb,
jangan biarkan kami berpisah kecuali karena Takdir-Mu yakni kematian, hamba
hanya mau menikah sekali saja dalam seumur hidup hamba,Berkahilah rumah tangga
kami dengan penuh cinta, “
2 hari kemudian Fahmi pun dateng, Dina menyambutnya dengan penuh
kehangatan,
“
Assalamu’alaikum “
“
Wa’alaikum salam “ Dina langsung mencium tangan suaminya itu
“
Oh ya kemarin – kemarin Mbak Ella dateng sini pa, beliau nitip salam
buat papa “
“
’alaiha wa ‘alainassalam “,
“
Ya udah papa istirahat dulu yah, pasti papa lagi capek banget “
“
He’em “ sahut Fahmi singkat
Malam itu Fahmi rupanya masih belum bisa memejamkan matanya, doski pun
kembali mengutak atik laptopnya
Dina
yang baru kelar beres – beresin pakaian Fahmi langsung nyamperin Fahmi
“
Loh kok belum tidur pa?”
“ Belum ngantuk ma “sahut Fahmi singkat, doski
keliatan lagi sibuk ngetik – ngetik gitu kayaknya
“
Emang lagi ada tugas ya?” Tanya Dina seraya menghampiri suaminya yang lagi
sibuk di ranjang
“
Enggak kok, papa cuma lagi ngedit
artikel – artikel kemarin , oh ya ma nih ada artikelnya Mbak Ratna yang
kemarin papa certain di telfon, coba dibaca deh ?! “ ujar Fahmi seraya
memperlihatkannya kepada Dina
Dina
pun membacanya, rupanya Dina udah pernah membacanya waktu di kampus
“
Oh yang ini, mama udah pernah baca kok pa, dulu juga udah pernah dibahas
dikampus sama temen – temen “
“
Oh ya? “
“
Iya pa, bagus memang artikelnya , emang orangnya yang mana sih mama pingin tau
juga pa ?”
“
Nah kebetulan nih kemarin papa sempet motret – motret pas acara, ntar ya papa
buka foldernya dulu “
Fahmi
pun mencari file yang dimaksud
“
Nah, ini dia ma, ini dia orangnya, ini dia pas lagi presentasi “
“
Mmmmmm…. Cantik juga ya pa orangnya “
“
He’em, dia ini masih ada hubungan kerabat sama papa ma, jadi mama gak usah
cemburu lagi yah ? “
Dina
jadi tersipu malu
“
Iya pa, maafin mama soal yang kemarin “
“
Mama percaya sama papa ya ? ya walaupun papa masih belum bisa mencintai mama
dengan sepenuhnya, tapi papa juga lagi berusaha, dan papa gak akan pernah
mungkin jatuh hati sama wanita lain, papa udah berkomitmen sama mama, jadi papa
mohon mama yang sabar yah ?! jangan kayak gitu lagi, papa yaqin suatu saat nanti
papa pasti bisa mencintai mama dengan seutuhnya sama seperti mama yang mencintai
papa “ tegas Fahmi
“
Terima kasih pa, Insya’ Alloh mama akan selalu percaya sama papa, mama janji
gak akan kayak gitu lagi pa “
Tak terasa 7 bulan telah berlalu, semuanya masih
biasa-biasa saja, mereka berdua tengah sama-sama sibuknya. Dina pun juga udah
mulai praktek. Suka duka mereka hadapi bersama dengan saling member dukungan
kepada masing-masing pasangannya. Akan tetapi hati Dina menjadi semakin gelisah.
Pernikahan mereka sudah hampir satu tahun berjalan, tapi belum juga ada
tanda-tanda cinta dari Fahmi, ia pun telah berusaha keras agar Fahmi bisa
mencintainya. Dina laksanakan semua kewajibannya mulai dari mempersiapkan
peralatan mandi suami, pakaian suami, memasak dan mengantar makan siang untuk
suami, bahkan ia selalu tampil cantik nan anggun dihadapan suaminya. Bahkan
menunggu suaminya pulang walau sampai larut malam, dan pada suatu ketika…
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB dini hari. Tapi
Fahmi masih belum pulang juga, Dina benar-benar khawatir, meski setelah maghrib
tadi Fahmi sempat pamit pulang terlambat karena ada pasien yang koleps, tapi
Dina sudah telfon kerumah sakit, dan mereka bilang Fahmi sudah pulang sejak 1
jam yang lalu. Dina benar-benar khawatir, perasaannya kalut, fikirannya jadi
tak karuan, sementara handphone Fahmi tidak bisa dihubungi, berkali-kali Dina
mencoba menghubungi, tapi tetep gak bisa
“nomor
yang anda tuju sedang tidak aktif atau berda diluar jangkauan” gitu deh
bunyinya
“Duh…papa
kemana ya? Jam segini kok belum pulang, mana hpnya gak aktif lagi. Duuh…entar
kalo ada apa-apa gimana?” Dina benar-benar khawatir.
Ia
mondar-mandir, sesekali ia memandang keluar dari arah jendela seraya menggigiti
bibirnya yang merah nan tipis. Dina komat-kamit gak karuan mambaca istihgfar
buat nenangin diri. Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil yang masuk
menuju garasi, pak Imam pun membukakan pintu gerbang.
“Tin…tiiiiin…”
“Alhamdulillah,
itu dia mas Fahmi udah datang.” Dina pun bernafas lega, ia pun segera
membukakan pintu untuk suaminya tapi…betapa terkejutnya Dina melihat Fahmi
berjalan sempoyongan sambil memegang botol minuman, bicaranya ngawur, tercium
bau menyengat yang gak enak banget dari pakaian Fahmi, bicaranya pun ngaco,
yah….Fahmi mabuk.
“Astaghfirullah
pa? papa kenapa? Kenapa gini? Papa?” Fahmi langsung menubruk tubuh Dina.
“Hai…sayaaaang…malam
ini kamu harus melayaniku, karena aku menginginkanmu.”
“Pa…sadar
pa?! istighfar pa?!” bentak Dina.
Tiba-tiba
Fahmi langsung membopong tubuh Dina dan membawa kekamarnya
“Pa?!
lepasin pa?!” teriak Dina, tapi Fahmi tak peduli, ia langsung melempar tubuh
istrinya itu keranjang, dan Fahmi melepaskan pakaiannya.
“Malam
ini kamu harus bersamaku?” bentak Fahmi, ia pun menghampiri Dina.
“Pa…papa mau ngapain lepasin pa?!”
tiba-tiba
“Plaaaash!”
yah Dina menampar Fahmi
“Aduh…sakiiit.”
Pekik Fahmi
“Pa?!
papa apa-apaan sih? Kenapa papa jadi kayak gini? Dina benci papa, kalau papa
ada masalah selesaikan dengan baik pa?! jangan kayak gini, mama kecewa sama
papa?!” ujar Dina menangis.
“Aduuh…papa
kok ditampar sih?”
tiba-tiba
Fahmi langsung ketawa terpingkai-pingkai “Hahaha…haha…ha…yee…mama kena
kerjain?! Siapa lagi yang mabok beneran, hahahaha …… “
“
Maksud Papa apa? “ Dina semakin tak mengerti
“ma liat deh ma, bau gak enak dibaju papa ini
obat alcohol, dan minuman yang dibotol ini, ini itu teh ma?! Kalo gak percaya
cobain deh?!” ujar Fahmi sambil terus ketawa
“Papa
apa-apaan sih? Gak lucu tau?! Papa udah bikin mama jantungan tau?!”
“Ya
deh…sorry deh…maafin papa, papa cuman pengen tau marahnya mama kayak gimana?
Abis mama sabar banget sih, gak pernah marah sama papa, jadi papa kerjain deh.
Lagian mama kenapa belom tidur?”
“Pa,
mama tuh gak tenang, gak bisa tidur, kalo papa belum pulang, mama tuh udah
khawatir banget tadi, takut papa belum pulang, takut papa kenapa-kenapa,
eh…ternyata yang dikuatirin malah jahat gini, lagian ngapain sih papa pakek
ngerjain mama segala, mama tuh gak mungkin marah, kalo papa gak salah.” Jelas
Dina sambil manyun.
“Ya…maap
deh, tadi tuh, ban mobil papa pecah, terus hp papa lowbat. Papa tadi juga musti
benerin ban mobil papa dulu ma.” Jelas Fahmi,
“Papa
tuh jahat banget sih, udah bikin mama ketakutan tadi.” Ujar Dina sambil manyun.
“Jangan
manyun gitu dong ma, ntar papa cium loh.” Ancam Fahmi.
Dina
pun jadi tersenyum
“Ya deh…maapin papa yah? Tapi kenapa mama
nampar papa?”
“Duh…maaf ya pa, abis papa keterlaluan sih?
Pakek acting mabuk-mabukan segala.”
“Lagian
papa gak mungkin mabuk beneran ma, itu kan
dosa besar.”
Dina
pun membelai pipi Fahmi yang merah abis ditampar.
“Sebentar
ya pa, mama ambilin obat dulu.”
“Eh…eh..mau
kemana, jangan pergi dong. Lagian papa juga gaka apa-apa kok.”
“Bener?
Udah gak sakit?”
“Masih
sih, sedikit, cium dong?!” goda Fahmi.
“Apa
sih? Dasar genit!” balas Dina,
mereka
pun tertawa bersama, buat ngebayar rasa bersalahnya karena udah nampar Fahmi,
Dina pun mencium pipi Fahmi
“Ya
deh…mama cium, tapi papa pejamin mata dong?! Mama kan malu.”
“Oke.”
Dina
pun mencium pipi Fahmi dengan penuh cinta. Entah mengapa ada rasa aneh yang
dirasakan Fahmi saat Dina menciumnya, hatinya berdesir
“Jangan diulangin lagi lo pa yang kayak tadi.”
Ucap Dina
“Oke…!”
Dalam kehidupan berumah tangga mereka, tidak hanya ada
suka, dukapun turut menguji mereka, pernah suatu ketika rumah sakit islami
dituduh melakukan malpraktek yang dilakukan oleh salah satu bidan dirumah sakit
itu. hingga dituntut dipengadilan, padahal sih yang salah adalah si pasien.
Udah operasi masih nekat jalan-jalan padahal udah diingatkan, akhirnya luka
jahitannya terbuka, Dina pun berusaha untuk menguatkan Fahmi dalam menghadapi
semua itu. begitu pun sebaliknya, pernah suatu ketika ada pasien yang datang
menemui Dina dan maksa untuk dilakukan aborsi, karena Dina menolak, orang itu
malah mencaci maki gak karuan dan mengubrak abrik ruang kerja Dina.
“Ma, mama kenapa? Kok matanya sembab, abis
nangis ya? Ada
apa ma?” Tanya Fahmi pas pulang kerja mengetahui mata Dina berkaca-kaca.
“Tadi
ada orang datang kesini, dia maksa mama buat ngelakuin aborsi, karena mama
menolak, orang itu malah marah-marah, dan ngancurin ruang kerja mama.” Kisah
Dina sedih.
“Apa? Kurang ajar sekali dia, siapa orang itu
ma? Dimana rumahnya?” Fahmi jadi marah, ia tidak terima istrinya diperlakukan
seperti itu.
“Sabar
pa, mama gak apa-apa kok, papa gak usah nyari-nyari orang itu. entar urusannya
malah semakin panjang.” Pinta Dina
“Mama
gaka apa-apa kan?
Sabar ya ma, ya mungkin itu semua udah menjadi resiko pekerjaan kita, tapi kita
jangan pernah ngelakuin hal-hal yang menyimpang dari syariat, tapi papa bangga,
mama gak ngelakuin hal itu, insya Allah setelah ini kita akan dapat sesuatu
yang lebih indah.” Fahmi menguatkan istrinya.
“Amin.”
“Udah
ya, mama jangan nangis lagi, papa gak suka liat mama nangis, jelek, tuh liat
tuh idungnya jadi merah, kayak pinokio.”
Dina pun jadi tersenyum
“Nah
gitu dong jadi cantik lagi, ntar biar papa benerin lagi deh ruang kerja mama,
Oh ya kita makan yuk?” ajak Fahmi
“Masya
Allah pa, maafin mama ya? Mama lupa masak gara-gara ini semua.”
“Ya
udah gak apa-apa, yuk kita masak bareng-bareng, papa temenin.”
“Yuk !.”
Mereka
berdua pun menuju kedapur. Fahmi pun meminta bi Surti untuk istirahat
“Bibi
istirahat aja, biar saya yang nemenin Dina masak.” Ujar Fahmi
“Baik tuan!”
“Oh
ya, papa musti ngapain?”
“Papa yang motongin bumbu-bumbunya aja, biar
mama yang nyuci ikannya dulu.”
“Oke boss!” Fahmi memang terbiasa, karena dulu
ia suka bantu bunda masak, bahkan waktu di Singapore Fahmi masak sendiri,
ternyata Fahmi usil juga, dia nyolek pipi Dina
“Eh
salah, maaf kirain tomat, abis sama merahnya.” Canda Fahmi
“Bilang
aja pengen pegang-pegang.” Balas Dina seraya tertawa.
“Kalo
boleh tau tadi yang mau aborsi itu tua apa muda ma?
“Kayaknya
sih masih mahasiswa gitu pa.”
“Hemm…heran
deh cewek jaman sekarang mudah banget nyerahin kehormatannya, padahal juga
bukan suaminya, entar yang mau dikasihkan ke suaminya apanya? Gampangan banget,
gak bisa liat cOwOk cakep.” Fahmi menggerutu sendiri.
“Jangan
salahin cewek dong pa, cowok juga gitu suka ngeyel rayuan gombalnya itu
duh…minta ampun deh, gak kuat iman, gak bisa liat cewek cantik.” Balas Dina
“Ya…
jangan gitu dong ma, cewek juga gitu, sapa suruh kena rayuan cowok, padahal
cowoknya Cuma ngetes aja.” Sanggah Fahmi
“Ya
gak bisa gitu dong pa.”
“Loh…
kenapa jadi kita yang debatin ini ya ma?” mereka berdua kembali tertawa
“Mama
virgin kan?”
goda Fahmi walau sebenarnya ia tau istrinya itu gadis yang mulya.
“Kalo
gak percaya periksa sendiri aja pa.”
balas Dina kesal
“Aduh
!”. Pekik Fahmi, yah tangannya kena pisau
“Masya
Allah pa, hati-hati dong pa”. Dina pun langsung memeriksa jari Fahmi yang mulai
ngeluarin darah
“Aw…
aw…”
“Sakit
ya pa?”
“Lagi
dong”. Canda Fahmi
“Apaan
sih?” ujar Dina seraya mencubit pinggang Fahmi
“Geli
tau”. Ujar Fahmi.
Entah mengapa akhir-akhir ini Dina merasa Fahmi
berubah, penampilan Fahmi terlihat semakin rapi, makin ramah, makin manja,
makin sering telfon pas kerja, sering kirim-kirim puisi lewat sms, makin perhatian,
suka ngasih kejutan-kejutan, seperti ngasi bunga, coklat, boneka, dan lain
sebagainya, ngajak jalan bareng, bahkan pulang lebih cepet, tak jarang Fahmi
suka makan siang dirumah lalu sholat jam’ah dzuhur bareng Dina.
“Mas kenapa ya?” Dina penasaran,
Suatu
ketika pas lagi telfonan ……
“
Assalamu’alailum Sayang! “ sapa Fahmi dari telfon
“
Wa’alaikum salam cinta, tumben nih pagi – pagi udah telfon, kangen ya?” goda
Dina
“
Enggak tuh, Cuma pingin nanyak – nanyak doank “ sanggah Fahmi dari seberang
“
Emang papa mau Tanya apa?”
“
Gini Ma, seingat papa dulu kan
Mama sempet ikut kajian – kajian rohis gitu di kampus yang katanya ada belajar
bahasa arab juga, nah papa mau tanya ni, kalo bahasa arabnya “ Aku Kangen kamu”
apa ya Ma?”
“
Ih dasar pakek ngeles segala, bilang aja papa kangen sama mama “ balas Dina
sembari tertawa
Fahmi
pun jadi ikutan ketawa,
“
Abis mama sih, kenapa juga jadi wanita kok cantik banget, papa kan jadi bingung nih lo udah ketemu mama, mau ngomong apa gitu
rasanya ilang semua, apalagi denger suara mama yang lembut banget gini “ Goda
Fahmi
“
Ih dasar gombal “
“
Lhoh siapa yang ngegombal Ma, beneran deh papa Cuma ngelap aja” balas Fahmi, mereka
pun pada bercanda.
“
Dan Papa laebih suka lagi kalo denger suara Mama pas lagi flu kayak kemarin –
kemarin, suara Mama jadi tambah sexy kedengerannya”
“
Hmmmm…. Kalo gitu Mama mau sering – sering flu aja biar Papa suka terus” canda
Dina
“
Hahahahaha, ya gak gitu juga Ma,Oke deh, udah dulu ya Ma, entar Papa sambung lagi,
baik – baik dirumah ya sayang,
Mmmmmmmmmmmmmmmmmmmuuuuuuuuaaaaaaaaaaaccccchhhh!”
I
Miss You, Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,
miss you too” sahut Dina seraya tertawa
Rupanya
Dina belum mematikan handphonnya sebelum Fahmi mematikannya terlebih dahulu
“Lhoh?!
Kok belum dimatiin Ma?” Tanya Fahmi
“Papa
dulu aja yang matiin “
“
Enggak ah Mama dulu aja”
“
Pokoknya Papa duluan “
“
LHoh kok maksa sih, enggak pokoknya Mama duluan baru Papa yang matiin
handphonnya juga, matiin gih?! “
“
Hmmmmmmmmmmm…, kalo kayak gini ya kapan matinya, padahal tadi udah ngucapin
salam eh masih ngobrol lagi” ujar Dina, mereka kembali tertawa.
Bahkan pada suatu ketika pas lagi nonton TV bareng,
tiba-tiba Fahmi langsung bobo dipangkuan Dina. Dan mereka ngobrol berdua.
Sambil ngelus-ngelus rambut Fahmi, Dina bertanya sesuatu
“Pa,
dulu kan papa
banyak banget yang naksir tu, kenapa papa gak terima salah satu diantara
mereka?” Dina penasaran
“Abis papa kesel ma, sikap mereka
kadang-kadang suka berlebihan, ada yang pura-pura pingsanlah didepan papa, dan
masih banyak hal lagi yang mereka lakuin yang bikin papa ilfil. Bahkan pernah
tuh ada cewek yang nekat mau lepasin semua pakaiannya depan papa pasa dirumah,
sakit gila kan?”
kisah Fahmi
“Terus yang lain pa? masak sih gak ada yang
bikin papa tertarik satu aja dari mereka?”
“Ya, ada sih, pernah sih gadis itu pernah jadi
asisten papa juga, orangnya cantik, santun, dan gak neko-neko.”
Mendengar
itu Dina cemburu
“Cemburu
ya?” goda Fahmi seraya mencolek hidung Dina yang mancung
“Enggak,
siapa juga yang cemburu, lagian kenapa papa gak deketin aja gadis itu kalo papa
tertarik?”
“Sapa
bilang papa gak deketin gadis itu, papa udah deket banget sama gadis itu bahkan
sampai sekarang. Gadis itu kan
mama.” Ujar Fahmi
“Terus
kenapa mama gak nerima cinta Doni? Doni kan
juga suka ngejar-ngejar mama terus?”
Doni
adalah anak jurusan keperawatan yang naksir abis sama Dina
“Loh…papa
tau darimana soal Doni pa?” Dina kaget, karena ia emang gak pernah cerita soal
Doni pada Fahmi.
“Ada deeeh.” Sahut Fahmi
singkat
“Yaa…
gimana mama mau trima pa, orang dianya playboy banget, suka gonta-ganti cewek.”
Kisah Dina
“Berarti
kalo misalkan dulu papa kuliah ditempat mama, mama pasti pilih papa kan daripada Doni?”
Fahmi ngayal, Dina pun jadi ketawa.
“Ma,
papa mau Tanya ni, kalo misalakan ada orang jantungnya berdebar-debar terus
kalo pas lagi ketemu sama orang itu kenapa ma?” tanya Fahmi
“Oooh…itu,
itu namanya lagi kasmaran pa, lagi jatuh cinta gitu, emangnya kenapa pa?”
“Ah
enggak kok, gak apa-apa.” Sahut Fahmi
“Apa
iya aku udah jatuh cinta sama mama.” Kata Fahmi dalam hati.
“Oh
ya papa minta foto mama dong, mau papa jadiin wallpaper di hp?!” pinta Fahmi
“Boleh
dong pa.” Fahmi pun memotret Dina.
Setelah puas motret Dina, Fahmi kembali merebahkan
kepalanya di pangkuan istrinya sambil nonton sebuah film, dan gak disangka –
sangka ternyata di film itu ada adegan kissingnya juga, merasa malu Dina pun
ngerubah channelnya
“
Loh kenapa dipindah Ma? Filmnya kan
bagus “ protes Fahmi
“
Gak seru Pa “ sahut Dina singkat
“
Wahhh sayang tuh padahal tadi udah seru – serunya “
Fahmi
pun segera bangun, doski ngerubah posisi duduk disamping istrinya dan
merebahkan kepalanya di bahu istrinya
“
Hmmmmmm……. Mama wangi banget, papa suka banget sama harumnya parfum mama yang
ini jangan diganti – ganti ya Ma ?! “ pinta Fahmi
Mendengar
hal itu Dina pun menoleh kearah Fahmi, tanpa
sengaja wajah mereka begitu dekatnya, saking deketnya tanpa sengaja pula Dina
kena mencium Fahmi
“
Sreeeet…. “ tanpa sengaja bibir merahnya menyentuh bibir Fahmi yang tipis
Jantung
keduanya pun berdegup kencang, rupanya Fahmi ingin melanjutkan adegan tersebut,
doski kembali menatap wajah sang istri dengn begitu lekat, semakin dekat saja,
tapi Dina coba menghindar, sedang Fahmi ia terus mengejar, Hati Dina semakin
bergelut tak karuan, untung saja terdengar Bi Surti tengah memanggil manggil
namanya dari arah dapur, hingga ia bisa menghindari adegan selanjutnya,
“
Nyonya ! Nyonya ! “
“Sebentar
ya Pa, Bibi manggil manggil tuh ?! “ ucap Dina lirih seraya beranjak pergi
menuju ke dapur
“
Duhhh hampir saja “ gumam Dina lirih
Suatu siang yang cukup cerah, Dina nganter makan siang
buat Fahmi dirumah sakit
“Assalamu’alaikum!”
sapa Dina, Fahmi yang tampaknya sedang mengamati sesuatu senyum-senyum sendiri
langsung terkejut melihat Dina datang, kayak lagi ketakutan gitu.
“Wa…wa…wa’alaikumsalam.
Mama?”
“Papa?
Kenapa mlotot gitu? Kayak abis ngeliat hantu aja.” Canda Dina
“Ah…
e…enggak, maafin papa, duduk dulu ma, papa mau kekamar kecil sebentar.” Fahmi
pun segera keluar, seperti ada yang sedang ia sembuntikan Dina pun penasaran.
“Papa
kenapa ya? Kok jadi kayak gitu?” Dina pun mencoba membereskan berkas-berkas
dimeja Fahmi yang berantakan, dan betapa terkejutnya Dina pas melihat ada
banayk foto yang jatuh dari sebuah map, dan ternyata foto-foto itu adalah foto
Dina. Dalam berbagai pose. Selain itu didinding tempat kerja Fahmi terpajang
foto mereka berdua yang berukuran cukup besar sekitar 30-40 R.
“Apa
arti semua ini ya?” gumam Dina lirih.
Minggu yang cukup cerah, Dina dan Fahmi berkunjung
kerumah Bunda, disana Dina melihat-lihat album foto Fahmi mulai dari bayi
hingga dewasa
“Ternyata
waktu kecil, papa gendut dan imut banget ya?” ledek Dina
“Tapi
cakep kan?”
balas Fahmi.
Pas lagi bantuin bunda masak di dapur buat makan
siang, dan bunda pun membisikkan sesuatu ke telinga Dina,
“nak, kamu belum hamil? Bunda udah keburu
pengen punya cucu lagi nih, ayo jangan di tunda-tunda lagi,”
Dina kelabakan menjawabnya, bagaimana tidak, 8
bulan nikah Dina masih virgin, untung Fahmi keburu dateng,
“Fahmi
ayo dong, bunda udah kebelet pengen punya cucu lagi nih !” yang ditanya cuma
senyum-senyum saja dan Fahmi melingkarkan tangannya ke pinggul Dina, Fahmi
mendekap Dina.
“Sabar
dong bunda, Fahmi kan masih pengen pacaran dulu, insya Allah nanti kalo Alloh udah ngasih, Fahmi pasti akan kasih bunda cucu yang lucu-lucu”, ujar Fahmi sambil
melirik Dina.
“Hmmmm…
baru tau ya sekarang? Dari dulu suruh cepet nikah gak mau “goda mbak Ela”,
“iya
mbak, Fahmi nyesel, kenapa gak dari dulu aja ya Fahmi nikahnya ama adek mbak
yang cantik jelita ini”, Dina pun mencubit lengan Fahmi, doski ngerasa malu di
hadapan mertua dan kakak iparnya.
Malem harinya merka pun pamit pulang, pas ditengah – tengah perjalanan
mereka dihadang oleh hujan yang begitu derasnya, tiba – tiba ban mobil Fahmi
kempes juga, doski pun segera menghentikan laju mobilnya, lalu turun buat
ngebenerin ban mobilnya
“
Waaah ban mobilnya pakek acara kempes juga, bentar ya ma, papa turun dulu, mama
disini ajah ya? “
“
Hati – hati ya Pa “
Doski
pun turun buat ngeganti ban mobilnya yang bocor, pas lagi ngebenerin tak
disangka Dina malah ikutan turun lantas memayungi Fahmi
“
Loh ma , ngapain turun? Entar basah semua loh bajunya “
“
Gak apa – apa kok pa, mama juga gak mau papa nanti jadi sakit gara – gara
kehujanan “
“
Thank’s ya Ma “
“
Oh ya ada yang bisa mama Bantu?” Dina menawarkan jasanya
“
Gak usah ini juga udah hampir kelar kok “
Pas
udah kelar keduanya segera masuk kembali kedalam mobil,
“
Duuuh wajah papa jadi basah semua tuh, sini mama lapin dulu”
Dina
pun segera ngambil sapu tangannya lantas ngelapin wajah suaminya yang basah,
tak ia sadari Fahmi terus saja menatapnya
“
Ih papa ngapain sih liatin mama ampek kayak gitu ?” Dina mulai grogi
Fahmi
pun ngegenggam tangan dingin Dina yang lagi ngelapin wajahnya , dan menatap
istrinya dengan tatapan yang cukup lekat dan tajam
“
Ma, sebenarnya ada hal yang pingin banget papa sampaikan sama mama,Cuma papa
bingung musti mulai darimana, papa juga takut salah, tapi hal ini juga sangat
mengganggu papa, papa coba memendamnya tapi papa udah gak bisa lagi, papa…….. “
Dina
jadi kikuk, “ Duuh, jangan – jangan papa mau nyatain cinta nih “ kata Dina
dalam hati, jantungnya mendadak berdegup
kencang
“
Ada apa Pa? “
Tanya Dina grogi, tapi berusaha untuk tetap santai
“
Sebenarnya papa ………. , sebenarnya ….” Fahmi masih ragu
Dina
jadi berharap – harap cemas
“
Loh ? kenapa wajah mama jadi merah gitu ?” Tanya Fahmi
“
Masak sih Pa?”
“
Mama grogi yaaaa?”
“
Ih papa jahat banget sih, usil banget jadi orang !” gerutu Dina
Fahmi
jadi cekikikan, “ Hahahahaha, ih mama ampek segitunya, hahahaha ………
“
Gak lucu” ucap Dina kesal karena ia ngerasa dikerjain lagi sama Fahmi
“
Ya deh sorry, sebenarnya papa cuman mau bilang kalo mama tuh
cuaaaaaaaaaaaaaantiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik
banget “ ungkap Fahmi seraya tersenyum beitu manisnya
Tiba
– tiba terdengar suara petir menyambar begitu kerasnya
Dina
jdi terkejut dan takut tanpa sengaja ia langsung meluk Fahmi
“
Astaghfirullohal’adzim “ ucap Dina
Fahmi
pun bagai keruntuhan durian rasanya, ia pun tak melewatkan kesempatan itu, ia
pun mendekap tubuh Dina dengan begitu eratnya, wangi tubuh Dina pun tercium
olehnya
“
Hmmmm Alhamdulillaaaah, asyik ni dapat rizqi “ canda Fahmi
Menyadari
akan hal itu Dina pun segera melepaskan pelukannya
“
Maaf ya pa, mama gak sengaja “ ujar Dina tersipu malu
Sedang
Fahmi ia ngerasa seneng baget
Entah kenapa Fahmi jadi gelisah,
“udah
hampir sembilan bulan menikah, tapi aku masih belom tau kayak apa rambut indah
mama, jahat banget sih, masak aku gak pernah di kasih liat sedikit aja, aku kan
juga pengen tau, jilbapan terus, aku pengen tau apa rambutnya hitam, pirang,
lurus, cepak, keriting, panjang atau pendek, atau jangan-jangan ada yang cacat
kali ya?, tapi aku pasti bisa terima dia apa adanya, apa ada kulitnya yang
belang? Kan masih bisa di permak di salon, duh…gimana caranya ya buat liat
rambut mama, itu aja kok, gak lebih” Fahmi menggerutu sendiri, karena ia memang
gak pernah tau kayak gimana rambut istrinya itu.
Pas di rumah sakit, ternyata ada hasil rontgen pasien
yang ketinggalan di rumah, sementara Fahmi dan pasien tersebut janjian siang
itu mau ketemuan, Fahmi sengaja membawa pulang untuk mempelajari penyakit apa
yang sedang di derita oleh si pasien karena penyakitnya tergolong aneh dan
langka. Fahmi pun kembali pulang untuk ngambil berkas tersebut, seingatnya
berkas itu ada di kamar. Pas ngambil berkas itu, ternyata Dina lagi ada di
kamar mandi, Fahmi buru-buru pergi karena ia gak kepengen diketahui sama Dina,
tapi ternyata Dina udah mau keluar, mendengar pintu kamar mandi dibuka, Fahmi
nekat sembunyi di balik tirai jendela, terlihat Dina sedang tidak menggunakan
jilbabnya, rambutnya begitu indah tergerai, hitam mengkilat, lurus nan panjang.
Fahmi benar-benar tertegun melihat pemandangan itu,
”mama,
kamu cantik sekali, ma” kata Fahmi dalam hati, di tambah lagi Dina malah ganti
baju di hadapannya.
Fahmi
benar-benar tak bisa berkata apa-apa melihat kecantikan istrinya yang belum
pernah ia lihat sebelumnya, sedang Dina tak menyadari Fahmi ada di kamar
tersebut, walau Dina sempat merasa gak enak
,”
hmmm…. kayak bau parfum papa, tapi…. ah… gak mungkin” Dina menepis sendiri
pikirannya itu, ia pun kembali mengenakan jilbabnya seusai berhias, lantas ia
seperti ngambil sesuatu di laci, lalu nulis, dan Dina pun tertidur, saat itu
Fahmi keluar dari tempat persembunyiannya ( keong kalleee ),
Fahmi
ngambil diary Dina yang lagi ketiduran, tak sengaja ia melihat fotonya ada di
dalam diary itu, Fahmi pun membawa diary itu dan ia sempat menatap wajah sang
istri yang sedang tertidur,
“kamu
cantik sekali ma “,ujar Fahmi seraya menghampiri Dina,
lantas
ia mencium Dina yang tengah tertidur, setelah Fahmi pergi, Dina terbangun,
”duh….
kok aku jadi ketiduran ya?” duh lupa nih, aku kan mesti masak buat papa, tapi…. tadi
rasanya kok ada yang nyium aku ya? Dina merasa merinding, ia pun lekas pergi ke
dapur.
Sesampainya di
rumah sakit, Fahmi membaca isi diary Dina, yang isinya adalah curahan hati
Dina, bahwa ia begitu mencintai Fahmi, tak terasa air mata pemuda tampan itu
pun berlinang,
”
maafin papa ma, papa janji pasti akan membahagiakan mama” gumam Fahmi lirih,
ada
kata-kata yang terus terngiang di telinga Fahmi,
“mas, andai saja kamu tau, bahwa aku hanya mau menikah sekali saja
seumur hidupku, dan aku hanya mau menjadi istri dari laki-laki yang
bernama dr H. . Muhammad Fahmi Ar-Royan ( lupa deh mau nulis kalo Fahmi
udah mendapat gelar Haji, karena dia udah pergi haji bersama seluruh
keluarganya pada saat doski masih berusia 25 tahun ).
“Hatiku begitu perih membayangkan jika kita harus benar-benar bercerai
mas, aku hampir aja putus asa, tapi aku tidak akan menyerah, karena aku sangat
mencintaimu mas”.
Fahmi benar-benar merasa berdosa, malam harinya ia
melaksanakan sholat tahajjud seperti biasanya, namun kali ini ia sholat sendiri
dan lebih awal tidak berjama’ah bersama sang istri seperti biasanya. Menyadari
suaminya tidak berada di sisinya, Dina pun mencari-cari suaminya,
“duuuh…
mas Fahmi kemana ya malam-malam begini?”, ini juga masih jam 12, ujar Dina
seraya melirik jam dinding,
Dina
pun mencari suaminya itu yang ternyata berada di ruang sholat,
“ya Allah…. ampuni hamba, hamba benar-benar sangat berdosa, ampuni juga
istri hamba ya Allah, ya Allah hamba mohon hanya kepada-Mu wahai Dzat Yang Maha
Mencintai hamba-hambaNya, turunkanlah benih-benih cinta di hati hamba untuk istri hamba, agar hamba
benar-benar bisa membahagiakannya, hamba sangat mencintai-Mu ya Rabb, dan hamba
juga ingin mencintai istri hamba, karena dia begitu mencintai_Mu dan hamba
yakin Engkau sangat mencintainya, jagalah Dina Ya Allah, bahagiakan dia, lindungi
dia,”
Fahmi
berdo’a seraya menangis tersedu-sedu, melihat semua itu, Dina pun menitikkan
air mata.
Pagi harinya……
“Hari
ini aku ingin masak special ah buat mas Fahmi”, gumam Dina lirih.
Setelah
masakan siap, Dina pun segera menemui Fahmi yang masih berada di kamar, setelah
membka pintu, betapa terkejutnya Dina melihat Fahmi yang lagi gak pake baju,
gak pake daleman, doski telanjang dada, hanya memakai handuk saja, soalnya
Fahmi baru aja selesai mandi, tubuhnya pun masih agak basah dan rambut yang
basah pula serta acak-acakan. Dina benar-benar terperanjat, biasanya Fahmi udah
rapi sejak dari kamar mandi,
“ada
apa, ma?” Tanya Fahmi,
Dina
gelagapan melihat tubuh Fahmi yang begitu putih bersih, gagah dan ada sedikit
bulu di dadanya.
“Ss…
sarapan udah siap pa” sahut Dina seraya langsung beranjak pergi dan menutup
pintu,
“Astaghfirullahaladzim” ucap Dina lirih,
jantungnya berdebar-debar, tubuhnya pun gemetaran,
sementara
Fahmi, ia jadi cekikikan melihat sikap Dina yang ketakutan seperti itu. Seusai
berpakaian Fahmi pun turun untuk sarapan, Dina pun berusaha untuk bersikap
biasa-biasa saja, karena kalau dia terus bersikap seperti tadi, Fahmi pasti
akan ngerjain dia, Fahmi rupanya masih sibuk benerin dasinya
,”sini
pa, mama bantu”, Dina pun membetulkan dasi suaminya,
tak ia sadari, Fahmi terus memandanginya,
“kamu
cantik sekali ma”?!
Fahmi
memanggil Dina dengan suara yang begitu lembut,
“
Mama “
“ya
pa?”
“mama
masih mau ngasih papa kesempatan dan waktu kan ?”
“pa?
papa kenapa bicara seperti itu pa? tanpa papa minta mama juga pasti akan selalu
menunggu papa, kalau boleh mama minta, mama gak mau pisah sama papa”, ujar Dina
seraya memeluk Fahmi, begitu hangat terasa,
“terima
kasih banyak ma, sampai kapanpun kita gak akan pernah berpisah, kecuali maut
yang memisahkan kita sayang”
Dina
terkejut
“hah?”papa
panggil aku sayang? Dimanjain banget aku? “Dina berkata dalam hati,
“oh…ya,
tadi mama kenapa ninggalin papa?”
Dina jadi kikuk ia pun melepaskan pelukannya.
Kenapa
ma? Takut di apa-apain ama papa ya?” canda Fahmi, suasana jadi ceria kembali,
dina pun tersenyum kembali.
“Apaan sih pa?, wajahnya jadi merah, ia
tersipu malu,
“
ma…. papa tuh gak mungkin ngelakuin hal itu kalo mama gak mau”, jelas Fahmi.
Tak terasa bulan suci Romadhon telah tiba, Fahmi ngambil cuti lama,
karena doski ngajak istrinya melaksanakan ibadah Umroh ke Tanah suci selama 40
hari dan merayakan lebaran disana, selama beribadah di Tanah suci Fahmi dan
Dina tak henti – hentinya bertaqorrub mendekatkan diri kepada Alloh Yang Maha
Kuasa,memohon ampunan, Rahamat, dan hidayah agar rumah tangga mereka berdua
senantiasa langgeng dan bahagia, dan yang membuat Dina terharu, dalam do’a –
do’anya Fahmi selalu meminta agar berjodoh dengan Dina sampai di akhirat nanti,
begitu juga dengan Dina dalam do’anya tak lepas ia meminta dan berharap agar
suaminya dapat mencintainya dengan sepenuh hati, mulai dari Madinah samapai
Mekkah mereka berdua beribadah dengan sangat khusyu’, mulai dari Thowaf, Sa’I,
dsb, terutama etika berada di makam Rosululloh SAW, tak kuasa mereka menahan
tangis dan haru sebagai ungkapan rasa rindu dan cinta pada sang Nabi yang mulya,
Tak lupa mereka juga singgah ke Jabal Rohmah, yaitu tempat dimana Nabi Adam As
dan Ibu Hawa pertama kali berjumpa setelah terpisah selama bertahun – tahun.
“
Ma, tau gak? Konon katanya kalo kita nulis nama kita disini dan pasangan kita
bisa awet dan langgeng Ma ?! “kisah Fahmi
“
Oh ya? Masak sih Pa?”
“
He’em, ya udah kalo gitu kita nulis nama kita disini yuk?! Biar kita bisa
langgeng dan semoga sampai akhirat juga”
“
Amiiiiiinnn….” Jawab Dina singkat men-amini do’a suaminya
Mereka
berdua pun pada nulis nama mereka
“
Hmmmm… berarti Papa gak mau pisah sama Mama ya? “ selidik Dina
“
Ya iyalah Maaa, masak iya enggak? Mama itu udah jadi sahabat, adik, pacar,
istri Papa yang paaaaaaaling Papa sayangi, Papa rindukan, Papa idamkan “
“
Alah lebay “
“
Heheheh, iya yah lebay juga ternyata” mereka berdua kembali bercanda.
Seperti biasa Fahmi menjemput Dina di kampusnya,
setelah jam kuliah usai, rupanya Fahmi mau ngasih hadiah boneka teddy bear yang
ia taruh di jok belakang, dimana bonekanya begitu besar lagi megang hati yang
ada tulisannya “I love you”,dari kejauhan terlihat Dina lagi ngobrol sama Doni,
laki-laki yang dulu sempat ngejar-ngejar Dina, Fahmi pun jadi cemburu.
”Mama
ngapain ngobrol ama laki-laki itu? Pake ketawa-ketawa lagi,”
menyadari
Fahmi udah menjemputnya, Dina pun segera menghampiri mobil Mercedes benz
berwarna hitam mengkilat milik fahmi, ia pun langsung masuk ke dalam mobil.
“Assalamualaikum papa?! Udah dari tadi
nunggunya pa?” sapa Dina penuh kelembutan,
tapi
bukan jawaban yang Dina dapatkan, Fahmi malah ngegas mobilnya dengan
begitu keras, mobil serasa kayak mau
loncat aja, Fahmi ngebut banget di jalan,
“ pa?!, papa apa-apaan sih, papa jangan ngebut
pa !, Dina jadi ketakutan,
Fahmi
kayak orang kesurupan, nyetirnya hampir nabrak-nabrak pula, sampai di jalan
yang agak sepi, Fahmi menghentikan mobilnya, ngerem mendadak gitu, ampe ban
mobilnya bunyi “criiiiittt…..!! ,”
Dina
hampir saja kebentur kaca depan,
“pa,
papa kenapa pa?” Tanya Dina yang mulai ketakutan,
“
harusnya papa yang Tanya mama kenapa?” Fahmi agak keras suaranya,
“
memangnya mama salah apa?”,
“pake
gak ngerasa bersalah lagi, ma, mama itu kalo udah bosen ama papa bilang ma,
kalo udah gak sabar ama papa bilang aja, gak usah kayak gitu ?! pake ngedeketin
laki-laki lain segala, ingat ! mama itu biar bagaimanapun udah jadi istri papa!,”
maksud papa Doni?, masyaallah pa, papa salah
paham, laki-laki itu cuma………..,”
“cuma
apa ma?!....”
pa,
dengerin penjelasan mama dulu,” Dina coba untuk ngalah dan sabar,
“
papa jangan kayak anak kecil gni dong?! dengerin mama, tadi Doni itu Cuma mau
ngasih undangan nikahnya, kalo gak percaya nih papa liat sendiri”, jawab Dina
sambil menyerahkan sebuah undangan,
Fahmi
pun mengambilnya dan membacanya,
“ya
Allah, suami macam apa aku ini, aku selalu saja menyakiti Dina istriku, aku
selalu membuatnya kecewa, aku malah berfikir yang bukan-bukan padanya,
menuduhnya yang bukan-bukan, padahal dia begitu setia padaku,” Fahmi pun
menitikkan air matanya,
ia rebahkan kepalanya di dada istrinya,
“ maafin papa ma, papa begitu bodoh, papa Cuma
gak mau kehilangan mama,” sesal Fahmi dalam tangisnya,
air
mata Dina pun ikut berlinang,
“
maafin mama juga pa, mama juga ngerti gimana perasaan papa,” ujar Dina seraya
membelai rambut Fahmi yang harum dengan jari-jarinya yang lentik, Dina pun
membangunkan suaminya dan mengusap air matanya,
“jangan kayak gini lagi ya pa? yang terpenting
buat mama adalah kepercayaan dari papa,” Fahmi menganggukkan kepalanya,
“oh
ya Ma, nih oleh-oleh buat mama ?! ujar Fahmi seraya mengambil boneka yang ada
di jok belakang,
“
duuuuh…. makasih banget ya pa, lucu banget bonekanya, wangi banget lagi, wangi
Charlie white tercium dari boneka tersebut, parfum yang biasa di pake Fahmi,
“ tapi papa jahat,” ujar Dina ngambek,
“ mama kalo lagi ngambek cantik banget ya !,
“apa-apaan
sih pa?,
“mama
tau gak ada tiga hal yang membuat mama cantik banget, 1. pas mama lagi tidur,
2. pas mama lagi ngambek gini, 3. pas
mama lagi………..” Fahmi menghentikan kata-katanya,
“ lagi apa pa?’ Dina penasaran,
“
lagiiii……… gak pake jilbab dan lagi…… ganti baju” jawab Fahmi pelan,
“apa?
Jadi papa ngintip mama? Papa apaan sih, papa jahat deh!’ ujar Dina seraya
mencubit lengan Fahmi,
“
aduh…. aduh…. ma sakit ma” rengek Fahmi,
“
gak usah sok sweet deh!” ujar Dina kesal.
Buat
nebus rasa bersalahnya, Fahmi ngajak Dina jalan-jalan ke pantai lagi, sambil
jalan,
“
eh… kita beli es krim yuk? mama pasti haus?” ajak Fahmi,
pas
Fahmi ngebayarin es krimnya, Dina sempat melihat fotonya dan foto mereka berdua
yang terpampang di dompet Fahmi,
“
papa tuh misterius banget sih“, Dina berkata dalam hati.
Tibalah saatnya bagi Dina untuk melakukan penelitian
guna penulisan skripsi, Dina yang jadi bintang di kampusnya mendapat tantangan
dari dosennya untuk membuat skripsi yang belum pernah di buat oleh siapapun
juga, Dina mengajukan judul yang sangat jarang di bahas yaitu “hubungan
virginitas dengan kesehatan serta pengaruh buruk sex bebas“, Dina pun sibuk
menggarap skripsinya, dan Fahmi, ia tak pernah luput untuk mendukung Dina, bahkan
Fahmi rela nganterin Dina keliling-keliling nyari dan beli buku-buku
referensinya, bantuin ngetik, ngantar kerumah dosen pembimbing, dan kasih
masukan-masukan, Fahmi juga ikut nganter Dina interview dengan beberapa ahli
dan para remaja. Sampai pada satu waktu Dina jatuh sakit, karena kecapekan,
tensinya pun turun, badannya panas. Pas lagi bantu ngetik, terlihat Dina sedang
tertidur di meja kerja Fahmi.
“Mama….
pasti kecapekan, kasihan banget, “ karena udah tinggal dikit Fahmi nerusin
ngetik.
“Pa…?!
kita tidur yuk? terusin besok aja lagi pa ?!”, ajak Dina dengan suara yang agak
parau,
“papa
tinggal dikit kok ma, tanggung, mama duluan aja ya?!”, perintah Fahmi.
“Gak
ah mama nunggu papa aja”, Dina tidur lagi,
pas
udah kelar, Fahmi menghampiri Dina.
“Ma…?!
Kita pindah yuk?! papa udah kelar nih?!”, ujar Fahmi seraya membangkitkan
badannya, dan betapa terkejutnya Fahmi setelah tau badan Dina panas banget, pas
Fahmi nyentuh tangan Dina.
“Masya Allah, badan mama panas banget !”,
Fahmi
pun menggendongnya ke dalam kamar, sesampainya di kamar, ia baringkan tubuh
istrinya, lalu ia periksa tensi darahnya, ternyata hanya 80, Fahmi pun segera
menyuntikkan vitamin ke tubuh Dina melalui lengan Dina, doski pun mengompres
tubuh Dina yang panas.
Keesokan
paginya Fahmi korbanin waktunya buat nemenin Dina, doski pamit gak masuk kerja.
“Makan dulu ya ma, ini papa masak special buat
mama, papa suapin yah ?”,
“makasih ya pa”, ujar Dina lemas.
“Gimana
? enak kan
?”,
“Hmm….
masakan papa enak juga, walau lidah mama kerasa pahit, tapi tetep terasa
enaknya masakan buatan papa, mau dong kayak gini tiap hari”, canda Dina.
“Oke, buat mama apa sih yang enggak ?! oh ya
mama tuh harus banyak-banyak ma’em sayur, daging, dan buah-buahan, biar gak
lemes gini, istirahat juga ma, jangan terlalu di forsir”, nasihat Fahmi.
“Papa tuh perhatian banget ya, jadi makin sayang
deh”, Dina berkata dalam hati.
“Nih
diminum susunya, jangan lupa vitaminnya juga, wah anak pinter udah habis
semuanya”.
“Makasih
banyak ya pa, mama mau mandi dulu ya pa ?”,
“mama udah kuat?”,
“Alhamdulillah
mama udah gak apa-apa kok pa, pusingnya juga udah sembuh”.
“Ya
udah, kebetulan air hangatnya udah papa siapin tuh, apa perlu papa
mandiin
?”, goda Fahmi.
“Ih papa nakal !!”,
“hehehe….
ya udah ati-ati ya ma, nanti kalo ada yang perlu dibantu, mama panggil papa aja
yah ?”,
“oke…mama mandi dulu ya, daa….”,
“Ma…
papa tuh sedih banget kalo mama sakit kayak gini”, Fahmi ngomong sendiri.
Suatu ketika di rumah Dina ada orang mau melahirkan,
Dina pun membantu proses persalinannya dan alhamdulillah bayinya lahir dengan
selamat, begitu juga dengan ibunya sehat.
“Oek…
oek… oek…”, bayi itu menangis dengan keras,
Dina
segera membersihkan bayi tersebut, ia menggendongnya. Tak disangka Fahmi yang
waktu itu pulang untuk makan siang ikut menggendong si bayi.
“Sini
ma, papa pengen gendong juga, anak kita lucu sekali ya ma”, sambut Fahmi.
“Apa?
Anak kita ?”, Dina terkejut.
“Mak… maksud papa bayi ini lucu sekali ma”.
Dina mendapat undangan seminar di daerah Bandung untuk mendapat
gelar Bidan Idaman, Bidan Terbaik.
Dina
bakal mengikuti seminar tersebut selama kurang lebih 10 hari dan Fahmi merasa
berat. Fahmi pun mohon ijin, ia pulang untuk menemui Dina, sesampainya di
rumah, rupanya Dina lagi kasih makan ikan-ikan di kolam, setelah itu ia
duduk-duduk santai di taman.
“Assalamu’
alaikum”,
“wa’alaikum salam papa? Udah pulang pa ?”,
“iya
ma, papa sengaja pulang lebih awal”, sambut Fahmi seraya duduk di samping Dina.
“Mama
acara seminarnya besok ya ?”,
“iya
pa”,
“berapa
hari ma ?”,
“insya Allah sekitar 10 harian gitu pa”,
“wah
?! 10 hari, lama banget ?”,
“kalo papa keberatan, mama gak akan pergi kok
pa”,
“
jangan ma, itu kan juga demi masa depan mama, besok biar papa yang nganterin
mama ya, kebetulan besok ada dr. Andi yang gantiin tugas papa”,
“ya
udah, mama siap-siap dulu ya pa, biar besok tinggal berangkat aja”,
“
papa bantuin ya ?”.
Esoknya Fahmi pun nganterin Dina ke Bandung, acara
pembukaan pun udah di mulai di sebuah gedung di aula sebuah satu hotel bintang
5 di daerah Bandung, sementara Fahmi, ia menunggu di kamar yang udah di pesan
yang bakal jadi tempat istirahat Dina selama 10 hari ke depan, pemandangannya
pun cukup indah, ada balkonnya juga.
Sekitar pukul 05.00 WIB sore hari, acara pembukaan
baru saja usai. Dina pun segera kembali ke kamarnya.
“Papa
belum pulang ?”,
“ belum ma, ntar aja”,
“ini
udah malem loh pa, kalo papa capek, papa nginep aja dulu, besok pagi-pagi
sekali papa balik ke Jakarta”,
“gak
ah ma, papa pulang ntar malem aja”.
Usai
makan malam, Fahmi masih nyempetin ngobrol-ngobrol bareng Dina, doski ngerasa
berat buat ninggalin istrinya.
“Ma…kita
liat pemandangan di sana
yuk ?”, ajak Fahmi,
mereka
pun duduk-duduk di sofa di balkon depan kamar Dina.
“Wah…bintang-bintangnya
banyak banget pa, malam ini cerah sekali ya”,
“iya
,kita itung yuk, yang sini bagian papa, yang sebelah sana bagian mama”,
“oke,
siapa takut”,
kemudian mereka pun pada ngitungin bintang
yang sebenarnya gak akan pernah bias di hitung itu. Tak berapa lama,
“ma
?!
“
iya pa ?”,
“
papa boleh minta sesuatu gak ? tapi mama jangan marah ya ?”,
“ ya gak mungkinlah pa, emangnya papa mau
minta apa ?”,
“papa
boleh gak liat rambut mama”, ujar Fahmi ragu.
Dina
terkejut, ia jadi pengen ketawa denger permintaan Fahmi yang agak lucu, tapi ia
juga ngerasa bersalah juga.
“Pa,
mama ini kan
istri papa, kalo papa pengen liat rambut mama tentu boleh pa, dan kenapa papa
gak bilang dari dulu, malah pake acara ngintip-ngintip segala ?”,
“ hehehe….. iya maaf, jadi beneran boleh ma?”,
“
He’em”, ujar Dina seraya menganggukkan kepalanya,
secara
perlahan-lahan Fahmi pun melepas jilbab istrinya, jantung Dina pun
berdebar-debar, begitu juga dengan Fahmi, setelah jilbab terbuka, Fahmi melepas
jepit yang mengikat rambut Dina, maka terurailah rambut Dina yang panjang,
lurus, hitam mengkilat, lembut dan wangi.
“Ma…mama
cantik sekali”, puji Fahmi terbata-bata,
Dina
hanya tersenyum,
tiba-tiba
Fahmi menyentuh dagu Dina yang membelah,
Fahmi
membelai rambut Dina yang panjang secara perlahan dan wajah Fahmi semakin dekat
dengan wajah Dina, Fahmi hendak mencium istrinya, jantung Dina semakin berdegup
kencang, tak ada kata-kata, semakin dekat, dekat, dan…. Fahmi menyentuh bibir
Dina yang tipis dengan bibirnya, yach… Fahmi mencium Dina untuk pertama kali,
dan mereka pun berciuman, melepaskan segala rasa di hati dan sang rembulan yang
kala itu cerah langsung memanggil kabut untuk menutupinya karena malu melihat
dua insan yang di mabuk asmara.
Tak berapa lama Fahmi
pun melepaskan ciumannya
“
Mama….. jangan pernah tinggalin Papa yah?” ujar Fahmi seraya mendekap Dina
Sekitar jam 22.00 WIB, Fahmi pun mohon pamit balik ke Jakarta, Dina nganterin
sampai ke tempat parkiran.
“Ma…
mama jaga diri baik-baik yah, jaga kesehatan, jangan terlalu capek, papa gak
mau mama sakit lagi”, nasihat Fahmi.
“Iya pa, papa juga ya ?!,
“ya
udah papa pulang dulu ya? Ati-ati ya ma ? semoga sukses, miss you !,
Dina
pun mencium tangan Fahmi.
“Hati-hati
juga ya pa ?!, ujar Dina lalu ia balas mencium pipi Fahmi, Fahmi pun segera
masuk ke dalam mobil, mesin mobil pun mulai di hidupkan.
“Oh
ya sebentar ma ?!”,ujar Fahmi sambil membuka salah satu sepatunya.
“Nih ma, sepatu papa simpen ya ma ?!”, seraya
memberikan sepatunya pada Dina,
Dina
jadi tak mengerti,
“ini buat apa pa ?”,
“ini
kalo misalkan ada laki-laki lain yang godain mama, atau bersikap kurang ajar
sama mama, getokin aja kepalanya pake sepatu ini ma”, Dina pun jadi tertawa,
“hihihi….
papa nih bisa aja”,
“
ya udah, papa pulang dulu ya ma, Assalamu’alaikum !”,
“
wa’alaikum salam, hati-hati pa”.
Malam itu Dina benar-benar bahagia, ia tak dapat
memejamkan matanya, walau Fahmi belum menyatakan cintanya, paling tidak Dina
sudah dapat merasakannya.
“Tadi itu beneran apa mimpi ya?”, ujar Dina
seraya menggigit bibirnya, ia pun terus memandangi foto Fahmi, begitupun Fahmi,
ia sangat bahagia, ternyata cinta itu indah banget.
Esok paginya, Fahmi dan Dina sama-sama gelisah.
“Duh…
telpon enggak ya? telpon? enggak? telpon?”, Fahmi ragu, begitu juga dengan
Dina,
“mas
Fahmi kok belum telpon-telpon sih? aku kangen banget nih, apa sebaiknya aku
duluan aja ya yang telpon mas Fahmi?”.
Ia pun coba menghubungi Fahmi, ternyata Fahmi
juga menghubungi Dina, yang terdengar adalah nada sibuk, setelah lama
pencat-pencet dan nada sibuk terus, keduanya pun menyerah, hingga ada sms masuk
dari Fahmi berupa sebuah puisi untuk Dina.
“Walau aku benar-benar menyayangimu, aku merasa perlu
untuk lebih mempelihatkannya padamu, karena ada begitu banyak hal dalam
hubungan kita, kaulah angan yang ingin ku kejar, kaulah mimpi yang ingin ku
peluk, bagai sang surya, kau warnai hari-hariku menjadi lebih indah dan penuh
warna”.
Selama di
tinggal Dina, Fahmi benar-benar merasa kesepian, ia jadi tak betah di
rumah, gak enak makan, gak semangat, hingga ia kelihatan jadi lebih kurus.
Beberapa hari kemudian Dina pun datang, sengaja ia tak
memberitahu suaminya karena ia ingin memberi kejutan, kebetulan juga hari itu
adalah hari ulang tahun Fahmi
“Assalamu’alaikum!”,
“wa’alaikum salam”, ujar Fahmi seraya
membukakan pintu, Fahmi pun jadi kaget.
“Loh,
mama kok gak bilang-bilang dulu sih kalo mau pulang, kan bisa papa jemput,
bukannya mama disana seharusnya 10 hari ?”,
“maaf pa, mama Cuma pengen kasih kejutan sama
papa, dan tadinya acaranya memang 10 hari, tapi di percepat jadi 7 hari”, Dina
pun terkejut melihat kondisi Fahmi yang agak sedikit kurus, wajahnya yang dulu
bersih kini kumis tipisnya kelihatan
jadi lebih banyak, brewokan lagi, tapi tipis-tipis gitu.
“Duh
papa habis sakit ya ? kok kurus gini ? wajah papa juga jadi kelihatan sangar
gitu”,
“enggak kok ma, papa gak sakit, Cuma lagi
sibuk aja, oh ya, selamat ya ma atas keberhasilan mama dapat gelar Bidan
Teladan”, Fahmi memberikan selamat pada Dina.
“Terima
kasih pa, oh ya, maaf mama hampir lupa , selamat ulang tahun ya pa, semoga
panjang umur, sehat terus, lancar rejeki, makin rajin ibadah !”, ujar Dina
seraya mencium pipi Fahmi, ia pun ngasih hadiah jam tangan baru buat Fahmi.
“Makasih
banyak ya ma, kok repot-repot segala, lagian papa juga sempat lupa kalo hari
ini adalah ulang tahun papa, ya udah kita istirahat yuk, mama juga pasti capek kan ?”, ujar Fahmi
sambil merangkul istrinya.
Malem harinya Fahmi ngajak Dina dinner diluar, doski ngajak Dina makan
malam di salah satu resto ternama, ditambah lagi tatanan tempat duduk mereka
yang udah dipesan khusus sama Fahmi tertata cukup apik dan suasananya cukup
romantis, ada iringan musik juga
Fahmi
pun ngegeser tempat duduk yang akan diduduki sama Dina
“
Silahkan tuan putri”
“
Duh Papa repot – repot amat sih pakek ngajakin mama ke tempat kayak gini?”
“
Gak apa – apalah ma, sekali – kali gitu, sekalian ngerayain keberhasilan mama”
“
Terima kasih banyak ya Pa “ Dina jadi terharu
“
Oh ya papa masih ada satu kejutan lagi special buat mama tentunya, sebentar yah
Ma “
Fahmi
beranjak pergi ninggalin Dina sendiri
“
Loh papa mau kemana pa?”
Fahmi
terus saja berjalan menuju podium, doski hendak nyanyi rupanya
“
Assalamu’alaikum Warohmatullohi
Wa barokatuh,!”
“Wa’alaikum
salaaaaam !” ujar para tamu yang lagi makan disitu,
“
Duuuh papa mau ngapain sih?” Dina penasaran ia juga ngerasa malu
“
Maaf jika saya mengganggu makan malam anda semua saat ini, tapi izinkanlah sya
menyumbangkan sebuah lagu special untuk Istri saya tercinta dengan judul
“Sepanjang Hidup” milik Maher Zain! ucap
Fahmi seraya menunjuk kearah Dina
Sorak
sorai dan tepuk tangan orang – orang yang lagi hadir disitu pada gemuruh,
kebetulan suasana lagi ramai juga, Dina pun jadi makin malu diliatin banyak
orang,
Fahmi
pun mulai menyanyi suaranya begitu merdu “
“ Aku bersyukur kau disini Kasih
Dikalbuku mengiringi dan padamu ingin ku sampaikan
Kaulah Cahaya Hati
Dulu ku palingkan diri dari cinta
Dan engkau hadir rubah segalanya Oh…..
Inilah janjiku kepadamu
Sepanjang
hidup bersamamu
Kesetiaanku
tulus untukmu
Higga akhir
waktu
Kaulah
Cintaku…….
Sepanjang
hidup Seiring waktu
Aku
bersyukur atas hadirmu
Kini dan
selamanya
Aku milikmu
Yaqini
hatiku
Kau Anugerah Sang Mah Rohim
Semoga Alloh Berkahi kita
Kekasih penguat jiwa
Ku berdoa kau dan aku di Jannah
Kutemukan kekuatanku disismu
Kau hadir sempurnakan seluruh hidupku ..oh …
Inilah janjiku kepadamu
Bersamamu
ku sadari inilah Cinta
Tiada
ragu dengarkanlah
Kidung
cintaku yang abadi
Dina
benar – benar terharu mendengarnya
Sepulang dari acara makan malam, Fahmi ngajak Dina menikmati indahnya
malam purnama di pantai tempat mereka biasanya
Doski
melingkarkan lengannya dipinggul Dina, supaya Dina gak ngerasa kedinginan
“
Ma, Alloh memang benar – benar Maha Kuasa ya Ma, semua yang Dia ciptakan begitu
sempurna nan indah, begitu juga dengan pantai ini, Subchanalloh indahnya ya Ma
“
“
Iya Papa bener, liat tuh Pa ombaknya begitu selaras bergemuruh, bener – bener
indah ya Pa “
“
Mama juga cantiiik banget, indah juga”
“
Hmmmmm, mulai deh lebaynya”
“
Mama kok gitu sih Ma? Papa serius”
“ Masak sih? Mana buktinya?” goda Dina
“
Yah Mama, selalu aja gak percaya kalo dibilangin “ Fahmi jadi kesal, ia pun
melepaskan pelukannya lalu beranjak meninggalkan Dina sendirian menuju mobil
“
Lhoh Pa?
Papa mau kemana Pa? tungguin Mama
Pa?” Dina pun mengejar Fahmi dan
masuk ke dalam mobil juga
“
Hmmm… Papa ngambek ya?” goda Dina lagi
“
Apaan sih Ma?”
“
Papa, masak gitu aja ngambek?”
“
Siapa yang ngambek Ma, Ya abisnya Mama gak pernah percaya sih, Papa bukannya
mau ngegombal Ma, tapi Papa Cuma pingin Mama tau kalo Papa…… “
Tiba
– tiba Fahmi jadi terdiam seribu bahasa
“
Kalau apa Pa?”
“
Kalau Papa….. Papa ingin Mama selalu ada
didekat Papa “
Mendengar
jawaban Fahmi Dina jadi tersenyum dan merebahkan kepalanya dibahu Fahmi
“
Mama juga gitu, Mama gak mau jauh – jauh dari Papa, maafin Mama ya Pa “
“ Oh ya Ma kasih banyak ya Pa, atas kejutannya
tadi, tapi Papa jadi bikin Mama jadi malu”
“
Lhoh kenapa malu? Mustinya Mama seneng “
“
Iya Mama seneng kok “ sahut Dina
Fahmi
pun menatap Dina dengan begitu lekat, lagi – lagi Fahmi hendak mencium Dina pas
semakin dekat, tiba – tiba ada sorot lampu yang mengejutkan mereka berdua,
silau deh jadinya, terdengar kaca mobil diketuk oleh seseorang
“Permisi
Mas tolong keluar sebentar ?!” pinta seseorang dari luar
Fahmi
dan Dina pun segera turun dari mobil
“
Ada apa Pak?” Tanya Fahmi pada 2 orang bapak – bapak berpakaian kayak satpol PP
gitu deh
“
Kalian berdua ngapain disni malam – malam begini?” Tanya seorang bpak dengan
kumisnya yang lumayan tebal dan sangar
“
E… Kami … “ belum selesai Fahmi menjawab
“
Bisa tunjukkin kartu identitas ?” pinta bapak yang satunya lagi
“
E… bisa pak “ jawab Fahmi dengan sedikit tersenyum
Fahmi
dan Dina pun menunjukkan kartu identitas mereka, dan ternyata di KTP keduanya
status mereka berdua tertulis Sudah Kawin
“
Kalian berdua suami istri atau bukan ?” Tanya bapak berkumis
“
iya pak kami berdua suami istri , ini foto pernikahan kami berdua pak ?” jawab
Fahmi seraya menunjukkan salah satu foto pernikahan merka berdua yang sengaja
fahmi jadikan wallpaper dihandphonenya , bapak yang berwajah sangar itupun
ngecek foto yang ada dihape Fahmi
“
Oh iya, Maaf Mas, kami berdua disini memang selalu melakukan oprasi dan razia
soalnya biasanya disini banyak muda – mudi yang suka berbuat mesum Mas, sekali
lagi maaf ya Mas, sudah mengganggu acar Mas dan Mbak, silahkan dilanjutkan,
permisi “ keduamya mohon pamit
Sedang
Dina dan Fahmi mereka jadi bengong, hingga akhirnya mereka berdua kembali
tertawa
Suatu siang
yang cerah Dina menemani Fahmi memeriksa pasin – pasien dirumah sakit diruangan
kerjanya, tiba – tiba ada pasien wanita yang keliatannya masih gadis dan genit
banget, gadis itu terus saja merayu Fahmi, Fahmi berusaha untuk melayani semua
pertanyaannya dengan baik dan ramah, dan seperti biasa Dina pun merasa cemburu
karena tidak sekali ini ia melihat suaminya digoda sama wanita – wanita, tapi
Dina berusaha untuk menahannya, tapi kali ini keterlaluan banget gadis itu
tidak saja mencoba merayu Fahmi tapi tanpa disangka ia nekat mencium pipi Fahmi
yang lengah, dan gadis itu pergi begitu saja setelah apa yang ia mau berhasil mendapatkan apa yang ia
inginkan, melihat semua itu Dina semakin dibakar rasa cemburu
“
Papa apa – apaan sih?’
“
Ma, maaf Ma, Papa gak nyangka gadis itu jadi nekat kayak gitu ?” Fahmi pun
ngerasa bersalah banget
“
Mestinya dari awal Papa udah tahu, kenapa Papa gak menghindar? Suka ya sama
dia?” ujar Dina dengan nada agak tinggi
“
Ma, Mama jangan salah faham Ma “
Belum
selesai Fahmi bicara Dina pun beranjak pergi dengan tergesa – gesa
“
Papa jahat, Mama benci Papa! “ ujar Dina seraya berlari kecil meninggalkan
ruang kerja Fahmi
“
Ma, tunggu Ma!” Fahmi pun mengejar Dina, tapi karena diluar ruangan Fahmi masih
banyak pasien ia pun mengurungkan niatnya untuk terus ngejar Dina , doski pun
coba telfon istrinya, tapi handphone Dina malah gak aktif
Sore
harinya setelah tugas kelar Fahmi pun segera pulang, ditemuinya Dina yang lagi
duduk menyendiri ditaman
“
Assalamu’alaikum!” sapa Fahmi pelan
“Wa’alaikumsalam!”
sahut Dina seraya mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya, Dina pun
mencium tangan suaminya
“
Maafin Mama Pa, harusnya Mama gak bersikap seperti itu tadi” ujar Dina penuh
rasa sesal, matanya terlihat sembab
“
Mama gak perlu minta maaf, karena Mama gak salah apa – apa, Papa ngerti gimana
perasaan Mama, harusnya Papa yang minta maaf sama Mama, karena walau tanpa
disengaja Papa udah nyakitin Mama, nyakitin perasaan Mama, Maafin Papa Ma?!”
ujar Fahmi seraya mengusap air mata Dina yang kembali berderai
Dina
pun merebahkan kepalanya dipelukan Fahmi
“
Mama Cuma takut kehilangan Papa, meski mungkin Papa gak pernah cinta sama Mama,
tapi Mama udah terlanjur cinta dan sayang sama Papa “
“
Papa ngerti Ma, tapi bukan berarti Papa gak cinta ataupun gak sayang sama Mama,
Papa Cuma butuh waktu untuk lebih ngeyakinin Mama, bahwa gak akan pernah ada
wanita lain selain Mama dihati Papa, dihidup Papa, Papa Cuma mau Mama” tegas
Fahmi
“
Terima kasih banyak Pa”
“
Ato gini aja deh buat nebus rasa cemburunya Mama dan rasa bersalahnya Papa,
Mama boleh deh ciumin Papa sepuas hati Mama” goda Fahmi
“
Ih enak aja, dasar Papa genit!” balas Dina, mereka berduapun kembali tertawa
ceria
“Lha
kan Mama cemburu karena Papa dicium kan? Kalo gitu ya Mama
cium Papa juga kan
mestinya biar gak cemburu lagi?”
“
Papa tuh nyebelin juga ya? Hmmm… enak aja, mestinya Papa tuh yang kasih ciuman
buat Mama, yang salah kan
Papa, sapa suruh udah tau orang genit masih aja dilayani”
“
Beneran nih Papa boleh kasih kiss buat Mama, Oke! Fahmi pun monyongin bibirnya,
Dina pun jadi ketawa ngeliat Fahmi yang lucu
“
Lha kok malah ketawa sih, serius nih, ntar Papa glitikin lhoh ya?!” ancam Fahmi
seraya ikutan tertawa. Dina masih saja terus tertawa, ia berlari ninggalin
Fahmi, Fahmipun mengejar Dina
Sesampainya
dikamar, mereka pun pada kelelahan setelah berkejar – kejaran kayak anak kecil
“
Mama tuh ya, aneh banget, giliran disuruh nyium Papa malah gak mau”
Dina
masih saja cekikikan
“
Iya deh sini, dengan senang hati malah “
Dina
pun mencium pipi Fahmi, “ Emmmuach!”
“
Udah lega kan?” Tanya Dina seraya tersenyum
Tanpa
diduga oleh Dina Fahmi malah ngebalas
ngasih kiss di lips Dina dengan penuh kelembutan cinta
“ Jangan pernah ragukan Papa ya Ma “
Malem harinya Dina mimpi buruk, doski mimpi cerai sama Fahmi….
“
Astaghfirullohal ‘adziim Ya Alloh “ ucap Dina lirih,
Dina
segera bangun dari mimpi buruknya, ditatapnya sang suami masih tidur dengan
begitu pulasnya, doski menuju balcon depan kamarnya, merenung sendiri, mungkin
kejadian tadi siang kebawa sampai mimpi, ia benar – benar takut bila harus
berpisah dengan Fahmi, karena ia sangat mencintai Fahmi
Sementara
Fahmi menyadari sang istri tidak ada lagi disisinya, doski pun turut bangun
juga,
“
Ma….?! Mama ?! “ Fahmi memanggil – manggil dengan suara yang agak parau, Fahmi
pun menyalakan lampu, dan mengamati jam dinding yang masih menunjukkan pukul 02.00
WIB dini hari, ia dapati sang istri sedang duduk – duduk merenung dikursi
balcon
“
Ma?!” sapa Fahmi pelan, doski pun menghampiri sang istri
Rupanya
Dina beruraian air mata
“
Mama kenapa lagi Ma?” Tanya Fahmi pelan
“
Papa, Mama gak apa – apa Pa, Mama Cuma mimpi buruk tadi “ sahut Dina seraya
mengusap air matanya
“
Memangnya Mama mimpi apa?”
“
Mama …………., Mama mimpi cerai sama Papa “
Mendengar
penyataan Dina Fahmi mengambil nafas dalam – dalam, doski ngerasa gak enak hati
“
Hhhhhhh…………….hhhmmmmm “
“
Ma, Mama dengerin Papa ya, Papa tau Papa
salah sama Mama, Papa udah nyakitin Mama, Papa udah gantungin Mama, tapi perlu
Papa tegaskan, dan Mama juga harus yaqin bahwasanya Papa gak akan pernah
ceraikan Mama, apapun yang terjadi, gak akan pernah ada kata pisah kata cerai
dalm pernikahan kita kecuali maut yang memisahkan kita” tegas Fahmi
Mendengar
pernyataan Fahmi Dina benar – benar terkejut
“
Beneran Pa?”
Dina seakan tak percaya, Fahmi pun mengusap air mata Dina
“
Ma, Papa tau Papa udah kelewatan, Papa masih juga belum menyatakan rasa cinta
Papa sama Mama, tapi perlu Mama ketahui dalam pernikahan dalam berumah tangga
kita tidak hanya butuh rasa cinta, tapi bagaimana kita merasa nyaman, tenang,
tentram, bahagia bersama seseorang, dan yang paling utama, nilai budi pekerti
kita dan ibadah kita menjadi semakin baik dengan kehadiran seseorang, dan Papa
merasa nyaman, merasa bahagia, tenang dan menjadi lebih baik dengan hadirnya
Mama dalam kehidupan Papa, jadi apa mungkin Papa akan menceraikan Mama? Tidak
Ma, Mama begitu berarti buat Papa “
“
Terima kasih Pa “ Dina merasa bahagia, ia kembali tersenyum ceria
Fahmi
pun mendekap Dina
“
Mama jangan lagi merasa bahwa Papa akan menceraikan Mama, kata – kata Papa yang
dulu itu, itu karena Papa takut Mama gak bahagia bersama Papa “
“
Pa, walaupun Papa masih belum bisa mencintai Mama, tapi Mama sudah sangat
bahagia sekali bersama Papa, Mama cuma mau Papa yang jadi Imam Mama“
“
Terima kasih banyak Ma, Papa bener – bener bahagia bersama Mama “
Fahmi
pun membelai lembut pipi Dina
“
Papa Cuma pingin bilang Mama adalah wanita sholichah yang Alloh titipkan Cuma
buat Papa, semoga kita berjodoh tidak hanya didunia saja tapi juga di akhirat
nanti “
“
Amiiin “ Dina meng-amini doa dan harapan Fahmi seraya memeluk Fahmi
“
Supaya Mama gak ragu lagi sama Papa, coba deh Mama tatap mata Papa?! “
Dina
pun menatap mata Fahmi, tatapan mata Fahmi begitu tajam dan penuh keyakinan
“
Papa mohon sekali lagi sama Mama, jangan pernah ada sedikitpun terbersit dalam
fikiran Mama kalo kita akan bercerai yach?!”
Dina
pun menganggukkan kepalanya
“
Atau gini aj deh supaya Mama jadi lebih yakin lagi, kalo kemarin kita
bersahabat gimana kalo sekarang kita pacaran, Mama mau kan jadi pacar Papa, ya
maksud Papa istri sekaligus pacar ?” Fahmi kembali ngajak bercanda
“
Hmmm, ya pasti maulah Pa “ sambut Dina kembali ceria,
“ Ya udah kita sholat yuk ?” ajak Fahmi
“
Ayuk Pa”
Dina semangat kembali
Mereka
pun melaksanakan sholat tahajjud bersama berharap agar rumah tangga mereka
langgeng dunia akhirat.
Keesokan harinya, Fahmi ngajak Dina
dinner diluar
“
Oh ya sayang kita kan lagi pacaran nih, biasanya kan kalo orang pacaran ada
acara kencan gitu, gimana kalo malam ini kita kencan?” goda Fahmi
“
Heheheh, baiklah Mama setuju “balas Dina dengan hati yang berbunga – bunga
“
Tapi biar Mama yang traktir trus Papa yang bayarin yah?” canda Dina
“
Hahaha Mama bisa ajah, oke apa sih yang enggak buat Mama “
Malem
itu mereka dinner bersama, usai dinner Fahmi ngajak Dina menikmati sejuknya
angin dipantai, pas lagi asyik – asyiknya tiba – tiba hujan turun begitu derasnya,
“
waduh hujan nih pulang yuk Pa?!” ajak Dina
Mereka
berdua pun segera berlari kecil menuju mobil, Fahmi memayungi Dina dengan
jasnya, tapi hujan turun begitu derasnya, hingga baju mereka jadi basah kuyup
“
Pas sampai rumah Fahmi dan Dina segera mengeringkan diri dengan handuk, Pas
Dina lagi ngelap rambutnya yang basah karena kehujanan, Fahmi begitu tertegun
menatap kecantikan Dina dengan rambutnya yang basah semakin menambah keanggunan
wajah Dina, Fahmi pun menghampiri Dina,
“
Mama “ panggil Fahmi dengan suara yang agak lirih
Fahmi
semakin mendekat, Fahmi pun membelai pipi Dina yang masih agak basah karena air
hujan, Dina seolah dapat memprediksi apa yang akan dilakukan Fahmi, doski pun
memjamkan kedua matanya, dan Fahmi hendak mencium Dina
Pas
semakin dekat, tiba – tiba ada sesuatu yang terasa jatuh dari jas Fahmi
“
Apa itu Pa?” Tanya Dina seraya melihat benda yang jatuh, rupanya benda yang jatuh
tersebut adalah buku diary Dina yang sengaja dibawa oleh Fahmi
Fahmi
pun terkejut, ia pun segera mengambil dan menyembunyikan diary tersebut
“
Eh…. E bukan apa – apa Ma”
“
Loh Pa? itu kan diary Mama, iiiihh…. Papa jahat balikin Pa?!” pinta Dina seraya
merebut buku diary berwarna pink tersebut dari tangan Fahmi
“
Eh… e jangan Ma jangan !” Fahmi pun
berlari, sedang Dina ia terus mengejar Fahmi beruaha merebut buku diarynya,
“
Papa balikin !”
Tiba
– tiba Fahmi terjatuh diranjang kakinya kesandung gitu deh….
“
eh … eh… eh… Ooooo…oh “
“
Aduh !” Dina pun ikut terjatuh tepat diatas Fahmi, Dina menindih Fahmi, dan
wajah mereka berdua kembali berdekatan, keduanya pun saling bertatap mata
“
Hehehe … , maafin Papa Ma, Papa udah lancang baca semua isi diary Mama,
tapi
Papa sangat bahagia karena ternyata Mama sangat mencintai Papa “ ujar Fahmi
lirih
Dina
pun tersenyum dan merasa malu, ia pun segera bangkit dan duduk disisi Fahmi, Fahmi pun turut bangkit dan duduk disisi Dina
“
Papa senang karna itu artinya mulai sekarang Papa juga gak perlu lagi ngerasa
takut kehilangan Mama karena Mama saaaaaaaaaangat mencintai Papa “
“
Hmmmmm… Papa jadi keGR-an nih “ sanggah Dina
“
Loh kok gitu sih sayang? Ntar Papa cium loh ?!”ancam Fahmi
“
Coba aja kalo berani?” tantang Dina
Tanpa
diduga Fahmi pun narik bahu Dina,
“
Ya Alloh “ pekik Dina
Dan
Fahmi langsung mencium Dina, tak berapa lama kemudian Fahmi pun melepaskan
ciumannya
“
Papa sangat bangga punya istri seperti Mama, dan Mama akan selalu dapat ciuman
penuh rasa sayang dari Papa hanya untuk Mama “ ungkap Fahmi dan langsung
beranjak pergi menuju kamar mandi, sedang Dina ia masih tercengang dan tak
dapat berkata apa – apa, ketika Fahmi masih berada dikamar mandi Dina pun
membuka diarynya, ia dapati tulisan
tangan Fahmi yang tertulis disana dengan tinta gold sebagai balasan akan
ungkapan rasa hatinya beberapa waktu yang lalu
Dina
: “ Sungguh aku merasa seperti sedang bermimpi saat beberapa waktu yang
lalu, menit – menit yang lalu laki – laki yang sangat ku cintai untuk pertama
kalinya ia menciumku, apa arti semua ini? Ada apa dengan malam ini? Dan setelah
malam ini? Akankah ia mulai mencintaiku seperti aku yang juga sangat
mencintainya? Malam ini aku sangat bahgia sekali, Trima kasih ya Robb …
kabulkanlah doa – doa hamba, jagalah suami hamba, disaat hamba tidak ada
disampingnya seperti malam ini dan juga
esok. Amiiiin, Love you so much
Papa !”
Fahmi
; “ Papa juga saaaaaaaangat berbahagia
karena Papa punya Mama, dan ciuman itu tidak hanya akan ada dimalam itu saja
tapi disetiap hari – hari Mama, di setiap waktu Mama, karena Papa Sayang
Mama trima kasih Ma “
Ganti Fahmi yang tugas keluar kota, pas pulang, betapa
terkejutnya Fahmi mendapati rumahnya berantakan, ada banyak orang dan beberapa
polisi, ia juga mendapati kedua pembantunya pada meninggal kena tembak.
“
Bi Surti? pak Imam ?
“Innalillahi
wa’innailaihi roji’un”, ucapnya. Fahmipun segera berlari ke kamarnya, betapa
terkejutnya ia melihat Dina bersimbah darah, yah…. Dina juga turut meninggal
dunia setelah di bunuh dan di perkosa oleh kelima orang perampok.
“Ma…
Mama..?! jangan tinggalin Papa Ma, Mamaaaaaaaa……..!”teriak Fahmi,
Dina
terkejut mendengar Fahmi teriak-teriak, ia pun segera membangunkan suaminya.
“Pa…?
Papa bangun Pa?!”, Fahmipun bangun juga
“‘Ma
Mama jangan tinggalin Papa Ma, Papa takut, Papa gak mau kehilangan Mama “ujar
Fahmi langsung memeluk Dina”
“Papa
mimpi buruk ya?” Tanya Dina seraya
mengusap keringat Fahmi yang bercucuran, dan betapa terkejutnya Dina
“Masya
allah Pa? badan Papa panas banget, sebentar ya Mama ambilin obat. “
Dina pun menyuapi Fahmi lalu memberinya obat, sambil
menyuapi Fahmi Dina menanyakan sesuatu hal yang selama ini begitu mengganjal
dihati Dina, bagaimana tidak, selama menikah tidak pernah sekalipun Fahmi
memerintah atopun menyuruh – nyruh Dina, minta bantuan Dina, kalopun Fahmi
butuh sesuatu semua pasti ia kerjakan sendiri
“
Pa, Mama boleh Tanya sesuatu gak? Tapi PaSpa jangan marah ya?” pinta Dina
“
Papa gak mungkin bisa marah sama Mama, emangnya Papa pernah marah – marah sama
Mama ?”
“
Gak pernah sama sekali Pa”
“
Memangnya Mama mau tanya apa?”
“
Kenapa sih Papa gak pernah sekalipun nyuruh – nyuruh Mama, maksudnya minta
bantuan apa gitu sama Mama, misalnya kalo Papa lagi pingin ato butuh sesuatu
trus Papa minta bantuan Mama, misalnya minta bikini kopi atau apalah, Mama
sampai kepingin banget diminta bantuan sama Papa ?”
“
Oh itu, Maafin Papa ya Ma, Papa Cuma takut aja, bukannya Papa gak mau Papa juga
kepingin banget, tapi pekerjaan Mama dirumah ini kan udah ribet banget, masak,
nganterin makanan Papa kerumah sakit, meski Papa gak pernah minta Mama buat
ngelakuin hal itu, belum lagi Mama juga musti kuliah, kerja juga, Papa takut
kalo – kalo Mama lagi capek, trus kalo Mama capek ntar kan Mama jadi terpaksa
bantuin Papa, nah kalo Mama terpaksa Mama kan ntar jadi berdosa juga, nah Papa
gak mau seperti itu Ma “
Betapa
terkejutnya Dina mendengar penjelasan Fahmi, ia ngerasa bersalah, dan benar –
benar terharu
“
Ya Alloh begitu mulyanya hati Mas Fahmi, sampai sebegitunya ia memikirkanku”
“
Gak seperti itu Pa, justru Mama akan lebih senang lagi, karena udah kewajiban
Mama sebagai istri Papa buat melayani Papa dengan sebaik – baiknya “
“
Istri itu bukan pembantu Ma, tapi istri itu adalah teman hidup, teman untuk
diajak beribadah mendekatkan diri kepada Alloh, teman untuk dunia akhirat, ya
udah kalo emang maunya Mama kayak gitu, Insya Alloh lain kali kalo Papa butuh
sesuatu Papa minta ditemenin sama Mama, kita bikin bareng – bareng ya”
“
Nah gitu donk Pa “
Dina menemani Fahmi sampai Fahmi tertidur kembali.
Setelah Fahmi tidur, Dina hendak membereskan piring bekas makanan Fahmi,
sebelumnya ia sempat mencium kening suaminya itu, pas Dina pergi, suaminya
bangun, rupanya ia pura-pura tidur.
“Yess ! yess ! yess!”, ujar Fahmi seraya
jingkrak-jingkrak di atas ranjang,
mendengar seperti ada suara gaduh, Dina
kembali lagi ke kamar, tau Dina balik lagi, Fahmi kembali pura-pura tidur,
betapa terkejutnya Dina melihat gaya
tidur Fahmi yang aneh, di tambah lagi ranjang jadi berantakan.
“Aneh..!”, ujar Dina lirih.
Hari ini dirumah Dina lagi ada acara hajatan lagi, yaitu pernikahan adik
Dina yang bernama Nina, suasana dirumah Ibu pun begitu ramai, pada sibuk gitu
deh….
Malam harinya acara resepsi pun digelar, Fahmi dan
kaka iparnya sengaja berangkat terlebih dahulu ke hotel dimana acara resepsi
digelar, buat ngecek segala persiapan disana, sementara Dina masih berdandan
ria, pas lagi dandan tiba – tiba Kak Vina menghampiri Dina
“
Duh adek mbak ini tambah cantik aja rupanya ?” puji mbak Vina
“
Terima kasih mbak Vina juga tambah cantik “ balas Dina
“
Kamu gimana dek belum hamil juga?” Tanya mbak Vina
Mendengar
pertanyaan Mbak Vina Dina agak gelagapan namun ia berusaha untuk tetap santai
“
Hmmmm, belum mau mbak masih pingin berduaan dulu “
“
Hmmmm…. Gitu yah, tapi kalo menurut mbak sih Mas Fahmimu itu kayaknya orangnya
gak begitu agresif ya, nah sekali – kali kita sebagai perempuan harus lebih
agresif juga dek, mestinya kamu bisa lebih agresif sama dia, biasanya juga laki
– laki itu suka gelagapan kalo liat kta tampil beda, coba deh kamu rubah juga
gaya dandananmu biar lebih nampak lagi jangan yang minimalis – minimais mlulu “ mbak Vina ngasih saran
“
Masak sih mbak?’
“
He’eh coba aja dulu liat ntar hasilnya gimana, kalo emang Mas Fahminya gak suka
ya pakek yang seperti biasanya aja “
“
Trus Dina musti gimana Mbak?”
“
Gini coba yang gampang aja dulu, kamu kan
biasa pakek lipstick warna – warna pink gitu senada sama warna bibirmu, coba
pakek lipstick yang warnanya agak lebih keliatan merah sediit, trus begini ….
bla … bla …. bla “ saran Mbak Vina
“
Ya udah deh Dina coba dulu deh Mbak, makasih ya atas sarannya “
“
sama – sama dek “
Pas acara resepsi dimulai Fahmi agak gelisah
karena Dina istrinya belum juga datang,
“
Duh Mama mana ya kok tumben lama ?”
Sementara
tamu – tamu undangan udah pada datang, pas Fahmi lagi sibuk menjamu para tamu
undangan yang hadir, tampak Dina sedang berjalan begitu anggunya dengan
tampilan berbeda dan makin cantik saja, Fahmi semakin kagum, ia seakan tak
percaya melihat penampilan Dina malam itu, ia tampak berbeda dengan gaun silver
kerlap kerlip model abaya dipadu dengan
jilbabnya, Dina mengumbar senyumnya menjamu teman – teman sejawatnya yang turut
ia undang
“
Assalamu’alaikum Papa “ sapa Dina dengan suara yang penuh kelembutan
Fahmi
masih juga tercengang
“
Hellow, Papa “
“
Oh …. Eh ….wa… wa’alaikumsalam Ma !”Fahmi mendadak jadi nervous deket Dina
“
Udah lama nunggunya Pa? maaf ya Mama telat “
“
E…… e…. i… iya gak apa – apa Ma”
Suasana
semakin ramai, Fahmi terus saja memandangi Dina dari kejauhan, Dina pun dapat
merasakannya ia pun balas tersenyum untuk sang suami tercinta.
Pas
ramah tamah, Dina yang lagi mencicipi pudink, dihampiri oleh Fahmi
“
Malam ini Mama cantik banget “ bisik Fahmi, mendengar itu Dina hanya tersenyum
Seusai
acara Fahmi dan Dina sengaja pingin nginap di hotel tempat acara resepsi
digelar bersama sang pengantin yang juga menginap disana, pas sampai dikamar
hotel ……..
“
Mama mau ambil wudhu’ dulu Pa “
“
Ya Ma “ sahut Fahmi singkat, tiba – tiba saja……
“
Eh jangan dulu donk Ma ?”
“
Ada apa Pa?”
“
Ntar dulu ajah, kita main – main dulu yuk?! Papa punya satu permainan baru nih
“ ajak Fahmi
“
Oke, emangnya ada permainan apa Pa?”
Rupanya
Fahmi sudah menyiapkan semuanya
“
Gini kita main tebak – tebakan, nanti salah satu dari kita yang kalah matanya
ditutup trus nebak – nebak rasa makanan yang dimakannya,”
“
Oke siapa takut “ tantang Dina
Mereka
berduapun mulai tebak – tebakan tentang ilmu pengetahuan dan ternyata Dina lupa
pada salah satu pertanyaan Fahmi, Dina kalah Fahmi pun menutup kedua matanya
dengan sapu tangan
“
Awas jangan curang ya Pa !” ancam Dina
“
Tenang aja sayang “
Mula
– mula Fahmi menyuapkan sesendok brownies ke mulut Dina, pudink, coklat, anggur
merah, semua bisa ditebak sama Dina, sampai – sampai Fahmi usil juga ia
menyuapkan sebuah cabai rawit kecil, Dina pun jadi kepedesan, sementara Fahmi
ia malah cekikikan,
“ Ssssshhh…….., Ih Papa curang!” rengek Dina seraya membuka penutup matanya
“ Hahahaha …… iya deh sorry Ma, eh jangan dibuka dulu
donk penutupnya kan Papa belum selesai ?” protes Fahmi
“ Awas kalo curang lagi “
Fahmi pun lanjut menyuapkan es krim vanilla ke mulut
mungil Dina, dan semua masih juga bisa ditebak, lalu…
“ Terakhir nih, coba tebak, kalo yang ini apa hayo…?”
Rupanya Fahmi malah ngasih kiss di lips Dina
Dina pun kembali membuka penutup matanya, ia terkejut
“ Papa curang lagi ya?” protes Dina pelan, sementara
Fahmi Cuma senyum aja
“ Hmmm….. mungkin kali ini memang harus aku dulu yang
memulainya seperti kata Mbak Vina tadi “ Dina berkata dalam hati, kali ini
doski Nampak agak sedikit agresif, ganti Dina yang mendekati Fahmi, Fahmi pun
tak dapat menghindari, Dina lantas membalas ciuman Fahmi, mereka pun kembali
berciuman meletupkan segala rasa rindu dihati.
Beberapa saat kemudian Dina pun melepaskan ciumannya
“ Thank you sayang” ucap Fahmi penuh manja
“ Oh ya sayang, kita ngedance yuk?!” ajak Fahmi
“ Apa? Maksud Papa dansa gitu?”
“ Yup betul sekali sayang”
“ tapi Mama gak bisa dansa Pa”
“ tenang ntar Papa ajarin ato kita putar videonya ajah
biar bisa kita ikuti gerakannya “
“ terserah Papa aj deh “
Fahmi pun mulai memutar kaset DVD miliknya Nancy Ajram
artis favoritnya, doski muter lagu “Wana Bin Eidik” miliknya Nancy Ajram,
divideo itu Nancy lagi asyik berdansa sama suaminya, Dina dan Fahmi pun
berdansa mengikuti gerakan – gerakannya gitu, muter – muter gitu deh
“ Udah dulu lah Pa Mama capek “ pinta Dina, ia pun
merebahkan diri disofa
“ Oh ya Papa hampir aja lupa, tadi pas acara ada dr.
Daniel, dia ngasih Papa CD gitu deh katanya sih film bagus gitu, kita nonton
yuk?!”
“ Ya udah Mama juga penasaran nih film apa?”
Fahmi pun muter CDnya, pas diplay ternyata isinya
adegan porno gitu deh
“ Astaghfirulloh “ ucap Dina sembari segera mematikan
tv-nya, sedang Fahmi tiba – tiba doski mendadak pusing dan mual – mual gitu
“ Pa, Papa gak apa – apa kan? Tanya Dina cemas
Sedang Fahmi ia terus saja mual, dan buru – buru
kekamar mandi, doski muntah – muntah, badannya juga panas banget, ternyata
Fahmi alergi banget sama hal – hal yang berbau pornografi kayak gitu,
Dina pun langsung membopong Fahmi menuju tempat tidur,
ia juga ngasih Fahmi obat, sebagai pertolongan pertama, doski juga ngurapin
badan Fahmi pakek minyak kayu putih, bau minyak kayu putih pun tercium begitu
menyengat dari tubuh Fahmi, jadi kayak bayi gitu
“ Duh Papa kenapa bisa jadi kayak gini? Tau gitu tadi
gak usah diputerin filmnya, lagian ngapain juga sih dr. Daniel pakek acara
ngasih film kayak gituan sih, kalo udah kayak gini ribet kan jadinya “ Dina
mulai ngomel,
“ Udah gak apa – apa kok Ma, Papa gak apa – apa, Mama
gak usah cemas gitu, sekarang mendingan Mama kerokin badan Papa ajah ya? Biar
Papa gak masuk angin lagi “
“ Baik Pa” Dina pun mulai ngerokin punggung Fahmi
“ Papa tuh alergi dan gak boleh liat film semacam itu,
jijik Ma, dulu juga pernah waktu masih kuliah ada yang ngasih Papa film kayak
gitu juga efeknya hampir 15 hari Papa dirawat dirumah sakit gara – gara itu “
Fahmi berkisah
Mendengar cerita Fahmi Dina malah cekikikan …
“ Hihihi….. Papa lucu juga ya?” hehehehe ….”
“ Mama, kok Papa malah diketawain sih?”
“ Ya bukannya gitu Papa, biasanya kan kebanyakan cowok
– cowok itu kan sukanya nyimpen bahkan sampai mengkoleksi barang – barang yang
berbau pornografi kayak gitu, ini Papa malah alergi “
“ Tapi lebih baik kayak gini kan Ma, lagian film kayak
gitu juga malah ngajak kita ke neraka, iya kan?”
“ Iya sih, Papa bener, bener banget “
{“ Ato jangan – jangan Mama dulu pernah liat film
kayak gitu ya?” goda Fahmi
“ Ih … Papa sembarangan aja, Na’udzu billahi min
dzalik Pa, ya emang sih dulu sering juga temen – temen mau ngasih liat film –
film porno gitu sama Mama, tapi Mama tolak mentah – mentah, karena Mama gak mau
masuk neraka seperti yang tadi Papa bilang “
“ Kalo begitu sehati donk kita “
Ujian skripsi Dina telah tiba, pertanyaan demi
pertanyaan ia jawab dengan tepat, ia pun lulus dengan nilai terbaik, pas keluar
dari ruangan, Dina yang ngeliat Fahmi yang emang sengaja nemenin dia langsung
meluk Fahmi begitu eratnya, seolah tak peduli kalo di tempat itu temen-temennya
pada kumpul,
“mama
lulus pa, Alhamdulillah mama juga dapet nilai A”,
“
selamat ya ma”, sambut Fahmi .
“Ehem….
ehem….”, mendengar temannya pada ngeledekin, Dina pun segera melepaskan
pelukannya.
“Selamat
ya Din”, ucap kawan-kawannya.
Sepulang dari kampus, Fahmi mengajak Dina jalan-jalan,
happy-happy.
“Oh
ya ma, biasanya kalo orang pacaran itu ngapain aja”, Tanya Fahmi.
“biasanya
sih ya…ngasih banyak hal, contohnya bunga gitu”,
tiba-tiba
Fahmi ngasih serangkaian bunga mawar merah yang indah banget nan harum.
“nih buat mama”,
“wah…
makasih banget ya pa, tapi papa dapet dari mana kok cepet banget ?”,
“nyuri
di taman deket kampus mama”,
“hah
? papa nyuri ? tega banget sih pa, jadi papa ngasih mama bunga hasil
curian
?”,
“hahaha…… ih mama, ya enggak lah ma, mana
mungkin papa ngelakuin itu ‘
“
huh papa tuh… ada-ada aja, tapi bunganya bagus lo pa”.
Acara wisuda juga telah di gelar, Dina pun dapat gelar
terbaik, ia juga dapat beasiswa buta ngelanjutin S2-nya.
Malam harinya
Fahmi dan Dina menghadiri acara resepsi pernikahan Doni.
“Selamat ya Don, semoga bahagia dunia akherat
“do’a Dina.
“Makasih
ya Din loe mau dating ke acara gue, selamat juga yak arena elo udah berhasil
jadi yang terbaik”,
“makasih
Don”.
Fahmi
pun lagi-lagi dibuat cemburu, pas pulang,
“apaan sih ma, pake sok akrab gitu sama Doni
?”,
Dina
pun jadi tertawa,
“papa
cemburu ya ?”,
“apaan
sih ?
“ntar
papa gigit loh ?! ancam Fahmi seraya tertawa,
“mau
dong “, balas Dina.
Tiba-tiba
Fahmi menghentikan mobilnya di jalanan yang sepi,
“ loh, kenapa berhenti pa ?”,
“ma,
di belakang , papa bawain baju buat mama, ganti gih ?!”, perintah Fahmi,
Dina
pun mengambil sebuah tas di jok belakang,
“ terus mama ganti dimana pa ?”,
“
ya disini aja ma, ganti gih ?!”,
“terus papa?”,
“papa
kenapa, ya papa disini aja ma”,
“tapi
papa kan cowok ?”,
“ya
udah dari dulu kali, kenapa ? udah ganti aja, lagi papa kan suami mama ? papa gak mungkin liat kok
!”,
“tapi
mama kan malu
pa ?, pokoknya papa keluar !”, perintah Dina,
“iya
deh sorry….”, Fahmipun keluar dari mobil,
“jangan
ngintip loh ?!”, ancam Dina lagi.
15 menit kemudian Dina keluar dari mobil dengan
memakai baju sutra berwarna hitam yang ada kelap-kelipnya di padu dengan
jilbabnya dan mexinya pula serta dandananyang begitu cantik karena Fahmi juga
ngebawain make up, Fahmi makin kagum.
“Ma
? ini beneran mama ?”,
“ya
iyalah pa, emang siapa lagi ?”,
“ya enggak, soalnya ini tempat sepi, takutnya
ada bidadari masuk mobil papa”, canda Fahmi.
“Mama
bener-bener cantik, mau bilang I love you kayaknya udah telat juga”,
“maksud papa?”,
“mama
cantiiiik sekali mala mini”.
Pas nyampe depan rumah, Fahmi ngebukain pintu mobil,
“selamat
datang tuan putri”,
Dina
pun turun dari mobil,
“eh
sebentar Ma, maaf ya Papa tutupin mata Mama dulu”,
“ ada apaan sih Pa ?”,
“
surprise lah !”,
Fahmipun
menutup mata Dina dengan kedua sapu tangannya, ia pun menuntun Dina masuk
kedalam rumah.
Lamaaaaa….. sekali rasanya, tak lama kemudian
Fahmi membuka tutup mata Dina, dan betapa terkejutnya Dina melihat rumah yang
begitu indah, dihiasi bunga-bunga, ada lilin kecil yang menghiasi tangga menuju
ke kamar mereka dan juga permadani, tampak Fahmi juga mengenakan jas sewaktu
mereka menikah dulu.
“Papa… indah sekali pa ?”,
“
ini semua buat mama, selamat ulang tahun ya Ma”, ternyata hari ini adalah hari ulang
tahun Dina,
“Masya Allah, Mama sempet lupa Pa, makasih
banyak ya Pa”,
“ya
udah, kita kekamar yuk, Papa masih punya kejutan lain Ma !”, pas Dina mau
jalan.
“Eit…
sebentar Ma, biar papa gendong ya, biar Mama gak capek”, Fahmipun menggendong
Dina.
“Wah…
ternyata Mama berat juga ya”,
“ih
dasar !”, ujar Dina seraya mencubit hidung Fahmi yang mancung, mereka berdua
pada tertawa.
Pas
sampai di depan kamar, Fahmi menurunkan Dina, ternyata kamar mereka juga di
hias persis seperti riasan kamar pengantin mereka dulu.
“Ini semua apa maksudnya Pa?”, Tanya Dina tak
mengerti,
“duduk
dulu Ma”,
mereka
berdua pun duduk di tepi ranjang yang di hiasi bunga-bunga, suasananya begitu
romantic, harum semerbak dimana-mana.
“Maafin
Papa Ma, karena papa udah bikin Mama menunggu saat-saat seperti ini begitu
lama, Papa sadar Papa mulai jatuh hati sama Mama sejak beberapa waktu yang
lalu, tapi waktu itu Papa masih ragu apakah ini yang di namakan cinta dan
sekarang papa betul-betul sadar, bahwa Papa gak mau kehilangan Mama, Mama
adalah anugerah terindah dari Allah buat Papa, Papa sayang sama Mama, Papa
cinta sama Mama”,
Dina
pun jadi terharu mendengarnya. Ia menitikkan air matanya seakan tak percaya.
“Ini
beneran kan Pa? Papa gak bohong kan?”,
“Ma, Papa cinta sama Mama, Papa Cuma mau
menikah sekali seumur hidup, Papa Cuma mau Mama yang jadi istri Papa, I love
you Ma !”, ucap Fahmi agak lirih,
“I love you too Pa !”, ujar Dina seraya memeluk Fahmi.
“Terima kasih ya Allah, akhirnya Engkau
kabulkan do’a-do’a hamba”, Fahmi melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata Dina,
“Mama
jangan nangis lagi ya? Papa gak suka liat Mama nagis, yang penting sekarang Papa akan selalu ada di samping Mama sampai
maut memisahkan kita”,
Dina
pun tersenyum mendengarnya,
“kita
sholat sunnah yuk Pa, Mama pengen bersyukur sama Allah atas semua ini, yuk?!”.
“Ayo
Ma!”,
mereka
pun sholat bersama.
Seusai sholat, mereka kembali duduk di tepi ranjang,
saling melirik, lamaaaaa sekali, mereka terdiam, rasanya persis seperti
saat-saat malam pertama, lalu…….
”Assalamu’alaikum
!”, sapa Fahmi,
“Waalaikumsalam!”,
“oh
ya, anggur ini manis sekali loh ma, cobain deh !”, ujar Fahmi seraya menyuapkan
buah anggur merah.
“Manisnya
sama seperti Papa”, ucap Dina,
“terima kasih Ma !”, setelah itu mereka
kembali terdiam.
“Ma,papa boleh gak buka jilbab Mama ?”,
Dina
hanya menganggukkan kepalanya, dengan perasaan yang berdebar-debar, Fahmi pun
membuka jilbab Dina secara perlahan dan terurailah rambut panjang Dina yang
begitu harum dan lembut, Fahmi pun membelainya.
“
Oh ya Papa masih ada surprise lagi buat Mama, ikut yuk?!” ajak Fahmi
Nyatanya
Fahmi ngajak Dina ke tepi kolam renang yang sudah ia hias sedemikian rupa,
ditengah – tengah kolam ada bunga dan lilin – lilin kecil yang menghias
bertuliskan FAHMI LOVE DINA FOREVER,
Dina benar – benar terharu melihatnya
“
Manis sekali Pa “
“
Ini semua buat Mama “ ujar Fahmi seraya memeluk Dina
“
Terima kasih banyak Pa “
“
Kalo boleh tahu sejak kapan sih pastinya Mama jatuh hati sama Papa ?”
“
Pastinya sih Mama lupa, tapi yang jelas sejak Papa melamar Mama, sejak itu Mama
udah ngerasa sayang sama Papa, nah kalo Papa ?
“
Pastinya sih sejaaaaaaak Mama ada disamping Papa “
“
Ih Papa curang, kenapa gak bilang dari dulu?”
“
Ya Papa takut Ma, Papa takut aja kalo perasaan itu ternyata bukan cinta tapi
hanya hasrat semata, hasrat dengan cinta kan beda sayang?”
“
Iya Papa betul, Mama juga salut sama Papa, hampir setahun kita nikah tapi Papa
gak pernah maksain Mama buat ngelakuin kewajiban Papa, padahal kan biasanya
cowok itu paling gak tahan kalo liat cewek cantik ?” komentar Dina
“
Hehehehe, Mama bisa aja, ya Papa gak mau ngelakuin hal itu karna hasrat semata,
Cinta kan tidak harus berarti ataupun berujung kesana, yang penting kan
bagaimana kita bisa membuat pasangan kita merasa nyaman dan tenang disamping
kita, aman dan bahagia “
“
Oh gitu ya Pa ?
‘
Iya donk, tapiiiiii, kalo misalnya sekarang Papa udah gak bisa nahan gimana ?”
bisik Fahmi ditelinga Dina
Mendengar
itu Dina hanya tersenyum saj, ia pun melepaskan pelukan Fahmi dan langsug
berlari menuju ke kamar, Fahmi pun mengejarnya, sesampainya di kamar, mereka
kembali duduk – duduk di tepi ranjang , lamaaaaaaa sekali mereka berdua saling
terdiam hingga akhirnya …..
“Ma,
papa boleh… menc….”,
belum
selesai Fahmi berkata Dina menutup bibir Fahmi yang merah dengan jari
telunjuknya, gadis cantik itu kembali menganggukkan kepalanya, Fahmi pun
tersenyum bahagia, ia pun mulai mencium kening Dina
“
Ini adalah ungkapan terima kasih Papa, karena Mama udah begitu setianya
menunggu Papa “
Selanjutnya
Fahmi mencium kedua pipi Dina kanan dan kiri
“
Ini sebagai ungkapan terima kasih Papa karena Mama udah mau temani Papa dalam
keadaan suka maupun duka “
Selanjutnya
Fahmi mencium hidung Dina
“
Ini sebagai ungkapan terima kasih Papa karena Mama udah begitu perhatiannya
sama Papa “
Fahmi
pun mencium dagu Dina
“
Ini adalah ungkapan sayang Papa sama Mama , dan sebagai ungkapan cinta Papa
sama Mama …… “
Fahmi
pun mencium bibir Dina, mereka berdua pun kembali berpagutan setelah sama –
sama mengucap basmalah.
Malam itu
mereka habiskan waktu untuk menikmati indahnya cinta, bertasbih atas karunia
Allah, tak terasa Dina sempat menitikkan air matanya saat ia sudah harus
melepaskan apa yang selama ini ia jaga, memasrahkan dirinya untuk suami
tercinta sebagai ibadah.
Pagi hari menjelang shubuh pas Dina lagi mau mandi,
tiba-tiba Fahmi masuk ke kamar mandi.
“Papa ngapain sih pa?”, ujar Dina terkejut,
doski
saat itu lagi mau ngelepasin pakaiannya.
“Mandiin
papa dong ma?”, canda Fahmi,
Dina
pun tertawa,
“oh…
ya, makasih banyak ya Ma yang semalem”,
“Emm…
mau lagi dong Pa?!”, goda Dina,
tiba-tiba
Fahmi memegang perutnya,
“aduuh!!”
“kenapa
Pa? pengen pipis lagi?”,
“ih Mama segitunya sih ?”,
mereka
berdua pun kembali tertawa.
“Emm…..
Mama beneran mau lagi ?”, bisik Fahmi.
“
Udah ah Pa, Mama mau mandi dulu, Papa keluar dulu donk?! Gantian mandinya “
pinta Dina
“
Oke Boss” sahut Fahmi seraya segera pergi meninggalkan Dina
Pagi harinya Fahmi muter – muter didepan kaca, doski lagi ngeliatain ada
tanda cupang merah dilehernya
“
Ada apa Pa?” Tanya Dina
“
Ini Ma, lagi liatin stempel merah dileher Papa “ canda Fahmi
Dina
jadi malu,
“
Itu sih mending Cuma satu Pa, nah Mama, nih ….? Sambut Dina seraya
memperlihatakan ada begitu tanda cupang dilehernya
“
Oh iya, hehehehe “ ujar Fahmi seraya menggaruk – garuk kepalanya yang tidak
gatal.
“
Hari ini Papa pingin jalan – jalan berdua sama Mama, kita pergi yuuuk?!” ajak
Fahmi
Hari
itu Fahmi ngajak Dina jalan – jalan kesuatu tempat yang begitu indah mereka
berdua happy – happy disana, jadi kayak pengantin baru yang berbulan madu gitu
deh..
1 bulan telah berlalu, di suatu pagi……..
“Pa,
mama ada kejutan buat papa ‘ujar Dina pas sarapan
“kejutan
apa sayang?”
“ Ada
aja, nih ?! ujar Dina seraya menyerahkan sesuatu
“apa ini ma?
sedang Dina Cuma senyum aja,
Fahmi
pun membuka bungkusan tersebut ternyata tes kehamilan yang bertanda positif.
“Ma….
mama hamil? Tanya Fahmi sambil membelalakkan matanya, ia tak percaya.
“Iya
pa, mama hamil “ jelas Dina bahagia
“bener
Ma? Tapi Ma… apa ini gak salah? “
“Maksud
papa?” Dina terkejut dengan kata-kata Fahmi
“ya
waktu itu kan
papa Cuma nyoba doang ! goda Fahmi
“iih
papa jahat banget sih? emang Mama bahan percobaan apa? “
Fahmi
tertawa
‘haha.. ha… maaf ya Ma, Papa Cuma bercanda,
maafin Papa ya Ma, Papa bahagia banget Ma! “
ia
pun menggendong Dina lalu muter – muter
“pelan-pelan,
ntar Mama jatuh lagi”
“oh iya sorry Papa lupa “
“Papa
berangkat dulu ya Ma? jaga si kecil baik-baik Assalamualaikum!... “
“Waalaikumsalam,
hati-hati Pa! “
pas
Dina masuk kedalam rumah, tiba-tiba terlihat mobil Fahmi balik lagi,
“
loh itu kan Papa, Dina membuka pintu
“ada apa?” ada yang ketinggalan? Tanya Dina
“iya
Ma, Papa lupa gak nyium Mama “goda Fahmi…
mereka
tertawa bersama.
BERSAMBUNG …..
1 komentar:
Posting Komentar