ANUGERAH TERINDAH 1

selamat membaca !






A  N  U  G  E  R  A  H






T    E    R    I    N    D    A    H


By : ATHIYAH KARIM





ANUGRAH TERINDAH


Suasana dikampus pagi cukup padat, khususnya dikelas mahasiswi semester 6, yang lagi ngadain rembukan, soalnya pada mau praktek, begitupun juga dengan “ Dina Amaliyah “ mahasiswi terbaik dikampus jurusan Kebidanan Universitas “ UI “ Jakarta, gadis berjilbab nan cantik ini menjadi ketua diskusi para mahasiswi dan dosen-dosen. Akhirnya tempat tugas praktek udah ditetapkan dan Dina mendapat tempat tugas dirumah sakit “ Islami “ Jakarta, kawasan Jakarta Utara.
“Alhamdulillah akhirnya tibalah saat untuk bertugas.“ ucap Dina lirih menyambut tugas yang akan ia laksanakan selama 6 bulan kedepan dengan penuh gembira.
Senin pagi yang cukup cerah secerah hati Dina yang mulai bersiap-siap untuk praktek pertamanya dirumah sakit yang cukup ternama di Jakarta Utara, rumah sakit Islami, dan Dina tidak sendiri, ia dan keenam kawannnya bertugas ditempat tersebut, Lia, Efi, Sinta, Devi, Rohmah.
Setibanya dirumah sakit, mereka disambut dengan ramah, sempat ada interview juga, tapi sayang sang pemimpin alias ketua dokter disana sudah tidak ada, beliau sudah pensiun dan akan segera digantikan oleh putranya yang masih berada si Singapura untuk mengadakan  penelitian  dan study banding disana, baru satu minggu kemudian datangnya. Jadi, Dina dan kawan-kawan tidak bisa praktek hari itu juga , musti nunggu pimpinan dulu, karena beliau yang akan mengatur tugas-tugas mereka. Jadi, hari itu mereka hanya mempelajari keadaan rumah sakit, dan berkeliling-keliling menyapa dan berkenalan dengan seluruh jajaran staf dirumah sakit yang cukup besar itu.
“Waaah…rumah sakit ini bangunannya indah sekali ya Din?” ujar Lia seraya mengamati bangunan-bangunan di rumah sakit tersebut.
Dina yang mendengar celotehan Lia Cuma senyum-senyum aja, begitupun juga dengan kawan-kawannya yang lain, maklum, biar udah di Jakarta, Lia yang asalnya dari Madiun ini masih terlihat agak kolot. He…he…he…
1 minggu kemudian. Dina dan kawan-kawan sedang menunggu diruang meeting yang ada di rumah sakit tersebut sambil berharap-harap cemas, semua pada diam.
“Din…?!” Sandra memulai pembicaraan.
“Ya San ada apa?” Sambut Dina ramah, ia memang memiliki sifat yang ramah, lembut, supel, sehingga Dina mempunyai banyak sekali teman.
“Kira-kira tugas kita ntar berat gak ya?” Sandra cemas.
“Tenang San, insya Allah apapun itu, kita pasti bisa melewatinya, selama kita benar-benar mau berusaha.”
“Oh…gitu ya Din, makasih!”
“Kira-kira ketua rumah sakit ini sapa ya?” Devi penasaran.
“Alaaah…paling-paling juga udah bapak-bapak, udah tua, aduh…moga-moga gak galak aja, kalo menurut bayangan gue sih, ini pak ketua orangnya pasti gemuk, kumisnya tebal, galak…aduh enggak banget deh.” Sinta membayangkan, teman-temannya pun pada cekikikan.
Tak berapa kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara pintu dibuka, lalu…
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, selamat pagi!” Sapa pak ketua.
Dengan serempak mereka menjawab
“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh.”
Dan betapa terkejutnya mereka menatap sosok pria yang berada dihadapan mereka bukanlah seorang bapak-bapak tua yang gendut, berkumis tebal dan galak, seperti apa yang telah dibayangkan oleh Sinta, melainkan seorang pemuda tampan, berkacamata, putih, tinggi, tegap, tubuh atletis, berkumis tipis, ditambah lagi dengan bibirnya yang yang merah tipis dan janggut didagunya yang sedikit tak telalu tebal, wajah-wajah agak Chinese gitu deh…. Mirip ama actor china Jimmy Lin
Kontan semua cewek-cewek yang masih duduk dibangku kuliah itu pada tertegun dan terpesona dibuatnya. Apalagi pemuda tersebut terlihat sangat ramah, disiplin, rapi, wangi, dan santun, friendly banget lagi…waaah gak kukuh.
“Mari silahkan duduk!” Pemuda tersebut mempersilahkan, dan semuapun mulai duduk dan pada interview, dengan introduction terlebih dahulu.
“Perkenalkan nama saya Muhammad Fahmi Ar.Royan, panggil saja dr.Fahmi,  saya bertempat tugas disini baru 1 tahun, sebagai dokter umum dan juga spesialis anak. Mudah-mudahan selama mbak-mbak bertugas disini bisa merasa nyaman, tenang, dan puas kalopun ada hal-hal yang kurang difahami nantinya tidak usah sungkan-sungkan untuk bertanya dan saya juga mohon maaf karena terlambat menyambut anda semua disini karena saya masih ada tugas diluar negeri.”
“Ah…gak apa-apa kok Mas, eh maaf dokter!” Celetuk Efii sekenanya.
Semua pada tertawa mendengar celetukan Efi.
“Untuk tugas-tugasnya sudah saya serahkan kepada Ibu Latifah, beliau adalah dokter spesialis kandungan terbaik dirumah sakit kami, dan anda juga bisa menghubungi Ny.Lasmi selaku bidan disini, oh ya perlu anda semua ketahui bahwasanya disini kami juga memiliki beberpa peraturan yang harus ditaati oleh semua karyawan, pekerja, dan staf dirumah sakit ini yaitu yang pertama adalah : setiap waktu sholat tiba, kami mengadakn sholat jama’ah secara bergantian, kecuali yang beragama non islam dan bagi semua karyawan dirumah sakit ini yang muslimah kami wajibkan untuk memakai jilbab, kecuali yang non muslimah, bagaimana? Sanggup?” tanya dokter Fahmi, seraya melirik Sandra, Sinta dan Evi yang tidak mengenakan jilbab,
Mereka bertiga hanya menjawab dengan angggukan kepala saja, walau sebenarnya mereka agak keberatan juga.
“Baiklah kalau begitu, cukup begini saja dulu, mengenai hal-hal lain yang belum anda semua pahami, bisa ditanyakan kepada Ny.Latifah dan Ny.Lasmi selaku pembimbing anda semua nanti. Selamat bertugas dan semoga sukses!” Sambut dr.Fahmi mengakhiri,
Tiba-tiba Sinta nekat mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan dr.Fahmi, namun sayang dr.Fahmi menyambutnya hanya dengan mengatupkan kedua tangannya, sebagai tanda bahwa ia tidak terbiasa dan tidak bisa berjabat tangan dengan lawan jenisnya yang tidak mahrom. Sintapun mengerti, ia Cuma cengingisan aja dan jadi tersipu malu.
“Assalamu’alaikum!” Lanjut dr.Fahmi seraya meninggalkan ruangan diskusi.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab 6 gadis tersebut serempak.

Ketika si dokter tampan udah pergi, gadis-gadis itupun pada ngerumpi
“Uhh…dasar tuh orang, sombong banget sih? Udah bikin aku tengsin lagi.” Ucap Sinta yang lagi ngedongkol, dan kawan-kawannya pun pada ketawa-ketiwi.
“Lagian kamu, ngapain sih pakek nyulurin tangan segala!” sambung Efi.
“Ih…sebelnya peraturannya itu loh yang musti ngewajibin kita pakek jilbab, aku kan paling gak suka, udah gerah, panas lagi, jadi gak keliat lagi deh rambut indahku ini, mana abis rebonding lagi.” Sandra ngomel.
“Sabar San, coba aja dulu, secara perlahan-lahan, insya Allah kamu bisa kok!!!” Nasihat Dina.
“Eh…eh…tapi tu dokter tampan banget loh…waaah…jangankan 6 bulan, 6 tahun atau bahkan sampai 60 tahun gue betah pastinya lama-lama tugas disini?” Devi menghayal.
“Huh..mimpi kali yee…..langkahi dulu mayatku” balas sinta,
“Alaaaah….kalian apa-apaan sih, paling-paling dia juga udah punya anak punya istri dan………aku mau loh…..jadi istri keduanya hihihihi……..”sambung Rohmah mengharap,
sementara Dina cuma senyum-senyum saja mendengar kawan-kawannya yang lagi ngerebutin dr. Fahmi,
“Eh….Din, loe kok diem aja sih?” Tanya Sandra yang ngeliatin Dina dari tadi cuma senyum-senyum saja.
“Gak ah…aku gak ikutan” ucap Dina seraya tertawa pelan, meski sebenarnya ia agak kagum juga sama dokter tampan dan sopan itu,
“Tapi….jaman kayak gini jarang sekali ada cowok yang nolak bersalaman dengan cewek, malah kebanyakan si cowok dulu yang mulai hmmm…..bener-bener alim kayaknya pemuda itu pasti beruntung sekali wanita yang bisa mendampinginya” Dina bergumam dalam hati.
Tak terasa satu bulan telah berlalu, Dina dan kawan-kawan pada sibuk dengan tugas-tugasnya memeriksa ibu-ibu hamil, merawat bayi-bayi yang baru di lahirkan, memeriksa balita-balita yang sedang sakit, bahkan sampai membantu proses persalinan, dan Efi, Sandra serta Sinta, merekapun telah berjilbab. “Din..ternyata pake jilbab itu enak ya? Adem banget rasanya, kepala juga gak kepanasan kalo pas lagi kena sinar matahari langsung,” ujar Sandra suatu ketika,
”Alhamdulillah…seneng deh rasanya, akhirnya kamu pake jilbab, itu memang kewajiban kita untuk pake jilbab menutup aurot kita San” nasehat Dina lagi.
“Ntar ajarin aku make jilbab yang bener ya Din?” pinta Sandra,
Dina yang sedari kecil udah terbiasa memakai jilbab, mengiyakan permintaan Sandra, begitupun juga dengan Efi dan Sinta,
“Sejak bertugas di rumah sakit ini, hati aku jadi merasa tenang banget Din, apalagi sejak kita di wajibkan sholat berjamaah bareng-bareng tiap waktu, aku jadi on time juga sekarang sholatnya, Jujur aku dulu suka bolong-bolong sholatnya,” Efi berkisah,
“Alhamdulillah ada hikmahnya juga kita bertugas disini, Allah udah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua,” sambut Dina lega melihat perubahan-perubahan  positif pada teman-temannya.
     Saat lagi asyik ngobrol pada jam istirahat, tiba-tiba terdengar suara bedug yang sudah bertalu-talu dari masjid sebelah rumah sakit yang sudah di bangun oleh si empunya rumah sakit itu.
“Eh udah waktunya sholat, kita sholat yuk ?”, ajak Rohmah,
 mereka pun bersama-sama berjalan menuju masjid, sementara Lia, ia lagi nunggu dan duduk-duduk di taman deket masjid, karena lagi berhalangan, lagi dapet cuti gitu deh…
Bangunan masjid dan rumah sakit tak kalah megahnya, interiornya begitu indah, dinding-dinding yang di hiasi dengan keramik berwarna coklat, lantainya pun di beri permadani yang indah pula, membuat siapapun yang beribadah disana merasa nyaman dan dapat beribadah dengan khusyuk, ditambah lagi dengan suasananya yang sejuk nan teduh karena di sekitar masjid ada pohon-pohon besar yang cukup rindang, kebersihannya pun terjaga dengan baik.
Saat lagi pada sibuk melepas sepatu, tiba-tiba muncullah sosok sang idola, siapa lagi kalo bukan dr. Fahmi, terlihat ia lagi buru-buru dengan wajah yang masih agak basah karena habis wudhu’, serta tetesan-tetesan air yang sesekali masih menetes dari sebagian rambut kepalanya yang agak jabrik, menambah ketampanan sang dokter, ia berjalan terburu-buru menuju masjid, sementara tangan kanannya terlihat membawa Alqur’an kecil.
“Eh…..eh itu kan si Mr. tampan”, ujar Devi memberitahukan kepada semua teman-teman,
maklumlah walau bekerja dalam satu rumah sakit, mereka jarang bertemu, apalagi dr. Fahmi sangat sibuk sekali, ia mempunyai banyak sekali pasien, apalagi sebagai dokter umum dan dokter specialis anak, pelayanannya terkenal sangat ramah, sabar, baik dan telaten pada semua pasien-pasiennya, begitupun sebagai pemimpin , ia sangat tegas, mandiri, ramah, rajin serta disiplin, sosok pekerja keras, ia juga dikenal sangat ramah kepada semua orang, pada saat lagi bertugas, ia benar-benar tegas dan disiplin, sedang di luar tugas, dr. Fahmi juga di kenal humoris dan suka bercanda.
“Assalamualaikum” sapa dr. Fahmi,
“wa’alaikumsalam”, sahut enam gadis itu,
setelah menyapa enam gadis tersebut, dr. Fahmi langsung pergi seraya tersenyum, ia pun langsung masuk ke dalam masjid, rupanya ia mau mengaji sebentar sebelum adzan dii kumandangkan.
“Idih….tuh orang kok kayaknya cuek gitu sih ama cewek?”, seloroh Devi,
”iya tuh” sambung Sandra,
sementara Dina, ia kagum,
“Hari gini masih ada pemuda yang mau meluangkan waktunya untuk membaca Alqur’an sebentar di sela-sela kesibukannya”, kata Dina di dalam hatinya walau sebenarnya ia juga suka mengaji.
Setelah selesai sholat berjama’ah, sebagian karyawan dan pekerja dirumah sakit itu pada makan siang di kantin rumah sakit, kantin khusus para karyawan, Dina dan kawan-kawannya pun ikut makan siang di kantin, setelah memesan makanan, merekapun duduk berkelompok, tak di sangka-sangka terlihat dr.Fahmi lagi jalan bareng dr. Daniel, sahabat karibnya sejak masih duduk dii bangku sekolah SMA, rupanya sang dokter lagi memesan secangkir kopi,mereka asyik bercanda, bahkan saking asyiknya, sesekali terlihat dr. Daniel usil menggelitiki pinggang dr. Fahmi yang suka geli, melihat pemandangan seperti itu, enam gadis tersebut jadii ikutan cekikikan,
“Eh liat tuh dr. Fahmi, dia lagi kegelian, lucu ya?” komentar Devi seraya tertawa,
“ Eh …eh   denger-denger kalo cowok ataupun cewek suka geli, pasangan hidupnya ntar dapat yang cantik atau tampan” sambung Lia,
“ Ah masak sih ?” komentar Rohmah
“ Eh Dina kan gelian juga” Rohmah mengingatkan,
“Apaan sih?” Dina membantah,
“Waaaahhh….serasi nih yeee….”, seloroh Sinta,
mereka pun asyik bercanda juga dan gak di duga-duga dr. Daniel dan dr. Fahmi nyamperin mereka,
“Assalamualaikum!”,  
Ke enam gadis itu pada terkejut,
“ waalaikumsalam” jawab mereka,
“ Lagi pada makan siang ya?” sapa dr. Fahmi,
“ iya dok” sahut Lia,
 “ dokter udah ?” sambung Efi,
“ sudah nih” jawab dr. Fahmi singkat seraya menunjukkan rantang makanan bontotannya,
“oh…..lagi menikmati masakan istri ya dok?” lanjut Efi,
dr. Fahmi yang mendengar pertanyaan Efi langsung tertawa seraya melirik dr. Daniel tanpa menjawab, dr. Fahmi langsung pamit untuk kembali melanjutkan tugasnya,
“ saya duluan ya? Assalamualaikum !”,
“waalaikum salam!” jawab enam gadis itu serempak.
“dr. Fahmi itu masih lajang, dia belum punya istri, makanan yang dia makan itu masakan bundanya, dia orangnya gak suka makan diluar, biasa….anak mama” kisah dr. Daniel yang juga ramah,
“ waaaahhhh….beneran dok? dr. Fahmi masih lajang ? kirain……” sambung Sandra.
“Iya dia masih lajang, memang sih usianya udah 27 tahun dan bundanya masih suka maksa dia buat segera menikah”,
”masak sih dok?” Rohmah semangat,
 “kenapa? Kamu mau?” sambung dr. Daniel,
merekapun pada ketawa,
“ogah ah dok, saya sih udah punya tunangan” kisah Rohmah,
“kalo Dokter udah punya istri?” Tanya Sinta, dengan semangatnya dr. Daniel menjawab
“ udah dong, masak pria tampan seperti diriku ini belum laku?” canda dr. Daniel,
mereka semua pun tertawa hingga akhirnya mereka kembali pada tugas masing-masing.
Waktu demi waktu tak terasa terus berjalan dan pada suatu ketika……
”Dina?” dr.Latifah sang pembimbing memanggilnya,
“ iya bu ada apa?”,
“ kita hari ini ada meeting sebentar, kamu ikut ya?” ajak dr. Latifah,
 “baik Bu!” jawab Dina mantap,
“ ya sudah kalo begitu kita kesana sekarang, kita sudah di tunggu sama dr. Fahmi,” ajak dr. Latifa,
mereka berduapun berjalan bersama-sama menuju ruang meeting, rupanya ada hal penting yang akan di bahas dan rapat pun di mulai…,
dr. Daniel yang menjadi pimpinan rapat kali ini.
“Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh, Selamat siang!”
“waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh”,
“ langsung saja saudara- saudara sekalian, begini, rumah sakit kita ini akan melakukan pembangunan, kita akan membangun suatu ruangan dimana ruangan tersebut akan menjadi ruangan khusus bagi anak-anak, ada ruang pemeriksaan dan ruang rawat inap, karena kita tahu anak-anak sulit sekali bila di ajak berobat, mereka takut kepada dokter, takut pada jarum suntik dan sebagainya, oleh karena itu kami memiliki suatu konsep model dan bentuk ruangan tersebut, yang di dapat dari dr. Fahmi, beliau sempat berkonsultasi dengan para arsitek ternama disana, untuk gambaran jelasnya biarlah dr. Fahmi yang akan menjelaskan,
“ silahkan dr. Fahmi ?!’,
 “terima kasih dr. Daniel, Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh………”,
dr. Fahmi pun menjelaskan rancangannya yang ia gambarkan melalui proyektor dari laptopnya, setelah menjelaskan bla….bla…bla, dr. Fahmi pun membuka ruang diskusi, mempersilahkan para karyawannya untuk berpendapat atas rancangannya itu. Semua bertepuk tangan dan bangga,
” wah….bagus sekali Dok,” puji dr. Latifah,
tapi tidak dengan Dina, ia pun segera menyampaikan aspirasinya,
“instruksi Dok”, ujar Dina seraya mengacungkan tangannya,
 “iya mbak silahkan”, dr. Fahmi jadi terkejut,
“ begini Dok, saya mohon maaf sebelumnya jika pendapat saya ini kurang berkenan, tapi menurut pendapat saya rancangan itu terlalu mewah, terlalu canggih pula, memang bagus, tapi pastinya akan membutuhkan dana yang cukup besar pula, dan rancangan itu kurang sesuai dengan jiwa anak-anak yang masih gemar bermain dan sebagainya, ini menurut saya”, ujar Dina tegas, “Hmmmm….anda punya konsep rancangannya?” Tanya dr. Fahmi ramah,
Dina pun terkejut, ia sama sekali tidak memiliki konsepnya,
“maaf saya tidak punya Dok”, sahut Dina seraya menggigit bibirnya,
tapi ia benar-benar gadis yang cerdas, berani memberikan kritik tapi ia juga bertanggung jawab,dr. Fahmi jadi heran,
” terus?” Tanya dr. Fahmi,
“ begini Dok, kalau saya di beri kesempatan, saya akan membuatkan konsep rancangan bangunannya, bagaimana?” Dina menawrkan diri,
“Hmmm…baiklah kalau begitu saya beri anda waktu satu hari satu malam untuk membuatnya, dan besok anda sudah harus mempunyai konsepnya,karena proyek ini akan segera di laksanakan sekitar 3-4 hari lagi dan saya juga sudah menghubungi arsiteknya, bagaimana mbak? Bisa ?” Tanya dr. Fahmi,
Dina bingung,
“apa? Cuma satu hari satu malam? Bagaimana bisa aku menyelesaikannya dalam waktu sesingkat itu?, tapi apa boleh buat, dia harus melaksanakan tugas itu sekaligus sebagai penunjang nilai-nilai akademiknya supaya bisa lulus,
” baik Dok, akan saya usahakan,” sahut Dina tegas.
Seusai rapat, Dina langsung mengutak-atik laptopnya, merancang rancangan yang sesuai dan dengan dana yang tidak terlalu besar.
Sampai malam harinya Dina masih juga belum mendapatkan ide, padahal jam udah menunjukkan pukul 02.00 WIB dini hari,
“ aduuuuhhh….gimana nih, padahal besok pagi udah mesti presentasi, “
“ya Allah…..”, Dina bener-bener bingung dan ia memutuskan untuk sholat tahajjud terlebih dahulu, matanya terasa panas sejak sore tadi, ia sibuk melototin laptopnya, kepalanya juga pusing, hatinya gundah……Dan……..
“Alhamdulillah….akhirnya kelar juga”, ujar Dina,
“ yess….besok pagi tingaal presentasi, mudah-mudahan hasilnya memuaskan, terima kasih ya Allah…..” dan Dina pun segera beristirahat sejenak sebelum subuh tiba.
Esok paginya Dina segera menemui dr. Latifah dan dr. Daniel, meetingpun kembali dimulai.
“Bagaimana mbak, sudah selesai konsepnya? tanya dr. Fahmi,
“ sudah Dok, bisa dimulai presentasinya?” tanya dr. Fahmi lagi yang udah mulai penasaran dengan hasil rancangan Dina,
“ siap Dok”,
                Dengan membaca Bismillah Dina pun mulai menyalakan laptopnya, ia sambungkan ke proyektor dan ia pun memulai presentasinya, dan hasilnya benar-benar memuaskan, dengan rincian dana yang tidak terlalu besar pula, semua orang dibuat kagum olehnya,pertanyaan demi pertanyaan ia jawab dengan tepat. Hasil karyanya benar-benar memukau, dengan rancangan kamar anak-anak yang di hiasi dengan hiasan dinding tokoh-tokoh kartun kesukaan mereka, tempat tidur yang nyaman, ada tamannya juga dan beberapa mainan, serta para perawat dan dokter yang memakai kostum yang lucu-lucu dengan menggunakan kostum tokoh-tokoh pahlawan ataupun cerita kerajaan, sehingga anak-anak jadi betah hingga mereka sembuh dan tidak takut lagi pada dokter-dokter. Tepuk tangan yang begitu meriah di dapat oleh Dina, ia merasa lega,
“ wah bagus, bagus sekali mbak,” puji dr. Daniel,
dan sang pemimpinpun memberikan komentarnya.
“Sebelumnya kami ucapkan terima kasih banyak atas usaha mbak Dina yang sudah merancangnya dengan apik dalam kurun waktu yang begitu singkat, tapi kamu juga mohon maaf karena kami tidak bisa……….” dr. Fahmi menghentikan kata-katanya,
semua orang yang berada di ruang meeting tersebut jadi terkejut, suasanapun menjadi tegang, begitupun dengan Dina, ia yang tadinya lega jadi lesu seketika,
“ maaf kami tidak bisa mengabaikan begitu saja, hasil karya mbak Dina kami terima”, jawab dr. Fahmi seraya tersenyum,
“Alhamdulillaaaah”, Dina jadi lega,
“ selamat ya mbak, kamu hebat”, puji dr. Latifah dan yang lain.
Tiga hari kemudian tiba-tiba aja Dina di panggil oleh dr. Daniel ke ruangannya,
“ ada apa Dok?” tanya Dina,
“ begini mbak, dr. Fahmi sangat sibuk sekali akhir-akhir ini, dan dia butuh seorang asisten, maukah kamu menjadi asistennya?”,
 “saya pak?” Dina terkejut,
“iya, Anda, bisa kan?”, Dina bingung,
“ tapi saya kan jurusan kebidanan Dok, bukan perawat ataupun spesialis anak”, Dina menjelaskan jurusannya.
“Iya saya tahu, saya rasa praktek kamu disini sudah cukup, saya juga termasuk orang yang mengatur tugas-tugas kalian semua disini, dan ini tugas khusus buat kamu karena menurut saya  kamu seseorang yang mempunyai kelebihan, bagaimana?” tanya dr. Daniel lagi,
“ Ah gak begitu juga Dok, tapi terima kasih banyak atas kepercayaan dokter kepada saya, Baiklah jika menurut Dokter demikian, saya akan melaksanakan tugas ini”, sahut Dina, walau dia masih agak ragu juga,
“ oke kalau begitu, besok pagi kamu sudah bisa bekerja di ruangan kamu, disebelah ruangan dr. Fahmi, dan tugas kamu adalah mengurus jadwal presentasi, membantu pemeriksaan, serta menemani dr. Fahmi menghadiri acara-acara seminar kesehatan atau bahkan mewakilinya ketika dr. Fahmi sedang sibuk dan satu lagi membantu menyiapkan segala keperluan dr. Fahmi, ok?”,
“ baik Dok, terima kasih banyak atas kepercayaannya, saya akan berusaha untuk melaksanakan semua tugas-tugas itu dengan baik”,
“ oke!, dan ini adalah merupakan nilai plus buat kamu karena tugas ini pastinya merupakan tantangan juga kan buat kamu, yaaa..anggap saja ini adalah kuliah baru buat kamu dan kamu jadi bisa punya pengalaman baru, iya kan ?” jelas dr. Daniel.
“Iya… benar Dok, terima kasih Dok”, jawab Dina dengan mantap.
” Hmm……benar juga kata dr. Daniel ini, bisa jadi pengalaman baru buatku”, kata Dina dalam hati.
Dina pun memasuki ruang tugasnya,ia mulai beres-beres dan bersiap-siap pindah ke ruangan yang bersebelahan dengan dr. Fahmi, ia pun sempat ngobrol sebentar dengan kelima temannya.
“Apaaaa ?? ” Devi terkejut mendengar cerita Dina  yang di angkat jadii asistennya dr. Fahmi,
“ kok nggak nyambung banget sih ? jurusan kebidanan malah dapat tugas jadi asisten dan perawat anak-anak, gak ngaco apa ya?” komentar Devi,
“ iya tuh Din, salah orang kali tuh dr. Daniel?”, komentar yang lain,
“ ya enggaklah Vi, salah orang juga enggak mungkin, jelas-jelas aku yang di panggil dan di pilih, udahlah, biar ini jadi tantangan dan pengalaman baru buat aku, nah karena aku dah pindah tugas, sementara ketua kelompok kita biar di gantikan ama Lia aja yah?”
”Okelah Din kalau begitu, tapi selamat ya?! Semoga sukses !”,
 Dina pun bersalaman dengan teman-temannya, mereka saling berpelukan, tak lupa Dina juga mengucapkan banyak terima kasih kepada dr. Latifah pembimbingnya, semua member ucapan selamat kepada Dina,
tiba-tiba Sinta berkomentar,
“ ssssttt………eh…..apa jangan-jangan dr. Fahmi naksir kali ama Dina dan ini cara dia buat ngedeketin Dina agar lebih mengenal lagi ama Dina”, ujar Sinta berbisik,
“apaan sih Sin?” sanggah Dina,
  Emmm…udah…gaet aja sob, dari kita-kita kan Cuma elo yang belom punya pasangan, moga jodoh ya?”, canda kawan-kawannya yang lain,
“ hey…hey…stop, please deh jangan ngawur donk, lagian mana mau dia sama
aku ? ” balas Dina,
“ hm…. Kalian pasti cemburu ya? Canda Dina,
 merekapun semua pada tertawa.
Pagi ini Dina telah memasuki ruang tugas barunya, sebuah ruangan yang cukup besar berada di lantai tujuh rumah sakit itu, ruangan yang bersebelahan dengan ruang kerja dr. Fahmi, dinding-dinding pemisahnya adalah kaca besar yang cukup bening dan tertutup oleh tirai tipis, selain itu pemandangan kota Jakarta terlihat begitu jelas, karena semua dindingnya terbuat dari kaca tebal nan bening, ditambah lagi dengan AC yang berada di ruangan tersebut, menambah kesejukan di ruangan tersebut, ada televisi dan ruang tamu juga sebagai ruang konsultasi antara dokter dan pasien. Fasilitas di ruangan tersebut cukup lengkap, dii meja kerja Dina juga sudah ada computer dan laptop, jadi ia tidak perlu lagi menenteng laptopnya kemana-mana. Kondisi ruangan ini juga cukup rapi, begitupun juga dengan ruang kerja dr. Fahmi, terlihat sangat rapi. Kali ini Dina datang lebih awal, rupanya dr. Fahmi masih belum datang. Dina mempunyai kesempatan untuk beres-beres terlebih dahulu. Lima belas menit kemudian dr. Fahmi datang, ia pun menyapa asisten barunya itu,
“ Assalamu’ alaikum, selamat pagi”, sapa dr.Fahmi,
“ Waalaikumsalam, selamat pagi juga Dok”, sahut Dina,
dr. Fahmi agak terkejut juga karena Dina yang menggantikan
dr. Siska, asisten lamanya  yang diangkat menjadi PNS dan bertugas di tempat lain.
“ Loh…jadi mbak yang jadi asisten saya sekarang ?” tanya dr. Fahmi,
Dina tampak bingung kenapa dr. Fahmi bertanya demikian,
“iya Dok, memangnya kenapa? Ada apa ?”, tanya Dina.
” Oh….enggak…enggak ada apa-apa, ya… kalo begitu selamat bertugas ya, semoga sukses !”, sahut dr. Fahmi singkat,
“ baik Dok, terima kasih”, Dina pun merasa lega,
sementara dr. Fahmi, ia sedang memikirkan sesuatu, seraya memainkan dagunya,
“ ini pasti kerjaan si Daniel”, gumamnya lirih,
ia pun segera keluar kembali dan menemui dr. Daniel.
 “ Assalamu’ alaikum” sapa dr. Fahmi,
“Wa’alaikumsalam, eh apa kabarmu sob pagi ini?” sahut dr. Daniel.
“Dan, kamu apa-apaan sih? Aku kan minta asisten yang sudah berpengalaman, ya… maksudku ibu-ibu gitu seperti ibu Siska, kenapa kamu malah nyuruh mbak Dina, dia kan lain jurusan ?” protes dr. Fahmi.
 “Oh…jadi pagi ini kamu nemuin aku cuma untuk protes akan hal itu? selera kamu jelek banget sih?” balas dr. Daniel.
“maksud kamu?” dr. Fahmi tidak mengerti.
“Fahmi…Fahmi.., masak dari dulu kamu minta ibu-ibu terus, sekali-kali yang muda lah biar refresh, lagian aku lihat mbak Dina itu orangnya cerdas sekali, dia punya potensi yang besar dalam dirinya, ya…aku tahu dia beda jurusan dengan tugasnya sekarang, tapi please kasih dia kesempatan, aku yakin dia pasti bisa menjalankan tugas ini, oke?!,” dr. Daniel memastikan.
“Yah… terserah kamu saja”, sahut dr. Fahmi pasrah.
“Udahlah bro, santai aja, gak usah ngedongkol gitu, oke…aku minta maaf,  aku salah, tapi…ya masak kamu gak ada sedikitpun waktu untuk mendekati seorang wanita, kamu kok kayak anti banget sama wanita, sudahlah…lupakan masa lalu itu, tidak semua wanita jahat bro,ini sudah saatnya kamu buka mata hati kamu, ingat usia kamu, jangan sampai deh kamu jadi perjaka tua yang gak mau nikah”, jelas dr. Daniel,
sementara dr. Fahmi cuma diam saja dan langsung beranjak pergi sembari mengucapkan salam.
Dina dapat mengerjakan semua tugas-tugasnya dengan baik, tak terasa sudah tiga minggu ia bertugas sebagai asisten dr. Fahmi, ia memang benar-benar gadis yang cerdas dan berdedikasi. Pelayanannya kepada pasien begitu ramah, banyak pasien yang suka di rawat olehnya, terutama pasien anak-anak, karena Dina juga sangat suka dengan anak-anak, dan suatu ketika tanpa sengaja, dr. Daniel yang berjalan-jalan menjenguk para pasien, dia melihat Dina yang tengah menyuapi salah satu pasien anak-anak dengan penuh perhatian. “Eh….Fahmi…Fahmi…liat tuh ?!, itu kan si Dina”, ujar dr. Daniel.
“ Iya benar, memangnya kenapa?”, sahut dr. Fahmi agak cuek.
“ aku bilang juga apa, liat tuh banyak sekali pasien-pasien yang merasa nyaman di rawat olehnya, terutama anak-anak, dia bisa mengerjakan semua tugas-tugas dari kita, iya kan?, dia sangat berbakat”, puji dr. Daniel yang melihat Dina dari kejauhan.
“iya”, jawab dr. Fahmi singkat.
Disuatu siang yang cerah, terlihat ada seorang wanita cantik berjilbab memasuki ruang kerja dr. Fahmi
”Assalamu’alaikum”, sapa wanita itu,
“ Wa’alaikum salam”, jawab Dina.
“ dr. Fahminya ada ?” tanya wanita itu seraya membawa rantang makanan, rupanya itu makan siang siang untuk sang Dokter,
 “ada mbak”, jawab Dina singkat,
tak berapa lama dR. Fahmi keluar dari ruangannya.
“Assalamu’alaikum, hai sayang”, sapa wanita itu.
“Wa’alaikum salam cinta, loh…sama siapa kesini?” sahut dr. Fahmi seraya langsung memeluk wanita itu dan cipika-cipiki.
“ ya sendiri donk, nih aku bawain makanan kesukaan kamu “
“wah asik nih, makan bareng yuk cinta?”, ajak dr. Fahmi,
“enggak ah sayang, aku buru-buru, soalnya ada undangan di sebuah acara nih, aku pulang dulu ya….jangan lupa makanannya di habisin loh….!”,
“pasti”, jawab dr. Fahmi dan wanita itu segera pamit pergi. 
“ Itu pasti kekasihnya dr. Fahmi, cantik juga”, gumam Dina lirih, karena biasanya yang mengantar makanan dr. Fahmi adalah bundanya dr. Fahmi sendiri, tapi kali ini adalah seorang wanita dan mereka berdua terlihat begitu mesra.
Pas jam makan siang, sehabis sholat, Dina ngumpul bareng temen-temennya.
“Eh gimana? Udah ada PDKT belom?” tanya Sandra pada Dina,
“ hush !….ngawur, jangan bicara sembarangan, dr. Fahmi itu sudah punya pacar’”, jawab Dina.
 “Loh…kok tau?” tanya Devi,
“ iya tadi ceweknya tuh datang kesini nganterin makan siang buat dr. Fahmi”, Dina berkisah.
“Wah…cemburu ya?”, goda Lia pada Dina.
“Apaan sih, gak lucu tau? Sapa juga yang cemburu”, sanggah Dina,
“wah sayang sekali gak kebagian”, ujar Sandra.

Di suatu malam ……
“Fahmi….?!Fahmi….?!”, bunda memanggilnya.
”iya bunda?”, jawab Fahmi seraya menghampiri bundanya,
 “makan malam sudah siap sayang”, ajak sang bunda,
“iya bunda”.
Pas lagi makan, mereka juga saling berbicara serius,
“ kamu kapan mau nikah mi ? bunda udah gak sabar nih pengen segera punya cucu lagi ”, tanya bunda.
 “ Belum ada calonnya bunda”, jawab Fahmi singkat.
“ Masak sih cowok setampan adik mbak ini gak ada yang mau? Perasaan banyak loh cewek yang naksir sama kamu”, goda mbak Ella,
” gak ada yang cocok mbak”, jawab Fahmi sekenanya,  
“gimana kalo bunda yang nyariin ?,”
“dijodohin maksud bunda ?”, tanya Ella.
“ Iya”, jawab bunda singkat,
 “gimana Mi?”, tanya bunda,
“yaaaaaa …… terserah bunda aja lah”, sahut Fahmi singkat.
“ Kamu gak keberatan di jodohin?”, tanya mbak Ella,
“ya…kenapa tidak Mbak, insya Allah pilihan bunda gak akan salah, kalo aku nyari sendiri tapi gak cocok sama bunda kan ribet juga”, jawab Fahmi seraya mencomot ikan tempe,
Bunda cuma senyum-senyum aja.
 “ Gini loh Mi, papa kamu punya sahabat karib sejak waktu masih duduk di bangku kuliah dulu, nah sahabat papa kamu itu seorang pengusaha sukses, dia punya banyak anak gadis, salah satunya mau di jodohin sama kamu, gadis itu masih kuliah, kalo gak salah dia ambil jurusan kesehatan juga, gimana?” tanya bunda.
 “Yah….terserah bunda lah, apa yang menurut bunda baik, insya Allah baik juga bagi Fahmi”, jawab Fahmi.
Hari ini di rumah Dina lagi ada acara hajatan, yach….kakak Dina besok pagi mau menikah dan Dina lagi sibuk menghias tangan kakaknya dengan henna,
“ eh Din, denger-denger nih, kalo ada gadis yang ngebantu menghias tangan pengantin, konon katanya dia bakalan nyusul nikah juga”, ujar Lia.
Yah temen-temen Dina itu lagi pada ngumpul di rumah Dina buat bantu-bantu.
” Apaan sih, hari gini masih percaya kayak begituan?”, sanggah Dina.
 “Iya Din, mbak juga pernah dengar soal itu, dan kayaknya bener, soalnya mbak dulu sempat ngiasin tangan temen mbak pas mau jadi pengantin”, sambung mbak Vina kakaknya,
“tuh kan, bener apa kataku? ”, ujar Lia lagi.
“Wah…berarti Dina mau nikah juga nih, kira-kira siapa ya pasangannya?”, goda yang lain,
mereka pada ketawa-ketiwi, karena di godain terus, Dina beranjak pergi, ia jadi tersipu malu, ia pun segera turun dari kamar kakaknya, ia menemui ibu-ibu yang lagi sibuk memasak di dapur, pas lagi turun dari tangga, tak disangka-sangka ia melihat sosok dr. Fahmi beserta bunda, ayah dan wanita yang beberapa waktu lalu mengirimi dr. Fahmi makan siang.
 “Loh…itu kan dr. Fahmi? Apa aku gak salah liat?”, gumam Dina lirih.
Terlihat ayahnya berpelukan begitu akrab dengan ayah dr. Fahmi.
“Dina….sini nak?” panggil ibunya,
 “iya bu”, Dina pun segera menghampiri ibunya,
”kenalin nih….ini ibu Husna, sahabat ibu dan ayahmu”, Dina pun menyalami ibunya dr. Fahmi.
“Loh mbak Dina?”, sapa dr. Fahmi terkejut
“Dokter?” Dina juga terkejut.
“Loh….jadi kalian sudah saling kenal?”, Tanya bundanya dr. Fahmi.
 “iya bunda, gadis ini asistennya Fahmi di rumah sakit”, jawab Ella.
”ooh…..jadi kalian bekerja di satu rumah sakit?” tanya ibu.
 “iya bu”, jawab Dina.
“kenalkan ini anak saya yang pertama, kakaknya Fahmi”, bundanya dr. Fahmi memperkenalkan.
“Oh…jadi mbak kakaknya dr. Fahmi? Kiraiiiiiiiiin…..” semua pada tertawa…..
”Iya nak…mereka berdua ini sering dikira pacaran, saking deketnya sebagai kakak adik”.
“Ella”, mbak Ela memperkenalkan diri seraya menyalami Dina,
”Dina”, sahut Dina singkat.
Malam itu dr. Fahmi terlihat begitu tampan, ia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru dongker dengan motif garis-garis putih, dan malam itu dr. Fahmi juga tidak mengenakan kacamatanya, ketampanannya terlihat makin jelas dengan alis yang agak tebal dan bulu mata yang agak lentik, ditambah lagi dengan hidungnya yang mancung, style deh.
Esoknya perhelatan besar di mulai, Dina hari itu tampak begitu cantik dengan gaun sutera motif bunga-bunga yang ia padukan dengan jilbab paris putih motif bunga-bunga pula. Ia terlihat sibuk menemui dan menjamu para tamu undangan, tak terkecuali keluarga besar dr. Fahmi yang turut hadir sebagai tamu undangan. Terlihat dr. Fahmi sedang menggendong keponakannya yang masih kecil dan berusia sekitar tiga tahun anak mbak Ella, Dina pun menghampiri dr. Fahmi yang lagi duduk-duduk bersama keponakannya seraya menyuguhkan minuman dan kue-kue.
“Mari Dok, silahkan di cicipi?! ”,
“iya terima kasih, eh Ryan mau juga? ”, dr. Fahmi menawarkan kue brownies coklat kepada keponakannya itu.
“Mau om!”, jawab anak kecil itu singkat.
dr. Fahmi pun mencicipi kue yang di suguhkan oleh Dina.
 “Emmmm….kuenya enak sekali”, puji dr. Fahmi,
“bikin sendiri ya?” tanya dr. Fahmi.
“Iya kebetulan kue yang ini saya yang bikin sendiri Dok”, jawab Dina.
“Wah…hebat sekali, selain jago dirumah sakit, ternyata mbak juga jago masak ya?”, puji dr. Fahmi.
“Ah…biasa saja Dok, tapi terima kasih ya Dok”, jawab Dina merendah.
“Iya…sama-sama, ih adik lucu sekali siapa namanya ?” Dina menyapa keponakan Fahmi
“ Namaku Lyan, kakak namanya ciapa ?” balas Ryan
“ Nama kakak, D I n a, “
“ Kakak cantik cekali ya mau gak jadi cewekku “ goda Ryan polos
Dina yang mendengar celotehan Ryan jadi ketawa ajah,
“ Hayoooo Ryan gak boleh nakal loh ! “ sambut dr. Fahmi
 “heheheheh, ya sudah saya permisi dulu dok, mau menjamu tamu-tamu yang lain”, Dina mohon diri dari hadapan dr. Fahmi.
 “Oh ya…mari silahkan mbak, terima kasih banyak ya”.
“ sama – sama Dok !”
Suatu siang pas jam makan siang tiba, bunda datang membawa makan siang buat putra tercintanya
.“Assalamu’alaikum”, sapa bunda,
 “wa’alaikusalam”,
 “eh nak Dina, apa kabar?”,
“Alhamdulillah baik bunda”, ujar Dina seraya mencium tangan bunda Husna,
 “aduh…kamu makin cantik aja ya nak?!, puji bunda kepada Dina.
“Oh ya…Fahminya ada?” tanya bunda lagi,
“dr. Fahmi ada kok bunda, tapi beliau masih memeriksa pasien di kamar rawat inap”.
Pas lagi ngobrol berdua, tiba-tiba dr. Fahmi datang dan bunda memaksa Dina untuk makan siang bersama-sama di ruangan tersebut dan dr. Fahmi juga tidak merasa keberatan sama sekali.
Di lain tempat, dr. Daniel makan siang bersama-sama dengan dr. Lasmi, istrinya dan lima orang gadis  kawan Dina, sambil makan, mereka asyik ngobrol.
“Oh…jadi dr. Fahmi gak punya pacar ya Dok?”,
“iya…dia itu gak pernah pacaran, tapi bukan berarti dia gak normal”, canda dr. Daniel.
“Memangnya kenapa ya Dok?” selidik Sandra.
“ Gini, dulu waktu masih duduk di bangku kuliah di Singapore, kita punya seorang sahabat lagi, saya, Fahmi dan almarhum Rico. Rico meninggal bunuh diri karena di tinggal sang kekasih, ceritanya dia cinta banget sama ceweknya itu, hanya saja, kekasihnya itu hanya mempermainkan-nya saja, Fahmi yang waktu itu usianya paling muda dari kami jadi berfikir bahwa wanita itu jahat dan kejam, tapi itu dulu, sekarang udah gak lagi kok, ya….mungkin memang masih belum ada yang sosok wanita yang memikat hatinya”, kisah dr. Daniel.
“Wah…..kasihan ya Dok, ?”  
“tapi buanyak sekali loh gadis-gadis yang naksir dr. Fahmi, tapi dr. Fahminya  aja yang gak mau”, lanjut dr. Lasmi,
”dia maunya dijodohin gitu?”,
“hah? Dijodohin?” tanya Sandra.
Sepulang dari kerja, Sandra bareng ama Dina karena rumah mereka berdekatan, di tengah-tengah perjalanan, Sandra bercerita kepada Dina soal dr. Fahmi, Dina jadi kagum sama dr. Fahmi,
“jarang ada ya laki-laki yang punya pola pikir mau di jodohin kayak gitu?” komentar Dina,
“iya Din, pasti beruntung banget cewek yang jadi pendamping hidupnya kelak, karena dia satu-satunya cewek yang bisa dapetin hati dan cintanya dr. Fahmi seutuhnya”, Sandra juga jadi kagum sama dr. Fahmi.

Sutu ketika Dina bareng dr. Fahmi menghadiri acara seminar kesehatan di daerah Bandung, mereka tidak hanya berdua, tapi juga bersama dengan dr. Anita yang juga sebagai dokter spesialis anak selain dr. Fahmi.
Di tengah-tengah perjalanan, handphone Dina berbunyi,
”tit…tit…tit…tit…” ada sms rupanya.
“Mbak masih pake handphone butut kayak gitu?”, canda dr. Fahmi.
Dina tertawa,
”hehehe…iya dok, soalnya hp ini saya dapat hadiah ulang tahun dari ayah dulu waktu masih duduk di bangku SMA”, kisah Dina
“kenapa gak minta di beliin yang baru aja”,
” iya sih sempat kepikiran juga sih,tapi…biarlah, nunggu di beliin suami aja kapan-kapan”, balas Dina,
 “wah….udah ada calonnya ya?”, lanjut dr. Anita,
” hehehe…..belum”, jawab Dina polos.
“Ah masak sih cewek secantik mbak belum punya pacar?”. Bohong itu dosa lho”, goda dr. Fahmi sambil menyetir mobil,
 “nggak ah dok, dokter ini bisa aja, masak orang jelek kayak saya di bilang cantik, tapi…saya ogah pacar-pacaran gitu, mending langsung nikah aja”, celetuk Dina seraya tertawa,
“ya…bener banget tu mbak”, jawab dr. Fahmi singkat.
Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba dr. Fahmi menghentikan mobilnya di depan sebuah masjid.
”Maaf sebentar ya bu, maaf saya maui berhenti dulu, soalnya ada panggilan darurat”, ujar dr. Fahmi seraya terlihat lagi menahan sesuatu,
”iya silahkan saja dok, tidak apa-apa”, jawab dr. Anita mempersilahkan, dr. Fahmi pun segera pergi sembari berlari kecil,
dr. Anita jadi cekikikan.
“He..he..he..dr. Fahmi…dr. Fahmi, kebiasaan deh!” ujar beliau
 “memangnya ada apa ya bu?” tanya Dina tak mengerti.
“Itu tuh si dr. Fahmi, tiap pergi kemana aja selalu saja bawaannya jadi pipisan”, jelas dr. Anita sembari terus tertawa,
“Oooh..!” jawab Dina singkat seraya ikutan tertawa, tapi dia lagi-lagi di buat kagum sama dr. Fahmi, jarang-jarang ada cowok yang mau ngejaga kesucian dan kebersihan pas buang air kecil, kebanyakan malah pipis sembarangan.
Tak berapa lama dr. Fahmi pun datang,
 “maaf ya bu, agak lama sedikit”, ujar dr. Fahmi sambil nyengir,
“makanya cepetan nikah dok, biar gak pipisan lagi”, canda dr. Anita,
 “loh? Emang ada hubungannya ya bu?” sahut dr. Fahmi polos,
dr. Anita malah menjadi-jadi ketawanya.
Di suatu hari yang tidak begitu cerah, terlihat dr. Daniel lagi ngobrol serius dengan dr. Fahmi, tak berapa lama tiba-tiba dr. Fahmi nyamperin Dina yang lagi sibuk ngetik, Dina Nampak seperti lagi kesulitan.
“Ada apa mbak? Kok kayaknya ada masalah?”,
“ini dok saya lagi kesulitan nemuin jawaban dari artikel kesehatan ini, bingung gimana nyari persamaan kimianya?”, tegas Dina.
 “oh gitu, sini biar saya liat dulu”, Dr. Fahmi pun ikutan ngecek.
“Wah…sepertinya mbak salah ngitungnya nih, ini caranya bukan gini, tapi gini mbak”, dr. Fahmi pun membantu Dina memecahkan persoalannya dengan telaten dan sabar.
“Oh…gini ya dok caranya, terima kasih ya dok”, Dina bangga,
 “sama-sama, oh ya, nanti sore saya ada undangan pesta ulang tahun gitu deh, dan saya berniat ngajak mbak kesana, kira-kira nanti mbak ada acara nggak?”,
“saya dok? Gak salah?”, Dina benar-benar terkejut atas ajakan dr. Fahmi,
“enggak mbak, mbak bisa kan?”,
“ mmmmmm….. baiklah dok, insya Allah saya nggak ada acara nanti sore”.
“Hah…syukurlah”, dr. Fahmi bernafas lega,
“memangnya kenapa dr. Fahmi musti mengajak saya?”, tanya Dina penasaran.
 “Jadi gini mbak, orang yang ulang tahun ini adalah gadis yang bener-bener gila, yang udah bikin saya illfil, masak dia ngejar-ngejar saya terus”, ungkap dr. Fahmi,
“memangnya kenapa dok?”, selidik Dina yang mulai akrab dengan dr. Fahmi,
“nanti mbak akan tau sendiri kok jawabannya, sepulang tugas, kita langsung kesana ya?!”,
 “baik dok”.
Sore hari setelah tugas selesai semua dan setelah pada ganti pakaian, dr. Fahmi pun mengajak Dina menuju tempat acara ulang tahun teman dr. Fahmi, mereka pun sampai di sebuah gedung,
selama perjalanan, Dina duduk di jok belakang, maklum bukan mahrom, jadi gak mungkin Dina duduk di jok depan samping dr. Fahmi.
Mereka berdua langsung masuk ke gedung tersebut, dan gadis yang ternyata bernama Linda itu pun menghampiri Fahmi.
“Hai sayang, makasih ya udah mau dateng”, ia hendak mencium pipi dr. Fahmi, tapi dr. Fahmi coba tuk menghindar.
“Oh ya…ini kadonya buat kamu, selamat ya!”, ujar dr. Fahmi,
“aduh sayang, repot-repot banget sih, makasih banget yach? So sweet”.
Kini Dina benar-benar paham mengapa dr. Fahmi menolak habis-habisan cinta gadis itu, meski konon katanya gadis itu terus saja mengejar-ngejar dr. Fahmi, gadis itu mengenakan gaun yang serba terbuka, dengan hanya sebatas menutupi dada saja, sementara punggungnya terbuka lebar, memang sih, longdresnya panjang ke bawah, tapi belahannya begitu panjang hingga hampir membuat daerah intimnya kelihatan.
“Astaghfirullahal’adzim”, ucap Dina dalam hati, ia pun jadi malu sendiri.
“Ini siapa sayang?” tanya Linda menatap Dina dengan pandangan yang agak sinis.
“Oh..kenalin ini Dina tunanganku”, jawab dr. Fahmi sekenanya,
 “apa?, jadi kamu sudah punya tunangan?”, tanya Linda terkejut,
“iya”, sahut dr. Fahmi mantap.
“Selamat ya Mi !”, jawab gadis itu singkat seraya langsung beranjak pergi tanpa menyalami Dina terlebih dahulu,
Dina pun terkejut bukan main.
“Hah?! Tunangan? Sejak kapan aku tunangan sama dr. Fahmi?” Dina berkata dalam hati, ia pun protes.
“ Dokter, maksud dokter tadi itu apa? Kenapa dokter bilang saya tunangan dokter? Kenapa gak bilang-bilang dulu kalo mau main sandiwara? Saya kan gak siap dok?! Protes Dina,
dr. Fahmi Cuma ketawa-ketiwi.
“Oh ya, maaf ya mbak, abis mepet gitu sih, jadi aku gak sempet bilang kalo kita musti sandiwara gini, maaf ya?” jelas dr. Fahmi.
 “Dokter ada-ada aja, bikin aku jadi jantungan gini”, gumamnya lirih,
sementara dr. Fahmi merasa lega karena ia merasa Linda gak akan ngejar-ngejar dia lagi.
Minggu pagi yang cerah, Dina menyempatkan diri untuk berbelanja di pasar terlebih dahulu sebelum kerumah sakit, yah…karena tugas prakteknya gak ada liburnya, jadi ia dan kawan-kawannya musti kerumah sakit tiap hari, dari pagi hingga sore hari, sementara dr. Fahmi, ia libur sabtu-minggu.
“Aduh, dompet aku mana yah?, Dina lagi bingung karena dompetnya hilang,
 “duh jangan-jangan tadi jatuh waktu aku di pasar”, ia pun mengubrak-abrik isi tasnya,
tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing lagi.
“Assalamu’alaikum”, sapa dr. Fahmi,
“Wa’alaikum salam dokter”, Dina bener-bener terkejut.
“Loh, bukannya hari ini libur dok?”, tanya Dina heran,
“iya mbak, ada masalah mbak ? kok kayaknya bingung gitu?”, tanya dr. Fahmi.
“iya dok, dompet saya hilang”, sahut Dina sedih,
“mbak nyari ini yah?”, tanya dr. Fahmi seraya menunjkkan sebuah  dompet padanya,
 “loh, ini kan dompet saya dok? Dokter nemuinnya dimana?”,
“tadi saya nemuinnya waktu lagi jalan ke pasar, yah..saya biasa nganter bunda belanja ke pasar tiap pagi, terus saya nemuin dompet ini, pas saya cek, ternyata punya mbak, makanya saya buru-buru kesini, nih, lain kali ati-ati ya?!” Ujar dr. Fahmi seraya memberikan dompet tersebut kepada Dina.
“Terima kasih banyak ya dok, jazaakallah biahsanal jazaa’ !” ucap Dina.
“Amin”, jawab dr. Fahmi singkat, ia pun segera pergi kembali.
Penampilan dr. Fahmi hari itu benar-benar beda banget, dengan memakai kaos t-shirt berwarna putih belang-belang merah, di padu dengan jaket jeans dan celana jeans, serta topi yang berwarna merah di balik, benar-benar penampilan seorang pemuda, jauh dari kesehariannya yang selalu pake kemeja, dasi dan jas putih serta kacamata putihnya, sedang kali ini sang dokter pujaan memakai kacamata hitam dan sepatu sport, wangi banget lagi, benar – benar mengagumkan.
Sabtu malam yang begitu cerah, Seluruh pegawai rumah sakit Islami pada ngumpul buat ngehadirin dan ngerayain pesta pernikahan dr. Andi, tak terkecuali dr. Fahmi, Dina dan ke enam rekannya semua turut hadir pada acara pernikahan tersebut,  acara begitu meriah, apalagi dr. Andi yang lulusan pesantren, di acara resepsinya diselipkan acara pengajian yang dihadiri oleh salah satu Ustadz ternama yaitu Ustadz Al Habsyi, malam itu Fahmi berpenampilan cukup berbeda doski sengaja pakek sarung, baju koko bercorak batik, dan peci putih, bener – bener cakep  dan cocok dengan wajahnya yang mirip actor Jimmy Lin,
“ Eh Din liat tuh dr. Fahmi, cakep banget ya?” celoteh Sandra, sambil menunjuk kearah dr. Fahmi yang lagi asyik bercanda bareng dr. Daniel
“He’em “ sahut Dina singkat setelah memperhatikan sejenak penampilan sang dokter
Pas acara dimulai ternyata dr. Fahmi tampil membacakan Tilawah Alqur’an , Semua orang benar – benar terpukau mendengarkan bacaan ayat – ayat suci Alqur’an yang dilantunkan oleh dr. Fahmi, bgitu juga dengan Dina, ia benar – benar terharu, dan tidak menyangka dr. Fahmi bisa juga menjadi seorang Qori’, suaranya begitu indah dan merdu.
“ Ehm…. Ehem… “ Sandra ngeledekin Dina yang keliatan begitu menikmati alunan suara dr. Fahmi membaca tilawah, sedang Dina ia Cuma senyum aja
Pas acara ramah tamah, dr. Fahmi menyapa enam gadis yang bertugas dirumah sakitnya tersebut
“ Assalamu’alaikum “ sapa dr. Fahmi ramah
“ Wa’alaikumsalam “ sahut ke enam gadis itu serempak
“Wah dokter bener – bener hebat ya, jago tilawah juga, suara dokter bener – bener bagus banget “ puji Sinta
“ Terima kasih banyak mbak Sinta, biasa aja kok gak bagus – bagus amat yang lebih bagus masih banyak” Fahmi rendah diri
“ Beneran dok, bahkan tadi sampai ada yang tercengang – cengang loh “ lanjut Sandra sambil melirik Dina, Dina pun jadi malu ia menyenggol Sandra supaya tidak banyak ngomong lagi
“ Terima kasih mbak Sandra “ jawab Fahmi seraya tersenyum manis
Di suatu malam, ayah, bunda, mbak Ela dan dr. Fahmi tampaknya ngobrol serius.
“Fahmi, sudah saatnya kamu sekarang mencari pendamping hidup”, jelas sang ayah.
“tapi Fahmi belum dapat yang cocok yah”,
 “terus, ayah dengar dari bunda, kamu gak keberatan kalo kami jodohkan dengan wanita pilihan ayah dan bunda, benar itu Fahmi?”, tanya ayah lagi.
Fahmi hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Jika memang menurut ayah dan bunda itu yang terbaik, Fahmi ikut aja”,
“Nak, kamu ingat gak sama gadis yang kita temui  di pernikahan putrinya bapak Haji Rusli itu?”, tanya bunda.
Rupanya Fahmi langsung faham siapa gadis yang di maksud bundanya itu.
“Emmmmm …..Dina maksud bunda?”, Fahmi terkejut,
sementara bunda tersenyum sembari melirik ayah.
“Iya nak, kamu betul sekali, gadis itu kelihatannya baik sekali, santun, cerdas pula, bagaimana nak?”, tanya sang bunda lagi dengah hati-hati, takut kalau Fahmi menolak, sementara dr. Fahmi, ia seperti sedang berpikir.
“Apa mungkin dia yang akan menjadi pendamping hidupku, tapi aku tidak ada rasa sedikitpun padanya.”
 “Fahmi istikharah dulu bunda” jawab Fahmi singkat.
 Malam itu dr. Fahmi tampak gelisah, ia pun segera melaksanakan sholat istikharah dan Alhamdulillah hasilnya pun bagus.
Esok paginya sang bunda buru-buru menemui Fahmi,
“gimana nak hasilnya? Kamu sudah melaksanakan sholat istikharah?”,
“sudah  bunda dan Alhamdulillah bagus”.
“Alhamdulillah kalau begitu, nanti malam kita semua langsung kerumah H. Rusli saja untuk meminangnya dengan segera”, ujar sang ayah penuh semangat.
“Apa gak terlalu cepat yah?”, protes Fahmi,
“nanti keburu di gaet orang Nak”, ujar sang bunda,
“iya betul, siapa cepat, dia dapat”, lanjut ayahanda dr. Fahmi.
Sewaktu di rumah sakit dr. Fahmi tampak gundah, sesekali ia melirik ke arah Dina yang berada di hadapannya dari balik dinding kaca, merasa ada yang mengawasi,Dina pun balik menoleh ke arah dr. Fahmi dan dr. Fahmi segera memalingkan pandangannya pura-pura membaca berkas,
“aneh…kok kayak ada yang ngawasin aku dari tadi”, gumam Dina lirih, ya…curi-curi pandang gitu deh hingga beberapa lama.
Malam harinya, keluarga besar dr. Fahmi bersilaturrahmi kerumah keluarga Dina, dan semua berkumpul di ruang tamu.
“Begini, mas Rusli, maksud kedatangan kami kesini adalah untuk meminang putri mas yang bernama Dina amaliyah untuk kami jodohkan dengan putra kami Muhammad Fahmi Arroyan dan kami juga mohon maaf atas kelancangan kami ini”,jelas ayah Fahmi,
 sedang Fahmi, ia hanya menunduk saja ,malam itu Fahmi berpenampilan cukup santun dengan mengenakan baju koko dan peci hitam.
”Waaaaah.. tentu ini merupakan suatu kebahagian dan kehormatan besar bagi keluarga kami mas Fadli, apalagi nak Fahmi ini sangat –sangat pintar,santun dan berdedikasi, sholeh pula,tapi maaf, kami juga tidak bisa memutuskannya sendiri, kami juga harus bertanya kepada yang bersangkutan agar kami tidak dicap sebagai orang tua yang egois, walau sebenarnya untuk menjawab itu adalah hak penuh kami”, jelas H. Rusli ayah Dina,
“iya, silahkan mas”.
 Dina terkejut bukan main mendengar ia akan di jodohkan dengan dr. Fahmi, jangankan mimpi, membayangkannya saja ia tidak pernah.
 “Bagaimana nak?”, tanya sang ayah,
 “maaf yah, Dina mohon izin untuk istikharah terlebih dahulu”,
“baiklah, silahkan nak, kami tunggu”, jawab H. Fadli,
Dina pun segera mengambil air wudhu’ dan melaksanakan sholat istikharah, dalam do’a ia menangis tersedu-sedu.
“Ya Allah, inikah saatnya bagiku, diakah jodoh hamba ya Allah?”.
Setelah selesai sholat, Dina pun segera turun dan memberikan jawabannya dengan di dampingi sang ibu,
“bagaimana nak?”, tanya bunda,
sedang gadis yang masih berusia 20 tahun itu hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Al hamdulillah kalau begitu bagaimana kalau hari pertunangan ini kita rayakan tujuh hari lagi, biar semua saya yang atur”, ujar H Fadli bahagia.
Tanggal, waktu dan segala persiapannya telah di bicarakan, sedang untuk tanggal pernikahan semua sepakat menunggu Dina lulus terlebih dahulu, toh seusai praktek, Dina akan sibuk mengurus skripsinya, semua lega dan gembira.
    Acara pertunangan pun di gelar secara sederhana dirumah Dina, hanya kerabat dan keluarga besar yang hadir, seserahan pun di berikan kepada Dina, mulai dari pakaian, mukena, peralatan sholat, tata rias dan sebagainya, dan bunda pun melingkarkan sebuah cincin emas bertahtakan berlian, dimana di balik cincin tersebut terukir nama Fahmi, jantung Dina begitu berdebar-debar, Hari itu Dina tampak begitu cantik dengan dandanan yang minimalis,serta gaun sutra yang begitu indah berwarna gold yang ia serasikan dengan jilbabnya pula. Dengan baju model kebaya, terlihat body Dina yang begitu langsing dan ramping, semakin menambah kecantikannya, sementara Dr. Fahmi, ia hanya mengenakan baju batik dan celana hitam saja, ia pun terlihat begitu rapi dan tampan, keduanya hanya saling melempar senyum saja.
Sebenarnya Dina juga sangat bahagia, karena sebenarnya ia juga begitu mencintai dr. Fahmi, entah sejak kapan tepatnya ia mulai jatuh hati pada sang dokter, biarlah menjadi rahasia hatinya.
Esok harinya semua orang di rumah sakit pada ngeledekin mereka berdua, Dina jadi malu, sementara Fahmi ia cuek – cuek aja, seolah – olah gak ada apa – apa, meski gitu Fahmi tetep ramah pada calon istrinya itu, supaya Dina gak ngerasa curiga kalo sebenarnya ia gak cinta
Pas tiba waktu untuk sholat berjama’ah Fahmi pun coba basa – basi ngajak Dina berangkat ke masjid bareng,
“ Dinda, udah waktunya sholat, ke masjid yuk?! “ Ajak Fahmi
(“ Hah?! Dia panggil aq Dinda mesra amat?” ujar Dina dalam Hati)
“ Maaf Mas, Dina lagi dapet cuti “ sahut Dina sambil nyengir
“ Waaah enak donk ada cutinya, ya udah Mas sholat dulu yah?!” Fahmi mohon pamit
“ Iya Mas “
Tak terasa enam bulan telah berlalu, telah habis waktu untuk tugas praktek dan ke enam gadis itu sudah harus kembali ke bangku kuliah untuk segera menyelesaikan skripsinya, namun mereka tetap bahagia karena semua dari mereka telah di terima bekerja dirumah sakit tersebut, begitupun dengan Dina, ia tetap menjadi asisten pribadi dr. Fahmi, hanya saja kali ini ia tidak tugas setiap hari, hanya pada hari jum’at dan sabtu saja dan biasanya pas hari minggunya ia jalan-jalan bersama mbak Ella dan dr. Fahmi.
              Selama bertunangan Fahmi gak pernah sekalipun telfon ataupun sms Dina, kecuali ada hal – hal penting yang menyangkut dengan urusan di rumah sakit, Dina pun mulai merasa ada yang janggal, tak dapat dipungkiri sebagai wanita ia juga ingin sesekali mendapat perhatian lebih dari seseorang yang begitu special baginya, ya yang romantis – romantis gitu deh, pernah sih sekali Fahmi telfon  itupun pas Dina lagi sakit,
Terdengar suara handphone Dina mulai ngoceh, dengan lemasnya Dina terima telfon yang ternyata dari calon suaminya itu
“ Hallo ! Assalamu’alaikum !” sapa Fahmi dari seberang
“ Wa’alaikum salam “ sahut Dina dengan suara yang agak  parau
“ Gimana kabarnya Din? Mas dengar tadi dari temen – temen Dinda izin karma sakit, Dinda sakit apa ?” Tanya Fahmi coba perhatian
“ Ya ni Mas, gak tau kenapa sejak kemarin sore kepala Dina pusing banget, semalam malah panas semua badan ini “ ucap Dina agak manja
“ Udah priksa belom?”
“ belum Mas, tapi udah minum obat tadi, mungkin ntar juga udah sembuh “
“ Mungkin Dinda kecapekan, ya udah Dinda istirahat aja dulu, gak usah kepikiran tugas di rumah sakit, Dinda istirahat aja dulu biar cepet sembuh “
“ Terima kasih banyak Mas”
“ Ya udah Moga cepet sembuh ya, Insya Alloh nanti sepulang dari rumah sakit, Mas kesana ya, jenguk Dinda ama Bunda “
“ Amiiin, Gak usah repot – repot Mas, Dina juga udah gak apa – apa kok ?”
“ Ya udah met istirahat ya, Assalamu’alaikum !”
“ Wa’alaikum salam “
              Sore harinya Fahmi pun menepati janjinya untuk menjenguk Dina yang lagi sakit bersama Bunda,
“ Duuuuh anak bunda sakit apa sih?” Tanya Bunda seraya meletakkan telapak tangannya di dahi Dina yang lagi duduk lemas di sofa
“ Gak apa – apa kok Bunda, mungkin cuma kecapekan saja “
“ Makanya kerja jangan diforsir sayang, banyak – banyak istirahat, Kamu juga Mi, Dina jangan dikasih tugas yang berat – berat kalo sudah sakit begini kasihan kan?” tambah Bunda yang juga nasihatin Fahmi, sementara Fahmi Cuma senyum – senyum aja.
“ Oh ya Jheng, kita ke belakang dulu yuk, saya ada ssesuatu yang mau saya tunjukkan sama Jeng, barangkali juga Fahmi ingin ngobrol berdua dengan Dina?” ajak Ibunya Dina
“ Oh iya mari Jheng “
Mereka pun ditinggal berdua diruang tamu, lama mereka saling diam
“ Gimana Din?  Udah enakan? ” Tanya Fahmi mengawali pembicaraan
“ Alhamdulillah udah Mas, setelah minum obat dan vitamin tadi”
“ Maaf ya kalau misalkan selama ini Mas udah terlalu banyak ngebebanin Dinda dengan tugas – tugas yang mungkin juga berat buat Dinda jalanin, jadinya Dinda ampe sakit gini, Maaf ya?!”
“ Mas ngomong apa sih, Dinda gak apa – apa kok, Dinda sakit bukan karena tugas – tugas dari Mas, ya memang sih akhir – akhir ini agak susah tidur gak tau kenapa, mungkin karena itu aja”
“ Oh “ sahut Fahmi singkat
“ Atau Mungkin lagi ada yang dipikirin nih?” goda Fahmi
Dina hanya tersenyum saja, suasana yang tadinya agak kaku mulai hangat dan ceria,
“ Mas bisa saja, tapi mungkiiiin memang benar apa yang Mas bilang barusan “
“ Waaaah, emangnya lagi  mikirin apa tuh?”
“ Lagi mikirin seseorang kayaknya Mas”
“ Gak usah mikirin Mas Din, Mas baik – baik aja kok “
“ Ih GR !”  jawab Dina singkat, mereka berdua pun pada tertawa
“ Oh ya ini Mas bawain pudink special buat Dinda ini Mas yang bikin sendiri loh”
Ungkap Fahmi seraya meletakkan satu bungkusan di meja
“ Alhamdulillah, terima kasih banyak ya Mas, Mas ini repot – repot amat sih ?” Dina jadi makin senang
“ Gak repot kok Din, dimakannya nanti ajah ya setelah Mas pulang, soalnya Mas malu “ canda Fahmi
Mendengar kata – kata Fahmi Dina pun jadi tertawa
             Malam harinya tak diduga – duga Dina mendapat kiriman sebuah rangkaian kata dari Fahmi melalui sms,
“ Walau langit cerah namun bila tak ada sang surya maka senyaplah, sama seperti dirimu, tanpa hadirmu maka sunyilah ….”
Dina merasa jadi sembuh seketika setelah membaca pesan singkat dari Fahmi, Malam itu hatinya benar – benar sangat berbunga - bunga
              Minggu yang cerah Fahmi menemui Dina ditemani sama Mbak Ella dan juga sang keponakan yang lucu siapa lagi kalo bukan Ryan, mereka habiskan waktu jalan – jalan ke Puncak
Fahmi banyak ngabisin waktunya dengan bercanda bersama keponakannya Ryan, melihat keakraban mereka berdua Dina jadi ikutan seneng and ketawa – ketawa ngeliat Ryan yang lagi kepingkal – pingkal di gelitikin sama Fahmi
 “ Tantee… cini donk kok Cuma diem aja ?” celoteh Ryan ngajak Dina main – main bersamanya
Dina pun menghampiri Ryan, sementara Fahmi ia keliatan cuek aja
“ Tante, Om, kita naek peyahu itu yuuuk?!” ajak Ryan sembari ngeliat perahu di tepi  danau di daerah puncak
“ Boleh “ jawab Fahmi singkat
“ Mbak kita mau kesana dulu yach, Ryan maksa naik perahu nih “ Fahmi mohon izin kakaknya
“ Oh ya silahkan aja sayang, ati – ati ya!” sahut Ella yang sedari tadi lagi asyik telfonan ama suaminya Arif yang lagi tugas ke luar kota
“ Yuuuk?!” ajak Fahmi
               Mereka bertiga pun naik perahu muter – muter disekeliling danau,
“ Dinda, seneng gak hari ini ?” Tanya Fahmi
“ Ya pastilah Mas “ sahut Dina singkat seraya tersenyum begitu manisnya
Mendengar jawaban Dina Fahmi jadi lega, walau ia masih belum dapat mencintai Dina, tapi ia ingin selalu membuat hati Dina senang.
        Sore ini Fahmi benar – benar merasa kelelahan, seharian ini doski ngikutin acara seminar kesehatan di daerah Bandung, tentunya juga ditemani sama Dina, tapi Dina lagi duduk di jok belakang, mereka saling diam, sampai akhirnya Fahmi coba mulai pembicaraan
“ Dinda, tadi Bunda mesen kita mampir kerumah dulu ya?! Gak apa – apa kan?”Tanya Fahmi
“ Gak apa – apa Mas”
Sampailah mereka berdua di rumah Fahmi
“ Assalamu’alaikum !” sapa keduanya, seraya langsung mencium tangan Bunda
“ Wa’alaikumsalam, nah ini dia menantu Bunda, duuuh Bunda kangen banget sama kamu Nak “
“ Sama Bunda, Dina juga udah kangen sma Bunda “
“ Kangen sama Bunda apa sama putranya Bunda “ goda Mbak Ella
Mereka semua pada ketawa, sedang Fahmi ia langsung menuju kekamarnnya bergegas untuk mandi.
               Siang ini dirumah sakit lagi ada acara peresmian ruang rawat bagi anak – anak yang konstruksi bangunanya adalah merupakan hasil pemikiran Dina, acara tasyakkuran pun digelar cukup sederhana saja, semua orang pada ngucapin selamat sama Fahmi terutama pada Dina, begitupun juga dengan Fahmi tak lupa ia ucapkan selamat pada calon istrinya itu,
“ Selamat ya Dinda “ ucap Fahmi singkat
“ Terima kasih banyak Mas”
Pas acara kelar dan tibalah acara makan bersama, Daniel terus saja ngeledekin Fahmi,
“ Ehm ….. ehm, selamat ya, wah jangan – jangan ntra ada acara special buat berduaaan nih “ canda dr. Daniel
“ Apaan sih? Biasa – biasa aja tuh “ sahut Fahmi datar tanpa ekspresi
“ Ayolah Bro! masak sih loe gak pingin ngasih anything gitu buat calon istri loe, kesuksesan yang kita raih ini juga berkat idenya dia juga ?”
“ Hai Shob ! aku tau itu, tenang ajah aku pasti ngasih anything ntar buat dia “
“ Wah bener tuh, apaan?”
“ Do’a, kalo dia emang jodoh aku ya semoga dia makin dekat sama aku, dan bisa membuka hatiku untuk bias mencintainya, tapi kalo gak jodoh ya moga kita pisahnya baik – baik “ jelas Fahmi
Daniel seakan tak mengerti apa maksud Fahmi bilang kayak gitu
“ Maksudnya Bro?” apa loe gak cinta sama dia ?” selidik Daniel
Fahmi Cuma diem aja, tanpa sengaja Dina sempat mendengar percakapan mereka pas lagi lewat dibelakang mereka berdua, melihat sikap Fahmi yang seperti itu Dina pun mulai curiga kalo Fahmi sebenarnya gak cinta sama dia, Fahmi mau bertunangan dengannya hanya karena menuruti keinginan kedua ortunya,
              Berhari – hari Dina masih juga terus memikirkan hal itu, ditambah lagi dengan sikap Fahmi yang walaupun ramah padanya tapi terasa biasa – biasa saja dan tak ada yang special, hatinya terus bertanya – tanya tanpa menemukan jawaban yang pasti, hingga pada suatu ketika pas lagi di kampus.
“Din, ada yang jemput tuh di bawah”, ujar temannya pas pulang jam kuliah.
“Siapa?” Dina penasaran, ia gak pernah merasa ada yang jemput,
“tau tuh, cowok kayaknya, buruan gih ! kayaknya udah dari tadi tuh cowok nungguin elo !”, Dina pun bergegas turun, kelasnya berada di lantai 3 gedung UI.
Pas turun Dina kaget, ternyata yang menjemput adalah calon suaminya
“Assalamu’alaikum!”. Sapa Fahmi
“Wa’alaikumsalam, Mas Fahmi? Kok tumben?”. tanya Dina
“iya nih, tadi Mas lewat sini, sekalian aja jemput Dinda, udah waktunya pulang kan? Yuk?!” ajak dr.Fahmi yang lagi bawa motor gedenya, dan ia terlihat semakin tampan dengan hanya mengenakan kaos t-shirt berwarna hijau belang-belang makin keliatan jelas tubuh atletisnya, dan celana borju berwarna coklat susu, serta topi berwarna senada. Dina pun jadi makin pede diboncengin sama Fahmi.
Pas lagi jalan
“kita makan dulu yuk?” Ajak Fahmi.
Dina hanya menganggukkan kepalanya saja.
 Fahmi mengajak Dina lunch diwarung bakso yang dikenal enak, yah walau ia tajir, tapi Fahmi lebih suka makan diwarung daripada direstoran  mewah nan mahal.
Setelah pesanan datang Fahmi dan Dina pun menikmati lunch bareng-bareng.
 “cobain deh, bakso disini enak banget loh Dinda.”
 “mas biasa makan disini?”
“iya, ini adalah tempat makan favorit keluarga Mas. Jangan heran yah?! Maaf kalo Mas gak ngajak Dinda makan-makan direstoran. Tapi ayah selalu  mengajarkan kepada Mas bahwasanya kita harus menghargai orang-orang kecil, karena mereka kita jadi besar, dan mereka juga layak mendapatkan rizqi yang halal” jelas Fahmi.
“mas ngomong apa sih? Dina juga gak pernah makan-makan direstoran, Dina lebih suka makan-makan ditempat kayak gini” sanggah Dina.
“wah sehati dong” canda Fahmi.
Bagi Dina Fahmi adalah sosok pria idamannya, selain sholeh, rajin ibadah, Fahmi juga rajin menjaga kerapian dan kebersihannya, ia juga bukan seorang perokok. Hal ini yang paling disukai Dina karena ia paling benci akan bau asap rokok.
Selesai makan siang, Fahmi mengajak Dina jalan-jalan sebentar ke pantai Ancol, sebelum mengantar Dina pulang, lagipula Fahmi juga telah memohon izin kepada kedua orang tua Dina, jauh sebelum ia menjemput Dina kekampus. Dan Dina juga tahu akan hal itu, tanpa persetujuan orang tuanya, ia tidak akan pergi.
Sambil menikmati indahnya pantai keduanya pada diem, sebenarnya ada 1 hal yang sangat mengganjal dihati Dina. Walau mereka sering bersama, tapi sikap Fahmi sangat biasa-biasa saja padanya, seperti tidak ada yang special. Bahkan ia sempat merasa bahwa Fahmi tidak mencintainya. Tak berapa lama Dina memulai pembicaraan
“mas?!” sapa Dina
“ya Dinda?” jawab Fahmi datar tanpa ada ekspresi apapun
“Dina boleh Tanya sesuatu gak? Tapi…mas jangan marah ya?!” pinta Dina
“ya enggaklah Dinda, kenapa musti marah-marah? Memang ada apa?” Tanya dr.Fahmi serius
“mas jawab dengan jujur ya?! Jawab dengan sejujur-jujurnya”. “iya”. Sahut Fahmi singkat
“mas, Dina mohon maaf sebelumnya apabila pertanyaan Dina ini lancang dan menyinggung perasaan mas.”
“ Silahkan saja Dinda, memangnya mau tanya apaan sih ?” Fahmi penasaran juga
“ Dina denger – denger dulu Mas Fahmi itu orangnya gak gampang jatuh cinta sama perempuan, emangnya kenapa Mas ?
“ Loh, Dinda tau darimana? “ Fahmi terkejut
“ Ya adalah yang cerita dulu jauh sebelum kita tunangan “
“ Owh …. Pasti Daniel ya?” tebak Fahmi
Sedang Dina ia Cuma diem aja mencoba untuk menahan segala kecamuk dihatinya
“ Emang bener Din, ya gaka tau juga kenapa bisa begitu, mungkin karena dulu Mas takut, takut untuk jatuh cinta, karena dulu papa juga punya sahabat namanya Rico, ya singkat cerita dia meninggal karena bunuh diri gitu hanya gara – gara ditinggalin dan dibohongin sama ceweknya dia, dan karena itu juga dulu Mas sempet mikir bahwa wanita itu kejam dan jahat, tapi sekarang udah gak lagi kok, Dina tenang aja “ kisah Fahmi
“ Ya gak semua wanita jahat Mas “
Mereka berdua terdiam kembali, suasana jadi hening lagi , lalu ….
“Mas? Apa mas cinta sama Dina?” Tanya Dina pelan,
Sedang Fahmi ia terkejut bukan main atas pertanyaan Dina itu, ia tidak pernah menyangka bahwa Dina akan menanyakan hal itu, Fahmi pun bingung bagaimana harus menjawabnya, lama ia diam, lalu, selama ini Fahmi menganggap Dina sebagai adiknya
 “maafkan mas Dinda, jujur mas masih belum bisa mencintai Dinda”. Ujar Fahmi seraya menundukkan kepalanya menatap deburan ombak yang  menjadi buih,
sedang Dina ia terkejut bukan main, bagai tersambar petir rasanya, hatinya begiru perih, sakit, dan kecewa mendengar pernyataan Fahmi.
Ia tidak menyangka bahwa selama ini Fahmi tidak pernah mencintainya. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya yang putih dan halus bersamaan dengan deburan ombak yang keras menghantam bebatuan.
“Apa?! Maksud mas? Jadi selama ini mas gak pernah cinta sama Dina?” Tanya Dina mencoba untuk bersabar.
 “Maafin mas Dinda, tapi…please jangan salah faham, mas tidak cinta sama Dinda bukan karena mas cinta sama wanita lain, tapi mas memang sama sekali gak pernah jatuh hati sama wanita manapun, sumpah demi Allah.” Jelas Fahmi.
Lama mereka saling diam, kemudian…
“Apa gak sebaiknya kita batalkan saja acara pertunangan kita ini mas? Maafin Dina, tapi Dina juga gak mau mas merasa tersiksa karena ikatan kita.”
“Dinda, Dinda ngomong apa sih? Dinda pikir gampang ngebatalin semua ini? Lantas bagaimana dengan perjodohan ini? Apa tidak akan menyakiti ke2 orang tua kita masing-masing yang memang sangat menginginkan perjodohan kita ini?, sungguh mas sama sekali gak pernah merasa menyesal apalagi kebeban sama ikatan kita ini Dinda , Mas juga gak mau nyakitin perasaan Bunda yang sangat menginginkan Dinda untuk segera menjadi menantunya”
“Jadi mas gak mikirin perasaan Dina?. Ujar Dina Seraya meninggalkan Fahmi sendiri.
 “Dinda, Dinda tunggu?! Dinda?!” Fahmi mengejar Dina tapi udah keburu pergi dengan mengendarai taxi.
Sesampainya dirumah ia langsung mengunci diri dikamar.
Dina menangis sejadi-jadinya
“Kamu jahat mas Fahmi, Dina benci sama kamu mas.” Ujar Dina dalam isak tangisnya, hatinya begitu sakit, ternyata selama ini cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Malam harinya tak diduga-duga, dr.Fahmi datang berkunjung bersama seluruh keluarga besarnya Fahmi memutuskan untuk mempercepat pernikahan tanpa harus menunggu Dina lulus kuliah terlebih dahulu. Dina benar-benar terkejut, ia makin tak mengerti akan jalan pikiran calon suaminya itu, ia pun mohon izin kepada kedua orang tuanya untuk berbicara berdua saja dengan Fahmi.
“Mas? Ini semua apa maksudnya, kenapa mas malah mempercepat pernikahan kita? Mas jangan permainkan perasaan Dina mas?” protes Dina seraya menitikkan air mata
“Dinda, Dinda, Dinda tolong Dinda jangan berfikiran seperti itu?! mana mungkin mas mau mempermainkan perasaan Dinda? Tolong dengar dulu maksud dan tujuan mas ini.” Pinta Fahmi
“Dinda, mas tau mas udah nyakitin perasaan Dinda, maafin mas, tapi tolong beri mas kesempatan, mas ingin segera menikah, karena mas tau Dinda sangat mencintai mas, izinkan mas kenali Dinda lebih jauh lagi, lebih dekat lagi, mas ingin belajar, mas juga ingin mencintai Dinda seutuhnya, setulus hati mas, mas juga gak akan jatuh cinta pada wanita lain, tapi mas juga gak mau kehilangan Dinda, tolong beri mas kesempatan.” Tegas Fahmi,
Dina jadi terharu mendengarnya.
“Jika dalam waktu 1 tahun kita menikah, tapi mas belum juga bisa, maka mas akan membebaskan Dinda, tapi mas juga ingin mencintai Dinda seperti Dinda mencintai mas, dan bukankah kita bisa bersahabat, jika kita tidak bisa berlaku selayaknya suami istri, Dinda mau kan?” ujar Fahmi seraya menitikkan air matanya pula,
Dina jadi tak tega.
“Baiklah mas, Dina mau, dan Dina juga akan berusaha menjadi istri mas yang baik.” Sahut Dina seraya tersenyum.
“Benar Dinda?” Fahmi seakan tak percaya,
Dina hanya menganggukkan kepalanya. Fahmi pun kembali tersenyum
“Terima kasih banyak Dinda.” Ujar Fahmi lega.
“Kita lihat saja nanti mas, aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku, dan aku akan menjadi satu-satunya dan wanita pertama serta wanita terakhir yang kau cinta.” Kata Dina dalam hati.
Kesepakatan telah tercapai, dan semua telah dipersiapkan, mulai dari undangan, gaun pengantin, gedung, dan lain sebagainya, tentunya dengan rancangan yang sesuai dengan keinginan Fahmi dan Dina,
Hari – hari mereka disibukkan oleh segala persiapan mulai dari mengantar undangan kesana kemari, dsb.
Pada malam hari menjelang pernikahan esok harinya Dina tak dapat memejamkan matanya, hatinya gundah dan gelisah
“ Ya Allah….., apa arti dari semua ini Ya Allah …?” gumam Dina lirih
Begitupun juga dengan Fahmi hatinya berdebar – debar tak karuan, ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi esok hari, seraya memandangi foto Dina pas lagi bersama – sama dalam acara peresmian ruang rawat anak – anak,
“ Maafin Mas Dinda, Mas tahu ini semua pasti sangat menyakitkan buat Dinda “
Dan tibalah saat-saat yang mendebarkan itu, Fahmi terlihat begitu tampan dengan peci hitam, jas hitam yang dihias dengan bunga dan kalung bunga melati terlihat ia juga mencukur bersih kumis tipis dan janggutnya, dan merapikan rambutnya, begitupun juga dengan Dina ia tak kalah cantik dengan kebaya putih dan kerudungnya, ia terlihat begitu cantik, seperti bukan Dina, dandanannya juga tak begitu berlebihan.
Fahmi terdengar begitu mantap ketika mengucapkan ijab qobull
“Qobiltu nikachaha watazwijaha bil mahrill madzkur”,
 “Bagaimana sah? tanya sang hakim, dan do’a pernikahan pun telah dibacakan, Dina terharu, ia menitikkan air mata.
Tibalah sang pengantin pria menjumpai pengantin wanita, jantung keduanya begitu berdebar-debar, dan Dina pun menyalami, mencium tangan Fahmi untuk pertama kalinya, air matanya terjatuh ditangan sang suami, lalu Fahmi menyentuh pundak istrinya, lantas mencium kening istrinya dengan begitu lembut untuk yang pertama kalinya, jantungnya berdegup kencang tak karuan, Fahmi pun menyerahkan mas kawin berupa uang tunai 22 juta rupiah, beserta seperangkat perhiasan lengkap, emas bertahtahkan berlian seberat 22 karat, dan membaca sholawat Munjiyat serta do’a Khotmil Qur’an sesuai permintaan Dina, sedang mahar berupa perhiasan dan uang tunai merupakan pemberian dari dr.Muhammad Fahmi Ar-Royan kepada istrinya.
Acara resepsi pada malam harinya begitu mewah, dari 2000 undangan hampir semuanya hadir, pengantin terlihat bahagia duduk dipelaminan dihalaman sebuah hotel mewah dihadapan kolam renang yang dihiasi lilin-lilin dan bunga, makanannya pun enak-enak. Semuanya turut bahagia dan mengucapkan selamat pada mempelai berdua. Teman-teman Dina, dr.Daniel beserta istri, dan semua orang dirumah sakit pada hadir semua.
“Selamat ya Mi, akhirnya kamu laku juga.” Canda dr.Daniel,
dr.Fahmi tertawa mendengarnya.
“Semoga langgeng, sakinah, mawaddah, warrohmah dan dikaruniai banyak momongan ya.” Sambung Bidan Lasmi kepada Dina
“Amin…terima kasih.”
“Oh ya…ntar malem jangan lupa jamunya, and gak usah pakek kondom ya Mi.” canda dr.Daniel lagi, membuat kedua mempelai jadi tersipu malu. Sedang dr.Fahmi ia melototin dr.Daniel karena sudah bikin ia malu.
Acara tidak sampai disitu, Ada acara sungkeman, suap-suapan, buka kado bareng, foto-foto bersama, dan yang terakhir Dr.Fahmi melingkarkan cincin kawinnya dijari manis Dina, memakaikan anting, kalung, dan gelang.
Tampak Dina ngerasa geli ketika Fahmi melingkarkan kalung dilehernya, membuat tamu undangan jadi pada ketawa. Dan lagi-lagi dr.Fahmi kembali mencium kening istrinya, lagi-lagi dr.Daniel ngeledekin
“Hai Fahmi! Kok Cuma keningnya doang? Cium dong?” kontan para tamu undangan jadi ikut bersorak
 “Cium! cium! cium!” tapi dr. Fahmi tidak melakukannya karena hal itu adalah privasinya dan istrinya.
Malam semakin larut, acara pun telah usai, keduanya pun makan malam bersama terlebih dahulu. Dan untuk yang pertama kalinya Dina melayani sang suami, dengan mengambilkan sepiring nasi beserta lauk dan sayurnya. Dan Fahmi pun mengajak doa bersama terlebih dahulu, malam itu Dina terlihat cantik dengan mengenakan setelan sutra motif bunga-bunga berwarna ungu beserta jilbabnya dengan warna senada pemberian dari dr. Fahmi. Fahmi pun mengagumi kecantikan Dina malam ini.
“Dinda cantik banget.” Puji Fahmi sambil makan
 “Makasih Mas, Mas juga cakep banget.” Balas Dina seraya tersenyum.
“Emm…kalo ini sih udah dari dulu Dinda, bukannya Dinda naksir Mas juga kan?” goda Fahmi.
“Ih…GR banget sih Mas?” sahut Dina, Fahmi cekikikan.
“Oh ya Din, gimana kalo sekarang kita pakek sebutan laen aja, jangan Mas Dinda gitu, kira-kira apa ya?”
Dina juga ikutan berfikir.
 “Mmm…gimana kalo Papa Mama?” ujar Dina agak ragu.
“Wah…seru juga tuh, mama.” Ujar Fahmi.
“Oh ya ma, cincinnya pas kan?” Tanya Fahmi seraya melihat cincin dijari Dina.
“Udah pas kok pa.” sahut Dina singkat.
Seusai makan Dina pergi menuju kekamarnya terlebih dahulu, sementara Fahmi ia masih ngobrol sejenak dengan dr. Daniel yang masih belum pulang
“Eh bro…jangan lupa loe musti dapetin dia malem ini juga, loe ingat kan waktu kita ikut pengajian yang menyatakan barang siapa yang bisa ngedapetin surganya dunia dimalam pertamanya, maka rezekinya akan lancar, dan senantiasa disertai oleh kesuksesan makanya loe jangan sia-siain malem ini, oke?!” bisik dr.Daniel
“Apaan sih?” bantah Fahmi.
“Aduh, gimana aku mau ngelakuinnya kalo aku gak cinta?” kata Fahmi dalam hati.
Ia pun segera manuju kamar Dina, pas sampai dipintu depan kamarnya, Fahmi agak ragu.
“Aduh…masuk enggak ya?” ia jadi takut, ngebayangin yang serem-serem kayak di TV-TV diperkosa ama istri . hehehehe... sementara Dina, ia gelisah tak karuan, menunggu Fahmi suaminya, hatinya bercampur aduk rasanya.
“Aduh gimana nih? Masuk enggak? Masuk enggak”. Fahmi berdiri didepan pintu kamar Dina dengan perasaan gugup.
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Ayah Dina
“Loh…kenapa masih disini nak?” Tanya sang Ayah sembari tersenyum ramah. Fahmi pun jadi terkejut tak karuan
“Hah?! Oh…A…ayah, eh…e…i…iya yah?”
“Santai saja nak, oh ya kamu minum ini dulu ya?” ujar Ayah Dina seraya menyerahkan secangkir minuman yang mirip-mirip jamu gitu.
“Ini minuman apa yah?” Tanya Fahmi polos.
“Ini ramuan orang-orang tua dulu, ayo di minum”,
“fungsinya?”, Tanya Fahmi lagi,
“fungsinya nanti kamu tau sendiri”, ujar sang ayah,
Fahmi pun meminumnya hingga habis, setelah itu,
“ ya sudah, sekarang kamu masuk sana ?!, sudah di tungguin”, perintah sang ayah seraya  tersenyum ramah, Fahmi pun masuk, sebelum membuka pintu, ia menarik nafas dalam-dalam lalu membaca basmallah,
“bismillahirrohmanirrohim”.
Fahmi pun masuk dengan mengucap salam,
“Assalamu’ alaikum !” sapa Fahmi,
“Waalaikumsalam !”, jawab Dina yang berusaha untuk santai walau sebenarnya ia gugup juga,
terlihat sang istri sedang duduk di tepi ranjang yang di hiasi oleh bunga mawar merah, mawar putih dan melati berbentuk hati, hiasan kamar itu begitu indah dengan di penuhi bunga-bunga harum semerbak, di tambah lagi dengan nuansa pink yang begitu kental, ada pula buah anggur merah di samping ranjang pengantin, menambah suasana semakin romatis.
Fahmi pun menghampiri Dina dan  kemudian duduk di sampingnya, lamaaa……..mereka saling terdiam, lalu…..
” Hmmm…. kita sholat sunnah berjamaah yuk ma ?!”, ajak Fahmi,
 “baik pa, mama mo ambil wudhu dulu”, ujar Dina,
 “oke..papa tunggu”, ujar Fahmi yang rupanya sudah ambil wudhu terlebih dahulu seusai makan malam tadi.
Di dalam kamar mandi yang juga di hias sedemikian rupa, Dina berurai air mata,
“ Ya Allah, hamba masih belum melihat adanya cinta dimata suami hamba untuk hamba, maafkan hamba jika hamba masih belum bisa melaksanakan semua kewajiban hamba kepada suami hamba, karena hamba ingin adanya cinta di antara kami, bukan hanya hasrat semata”, gumam Dina lirih dalam tangisnya.
Tak berapa lama Dina pun keluar dari kamar mandi dan mereka berdua sholat sunah berjama’ah. Fahmi pun berdo’a dan Dina mengamini, setelah itu Dina kembali mencium tangan suaminya, hatinya terasa begitu perih, seusai sholat keduanya kembali duduk bersama.
 “Ma…papa punya kado special buat mama, di terima ya ?”, ujar Fahmi sembari memberikan kado itu seraya tersenyum begitu manisnya.
“Waduh papa repot-repot banget sih, tapi terima kasih banyak ya pa ? tapi ini apa pa?”, Tanya Dina seraya menerima kado dari suaminya itu.
“Yaa… dibuka dong ?!”, ujar Fahmi, Dina pun membuka kado tersebut secara perlahan-lahan, ternyata isinya adalah sebuah handphone baru model blackberry gitu, dengan wallpaper foto Fahmi yang lagi pake topi merah dan kaos merah dan lagi tersenyum ceria.
“Masya Allah pa…? ini handphone buat mama ?” tanya  Dina dengan wajah sumringah.
“Ya iyalah ma, emang mau buat siapa lagi, jadi gini, papa ingat dulu waktu kita ada acara ke Bandung, mama pernah bilang kalo mama mau handphone baru yang dapet dari pemberian suami, naah…, papa kan sekarang udah jadi suami mama, jadi boleh kan papa beliin ini buat mama ?!, oh ya , hp kita sama lho ma, nomornya juga, Cuma beda belakangnya aja, mama gak apa-apa kan kalo musti ganti nomor ponsel ?”,
Dina benar-benar terharu.
“Masya Allah pa, tapi…terima kasih banyak ya pa, mama gak nyangka papa masih inget soal itu, tentu mama gak apa-apa kalo musti ganti nomor, ini semua kan dari papa,”  
“pokoknya apapun yang dari  papa,mama pasti terima pa, mulai hari ini, mama istri papa dan apapun yang mama lakuin, tentu mama mohon ridho dari papa, kalo mama ada salah, papa jangan sungkan-sungkan negur mama ya ?”, ujar Dina memasrahkan diri pada suaminya,
Fahmi jadi terharu, ia menitikkan air mata tanpa sengaja,
“terima kasih banyak ya ma !”, ujar Fahmi seraya mencium kening Dina,
 ada getaran-getaran aneh yang di rasakan oleh Dina ketika Fahmi mencium keningnya, ia pun menitikkan air mata juga.
 “Maafin papa ya ma, karena papa masih belum bisa…….”, belum selesai Fahmi berbicara, Dina keburu menutup bibir Fahmi dengan jarinya yang lentik.
“Pa…papa gak usah minta maaf, papa gak salah apa-apa sama mama, mama ngerti kok gimana perasaan papa,mama akan selalu mendampingi papa baik suka maupun duka, begini saja mama sudah sangat bahagia menjadi istri papa dan mama akan selalu setia menunggu cinta papa sampai kapanpun, mama akan menunggu, satu tahun, sepuluh tahun atau bahkan lebih, mama rela walau seumur hidup mama tanpa cinta papa, asalkan mama bisa berada di samping papa, mama sudah sangat bahagia pa…”,
“ terima kasih banyak ya ma, maafin papa, mama benar-benar wanita yang mulia, semoga Allah selalu melindungimu ma”,
“amin…..”,
Fahmi hanya menganggukkan kepalanya saja, kemudian Dina balas mencium pipi Fahmi, keduanya saling berpelukan dan berderaian airmata.
 “ Aku akan selalu mencintaimu mas”, ujar Dina dalam hati.
“Ya udah kita tidur yuk, papa capek”, ujar Fahmi.
 “Baik pa”.
tiba-tiba perut Fahmi terasa sakit, panas dan mulas.
“Aduh…aw !”, ujar Fahmi mengaduh sembari memegang perutnya, ia merasa ada yang aneh dalam tubuhnya, keringatnya bercucuran.
“Kenapa pa ? ada yang sakit ?”, tanya Dina panik.
“Gak tau nih, tiba- tiba perut papa sakit”, keluh Fahmi.
“Memangnya tadi siang papa makan apa ? jangan-jangan papa salah makan lagi, sini mama periksa”.
 “Perasaan papa juga gak makan apa-apa ma, tapi….seingat papa, papa tadi habis minum kayak ramuan gitu dari ayah”.
“apa ? ramuan ?”, Dina terkejut.
“Aduh…jangan-jangan ayah ngasih jamu itu lagi sama mas Fahmi”, tiba-tiba Dina jadi cekikikan setelah mengerti apa yang di maksud.
“Papa ini lucu ya ?”,
 “mama ini apaan sih, udah tau orang sakit begini, mama malah ngetawain”, rengek Fahmi.
Tiba-tiba Fahmi ngerasa jadi pengen pipis, ia pun segera berlari menuju kamar mandi, setelah sakit perutnya sembuh, Fahmi mencicipi buah anggur yang ada di meja.
“Emm….buah anggurnya manis banget lo ma, kayak mama “, goda Fahmi.
“Alah..gombal”, sahut Dina,
 “Loh beneran, nih papa suapin ?!”, ujar Fahmi seraya menyuapi istrinya.
“Oh…ya pa ? papa tidur dimana ? diranjang sini ? biar mama di sofa ya ?” tukas Dina.
 “Mama..mama apa-apaan sih, kita kok jadi kayak orang musuhan aja, ntar ketahuan lagi kalo bobo’nya pisah-pisah, kita bobo’nya diranjang semua aja, papa janji, papa gak bakalan ngapa-ngapain mama kok, dan papa minta soal ini biar kita berdua aja yang tau, jangan sampai ada orang lain yang tau, apalagi orang tua kita, nanti mereka sedih lagi”, ujar Fahmi.
“Baik pa”.
 Malam itu mereka tidur seranjang dengan posisi saling membelakangi, namun keduanya tak dapat memejamkan mata, terlihat Dina agak kedinginan karena malam itu cuacanya sangat dingin.
“Ma…kalo mama ngerasa dingin, mama nyandar aja di bahu papa, papa gak apa-apa kok”, ujar Fahmi perhatian.
“Bener gak apa-apa pa?”
“sini ma ?”, pinta Fahmi,
Dina pun menyandarkan kepalanya di bahu Fahmi.
“Nyesss…” bahunya terasa dingin, namun yang membuat Dina merasa bersyukur, sangat-sangat bersyukur, sikap Fahmi tetap ramah padanya, nggak dingin dan cuek bahkan untuk bersikap kasar   kayak di TV-TV itu.
Esoknya Dina dan Fahmi pergi ke Bali, mereka dapat hadiah merayakan Honey moon disana. Mereka dapat liburan ke Bali selama 5 hari. Dan mereka habiskan berkeliling-keliling ketanah lot, pantai sanur, pantai kuta dan lain sebagainya.
Sore hari Fahmi ngajak Dina menikmati indahnya matahari terbenam dipantai kuta, suasana saat itu lagi rame, lagi banyak turis asing yang lagi beradegan kissing. Fahmi pun buru-buru ngjak Dina pergi
“Astaghfirullahal ‘adzim, eh…kita balik aja yuk ma?!” ajak Fahmi.
Dina yang mengetahui akan maksud Fahmi Cuma senyum – senyum aja
Setelah acara honeymoon selesai, Fahmi dan Dina balik ke Jakarta. Dan Fahmi yang ternyata juga sudah memiliki rumah sendiri. Mengajak Dina tinggal bersamanya disana.
“Selamat datang di istanaku ya ma?!” ucap Fahmi saat mereka sampai dirumah.
 “Terima kasih pa?!”
“Yuk masuk?” ajak Fahmi dan mereka berjumpa dengan seorang ibu-ibu yang disertai suaminya.
 “Kenalin ini bi Surti yang nanti nemenin mama beres-beres dirumah ini, ngurusin semua urusan rumah, dan ini pak Imam suami bi Surti.”
“Selamat datang nyonya, semoga betah ya tinggal disini.” Ujar bi Surti setelah saling berkenalan.
 Fahmi mengajak Dina berkeliling melihat-lihat kondisi rumah mereka. Ada kolam renang, kebun dibelakang rumah, kolam ikan, lapangan basket, ruang makan, ruang bersantai disamping sebuah taman, beberapa kamar, yang salah satunya adalah kamar mereka, ruang kerja, ruang untuk sholat dan mengaji yang cukup luas, perpustakaan kecil, ruang tamu, ruang keluarga dan satu ruangan kosong yang cukup luas dan dibiarkan kosong.
Dina pun bertanya.
“Ini ruangan apa pa?” Tanya Dina penasaran
“Ini ruangan khusus, special buat mama, nanti kalo mama sudah lulus, mama sudah bisa langsung praktek kerja disini, jadi gak perlu jauh-jauh kerumah sakit lagi, biar mama bisa ngurusin rumah juga dan anak-anak kita nanti.” Tegas Fahmi,
Dina pun jadi sangat terharu.
 “Terima kasih banyak ya pa, mama gak nyangka papa akan sebegitu pedulinya sama mama.”
“Harus dong, tapi inget pesen papa, nanti kalau sudah jadi bidan jangan pernah sekalipun mama terima pasien yang mau aborsi. Inget ya ma, itu dosa besar, berapapun hasil yang mama terima dan sebesar apapun, papa gak akan pernah rela.” Pesan Fahmi singkat.
               Hari – hari sebagai pengantin baru memang begitu indah, Dina tetap merasa bahagia walau Fahmi tak mencintainya karena  sikap Fahmi yang begitu mengayominya membuat ia merasa nyaman didekat suaminya itu, dan mereka pun kembali disibukkan oleh tugas masing – masing, Dina terus melanjutkan kuliahnya, Fahmi pun bertugas di rumah sakit seperti biasa,
                        Pas hari pertama mereka masuk tugas ke rumah sakit Islami, setelah liburan honeymoon, kontan semua staff dirumah sakit tersebut pada ngucapin selamat dan juga pada ngeledekin mereka berdua juga tak terkecuali dr. Daniel
“ Ehm….. ehm… gimna rasany jadi pengantin baru Shob?” goda dr. Daniel
“ Hmmmmmm………………. Aku nyessel Bro “ tukas dr. Fahmi
Mendengar jawaban Fahmi Daniel dan Dina sama – sama terkejut bukan main
“ Maksud kamu ?” selidik Daniel
“ Yah nyessel aja kenapa gak dari dulu aja ya aku nikahnya sama wanita cantik
Ini “ canda Fahmi seraya merangkul Dina
“ Hmmmm… baru tau ya?” balas Daniel, mereka bertiga pun tertawa bersama.
                        Hari minggu yang begitu cerah, Mbak Ella pun coba bersilaturrahim ke rumah Fahmi, nyatanya Fahmi lagi keluar kota, Dina pun lagi sendirian dirumah
“ Pa kabar adik mbak yang cantik ini?”
“ Alhamdulillah sehat mbak, Wah kebetuln sekali nih mbak Dina
lagi kesepian nih “
“ Emang Fahminya lagi kemana Dik ?”
“ Mas Fahmi lagi ada tugas keluar kota mbak, tadi pagi – pagi sekali beliau berangkat, dan Insya’ Alloh 2 hari lagi baru pulang “
“ Hhhhhhh ….. gitu emang lo punya suami sibuk, suami mbak juga gitu seriiing banget ada tugas keluar kota, jadi lagi kesepian nih ceritanya ?”
“ Iya mbak, makanya mbak nginep sini aja ntar “
“ Mbak si mau – mau ajah, tapi kan suami mbak baru dua hari yang lalu datangnya dari luar kota, jadi pingin honey day gitu dah “ canda Mbak Ella
“ Oh gitu yah, Ryannya kenapa gak diajak mbak?”
 “ Si Ryan lagi pingin main – main sama papanya katanya “
“ Oh ya Dik, mbak Cuma ngi ngingetin nih, kamu kudu pinter – pinter dandan terus, jangan sampek enggak, ya ini si menurut cerita – cerita temen – temen mbak, sekarang ini lagi banyak banget kasus perselingkuhan, makanya kita kudu pinter – pinter jaga suami kita, apalagi Fahmi tuh masih muda banget, dia selalu dikelilingi sama wanita – wanita cantik, entah perawat baru, atau pasien – pasiennya, ya mbak percaya dan yaqin sih kalo si Fahmi itu type setia orangnya, Cuma kan kita kudu sedia payung sebelum hujan “ nasihat Mbak Ella
“ Iya mbak terima kasih banyak “
              Semalaman Dina tak dapat memejmkan matanya, kata – kata mbak Ella tadi terus terngiang ditelinganya, ngebayangin wanita – wanita cantik yang ada disekitar Fahmi, dulu ajah sbelum nikah, banyak banget gadis – gadis yang dateng ke rumah sakit buat nemuin Fahmi, ada yang pura – pura sakitlah, pura – pura kambuh lagi penyakitnya, dsb demi ngedapetin perhatian dari Fahmi, apalagi sekarang mengingat Fahmi belum juga jatuh hati padanya, Dina pun jadi khawatir takut – takut kalo Fahmi malah jatuh hati sama wanita lain, pas lagi gelisah tak disangka Fahmi menelfonnya
“ Assalamu’alaikum Mama “
“ Wa’alaikum salam Pa “
“ Belum tidur nih ma?”
“ Belum Pa, gak tau kenapa, mungkin karena cuacanya sekarang lagi dingin banget kali ya?”
“ Oh…., “
“ Papa lagi ngapain sekarang?”
“ Loh kan lagi telfonan sama Mama “
Dina jadi ketawa
“ Hehehehe, iya ding, ya maksudnya barusan “
“ Barusan papa lagi diskusi, ada dokter yang sangat berdedikasi disini Ma, masih muda juga, dia juga specialis anak – anak,orangnya pinter lagi “ kisah Fahmi
“ cowok apa cewek pa?” selidik Dina
“ Cewek, namanya Ratna, lulusan Australia lagi, “ lanjut Fahmi
Entah kenapa mendengar itu hati Dina terasa sakit, ia jadi cemburu
“ Trus papa suka ?”
“ Aduh, mama ngomong apa sih? Ya gak mungkinlah, ma “
“ trus maksudnya cerita kayak gitu tadi apa?”
“ Duh jangan marah donk sayang, masak gitu ajah marah, jadi gini dia itu ternyata masih saudara jauh sama papa, mama jangan marah dulu donk, papa kan belum selesai ceritanya “ jelas Fahmi
“ Mama gak marah kok Pa, tapi paling tidak papa ngertiin perasaan mama donk masak cerita wanita lain sama mama, pakek muji – muji segala tadi “
Mereka berdua mulai sedikit berdebat lewat telfon
“ Iya deh maafin papa ma, ya udah. udah malem ni mama tidur gih, moga mimpi indah yach, jangan marah lagi, jangan lupa pipis dulu, ambil wudhu’ and doa dulu ya ?!”
“ iya sama – sama pa “
“ assalamu’alaikum “
Wa’alaikumsalam “
Klik, handphone pun udah dimatikan, tapi gak tau kenapa malam ini hati Dina jadi gundah sekali, ia sangat takut kehilangan Fahmi, Malam itu Dina menangis dalam doanya
“ Ya Alloh, kuatkanlah hamba dalam menerima semua kenyataan pahit ini, kenyataan bahwa suami hamba  masih juga belum dapat mencintai hamba, ampuni semua dosa – dosa hamba dan juga dosa – dosa suami hamba, lindingilah ia Ya Alloh, Jauhkanlah ia dari segala fitnah, Izinkanlah hamba untuk bisa terus bersama dengannya, karena hamba sangat mencintainya karena-Mu, jodohkanlah kami didunia dan akhirat kami Ya Robb, jangan biarkan kami berpisah kecuali karena Takdir-Mu yakni kematian, hamba hanya mau menikah sekali saja dalam seumur hidup hamba,Berkahilah rumah tangga kami dengan penuh cinta, “
               2 hari kemudian Fahmi pun dateng, Dina menyambutnya dengan penuh kehangatan,
“ Assalamu’alaikum “
“ Wa’alaikum salam “ Dina langsung mencium tangan suaminya itu
“ Oh ya kemarin – kemarin Mbak Ella dateng sini pa, beliau nitip salam
 buat papa “
“ ’alaiha wa ‘alainassalam “,
“ Ya udah papa istirahat dulu yah, pasti papa lagi capek banget “
“ He’em “ sahut Fahmi singkat
              Malam itu Fahmi rupanya masih belum bisa memejamkan matanya, doski pun kembali mengutak atik laptopnya
Dina yang baru kelar beres – beresin pakaian Fahmi langsung nyamperin Fahmi
“ Loh kok belum tidur pa?”
 “ Belum ngantuk ma “sahut Fahmi singkat, doski keliatan lagi sibuk ngetik – ngetik gitu kayaknya
“ Emang lagi ada tugas ya?” Tanya Dina seraya menghampiri suaminya yang lagi sibuk di ranjang
“ Enggak kok, papa cuma lagi ngedit  artikel – artikel kemarin , oh ya ma nih ada artikelnya Mbak Ratna yang kemarin papa certain di telfon, coba dibaca deh ?! “ ujar Fahmi seraya memperlihatkannya kepada Dina
Dina pun membacanya, rupanya Dina udah pernah membacanya waktu di kampus
“ Oh yang ini, mama udah pernah baca kok pa, dulu juga udah pernah dibahas dikampus sama temen – temen “
“ Oh ya? “
“ Iya pa, bagus memang artikelnya , emang orangnya yang mana sih mama pingin tau juga pa ?”
“ Nah kebetulan nih kemarin papa sempet motret – motret pas acara, ntar ya papa buka foldernya dulu “
Fahmi pun mencari file yang dimaksud
“ Nah, ini dia ma, ini dia orangnya, ini dia pas lagi  presentasi “
“ Mmmmmm…. Cantik juga ya pa orangnya “
“ He’em, dia ini masih ada hubungan kerabat sama papa ma, jadi mama gak usah cemburu lagi yah ? “
Dina jadi tersipu malu
“ Iya pa, maafin mama soal yang kemarin “
“ Mama percaya sama papa ya ? ya walaupun papa masih belum bisa mencintai mama dengan sepenuhnya, tapi papa juga lagi berusaha, dan papa gak akan pernah mungkin jatuh hati sama wanita lain, papa udah berkomitmen sama mama, jadi papa mohon mama yang sabar yah ?! jangan kayak gitu lagi, papa yaqin suatu saat nanti papa pasti bisa mencintai mama dengan seutuhnya sama seperti mama yang mencintai papa “ tegas Fahmi
“ Terima kasih pa, Insya’ Alloh mama akan selalu percaya sama papa, mama janji gak akan kayak gitu lagi pa “
Tak terasa 7 bulan telah berlalu, semuanya masih biasa-biasa saja, mereka berdua tengah sama-sama sibuknya. Dina pun juga udah mulai praktek. Suka duka mereka hadapi bersama dengan saling member dukungan kepada masing-masing pasangannya. Akan tetapi hati Dina menjadi semakin gelisah. Pernikahan mereka sudah hampir satu tahun berjalan, tapi belum juga ada tanda-tanda cinta dari Fahmi, ia pun telah berusaha keras agar Fahmi bisa mencintainya. Dina laksanakan semua kewajibannya mulai dari mempersiapkan peralatan mandi suami, pakaian suami, memasak dan mengantar makan siang untuk suami, bahkan ia selalu tampil cantik nan anggun dihadapan suaminya. Bahkan menunggu suaminya pulang walau sampai larut malam, dan pada suatu ketika…
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB dini hari. Tapi Fahmi masih belum pulang juga, Dina benar-benar khawatir, meski setelah maghrib tadi Fahmi sempat pamit pulang terlambat karena ada pasien yang koleps, tapi Dina sudah telfon kerumah sakit, dan mereka bilang Fahmi sudah pulang sejak 1 jam yang lalu. Dina benar-benar khawatir, perasaannya kalut, fikirannya jadi tak karuan, sementara handphone Fahmi tidak bisa dihubungi, berkali-kali Dina mencoba menghubungi, tapi tetep gak bisa
“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berda diluar jangkauan” gitu deh bunyinya
“Duh…papa kemana ya? Jam segini kok belum pulang, mana hpnya gak aktif lagi. Duuh…entar kalo ada apa-apa gimana?” Dina benar-benar khawatir.
Ia mondar-mandir, sesekali ia memandang keluar dari arah jendela seraya menggigiti bibirnya yang merah nan tipis. Dina komat-kamit gak karuan mambaca istihgfar buat nenangin diri. Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil yang masuk menuju garasi, pak Imam pun membukakan pintu gerbang.
“Tin…tiiiiin…”
“Alhamdulillah, itu dia mas Fahmi udah datang.” Dina pun bernafas lega, ia pun segera membukakan pintu untuk suaminya tapi…betapa terkejutnya Dina melihat Fahmi berjalan sempoyongan sambil memegang botol minuman, bicaranya ngawur, tercium bau menyengat yang gak enak banget dari pakaian Fahmi, bicaranya pun ngaco, yah….Fahmi mabuk.
“Astaghfirullah pa? papa kenapa? Kenapa gini? Papa?” Fahmi langsung menubruk tubuh Dina.
“Hai…sayaaaang…malam ini kamu harus melayaniku, karena aku menginginkanmu.”
“Pa…sadar pa?! istighfar pa?!” bentak Dina.
Tiba-tiba Fahmi langsung membopong tubuh Dina dan membawa kekamarnya
“Pa?! lepasin pa?!” teriak Dina, tapi Fahmi tak peduli, ia langsung melempar tubuh istrinya itu keranjang, dan Fahmi melepaskan pakaiannya.
“Malam ini kamu harus bersamaku?” bentak Fahmi, ia pun menghampiri Dina.
 “Pa…papa mau ngapain lepasin pa?!”
tiba-tiba
“Plaaaash!” yah Dina menampar Fahmi
“Aduh…sakiiit.” Pekik Fahmi
“Pa?! papa apa-apaan sih? Kenapa papa jadi kayak gini? Dina benci papa, kalau papa ada masalah selesaikan dengan baik pa?! jangan kayak gini, mama kecewa sama papa?!” ujar Dina menangis.
“Aduuh…papa kok ditampar sih?”
tiba-tiba Fahmi langsung ketawa terpingkai-pingkai “Hahaha…haha…ha…yee…mama kena kerjain?! Siapa lagi yang mabok beneran, hahahaha …… “
“ Maksud Papa apa? “ Dina semakin tak mengerti
 “ma liat deh ma, bau gak enak dibaju papa ini obat alcohol, dan minuman yang dibotol ini, ini itu teh ma?! Kalo gak percaya cobain deh?!” ujar Fahmi sambil terus ketawa
“Papa apa-apaan sih? Gak lucu tau?! Papa udah bikin mama jantungan tau?!”
“Ya deh…sorry deh…maafin papa, papa cuman pengen tau marahnya mama kayak gimana? Abis mama sabar banget sih, gak pernah marah sama papa, jadi papa kerjain deh. Lagian mama kenapa belom tidur?”
“Pa, mama tuh gak tenang, gak bisa tidur, kalo papa belum pulang, mama tuh udah khawatir banget tadi, takut papa belum pulang, takut papa kenapa-kenapa, eh…ternyata yang dikuatirin malah jahat gini, lagian ngapain sih papa pakek ngerjain mama segala, mama tuh gak mungkin marah, kalo papa gak salah.” Jelas Dina sambil manyun.
“Ya…maap deh, tadi tuh, ban mobil papa pecah, terus hp papa lowbat. Papa tadi juga musti benerin ban mobil papa dulu ma.” Jelas Fahmi,
“Papa tuh jahat banget sih, udah bikin mama ketakutan tadi.” Ujar Dina sambil manyun.
“Jangan manyun gitu dong ma, ntar papa cium loh.” Ancam Fahmi.
Dina pun jadi tersenyum
 “Ya deh…maapin papa yah? Tapi kenapa mama nampar papa?”
 “Duh…maaf ya pa, abis papa keterlaluan sih? Pakek acting mabuk-mabukan segala.”
“Lagian papa gak mungkin mabuk beneran ma, itu kan dosa besar.”
Dina pun membelai pipi Fahmi yang merah abis ditampar.
“Sebentar ya pa, mama ambilin obat dulu.”
“Eh…eh..mau kemana, jangan pergi dong. Lagian papa juga gaka apa-apa kok.”
“Bener? Udah gak sakit?”
“Masih sih, sedikit, cium dong?!” goda Fahmi.
“Apa sih? Dasar genit!” balas Dina,
mereka pun tertawa bersama, buat ngebayar rasa bersalahnya karena udah nampar Fahmi, Dina pun mencium pipi Fahmi
“Ya deh…mama cium, tapi papa pejamin mata dong?! Mama kan malu.”
“Oke.”
Dina pun mencium pipi Fahmi dengan penuh cinta. Entah mengapa ada rasa aneh yang dirasakan Fahmi saat Dina menciumnya, hatinya berdesir
 “Jangan diulangin lagi lo pa yang kayak tadi.” Ucap Dina
 “Oke…!”
Dalam kehidupan berumah tangga mereka, tidak hanya ada suka, dukapun turut menguji mereka, pernah suatu ketika rumah sakit islami dituduh melakukan malpraktek yang dilakukan oleh salah satu bidan dirumah sakit itu. hingga dituntut dipengadilan, padahal sih yang salah adalah si pasien. Udah operasi masih nekat jalan-jalan padahal udah diingatkan, akhirnya luka jahitannya terbuka, Dina pun berusaha untuk menguatkan Fahmi dalam menghadapi semua itu. begitu pun sebaliknya, pernah suatu ketika ada pasien yang datang menemui Dina dan maksa untuk dilakukan aborsi, karena Dina menolak, orang itu malah mencaci maki gak karuan dan mengubrak abrik ruang kerja Dina.
 “Ma, mama kenapa? Kok matanya sembab, abis nangis ya? Ada apa ma?” Tanya Fahmi pas pulang kerja mengetahui mata Dina berkaca-kaca.
“Tadi ada orang datang kesini, dia maksa mama buat ngelakuin aborsi, karena mama menolak, orang itu malah marah-marah, dan ngancurin ruang kerja mama.” Kisah Dina sedih.
 “Apa? Kurang ajar sekali dia, siapa orang itu ma? Dimana rumahnya?” Fahmi jadi marah, ia tidak terima istrinya diperlakukan seperti itu.
“Sabar pa, mama gak apa-apa kok, papa gak usah nyari-nyari orang itu. entar urusannya malah semakin panjang.” Pinta Dina
“Mama gaka apa-apa kan? Sabar ya ma, ya mungkin itu semua udah menjadi resiko pekerjaan kita, tapi kita jangan pernah ngelakuin hal-hal yang menyimpang dari syariat, tapi papa bangga, mama gak ngelakuin hal itu, insya Allah setelah ini kita akan dapat sesuatu yang lebih indah.” Fahmi menguatkan istrinya.
“Amin.”
“Udah ya, mama jangan nangis lagi, papa gak suka liat mama nangis, jelek, tuh liat tuh idungnya jadi merah, kayak pinokio.”
 Dina pun jadi tersenyum
“Nah gitu dong jadi cantik lagi, ntar biar papa benerin lagi deh ruang kerja mama, Oh ya kita makan yuk?” ajak Fahmi
“Masya Allah pa, maafin mama ya? Mama lupa masak gara-gara ini semua.”
“Ya udah gak apa-apa, yuk kita masak bareng-bareng, papa temenin.”
 “Yuk !.”
Mereka berdua pun menuju kedapur. Fahmi pun meminta bi Surti untuk istirahat
“Bibi istirahat aja, biar saya yang nemenin Dina masak.” Ujar Fahmi
 “Baik tuan!”
“Oh ya, papa musti ngapain?”
 “Papa yang motongin bumbu-bumbunya aja, biar mama yang nyuci ikannya dulu.”
 “Oke boss!” Fahmi memang terbiasa, karena dulu ia suka bantu bunda masak, bahkan waktu di Singapore Fahmi masak sendiri, ternyata Fahmi usil juga, dia nyolek pipi Dina
“Eh salah, maaf kirain tomat, abis sama merahnya.” Canda Fahmi
“Bilang aja pengen pegang-pegang.” Balas Dina seraya tertawa.
“Kalo boleh tau tadi yang mau aborsi itu tua apa muda ma?
“Kayaknya sih masih mahasiswa gitu pa.”
“Hemm…heran deh cewek jaman sekarang mudah banget nyerahin kehormatannya, padahal juga bukan suaminya, entar yang mau dikasihkan ke suaminya apanya? Gampangan banget, gak bisa liat cOwOk cakep.” Fahmi menggerutu sendiri.
“Jangan salahin cewek dong pa, cowok juga gitu suka ngeyel rayuan gombalnya itu duh…minta ampun deh, gak kuat iman, gak bisa liat cewek cantik.” Balas Dina
“Ya… jangan gitu dong ma, cewek juga gitu, sapa suruh kena rayuan cowok, padahal cowoknya Cuma ngetes aja.” Sanggah Fahmi
“Ya gak bisa gitu dong pa.”
“Loh… kenapa jadi kita yang debatin ini ya ma?” mereka berdua kembali tertawa
“Mama virgin kan?” goda Fahmi walau sebenarnya ia tau istrinya itu gadis yang mulya.
“Kalo gak percaya periksa sendiri aja pa.” balas Dina kesal
“Aduh !”. Pekik Fahmi, yah tangannya kena pisau
“Masya Allah pa, hati-hati dong pa”. Dina pun langsung memeriksa jari Fahmi yang mulai ngeluarin darah
“Aw… aw…”
“Sakit ya pa?”
“Lagi dong”. Canda Fahmi
“Apaan sih?” ujar Dina seraya mencubit pinggang Fahmi
“Geli tau”. Ujar Fahmi.
Entah mengapa akhir-akhir ini Dina merasa Fahmi berubah, penampilan Fahmi terlihat semakin rapi, makin ramah, makin manja, makin sering telfon pas kerja, sering kirim-kirim puisi lewat sms, makin perhatian, suka ngasih kejutan-kejutan, seperti ngasi bunga, coklat, boneka, dan lain sebagainya, ngajak jalan bareng, bahkan pulang lebih cepet, tak jarang Fahmi suka makan siang dirumah lalu sholat jam’ah dzuhur bareng Dina.
 “Mas kenapa ya?” Dina penasaran,
Suatu ketika pas lagi telfonan ……
“ Assalamu’alailum Sayang! “ sapa Fahmi dari telfon
“ Wa’alaikum salam cinta, tumben nih pagi – pagi udah telfon, kangen ya?” goda Dina
“ Enggak tuh, Cuma pingin nanyak – nanyak doank “ sanggah Fahmi dari seberang
“ Emang papa mau Tanya apa?”
“ Gini Ma, seingat papa dulu kan Mama sempet ikut kajian – kajian rohis gitu di kampus yang katanya ada belajar bahasa arab juga, nah papa mau tanya ni, kalo bahasa arabnya “ Aku Kangen kamu” apa ya Ma?”
“ Ih dasar pakek ngeles segala, bilang aja papa kangen sama mama “ balas Dina sembari tertawa
Fahmi pun jadi ikutan ketawa,
“ Abis mama sih, kenapa juga jadi wanita kok cantik banget, papa kan jadi bingung  nih lo udah ketemu mama, mau ngomong apa gitu rasanya ilang semua, apalagi denger suara mama yang lembut banget gini “ Goda Fahmi
“ Ih dasar gombal “
“ Lhoh siapa yang ngegombal Ma, beneran deh papa Cuma ngelap aja” balas Fahmi, mereka pun pada bercanda.
“ Dan Papa laebih suka lagi kalo denger suara Mama pas lagi flu kayak kemarin – kemarin, suara Mama jadi tambah sexy kedengerannya”
“ Hmmmm…. Kalo gitu Mama mau sering – sering flu aja biar Papa suka terus” canda Dina
“ Hahahahaha, ya gak gitu juga Ma,Oke deh, udah dulu ya Ma, entar Papa sambung lagi, baik – baik dirumah ya sayang, Mmmmmmmmmmmmmmmmmmmuuuuuuuuaaaaaaaaaaaccccchhhh!”
I Miss You, Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, miss you too” sahut Dina seraya tertawa
Rupanya Dina belum mematikan handphonnya sebelum Fahmi mematikannya terlebih dahulu
“Lhoh?! Kok belum dimatiin Ma?” Tanya Fahmi
“Papa dulu aja yang matiin “
“ Enggak ah Mama dulu aja”
“ Pokoknya Papa duluan “
“ LHoh kok maksa sih, enggak pokoknya Mama duluan baru Papa yang matiin handphonnya juga, matiin gih?! “
“ Hmmmmmmmmmmm…, kalo kayak gini ya kapan matinya, padahal tadi udah ngucapin salam eh masih ngobrol lagi” ujar Dina, mereka kembali tertawa.
Bahkan pada suatu ketika pas lagi nonton TV bareng, tiba-tiba Fahmi langsung bobo dipangkuan Dina. Dan mereka ngobrol berdua. Sambil ngelus-ngelus rambut Fahmi, Dina bertanya sesuatu
“Pa, dulu kan papa banyak banget yang naksir tu, kenapa papa gak terima salah satu diantara mereka?” Dina penasaran
 “Abis papa kesel ma, sikap mereka kadang-kadang suka berlebihan, ada yang pura-pura pingsanlah didepan papa, dan masih banyak hal lagi yang mereka lakuin yang bikin papa ilfil. Bahkan pernah tuh ada cewek yang nekat mau lepasin semua pakaiannya depan papa pasa dirumah, sakit gila kan?” kisah Fahmi
 “Terus yang lain pa? masak sih gak ada yang bikin papa tertarik satu aja dari mereka?”
 “Ya, ada sih, pernah sih gadis itu pernah jadi asisten papa juga, orangnya cantik, santun, dan gak neko-neko.”
Mendengar itu Dina cemburu
“Cemburu ya?” goda Fahmi seraya mencolek hidung Dina yang mancung
“Enggak, siapa juga yang cemburu, lagian kenapa papa gak deketin aja gadis itu kalo papa tertarik?”
“Sapa bilang papa gak deketin gadis itu, papa udah deket banget sama gadis itu bahkan sampai sekarang. Gadis itu kan mama.” Ujar Fahmi
“Terus kenapa mama gak nerima cinta Doni? Doni kan juga suka ngejar-ngejar mama terus?”
Doni adalah anak jurusan keperawatan yang naksir abis sama Dina
“Loh…papa tau darimana soal Doni pa?” Dina kaget, karena ia emang gak pernah cerita soal Doni pada Fahmi.
“Ada deeeh.” Sahut Fahmi singkat
“Yaa… gimana mama mau trima pa, orang dianya playboy banget, suka gonta-ganti cewek.” Kisah Dina
“Berarti kalo misalkan dulu papa kuliah ditempat mama, mama pasti pilih papa kan daripada Doni?” Fahmi ngayal, Dina pun jadi ketawa.
“Ma, papa mau Tanya ni, kalo misalakan ada orang jantungnya berdebar-debar terus kalo pas lagi ketemu sama orang itu kenapa ma?” tanya Fahmi
“Oooh…itu, itu namanya lagi kasmaran pa, lagi jatuh cinta gitu, emangnya kenapa pa?” 
“Ah enggak kok, gak apa-apa.” Sahut Fahmi
“Apa iya aku udah jatuh cinta sama mama.” Kata Fahmi dalam hati.
“Oh ya papa minta foto mama dong, mau papa jadiin wallpaper di hp?!” pinta Fahmi
“Boleh dong pa.” Fahmi pun memotret Dina.
Setelah puas motret Dina, Fahmi kembali merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya sambil nonton sebuah film, dan gak disangka – sangka ternyata di film itu ada adegan kissingnya juga, merasa malu Dina pun ngerubah channelnya
“ Loh kenapa dipindah Ma? Filmnya kan bagus “ protes Fahmi
“ Gak seru Pa “ sahut Dina singkat
“ Wahhh sayang tuh padahal tadi udah seru – serunya “
Fahmi pun segera bangun, doski ngerubah posisi duduk disamping istrinya dan merebahkan kepalanya di bahu istrinya
“ Hmmmmmm……. Mama wangi banget, papa suka banget sama harumnya parfum mama yang ini jangan diganti – ganti ya Ma ?! “ pinta Fahmi
Mendengar hal itu Dina pun menoleh kearah Fahmi,  tanpa sengaja wajah mereka begitu dekatnya, saking deketnya tanpa sengaja pula Dina kena mencium Fahmi
“ Sreeeet…. “ tanpa sengaja bibir merahnya menyentuh bibir Fahmi yang tipis
Jantung keduanya pun berdegup kencang, rupanya Fahmi ingin melanjutkan adegan tersebut, doski kembali menatap wajah sang istri dengn begitu lekat, semakin dekat saja, tapi Dina coba menghindar, sedang Fahmi ia terus mengejar, Hati Dina semakin bergelut tak karuan, untung saja terdengar Bi Surti tengah memanggil manggil namanya dari arah dapur, hingga ia bisa menghindari adegan selanjutnya,
“ Nyonya ! Nyonya ! “
“Sebentar ya Pa, Bibi manggil manggil tuh ?! “ ucap Dina lirih seraya beranjak pergi menuju ke dapur
“ Duhhh hampir saja “ gumam Dina lirih
Suatu siang yang cukup cerah, Dina nganter makan siang buat Fahmi dirumah sakit
“Assalamu’alaikum!” sapa Dina, Fahmi yang tampaknya sedang mengamati sesuatu senyum-senyum sendiri langsung terkejut melihat Dina datang, kayak lagi ketakutan gitu.
“Wa…wa…wa’alaikumsalam. Mama?”
“Papa? Kenapa mlotot gitu? Kayak abis ngeliat hantu aja.” Canda Dina
“Ah… e…enggak, maafin papa, duduk dulu ma, papa mau kekamar kecil sebentar.” Fahmi pun segera keluar, seperti ada yang sedang ia sembuntikan Dina pun penasaran.
“Papa kenapa ya? Kok jadi kayak gitu?” Dina pun mencoba membereskan berkas-berkas dimeja Fahmi yang berantakan, dan betapa terkejutnya Dina pas melihat ada banayk foto yang jatuh dari sebuah map, dan ternyata foto-foto itu adalah foto Dina. Dalam berbagai pose. Selain itu didinding tempat kerja Fahmi terpajang foto mereka berdua yang berukuran cukup besar sekitar 30-40 R.
“Apa arti semua ini ya?” gumam Dina lirih.
Minggu yang cukup cerah, Dina dan Fahmi berkunjung kerumah Bunda, disana Dina melihat-lihat album foto Fahmi mulai dari bayi hingga dewasa
“Ternyata waktu kecil, papa gendut dan imut banget ya?” ledek Dina
“Tapi cakep kan?” balas Fahmi.
Pas lagi bantuin bunda masak di dapur buat makan siang, dan bunda pun membisikkan sesuatu ke telinga Dina,
 “nak, kamu belum hamil? Bunda udah keburu pengen punya cucu lagi nih, ayo jangan di tunda-tunda lagi,”
 Dina kelabakan menjawabnya, bagaimana tidak, 8 bulan nikah Dina masih virgin, untung Fahmi keburu dateng,
“Fahmi ayo dong, bunda udah kebelet pengen punya cucu lagi nih !” yang ditanya cuma senyum-senyum saja dan Fahmi melingkarkan tangannya ke pinggul Dina, Fahmi mendekap Dina.
“Sabar dong bunda, Fahmi kan masih pengen pacaran dulu, insya Allah nanti kalo Alloh  udah ngasih, Fahmi pasti akan kasih  bunda cucu yang lucu-lucu”, ujar Fahmi sambil melirik Dina.
“Hmmmm… baru tau ya sekarang? Dari dulu suruh cepet nikah gak mau “goda mbak Ela”,
“iya mbak, Fahmi nyesel, kenapa gak dari dulu aja ya Fahmi nikahnya ama adek mbak yang cantik jelita ini”, Dina pun mencubit lengan Fahmi, doski ngerasa malu di hadapan mertua dan kakak iparnya.
               Malem harinya merka pun pamit pulang, pas ditengah – tengah perjalanan mereka dihadang oleh hujan yang begitu derasnya, tiba – tiba ban mobil Fahmi kempes juga, doski pun segera menghentikan laju mobilnya, lalu turun buat ngebenerin ban mobilnya
“ Waaah ban mobilnya pakek acara kempes juga, bentar ya ma, papa turun dulu, mama disini ajah ya? “
“ Hati – hati ya Pa “
Doski pun turun buat ngeganti ban mobilnya yang bocor, pas lagi ngebenerin tak disangka Dina malah ikutan turun lantas memayungi Fahmi
“ Loh ma , ngapain turun? Entar basah semua loh bajunya “
“ Gak apa – apa kok pa, mama juga gak mau papa nanti jadi sakit gara – gara kehujanan “
“ Thank’s ya Ma “
“ Oh ya ada yang bisa mama Bantu?” Dina menawarkan jasanya
“ Gak usah ini juga udah hampir kelar kok “
Pas udah kelar keduanya segera masuk kembali kedalam mobil,
“ Duuuh wajah papa jadi basah semua tuh, sini mama lapin dulu”
Dina pun segera ngambil sapu tangannya lantas ngelapin wajah suaminya yang basah, tak ia sadari Fahmi terus saja menatapnya
“ Ih papa ngapain sih liatin mama ampek kayak gitu ?” Dina mulai grogi
Fahmi pun ngegenggam tangan dingin Dina yang lagi ngelapin wajahnya , dan menatap istrinya dengan tatapan yang cukup lekat dan tajam
“ Ma, sebenarnya ada hal yang pingin banget papa sampaikan sama mama,Cuma papa bingung musti mulai darimana, papa juga takut salah, tapi hal ini juga sangat mengganggu papa, papa coba memendamnya tapi papa udah gak bisa lagi, papa…….. “
Dina jadi kikuk, “ Duuh, jangan – jangan papa mau nyatain cinta nih “ kata Dina dalam hati, jantungnya mendadak  berdegup kencang
“ Ada apa Pa? “ Tanya Dina grogi, tapi berusaha untuk tetap santai
“ Sebenarnya papa ………. , sebenarnya ….” Fahmi masih ragu
Dina jadi berharap – harap cemas
“ Loh ? kenapa wajah mama jadi merah gitu ?” Tanya Fahmi
“ Masak sih Pa?”
“ Mama grogi yaaaa?”
“ Ih papa jahat banget sih, usil banget jadi orang !” gerutu Dina
Fahmi jadi cekikikan, “ Hahahahaha, ih mama ampek segitunya, hahahaha ………
“ Gak lucu” ucap Dina kesal karena ia ngerasa dikerjain lagi sama Fahmi
“ Ya deh sorry, sebenarnya papa cuman mau bilang kalo mama tuh cuaaaaaaaaaaaaaantiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik banget “ ungkap Fahmi seraya tersenyum beitu manisnya
Tiba – tiba terdengar suara petir menyambar begitu kerasnya
Dina jdi terkejut dan takut tanpa sengaja ia langsung meluk Fahmi
“ Astaghfirullohal’adzim “ ucap Dina
Fahmi pun bagai keruntuhan durian rasanya, ia pun tak melewatkan kesempatan itu, ia pun mendekap tubuh Dina dengan begitu eratnya, wangi tubuh Dina pun tercium olehnya
“ Hmmmm Alhamdulillaaaah, asyik ni dapat rizqi “ canda Fahmi
Menyadari akan hal itu Dina pun segera melepaskan pelukannya
“ Maaf ya pa, mama gak sengaja “ ujar Dina tersipu malu
Sedang Fahmi ia ngerasa seneng baget
Entah kenapa Fahmi jadi gelisah,
“udah hampir sembilan bulan menikah, tapi aku masih belom tau kayak apa rambut indah mama, jahat banget sih, masak aku gak pernah di kasih liat sedikit aja, aku kan juga pengen tau, jilbapan terus, aku pengen tau apa rambutnya hitam, pirang, lurus, cepak, keriting, panjang atau pendek, atau jangan-jangan ada yang cacat kali ya?, tapi aku pasti bisa terima dia apa adanya, apa ada kulitnya yang belang? Kan masih bisa di permak di salon, duh…gimana caranya ya buat liat rambut mama, itu aja kok, gak lebih” Fahmi menggerutu sendiri, karena ia memang gak pernah tau kayak gimana rambut istrinya itu.
Pas di rumah sakit, ternyata ada hasil rontgen pasien yang ketinggalan di rumah, sementara Fahmi dan pasien tersebut janjian siang itu mau ketemuan, Fahmi sengaja membawa pulang untuk mempelajari penyakit apa yang sedang di derita oleh si pasien karena penyakitnya tergolong aneh dan langka. Fahmi pun kembali pulang untuk ngambil berkas tersebut, seingatnya berkas itu ada di kamar. Pas ngambil berkas itu, ternyata Dina lagi ada di kamar mandi, Fahmi buru-buru pergi karena ia gak kepengen diketahui sama Dina, tapi ternyata Dina udah mau keluar, mendengar pintu kamar mandi dibuka, Fahmi nekat sembunyi di balik tirai jendela, terlihat Dina sedang tidak menggunakan jilbabnya, rambutnya begitu indah tergerai, hitam mengkilat, lurus nan panjang.
Fahmi benar-benar tertegun melihat pemandangan itu,
”mama, kamu cantik sekali, ma” kata Fahmi dalam hati, di tambah lagi Dina malah ganti baju di hadapannya.
Fahmi benar-benar tak bisa berkata apa-apa melihat kecantikan istrinya yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sedang Dina tak menyadari Fahmi ada di kamar tersebut, walau Dina sempat merasa gak enak
,” hmmm…. kayak bau parfum papa, tapi…. ah… gak mungkin” Dina menepis sendiri pikirannya itu, ia pun kembali mengenakan jilbabnya seusai berhias, lantas ia seperti ngambil sesuatu di laci, lalu nulis, dan Dina pun tertidur, saat itu Fahmi keluar dari tempat persembunyiannya ( keong kalleee ),
Fahmi ngambil diary Dina yang lagi ketiduran, tak sengaja ia melihat fotonya ada di dalam diary itu, Fahmi pun membawa diary itu dan ia sempat menatap wajah sang istri yang sedang tertidur,
“kamu cantik sekali ma “,ujar Fahmi seraya menghampiri Dina,
lantas ia mencium Dina yang tengah tertidur, setelah Fahmi pergi, Dina terbangun,
”duh…. kok aku jadi ketiduran ya?” duh lupa nih, aku kan mesti masak buat papa, tapi…. tadi rasanya kok ada yang nyium aku ya? Dina merasa merinding, ia pun lekas pergi ke dapur.
Sesampainya  di rumah sakit, Fahmi membaca isi diary Dina, yang isinya adalah curahan hati Dina, bahwa ia begitu mencintai Fahmi, tak terasa air mata pemuda tampan itu pun berlinang,
” maafin papa ma, papa janji pasti akan membahagiakan mama” gumam Fahmi lirih,
ada kata-kata yang terus terngiang di telinga Fahmi,
“mas, andai saja kamu tau, bahwa aku hanya mau menikah sekali saja seumur hidupku, dan aku hanya mau menjadi istri dari laki-laki yang bernama dr H. . Muhammad Fahmi Ar-Royan ( lupa deh mau nulis kalo Fahmi udah mendapat gelar Haji, karena dia udah pergi haji bersama seluruh keluarganya pada saat doski masih berusia 25 tahun ).
“Hatiku begitu perih membayangkan jika kita harus benar-benar bercerai mas, aku hampir aja putus asa, tapi aku tidak akan menyerah, karena aku sangat mencintaimu mas”.
Fahmi benar-benar merasa berdosa, malam harinya ia melaksanakan sholat tahajjud seperti biasanya, namun kali ini ia sholat sendiri dan lebih awal tidak berjama’ah bersama sang istri seperti biasanya. Menyadari suaminya tidak berada di sisinya, Dina pun mencari-cari suaminya,
“duuuh… mas Fahmi kemana ya malam-malam begini?”, ini juga masih jam 12, ujar Dina seraya melirik jam dinding,
Dina pun mencari suaminya itu yang ternyata berada di ruang sholat,
“ya Allah…. ampuni hamba, hamba benar-benar sangat berdosa, ampuni juga istri hamba ya Allah, ya Allah hamba mohon hanya kepada-Mu wahai Dzat Yang Maha Mencintai hamba-hambaNya, turunkanlah benih-benih cinta  di hati hamba untuk istri hamba, agar hamba benar-benar bisa membahagiakannya, hamba sangat mencintai-Mu ya Rabb, dan hamba juga ingin mencintai istri hamba, karena dia begitu mencintai_Mu dan hamba yakin Engkau sangat mencintainya, jagalah Dina Ya Allah, bahagiakan dia, lindungi dia,”
Fahmi berdo’a seraya menangis tersedu-sedu, melihat semua itu, Dina pun menitikkan air mata.
Pagi harinya……
“Hari ini aku ingin masak special ah buat mas Fahmi”, gumam Dina lirih.
Setelah masakan siap, Dina pun segera menemui Fahmi yang masih berada di kamar, setelah membka pintu, betapa terkejutnya Dina melihat Fahmi yang lagi gak pake baju, gak pake daleman, doski telanjang dada, hanya memakai handuk saja, soalnya Fahmi baru aja selesai mandi, tubuhnya pun masih agak basah dan rambut yang basah pula serta acak-acakan. Dina benar-benar terperanjat, biasanya Fahmi udah rapi sejak dari kamar mandi,
“ada apa, ma?” Tanya Fahmi,
Dina gelagapan melihat tubuh Fahmi yang begitu putih bersih, gagah dan ada sedikit bulu di dadanya.
“Ss… sarapan udah siap pa” sahut Dina seraya langsung beranjak pergi dan menutup pintu,
 “Astaghfirullahaladzim” ucap Dina lirih, jantungnya berdebar-debar, tubuhnya pun gemetaran,
sementara Fahmi, ia jadi cekikikan melihat sikap Dina yang ketakutan seperti itu. Seusai berpakaian Fahmi pun turun untuk sarapan, Dina pun berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, karena kalau dia terus bersikap seperti tadi, Fahmi pasti akan ngerjain dia, Fahmi rupanya masih sibuk benerin dasinya
,”sini pa, mama bantu”, Dina pun membetulkan dasi suaminya,
 tak ia sadari, Fahmi terus memandanginya,
“kamu cantik sekali ma”?!
Fahmi memanggil Dina dengan suara yang begitu lembut,
“ Mama “
“ya pa?”
“mama masih mau ngasih papa kesempatan dan waktu kan ?”
“pa? papa kenapa bicara seperti itu pa? tanpa papa minta mama juga pasti akan selalu menunggu papa, kalau boleh mama minta, mama gak mau pisah sama papa”, ujar Dina seraya memeluk Fahmi, begitu hangat terasa,
“terima kasih banyak ma, sampai kapanpun kita gak akan pernah berpisah, kecuali maut yang memisahkan kita sayang”
Dina terkejut
“hah?”papa panggil aku sayang? Dimanjain banget aku? “Dina berkata dalam hati,
“oh…ya, tadi mama kenapa ninggalin papa?”
 Dina jadi kikuk ia pun melepaskan pelukannya.
Kenapa ma? Takut di apa-apain ama papa ya?” canda Fahmi, suasana jadi ceria kembali, dina pun tersenyum kembali.
 “Apaan sih pa?, wajahnya jadi merah, ia tersipu malu,
“ ma…. papa tuh gak mungkin ngelakuin hal itu kalo mama gak mau”, jelas Fahmi.
              Tak terasa bulan suci Romadhon telah tiba, Fahmi ngambil cuti lama, karena doski ngajak istrinya melaksanakan ibadah Umroh ke Tanah suci selama 40 hari dan merayakan lebaran disana, selama beribadah di Tanah suci Fahmi dan Dina tak henti – hentinya bertaqorrub mendekatkan diri kepada Alloh Yang Maha Kuasa,memohon ampunan, Rahamat, dan hidayah agar rumah tangga mereka berdua senantiasa langgeng dan bahagia, dan yang membuat Dina terharu, dalam do’a – do’anya Fahmi selalu meminta agar berjodoh dengan Dina sampai di akhirat nanti, begitu juga dengan Dina dalam do’anya tak lepas ia meminta dan berharap agar suaminya dapat mencintainya dengan sepenuh hati, mulai dari Madinah samapai Mekkah mereka berdua beribadah dengan sangat khusyu’, mulai dari Thowaf, Sa’I, dsb, terutama etika berada di makam Rosululloh SAW, tak kuasa mereka menahan tangis dan haru sebagai ungkapan rasa rindu dan cinta pada sang Nabi yang mulya, Tak lupa mereka juga singgah ke Jabal Rohmah, yaitu tempat dimana Nabi Adam As dan Ibu Hawa pertama kali berjumpa setelah terpisah selama bertahun – tahun.
“ Ma, tau gak? Konon katanya kalo kita nulis nama kita disini dan pasangan kita bisa awet dan langgeng Ma ?! “kisah Fahmi
“ Oh ya? Masak sih Pa?”
“ He’em, ya udah kalo gitu kita nulis nama kita disini yuk?! Biar kita bisa langgeng dan semoga sampai akhirat juga”
“ Amiiiiiinnn….” Jawab Dina singkat men-amini do’a suaminya
Mereka berdua pun pada nulis nama mereka
“ Hmmmm… berarti Papa gak mau pisah sama Mama ya? “ selidik Dina
“ Ya iyalah Maaa, masak iya enggak? Mama itu udah jadi sahabat, adik, pacar, istri Papa yang paaaaaaaling Papa sayangi, Papa rindukan, Papa idamkan “
“ Alah lebay “
“ Heheheh, iya yah lebay juga ternyata” mereka berdua kembali bercanda.
Seperti biasa Fahmi menjemput Dina di kampusnya, setelah jam kuliah usai, rupanya Fahmi mau ngasih hadiah boneka teddy bear yang ia taruh di jok belakang, dimana bonekanya begitu besar lagi megang hati yang ada tulisannya “I love you”,dari kejauhan terlihat Dina lagi ngobrol sama Doni, laki-laki yang dulu sempat ngejar-ngejar Dina, Fahmi pun jadi cemburu.
”Mama ngapain ngobrol ama laki-laki itu? Pake ketawa-ketawa lagi,”
menyadari Fahmi udah menjemputnya, Dina pun segera menghampiri mobil Mercedes benz berwarna hitam mengkilat milik fahmi, ia pun langsung masuk ke dalam mobil.
 “Assalamualaikum papa?! Udah dari tadi nunggunya pa?” sapa Dina penuh kelembutan,
tapi bukan jawaban yang Dina dapatkan, Fahmi malah ngegas mobilnya dengan begitu  keras, mobil serasa kayak mau loncat aja, Fahmi ngebut banget di jalan,
 “ pa?!, papa apa-apaan sih, papa jangan ngebut pa !, Dina jadi ketakutan,
Fahmi kayak orang kesurupan, nyetirnya hampir nabrak-nabrak pula, sampai di jalan yang agak sepi, Fahmi menghentikan mobilnya, ngerem mendadak gitu, ampe ban mobilnya bunyi “criiiiittt…..!! ,”
Dina hampir saja kebentur kaca depan,
“pa, papa kenapa pa?” Tanya Dina yang mulai ketakutan,
“ harusnya papa yang Tanya mama kenapa?” Fahmi agak keras suaranya,
“ memangnya mama salah apa?”,
“pake gak ngerasa bersalah lagi, ma, mama itu kalo udah bosen ama papa bilang ma, kalo udah gak sabar ama papa bilang aja, gak usah kayak gitu ?! pake ngedeketin laki-laki lain segala, ingat ! mama itu biar bagaimanapun udah jadi istri papa!,”
 maksud papa Doni?, masyaallah pa, papa salah paham, laki-laki itu cuma………..,”
“cuma apa ma?!....”
pa, dengerin penjelasan mama dulu,” Dina coba untuk ngalah dan sabar,
“ papa jangan kayak anak kecil gni dong?! dengerin mama, tadi Doni itu Cuma mau ngasih undangan nikahnya, kalo gak percaya nih papa liat sendiri”, jawab Dina sambil menyerahkan sebuah undangan,
Fahmi pun mengambilnya dan membacanya,
“ya Allah, suami macam apa aku ini, aku selalu saja menyakiti Dina istriku, aku selalu membuatnya kecewa, aku malah berfikir yang bukan-bukan padanya, menuduhnya yang bukan-bukan, padahal dia begitu setia padaku,” Fahmi pun menitikkan air matanya,
 ia rebahkan kepalanya di dada istrinya,
 “ maafin papa ma, papa begitu bodoh, papa Cuma gak mau kehilangan mama,” sesal Fahmi dalam tangisnya,
air mata Dina pun ikut berlinang,
“ maafin mama juga pa, mama juga ngerti gimana perasaan papa,” ujar Dina seraya membelai rambut Fahmi yang harum dengan jari-jarinya yang lentik, Dina pun membangunkan suaminya dan mengusap air matanya,
 “jangan kayak gini lagi ya pa? yang terpenting buat mama adalah kepercayaan dari papa,” Fahmi menganggukkan kepalanya,
“oh ya Ma, nih oleh-oleh buat mama ?! ujar Fahmi seraya mengambil boneka yang ada di jok belakang,
“ duuuuh…. makasih banget ya pa, lucu banget bonekanya, wangi banget lagi, wangi Charlie white tercium dari boneka tersebut, parfum yang biasa di pake Fahmi,
 “ tapi papa jahat,” ujar Dina ngambek,
 “ mama kalo lagi ngambek cantik banget ya !,
“apa-apaan sih pa?,
“mama tau gak ada tiga hal yang membuat mama cantik banget, 1. pas mama lagi tidur, 2. pas mama lagi ngambek gini, 3.  pas mama lagi………..” Fahmi menghentikan kata-katanya,
 “ lagi apa pa?’ Dina penasaran,
“ lagiiii……… gak pake jilbab dan lagi…… ganti baju” jawab Fahmi pelan,
“apa? Jadi papa ngintip mama? Papa apaan sih, papa jahat deh!’ ujar Dina seraya mencubit lengan Fahmi,
“ aduh…. aduh…. ma sakit ma” rengek Fahmi,
“ gak usah sok sweet deh!” ujar Dina kesal.
Buat nebus rasa bersalahnya, Fahmi ngajak Dina jalan-jalan ke pantai lagi, sambil jalan,
“ eh… kita beli es krim yuk? mama pasti haus?” ajak Fahmi,
pas Fahmi ngebayarin es krimnya, Dina sempat melihat fotonya dan foto mereka berdua yang terpampang di dompet Fahmi,
“ papa tuh misterius banget sih“, Dina berkata dalam hati. 
Tibalah saatnya bagi Dina untuk melakukan penelitian guna penulisan skripsi, Dina yang jadi bintang di kampusnya mendapat tantangan dari dosennya untuk membuat skripsi yang belum pernah di buat oleh siapapun juga, Dina mengajukan judul yang sangat jarang di bahas yaitu “hubungan virginitas dengan kesehatan serta pengaruh buruk sex bebas“, Dina pun sibuk menggarap skripsinya, dan Fahmi, ia tak pernah luput untuk mendukung Dina, bahkan Fahmi rela nganterin Dina keliling-keliling nyari dan beli buku-buku referensinya, bantuin ngetik, ngantar kerumah dosen pembimbing, dan kasih masukan-masukan, Fahmi juga ikut nganter Dina interview dengan beberapa ahli dan para remaja. Sampai pada satu waktu Dina jatuh sakit, karena kecapekan, tensinya pun turun, badannya panas. Pas lagi bantu ngetik, terlihat Dina sedang tertidur di meja kerja Fahmi.
“Mama…. pasti kecapekan, kasihan banget, “ karena udah tinggal dikit Fahmi nerusin ngetik.
“Pa…?! kita tidur yuk? terusin besok aja lagi pa ?!”, ajak Dina dengan suara yang agak parau,
“papa tinggal dikit kok ma, tanggung, mama duluan aja ya?!”, perintah Fahmi.
“Gak ah mama nunggu papa aja”, Dina tidur lagi,
pas udah kelar, Fahmi menghampiri Dina.
“Ma…?! Kita pindah yuk?! papa udah kelar nih?!”, ujar Fahmi seraya membangkitkan badannya, dan betapa terkejutnya Fahmi setelah tau badan Dina panas banget, pas Fahmi nyentuh tangan Dina.
 “Masya Allah, badan mama panas banget !”,
Fahmi pun menggendongnya ke dalam kamar, sesampainya di kamar, ia baringkan tubuh istrinya, lalu ia periksa tensi darahnya, ternyata hanya 80, Fahmi pun segera menyuntikkan vitamin ke tubuh Dina melalui lengan Dina, doski pun mengompres tubuh Dina yang panas.
Keesokan paginya Fahmi korbanin waktunya buat nemenin Dina, doski pamit gak masuk kerja.
 “Makan dulu ya ma, ini papa masak special buat mama, papa suapin yah ?”,
 “makasih ya pa”, ujar Dina lemas.
“Gimana ? enak kan ?”,
“Hmm…. masakan papa enak juga, walau lidah mama kerasa pahit, tapi tetep terasa enaknya masakan buatan papa, mau dong kayak gini tiap hari”, canda Dina.
 “Oke, buat mama apa sih yang enggak ?! oh ya mama tuh harus banyak-banyak ma’em sayur, daging, dan buah-buahan, biar gak lemes gini, istirahat juga ma, jangan terlalu di forsir”, nasihat Fahmi.
 “Papa tuh perhatian banget ya, jadi makin sayang deh”, Dina berkata dalam hati.
“Nih diminum susunya, jangan lupa vitaminnya juga, wah anak pinter udah habis semuanya”.
“Makasih banyak ya pa, mama mau mandi dulu ya pa ?”,
 “mama udah kuat?”,
“Alhamdulillah mama udah gak apa-apa kok pa, pusingnya juga udah sembuh”.
“Ya udah, kebetulan air hangatnya udah papa siapin tuh, apa perlu papa
mandiin ?”, goda Fahmi.
 “Ih papa nakal !!”,
“hehehe…. ya udah ati-ati ya ma, nanti kalo ada yang perlu dibantu, mama panggil papa aja yah ?”,
 “oke…mama mandi dulu ya, daa….”,
“Ma… papa tuh sedih banget kalo mama sakit kayak gini”, Fahmi ngomong sendiri.
Suatu ketika di rumah Dina ada orang mau melahirkan, Dina pun membantu proses persalinannya dan alhamdulillah bayinya lahir dengan selamat, begitu juga dengan ibunya sehat.
“Oek… oek… oek…”, bayi itu menangis dengan keras,
Dina segera membersihkan bayi tersebut, ia menggendongnya. Tak disangka Fahmi yang waktu itu pulang untuk makan siang ikut menggendong si bayi.
“Sini ma, papa pengen gendong juga, anak kita lucu sekali ya ma”, sambut Fahmi.
“Apa? Anak kita ?”, Dina terkejut.
 “Mak… maksud papa bayi ini lucu sekali ma”.
Dina mendapat undangan seminar di daerah Bandung untuk mendapat gelar Bidan Idaman, Bidan Terbaik.
Dina bakal mengikuti seminar tersebut selama kurang lebih 10 hari dan Fahmi merasa berat. Fahmi pun mohon ijin, ia pulang untuk menemui Dina, sesampainya di rumah, rupanya Dina lagi kasih makan ikan-ikan di kolam, setelah itu ia duduk-duduk santai di taman.
“Assalamu’ alaikum”,
 “wa’alaikum salam papa? Udah pulang pa ?”,
“iya ma, papa sengaja pulang lebih awal”, sambut Fahmi seraya duduk di samping Dina.
“Mama acara seminarnya besok ya ?”,
“iya pa”,
“berapa hari ma ?”,
 “insya Allah sekitar 10 harian gitu pa”,
“wah ?! 10 hari, lama banget ?”,
 “kalo papa keberatan, mama gak akan pergi kok pa”,
“ jangan ma, itu kan juga demi masa depan mama, besok biar papa yang nganterin mama ya, kebetulan besok ada dr. Andi yang gantiin tugas papa”,
“ya udah, mama siap-siap dulu ya pa, biar besok tinggal berangkat aja”,
“ papa bantuin ya ?”.
Esoknya Fahmi pun nganterin Dina ke Bandung, acara pembukaan pun udah di mulai di sebuah gedung di aula sebuah satu hotel bintang 5 di daerah Bandung, sementara Fahmi, ia menunggu di kamar yang udah di pesan yang bakal jadi tempat istirahat Dina selama 10 hari ke depan, pemandangannya pun cukup indah, ada balkonnya juga.
Sekitar pukul 05.00 WIB sore hari, acara pembukaan baru saja usai. Dina pun segera kembali ke kamarnya.
“Papa belum  pulang ?”,
 “ belum ma, ntar aja”,
“ini udah malem loh pa, kalo papa capek, papa nginep aja dulu, besok pagi-pagi sekali papa balik ke Jakarta”,
“gak ah ma, papa pulang ntar malem aja”.
Usai makan malam, Fahmi masih nyempetin ngobrol-ngobrol bareng Dina, doski ngerasa berat buat ninggalin istrinya.
“Ma…kita liat pemandangan di sana yuk ?”, ajak Fahmi,
mereka pun duduk-duduk di sofa di balkon depan kamar Dina.
“Wah…bintang-bintangnya banyak banget pa, malam ini cerah sekali ya”,
“iya ,kita itung yuk, yang sini bagian papa, yang sebelah sana bagian mama”,
“oke, siapa takut”,
 kemudian mereka pun pada ngitungin bintang yang sebenarnya gak akan pernah bias di hitung itu. Tak berapa lama,
“ma ?!
“ iya pa ?”,
“ papa boleh minta sesuatu gak ? tapi mama jangan marah ya ?”,
 “ ya gak mungkinlah pa, emangnya papa mau minta apa ?”,
“papa boleh gak liat rambut mama”, ujar Fahmi ragu.
Dina terkejut, ia jadi pengen ketawa denger permintaan Fahmi yang agak lucu, tapi ia juga ngerasa bersalah juga.
“Pa, mama ini kan istri papa, kalo papa pengen liat rambut mama tentu boleh pa, dan kenapa papa gak bilang dari dulu, malah pake acara ngintip-ngintip segala ?”,
 “ hehehe….. iya maaf, jadi beneran boleh ma?”,
“ He’em”, ujar Dina seraya menganggukkan kepalanya,
secara perlahan-lahan Fahmi pun melepas jilbab istrinya, jantung Dina pun berdebar-debar, begitu juga dengan Fahmi, setelah jilbab terbuka, Fahmi melepas jepit yang mengikat rambut Dina, maka terurailah rambut Dina yang panjang, lurus, hitam mengkilat, lembut dan wangi.
“Ma…mama cantik sekali”, puji Fahmi terbata-bata,
Dina hanya tersenyum,
tiba-tiba Fahmi menyentuh dagu Dina yang membelah,
Fahmi membelai rambut Dina yang panjang secara perlahan dan wajah Fahmi semakin dekat dengan wajah Dina, Fahmi hendak mencium istrinya, jantung Dina semakin berdegup kencang, tak ada kata-kata, semakin dekat, dekat, dan…. Fahmi menyentuh bibir Dina yang tipis dengan bibirnya, yach… Fahmi mencium Dina untuk pertama kali, dan mereka pun berciuman, melepaskan segala rasa di hati dan sang rembulan yang kala itu cerah langsung memanggil kabut untuk menutupinya karena malu melihat dua insan yang di mabuk asmara.
                        Tak berapa lama Fahmi pun melepaskan ciumannya
“ Mama….. jangan pernah tinggalin Papa yah?” ujar Fahmi seraya mendekap Dina
Sekitar jam 22.00 WIB, Fahmi pun mohon pamit balik ke Jakarta, Dina nganterin sampai ke tempat parkiran.
“Ma… mama jaga diri baik-baik yah, jaga kesehatan, jangan terlalu capek, papa gak mau mama sakit lagi”, nasihat Fahmi.
 “Iya pa, papa juga ya ?!,
“ya udah papa pulang dulu ya? Ati-ati ya ma ? semoga sukses, miss you !,
Dina pun mencium tangan Fahmi.
“Hati-hati juga ya pa ?!, ujar Dina lalu ia balas mencium pipi Fahmi, Fahmi pun segera masuk ke dalam mobil, mesin mobil pun mulai di hidupkan.
“Oh ya sebentar ma ?!”,ujar Fahmi sambil membuka salah satu sepatunya.
 “Nih ma, sepatu papa simpen ya ma ?!”, seraya memberikan sepatunya pada Dina,
Dina jadi tak mengerti,
 “ini buat apa pa ?”,
“ini kalo misalkan ada laki-laki lain yang godain mama, atau bersikap kurang ajar sama mama, getokin aja kepalanya pake sepatu ini ma”, Dina pun jadi tertawa,
“hihihi…. papa nih bisa aja”,
“ ya udah, papa pulang dulu ya ma, Assalamu’alaikum !”,
“ wa’alaikum salam, hati-hati pa”.
Malam itu Dina benar-benar bahagia, ia tak dapat memejamkan matanya, walau Fahmi belum menyatakan cintanya, paling tidak Dina sudah dapat merasakannya.
 “Tadi itu beneran apa mimpi ya?”, ujar Dina seraya menggigit bibirnya, ia pun terus memandangi foto Fahmi, begitupun Fahmi, ia sangat bahagia, ternyata cinta itu indah banget.
Esok paginya, Fahmi dan Dina sama-sama gelisah.
“Duh… telpon enggak ya? telpon? enggak? telpon?”, Fahmi ragu, begitu juga dengan Dina,
“mas Fahmi kok belum telpon-telpon sih? aku kangen banget nih, apa sebaiknya aku duluan aja ya yang telpon mas Fahmi?”.
 Ia pun coba menghubungi Fahmi, ternyata Fahmi juga menghubungi Dina, yang terdengar adalah nada sibuk, setelah lama pencat-pencet dan nada sibuk terus, keduanya pun menyerah, hingga ada sms masuk dari Fahmi berupa sebuah puisi untuk Dina.
“Walau aku benar-benar menyayangimu, aku merasa perlu untuk lebih mempelihatkannya padamu, karena ada begitu banyak hal dalam hubungan kita, kaulah angan yang ingin ku kejar, kaulah mimpi yang ingin ku peluk, bagai sang surya, kau warnai hari-hariku menjadi lebih indah dan penuh warna”.
  Selama di tinggal Dina, Fahmi benar-benar merasa kesepian, ia jadi tak betah di rumah, gak enak makan, gak semangat, hingga ia kelihatan jadi lebih kurus.
Beberapa hari kemudian Dina pun datang, sengaja ia tak memberitahu suaminya karena ia ingin memberi kejutan, kebetulan juga hari itu adalah hari ulang tahun Fahmi
“Assalamu’alaikum!”,
 “wa’alaikum salam”, ujar Fahmi seraya membukakan pintu, Fahmi pun jadi kaget.
“Loh, mama kok gak bilang-bilang dulu sih kalo mau pulang, kan bisa papa jemput, bukannya mama disana seharusnya 10 hari ?”,
 “maaf pa, mama Cuma pengen kasih kejutan sama papa, dan tadinya acaranya memang 10 hari, tapi di percepat jadi 7 hari”, Dina pun terkejut melihat kondisi Fahmi yang agak sedikit kurus, wajahnya yang dulu bersih kini kumis tipisnya  kelihatan jadi lebih banyak, brewokan lagi, tapi tipis-tipis gitu.
“Duh papa habis sakit ya ? kok kurus gini ? wajah papa juga jadi kelihatan sangar gitu”,
 “enggak kok ma, papa gak sakit, Cuma lagi sibuk aja, oh ya, selamat ya ma atas keberhasilan mama dapat gelar Bidan Teladan”, Fahmi memberikan selamat pada Dina.
“Terima kasih pa, oh ya, maaf mama hampir lupa , selamat ulang tahun ya pa, semoga panjang umur, sehat terus, lancar rejeki, makin rajin ibadah !”, ujar Dina seraya mencium pipi Fahmi, ia pun ngasih hadiah jam tangan baru buat Fahmi.
“Makasih banyak ya ma, kok repot-repot segala, lagian papa juga sempat lupa kalo hari ini adalah ulang tahun papa, ya udah kita istirahat yuk, mama juga pasti capek kan ?”, ujar Fahmi sambil merangkul istrinya.
               Malem harinya Fahmi ngajak Dina dinner diluar, doski ngajak Dina makan malam di salah satu resto ternama, ditambah lagi tatanan tempat duduk mereka yang udah dipesan khusus sama Fahmi tertata cukup apik dan suasananya cukup romantis, ada iringan musik juga
Fahmi pun ngegeser tempat duduk yang akan diduduki sama Dina
“ Silahkan tuan putri”
“ Duh Papa repot – repot amat sih pakek ngajakin mama ke tempat kayak gini?”
“ Gak apa – apalah ma, sekali – kali gitu, sekalian ngerayain keberhasilan mama”
“ Terima kasih banyak ya Pa “ Dina jadi terharu
“ Oh ya papa masih ada satu kejutan lagi special buat mama tentunya, sebentar yah Ma “
Fahmi beranjak pergi ninggalin Dina sendiri
“ Loh papa mau kemana pa?”
Fahmi terus saja berjalan menuju podium, doski hendak nyanyi rupanya
“ Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wa barokatuh,!”
“Wa’alaikum salaaaaam !” ujar para tamu yang lagi makan disitu,
“ Duuuh papa mau ngapain sih?” Dina penasaran ia juga ngerasa malu
“ Maaf jika saya mengganggu makan malam anda semua saat ini, tapi izinkanlah sya menyumbangkan sebuah lagu special untuk Istri saya tercinta dengan judul “Sepanjang Hidup”  milik Maher Zain! ucap Fahmi seraya menunjuk kearah Dina
Sorak sorai dan tepuk tangan orang – orang yang lagi hadir disitu pada gemuruh, kebetulan suasana lagi ramai juga, Dina pun jadi makin malu diliatin banyak orang,
Fahmi pun mulai menyanyi suaranya begitu merdu “
“ Aku bersyukur kau disini Kasih
Dikalbuku mengiringi dan padamu ingin ku sampaikan
Kaulah Cahaya Hati
Dulu ku palingkan diri dari cinta
Dan engkau hadir rubah segalanya Oh…..
Inilah janjiku kepadamu

                        Sepanjang hidup bersamamu
                        Kesetiaanku tulus untukmu
                        Higga akhir waktu
                        Kaulah Cintaku…….

                        Sepanjang hidup Seiring waktu
                        Aku bersyukur atas hadirmu
                        Kini dan selamanya
                        Aku milikmu
                        Yaqini hatiku

 Kau Anugerah Sang Mah Rohim
 Semoga Alloh Berkahi kita
 Kekasih penguat jiwa
 Ku berdoa kau dan aku di Jannah
Kutemukan kekuatanku disismu
Kau hadir sempurnakan seluruh hidupku ..oh …
Inilah janjiku kepadamu
                                                Bersamamu ku sadari inilah Cinta
                                                Tiada ragu dengarkanlah
                                                Kidung cintaku yang abadi

Dina benar – benar terharu mendengarnya
              Sepulang dari acara makan malam, Fahmi ngajak Dina menikmati indahnya malam purnama di pantai tempat mereka biasanya
Doski melingkarkan lengannya dipinggul Dina, supaya Dina gak ngerasa kedinginan
“ Ma, Alloh memang benar – benar Maha Kuasa ya Ma, semua yang Dia ciptakan begitu sempurna nan indah, begitu juga dengan pantai ini, Subchanalloh indahnya ya Ma “
“ Iya Papa bener, liat tuh Pa ombaknya begitu selaras bergemuruh, bener – bener indah ya Pa “
“ Mama juga cantiiik banget, indah juga”
“ Hmmmmm, mulai deh lebaynya”
“ Mama kok gitu sih Ma? Papa serius”
“ Masak sih? Mana buktinya?” goda Dina                                                                
“ Yah Mama, selalu aja gak percaya kalo dibilangin “ Fahmi jadi kesal, ia pun melepaskan pelukannya lalu beranjak meninggalkan Dina sendirian menuju mobil
“ Lhoh Pa? Papa mau kemana Pa? tungguin Mama Pa?” Dina pun mengejar Fahmi dan masuk ke dalam mobil juga
“ Hmmm… Papa ngambek ya?” goda Dina lagi
“ Apaan sih Ma?”
“ Papa, masak gitu aja ngambek?”
“ Siapa yang ngambek Ma, Ya abisnya Mama gak pernah percaya sih, Papa bukannya mau ngegombal Ma, tapi Papa Cuma pingin Mama tau kalo Papa…… “
Tiba – tiba Fahmi jadi terdiam seribu bahasa
“ Kalau apa Pa?”
“ Kalau Papa…..  Papa ingin Mama selalu ada didekat Papa “
Mendengar jawaban Fahmi Dina jadi tersenyum dan merebahkan kepalanya dibahu Fahmi
“ Mama juga gitu, Mama gak mau jauh – jauh dari Papa, maafin Mama ya Pa “
  Oh ya Ma kasih banyak ya Pa, atas kejutannya tadi, tapi Papa jadi bikin Mama jadi malu”
“ Lhoh kenapa malu? Mustinya Mama seneng “
“ Iya Mama seneng kok “ sahut Dina
Fahmi pun menatap Dina dengan begitu lekat, lagi – lagi Fahmi hendak mencium Dina pas semakin dekat, tiba – tiba ada sorot lampu yang mengejutkan mereka berdua, silau deh jadinya, terdengar kaca mobil diketuk oleh seseorang
“Permisi Mas tolong keluar sebentar ?!” pinta seseorang dari luar
Fahmi dan Dina pun segera turun dari mobil
“ Ada apa Pak?” Tanya Fahmi pada 2 orang bapak – bapak berpakaian kayak satpol PP gitu deh
“ Kalian berdua ngapain disni malam – malam begini?” Tanya seorang bpak dengan kumisnya yang lumayan tebal dan sangar
“ E… Kami …  “ belum selesai Fahmi menjawab
“ Bisa tunjukkin kartu identitas ?” pinta bapak yang satunya lagi
“ E… bisa pak “ jawab Fahmi dengan sedikit tersenyum
Fahmi dan Dina pun menunjukkan kartu identitas mereka, dan ternyata di KTP keduanya status mereka berdua tertulis Sudah Kawin
“ Kalian berdua suami istri atau bukan ?” Tanya bapak berkumis
“ iya pak kami berdua suami istri , ini foto pernikahan kami berdua pak ?” jawab Fahmi seraya menunjukkan salah satu foto pernikahan merka berdua yang sengaja fahmi jadikan wallpaper dihandphonenya , bapak yang berwajah sangar itupun ngecek foto yang ada dihape Fahmi
“ Oh iya, Maaf Mas, kami berdua disini memang selalu melakukan oprasi dan razia soalnya biasanya disini banyak muda – mudi yang suka berbuat mesum Mas, sekali lagi maaf ya Mas, sudah mengganggu acar Mas dan Mbak, silahkan dilanjutkan, permisi “ keduamya mohon pamit
Sedang Dina dan Fahmi mereka jadi bengong, hingga akhirnya mereka berdua kembali tertawa
  Suatu siang yang cerah Dina menemani Fahmi memeriksa pasin – pasien dirumah sakit diruangan kerjanya, tiba – tiba ada pasien wanita yang keliatannya masih gadis dan genit banget, gadis itu terus saja merayu Fahmi, Fahmi berusaha untuk melayani semua pertanyaannya dengan baik dan ramah, dan seperti biasa Dina pun merasa cemburu karena tidak sekali ini ia melihat suaminya digoda sama wanita – wanita, tapi Dina berusaha untuk menahannya, tapi kali ini keterlaluan banget gadis itu tidak saja mencoba merayu Fahmi tapi tanpa disangka ia nekat mencium pipi Fahmi yang lengah, dan gadis itu pergi begitu saja setelah apa yang ia  mau berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, melihat semua itu Dina semakin dibakar rasa cemburu
“ Papa apa – apaan sih?’
“ Ma, maaf Ma, Papa gak nyangka gadis itu jadi nekat kayak gitu ?” Fahmi pun ngerasa bersalah banget
“ Mestinya dari awal Papa udah tahu, kenapa Papa gak menghindar? Suka ya sama dia?” ujar Dina dengan nada agak tinggi
“ Ma, Mama jangan salah faham Ma “
Belum selesai Fahmi bicara Dina pun beranjak pergi dengan tergesa – gesa
“ Papa jahat, Mama benci Papa! “ ujar Dina seraya berlari kecil meninggalkan ruang kerja Fahmi
“ Ma, tunggu Ma!” Fahmi pun mengejar Dina, tapi karena diluar ruangan Fahmi masih banyak pasien ia pun mengurungkan niatnya untuk terus ngejar Dina , doski pun coba telfon istrinya, tapi handphone Dina malah gak aktif
Sore harinya setelah tugas kelar Fahmi pun segera pulang, ditemuinya Dina yang lagi duduk menyendiri ditaman
“ Assalamu’alaikum!” sapa Fahmi pelan
“Wa’alaikumsalam!” sahut Dina seraya mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya, Dina pun mencium tangan suaminya
“ Maafin Mama Pa, harusnya Mama gak bersikap seperti itu tadi” ujar Dina penuh rasa sesal, matanya terlihat sembab
“ Mama gak perlu minta maaf, karena Mama gak salah apa – apa, Papa ngerti gimana perasaan Mama, harusnya Papa yang minta maaf sama Mama, karena walau tanpa disengaja Papa udah nyakitin Mama, nyakitin perasaan Mama, Maafin Papa Ma?!” ujar Fahmi seraya mengusap air mata Dina yang kembali berderai
Dina pun merebahkan kepalanya dipelukan Fahmi
“ Mama Cuma takut kehilangan Papa, meski mungkin Papa gak pernah cinta sama Mama, tapi Mama udah terlanjur cinta dan sayang sama Papa “
“ Papa ngerti Ma, tapi bukan berarti Papa gak cinta ataupun gak sayang sama Mama, Papa Cuma butuh waktu untuk lebih ngeyakinin Mama, bahwa gak akan pernah ada wanita lain selain Mama dihati Papa, dihidup Papa, Papa Cuma mau Mama” tegas Fahmi
“ Terima kasih banyak Pa”
“ Ato gini aja deh buat nebus rasa cemburunya Mama dan rasa bersalahnya Papa, Mama boleh deh ciumin Papa sepuas hati Mama” goda Fahmi
“ Ih enak aja, dasar Papa genit!” balas Dina, mereka berduapun kembali tertawa ceria
“Lha kan Mama cemburu karena Papa dicium kan? Kalo gitu ya Mama cium Papa juga kan mestinya biar gak  cemburu lagi?”
“ Papa tuh nyebelin juga ya? Hmmm… enak aja, mestinya Papa tuh yang kasih ciuman buat Mama, yang salah kan Papa, sapa suruh udah tau orang genit masih aja dilayani”
“ Beneran nih Papa boleh kasih kiss buat Mama, Oke! Fahmi pun monyongin bibirnya, Dina pun jadi ketawa ngeliat Fahmi yang lucu
“ Lha kok malah ketawa sih, serius nih, ntar Papa glitikin lhoh ya?!” ancam Fahmi seraya ikutan tertawa. Dina masih saja terus tertawa, ia berlari ninggalin Fahmi, Fahmipun mengejar Dina
Sesampainya dikamar, mereka pun pada kelelahan setelah berkejar – kejaran kayak anak kecil
“ Mama tuh ya, aneh banget, giliran disuruh nyium Papa malah gak mau”
Dina masih saja cekikikan
“ Iya deh sini, dengan senang hati malah “
Dina pun mencium pipi Fahmi, “ Emmmuach!”
“ Udah lega kan?” Tanya Dina seraya tersenyum
Tanpa diduga oleh Dina Fahmi malah ngebalas  ngasih kiss di lips Dina dengan penuh kelembutan cinta
 “ Jangan pernah ragukan Papa ya Ma “
              Malem harinya Dina mimpi buruk, doski mimpi cerai sama Fahmi….
“ Astaghfirullohal ‘adziim Ya Alloh “ ucap Dina lirih,
Dina segera bangun dari mimpi buruknya, ditatapnya sang suami masih tidur dengan begitu pulasnya, doski menuju balcon depan kamarnya, merenung sendiri, mungkin kejadian tadi siang kebawa sampai mimpi, ia benar – benar takut bila harus berpisah dengan Fahmi, karena ia sangat mencintai Fahmi
Sementara Fahmi menyadari sang istri tidak ada lagi disisinya, doski pun turut bangun juga,
“ Ma….?! Mama ?! “ Fahmi memanggil – manggil dengan suara yang agak parau, Fahmi pun menyalakan lampu, dan mengamati jam dinding yang masih menunjukkan pukul 02.00 WIB dini hari, ia dapati sang istri sedang duduk – duduk merenung dikursi balcon
“ Ma?!” sapa Fahmi pelan, doski pun menghampiri sang istri
Rupanya Dina beruraian air mata
“ Mama kenapa lagi Ma?” Tanya Fahmi pelan
“ Papa, Mama gak apa – apa Pa, Mama Cuma mimpi buruk tadi “ sahut Dina seraya mengusap air matanya
“ Memangnya Mama mimpi apa?”
“ Mama …………., Mama mimpi cerai sama Papa “
Mendengar penyataan Dina Fahmi mengambil nafas dalam – dalam, doski ngerasa gak enak hati
“ Hhhhhhh…………….hhhmmmmm 
“ Ma, Mama dengerin  Papa ya, Papa tau Papa salah sama Mama, Papa udah nyakitin Mama, Papa udah gantungin Mama, tapi perlu Papa tegaskan, dan Mama juga harus yaqin bahwasanya Papa gak akan pernah ceraikan Mama, apapun yang terjadi, gak akan pernah ada kata pisah kata cerai dalm pernikahan kita kecuali maut yang memisahkan kita” tegas Fahmi
Mendengar pernyataan Fahmi Dina benar – benar terkejut
“ Beneran Pa?” Dina seakan tak percaya, Fahmi pun mengusap air mata Dina
“ Ma, Papa tau Papa udah kelewatan, Papa masih juga belum menyatakan rasa cinta Papa sama Mama, tapi perlu Mama ketahui dalam pernikahan dalam berumah tangga kita tidak hanya butuh rasa cinta, tapi bagaimana kita merasa nyaman, tenang, tentram, bahagia bersama seseorang, dan yang paling utama, nilai budi pekerti kita dan ibadah kita menjadi semakin baik dengan kehadiran seseorang, dan Papa merasa nyaman, merasa bahagia, tenang dan menjadi lebih baik dengan hadirnya Mama dalam kehidupan Papa, jadi apa mungkin Papa akan menceraikan Mama? Tidak Ma, Mama begitu berarti buat Papa “
“ Terima kasih Pa “ Dina merasa bahagia, ia kembali tersenyum ceria
Fahmi pun mendekap Dina
“ Mama jangan lagi merasa bahwa Papa akan menceraikan Mama, kata – kata Papa yang dulu itu, itu karena Papa takut Mama gak bahagia bersama Papa “
“ Pa, walaupun Papa masih belum bisa mencintai Mama, tapi Mama sudah sangat bahagia sekali bersama Papa, Mama cuma mau Papa yang jadi Imam Mama“
“ Terima kasih banyak Ma, Papa bener – bener bahagia bersama Mama “
Fahmi pun membelai lembut pipi Dina
“ Papa Cuma pingin bilang Mama adalah wanita sholichah yang Alloh titipkan Cuma buat Papa, semoga kita berjodoh tidak hanya didunia saja tapi juga di akhirat nanti “
“ Amiiin “ Dina meng-amini doa dan harapan Fahmi seraya memeluk Fahmi
“ Supaya Mama gak ragu lagi sama Papa, coba deh Mama tatap mata Papa?! “
Dina pun menatap mata Fahmi, tatapan mata Fahmi begitu tajam dan penuh keyakinan
“ Papa mohon sekali lagi sama Mama, jangan pernah ada sedikitpun terbersit dalam fikiran Mama kalo kita akan bercerai yach?!”
Dina pun menganggukkan kepalanya
“ Atau gini aj deh supaya Mama jadi lebih yakin lagi, kalo kemarin kita bersahabat gimana kalo sekarang kita pacaran, Mama mau kan jadi pacar Papa, ya maksud Papa istri sekaligus pacar ?” Fahmi kembali ngajak bercanda
“ Hmmm, ya pasti maulah Pa “ sambut Dina kembali ceria,
 “ Ya udah kita sholat yuk ?” ajak Fahmi
“ Ayuk Pa” Dina semangat kembali
Mereka pun melaksanakan sholat tahajjud bersama berharap agar rumah tangga mereka langgeng dunia akhirat.
            Keesokan harinya, Fahmi ngajak Dina dinner diluar
“ Oh ya sayang kita kan lagi pacaran nih, biasanya kan kalo orang pacaran ada acara kencan gitu, gimana kalo malam ini kita kencan?” goda Fahmi
“ Heheheh, baiklah Mama setuju “balas Dina dengan hati yang berbunga – bunga
“ Tapi biar Mama yang traktir trus Papa yang bayarin yah?” canda Dina
“ Hahaha Mama bisa ajah, oke apa sih yang enggak buat Mama “
Malem itu mereka dinner bersama, usai dinner Fahmi ngajak Dina menikmati sejuknya angin dipantai,  pas  lagi asyik – asyiknya tiba – tiba  hujan turun begitu derasnya,
“ waduh hujan nih pulang yuk Pa?!” ajak Dina
Mereka berdua pun segera berlari kecil menuju mobil, Fahmi memayungi Dina dengan jasnya, tapi hujan turun begitu derasnya, hingga baju mereka jadi basah kuyup
“ Pas sampai rumah Fahmi dan Dina segera mengeringkan diri dengan handuk, Pas Dina lagi ngelap rambutnya yang basah karena kehujanan, Fahmi begitu tertegun menatap kecantikan Dina dengan rambutnya yang basah semakin menambah keanggunan wajah Dina, Fahmi pun menghampiri Dina,
“ Mama “ panggil Fahmi dengan suara yang agak lirih
Fahmi semakin mendekat, Fahmi pun membelai pipi Dina yang masih agak basah karena air hujan, Dina seolah dapat memprediksi apa yang akan dilakukan Fahmi, doski pun memjamkan kedua matanya, dan Fahmi hendak mencium Dina
Pas semakin dekat, tiba – tiba ada sesuatu yang terasa jatuh dari jas Fahmi
“ Apa itu Pa?” Tanya Dina seraya melihat benda yang jatuh, rupanya benda yang jatuh tersebut adalah buku diary Dina yang sengaja dibawa oleh Fahmi
Fahmi pun terkejut, ia pun segera mengambil dan menyembunyikan diary tersebut
“ Eh…. E bukan apa – apa Ma”
“ Loh Pa? itu kan diary Mama, iiiihh…. Papa jahat balikin Pa?!” pinta Dina seraya merebut buku diary berwarna pink tersebut dari tangan Fahmi
“ Eh… e jangan Ma  jangan !” Fahmi pun berlari, sedang Dina ia terus mengejar Fahmi beruaha merebut buku diarynya,
“ Papa balikin !”
Tiba – tiba Fahmi terjatuh diranjang kakinya kesandung gitu deh….
 eh … eh… eh… Ooooo…oh “
“ Aduh !” Dina pun ikut terjatuh tepat diatas Fahmi, Dina menindih Fahmi, dan wajah mereka berdua kembali berdekatan, keduanya pun saling bertatap mata
“ Hehehe … , maafin Papa Ma, Papa udah lancang baca semua isi diary Mama,
tapi Papa sangat bahagia karena ternyata Mama sangat mencintai Papa “ ujar Fahmi lirih
Dina pun tersenyum dan merasa malu, ia pun segera bangkit dan duduk disisi Fahmi,  Fahmi pun turut bangkit dan duduk disisi Dina
“ Papa senang karna itu artinya mulai sekarang Papa juga gak perlu lagi ngerasa takut kehilangan Mama karena Mama saaaaaaaaaangat mencintai Papa “
“ Hmmmmm… Papa jadi keGR-an nih “ sanggah Dina
“ Loh kok gitu sih sayang? Ntar Papa cium loh ?!”ancam Fahmi
“ Coba aja kalo berani?” tantang Dina
Tanpa diduga Fahmi pun narik bahu Dina,
“ Ya Alloh “ pekik Dina
Dan Fahmi langsung mencium Dina, tak berapa lama kemudian Fahmi pun melepaskan ciumannya
“ Papa sangat bangga punya istri seperti Mama, dan Mama akan selalu dapat ciuman penuh rasa sayang dari Papa hanya untuk Mama “ ungkap Fahmi dan langsung beranjak pergi menuju kamar mandi, sedang Dina ia masih tercengang dan tak dapat berkata apa – apa, ketika Fahmi masih berada dikamar mandi Dina pun membuka  diarynya, ia dapati tulisan tangan Fahmi yang tertulis disana dengan tinta gold sebagai balasan akan ungkapan rasa hatinya beberapa waktu yang lalu
Dina : “ Sungguh aku merasa seperti  sedang bermimpi saat beberapa waktu yang lalu, menit – menit yang lalu laki – laki yang sangat ku cintai untuk pertama kalinya ia menciumku, apa arti semua ini? Ada apa dengan malam ini? Dan setelah malam ini? Akankah ia mulai mencintaiku seperti aku yang juga sangat mencintainya? Malam ini aku sangat bahgia sekali, Trima kasih ya Robb … kabulkanlah doa – doa hamba, jagalah suami hamba, disaat hamba tidak ada disampingnya seperti malam ini dan  juga esok. Amiiiin, Love you so much
Papa !”
Fahmi ; “ Papa juga saaaaaaaangat berbahagia karena Papa punya Mama, dan ciuman itu tidak hanya akan ada dimalam itu saja tapi disetiap hari – hari Mama, di setiap waktu Mama, karena Papa Sayang Mama  trima kasih Ma “
Ganti Fahmi yang tugas keluar kota, pas pulang, betapa terkejutnya Fahmi mendapati rumahnya berantakan, ada banyak orang dan beberapa polisi, ia juga mendapati kedua pembantunya pada meninggal kena tembak.
“ Bi Surti? pak Imam ?
“Innalillahi wa’innailaihi roji’un”, ucapnya. Fahmipun segera berlari ke kamarnya, betapa terkejutnya ia melihat Dina bersimbah darah, yah…. Dina juga turut meninggal dunia setelah di bunuh dan di perkosa oleh kelima orang perampok.
“Ma… Mama..?! jangan tinggalin Papa Ma, Mamaaaaaaaa……..!”teriak Fahmi,
Dina terkejut mendengar Fahmi teriak-teriak, ia pun segera membangunkan suaminya.
“Pa…? Papa bangun Pa?!”, Fahmipun bangun juga
“‘Ma Mama jangan tinggalin Papa Ma, Papa takut, Papa gak mau kehilangan Mama “ujar Fahmi langsung memeluk Dina”
“Papa mimpi buruk ya?” Tanya  Dina seraya mengusap keringat Fahmi yang bercucuran, dan betapa terkejutnya Dina
“Masya allah Pa? badan Papa panas banget, sebentar ya Mama ambilin obat. “
Dina pun menyuapi Fahmi lalu memberinya obat, sambil menyuapi Fahmi Dina menanyakan sesuatu hal yang selama ini begitu mengganjal dihati Dina, bagaimana tidak, selama menikah tidak pernah sekalipun Fahmi memerintah atopun menyuruh – nyruh Dina, minta bantuan Dina, kalopun Fahmi butuh sesuatu semua pasti ia kerjakan sendiri
“ Pa, Mama boleh Tanya sesuatu gak? Tapi PaSpa jangan marah ya?” pinta Dina
“ Papa gak mungkin bisa marah sama Mama, emangnya Papa pernah marah – marah sama Mama ?”
“ Gak pernah sama sekali Pa”
“ Memangnya Mama mau tanya apa?”
“ Kenapa sih Papa gak pernah sekalipun nyuruh – nyuruh Mama, maksudnya minta bantuan apa gitu sama Mama, misalnya kalo Papa lagi pingin ato butuh sesuatu trus Papa minta bantuan Mama, misalnya minta bikini kopi atau apalah, Mama sampai kepingin banget diminta bantuan sama Papa ?”
“ Oh itu, Maafin Papa ya Ma, Papa Cuma takut aja, bukannya Papa gak mau Papa juga kepingin banget, tapi pekerjaan Mama dirumah ini kan udah ribet banget, masak, nganterin makanan Papa kerumah sakit, meski Papa gak pernah minta Mama buat ngelakuin hal itu, belum lagi Mama juga musti kuliah, kerja juga, Papa takut kalo – kalo Mama lagi capek, trus kalo Mama capek ntar kan Mama jadi terpaksa bantuin Papa, nah kalo Mama terpaksa Mama kan ntar jadi berdosa juga, nah Papa gak mau seperti itu Ma “
Betapa terkejutnya Dina mendengar penjelasan Fahmi, ia ngerasa bersalah, dan benar – benar terharu
“ Ya Alloh begitu mulyanya hati Mas Fahmi, sampai sebegitunya ia memikirkanku”
“ Gak seperti itu Pa, justru Mama akan lebih senang lagi, karena udah kewajiban Mama sebagai istri Papa buat melayani Papa dengan sebaik – baiknya “
“ Istri itu bukan pembantu Ma, tapi istri itu adalah teman hidup, teman untuk diajak beribadah mendekatkan diri kepada Alloh, teman untuk dunia akhirat, ya udah kalo emang maunya Mama kayak gitu, Insya Alloh lain kali kalo Papa butuh sesuatu Papa minta ditemenin sama Mama, kita bikin bareng – bareng ya”
“ Nah gitu donk Pa “
Dina menemani Fahmi sampai Fahmi tertidur kembali. Setelah Fahmi tidur, Dina hendak membereskan piring bekas makanan Fahmi, sebelumnya ia sempat mencium kening suaminya itu, pas Dina pergi, suaminya bangun, rupanya ia pura-pura tidur.
 “Yess ! yess ! yess!”, ujar Fahmi seraya jingkrak-jingkrak di atas ranjang,
 mendengar seperti ada suara gaduh, Dina kembali lagi ke kamar, tau Dina balik lagi, Fahmi kembali pura-pura tidur, betapa terkejutnya Dina melihat gaya tidur Fahmi yang aneh, di tambah lagi ranjang jadi berantakan.
 “Aneh..!”, ujar Dina lirih.
              Hari ini dirumah Dina lagi ada acara hajatan lagi, yaitu pernikahan adik Dina yang bernama Nina, suasana dirumah Ibu pun begitu ramai, pada sibuk gitu deh….
Malam harinya acara resepsi pun digelar, Fahmi dan kaka iparnya sengaja berangkat terlebih dahulu ke hotel dimana acara resepsi digelar, buat ngecek segala persiapan disana, sementara Dina masih berdandan ria, pas lagi dandan tiba – tiba Kak Vina menghampiri Dina
“ Duh adek mbak ini tambah cantik aja rupanya ?” puji mbak Vina
“ Terima kasih mbak Vina juga tambah cantik “ balas Dina
“ Kamu gimana dek belum hamil juga?” Tanya mbak Vina
Mendengar pertanyaan Mbak Vina Dina agak gelagapan namun ia berusaha untuk tetap santai
“ Hmmmm, belum mau mbak masih pingin berduaan dulu “
“ Hmmmm…. Gitu yah, tapi kalo menurut mbak sih Mas Fahmimu itu kayaknya orangnya gak begitu agresif ya, nah sekali – kali kita sebagai perempuan harus lebih agresif juga dek, mestinya kamu bisa lebih agresif sama dia, biasanya juga laki – laki itu suka gelagapan kalo liat kta tampil beda, coba deh kamu rubah juga gaya dandananmu biar lebih nampak lagi jangan yang minimalis – minimais  mlulu “ mbak Vina ngasih saran
“ Masak sih mbak?’
“ He’eh coba aja dulu liat ntar hasilnya gimana, kalo emang Mas Fahminya gak suka ya pakek yang seperti biasanya aja “
“ Trus Dina musti gimana Mbak?”
“ Gini coba yang gampang aja dulu, kamu kan biasa pakek lipstick warna – warna pink gitu senada sama warna bibirmu, coba pakek lipstick yang warnanya agak lebih keliatan merah sediit, trus begini …. bla … bla …. bla “ saran Mbak Vina
“ Ya udah deh Dina coba dulu deh Mbak, makasih ya atas sarannya “
“ sama – sama dek “
             Pas acara resepsi dimulai Fahmi agak gelisah karena Dina istrinya belum juga datang,
“ Duh Mama mana ya kok tumben lama ?”
Sementara tamu – tamu undangan udah pada datang, pas Fahmi lagi sibuk menjamu para tamu undangan yang hadir, tampak Dina sedang berjalan begitu anggunya dengan tampilan berbeda dan makin cantik saja, Fahmi semakin kagum, ia seakan tak percaya melihat penampilan Dina malam itu, ia tampak berbeda dengan gaun silver kerlap kerlip  model abaya dipadu dengan jilbabnya, Dina mengumbar senyumnya menjamu teman – teman sejawatnya yang turut ia undang
“ Assalamu’alaikum Papa “ sapa Dina dengan suara yang penuh kelembutan
Fahmi masih juga tercengang
“ Hellow, Papa “
“ Oh …. Eh ….wa… wa’alaikumsalam Ma !”Fahmi mendadak jadi nervous deket Dina
“ Udah lama nunggunya Pa? maaf ya Mama telat “
“ E…… e…. i… iya gak apa – apa Ma”
Suasana semakin ramai, Fahmi terus saja memandangi Dina dari kejauhan, Dina pun dapat merasakannya ia pun balas tersenyum untuk sang suami tercinta.
Pas ramah tamah, Dina yang lagi mencicipi pudink, dihampiri oleh Fahmi
“ Malam ini Mama cantik banget “ bisik Fahmi, mendengar itu Dina hanya tersenyum
Seusai acara Fahmi dan Dina sengaja pingin nginap di hotel tempat acara resepsi digelar bersama sang pengantin yang juga menginap disana, pas sampai dikamar hotel ……..
“ Mama mau ambil wudhu’ dulu Pa “
“ Ya Ma “ sahut Fahmi singkat, tiba – tiba saja……
“ Eh jangan dulu donk Ma ?”
“ Ada apa Pa?”
“ Ntar dulu ajah, kita main – main dulu yuk?! Papa punya satu permainan baru nih “ ajak Fahmi
“ Oke, emangnya ada permainan apa Pa?”
Rupanya Fahmi sudah menyiapkan semuanya
“ Gini kita main tebak – tebakan, nanti salah satu dari kita yang kalah matanya ditutup trus nebak – nebak rasa makanan yang dimakannya,”
“ Oke siapa takut “ tantang Dina
  Mereka berduapun mulai tebak – tebakan tentang ilmu pengetahuan dan ternyata Dina lupa pada salah satu pertanyaan Fahmi, Dina kalah Fahmi pun menutup kedua matanya dengan sapu tangan
“ Awas jangan curang ya Pa !” ancam Dina
“ Tenang aja sayang “
Mula – mula Fahmi menyuapkan sesendok brownies ke mulut Dina, pudink, coklat, anggur merah, semua bisa ditebak sama Dina, sampai – sampai Fahmi usil juga ia menyuapkan sebuah cabai rawit kecil, Dina pun jadi kepedesan, sementara Fahmi ia malah cekikikan,
“ Ssssshhh…….., Ih Papa curang!” rengek Dina seraya membuka penutup matanya
“ Hahahaha …… iya deh sorry Ma, eh jangan dibuka dulu donk penutupnya kan Papa belum selesai ?” protes Fahmi
“ Awas kalo curang lagi “
Fahmi pun lanjut menyuapkan es krim vanilla ke mulut mungil Dina, dan semua masih juga bisa ditebak, lalu…
“ Terakhir nih, coba tebak, kalo yang ini apa hayo…?”
Rupanya Fahmi malah ngasih kiss di lips Dina
Dina pun kembali membuka penutup matanya, ia terkejut
“ Papa curang lagi ya?” protes Dina pelan, sementara Fahmi Cuma senyum aja
“ Hmmm….. mungkin kali ini memang harus aku dulu yang memulainya seperti kata Mbak Vina tadi “ Dina berkata dalam hati, kali ini doski Nampak agak sedikit agresif, ganti Dina yang mendekati Fahmi, Fahmi pun tak dapat menghindari, Dina lantas membalas ciuman Fahmi, mereka pun kembali berciuman meletupkan segala rasa rindu dihati.
Beberapa saat kemudian Dina pun melepaskan ciumannya
“ Thank you sayang” ucap Fahmi penuh manja
“ Oh ya sayang, kita ngedance yuk?!” ajak Fahmi
“ Apa? Maksud Papa dansa gitu?”
“ Yup betul sekali sayang”
“ tapi Mama gak bisa dansa Pa”
“ tenang ntar Papa ajarin ato kita putar videonya ajah biar bisa kita ikuti gerakannya “
“ terserah Papa aj deh “
Fahmi pun mulai memutar kaset DVD miliknya Nancy Ajram artis favoritnya, doski muter lagu “Wana Bin Eidik” miliknya Nancy Ajram, divideo itu Nancy lagi asyik berdansa sama suaminya, Dina dan Fahmi pun berdansa mengikuti gerakan – gerakannya gitu, muter – muter gitu deh
“ Udah dulu lah Pa Mama capek “ pinta Dina, ia pun merebahkan diri disofa
“ Oh ya Papa hampir aja lupa, tadi pas acara ada dr. Daniel, dia ngasih Papa CD gitu deh katanya sih film bagus gitu, kita nonton yuk?!”
“ Ya udah Mama juga penasaran nih film apa?”
Fahmi pun muter CDnya, pas diplay ternyata isinya adegan porno gitu deh
“ Astaghfirulloh “ ucap Dina sembari segera mematikan tv-nya, sedang Fahmi tiba – tiba doski mendadak pusing dan mual – mual gitu
“ Pa, Papa gak apa – apa kan? Tanya Dina cemas
Sedang Fahmi ia terus saja mual, dan buru – buru kekamar mandi, doski muntah – muntah, badannya juga panas banget, ternyata Fahmi alergi banget sama hal – hal yang berbau pornografi kayak gitu,
Dina pun langsung membopong Fahmi menuju tempat tidur, ia juga ngasih Fahmi obat, sebagai pertolongan pertama, doski juga ngurapin badan Fahmi pakek minyak kayu putih, bau minyak kayu putih pun tercium begitu menyengat dari tubuh Fahmi, jadi kayak bayi gitu
“ Duh Papa kenapa bisa jadi kayak gini? Tau gitu tadi gak usah diputerin filmnya, lagian ngapain juga sih dr. Daniel pakek acara ngasih film kayak gituan sih, kalo udah kayak gini ribet kan jadinya “ Dina mulai ngomel,
“ Udah gak apa – apa kok Ma, Papa gak apa – apa, Mama gak usah cemas gitu, sekarang mendingan Mama kerokin badan Papa ajah ya? Biar Papa gak masuk angin lagi “
“ Baik Pa” Dina pun mulai ngerokin punggung Fahmi
“ Papa tuh alergi dan gak boleh liat film semacam itu, jijik Ma, dulu juga pernah waktu masih kuliah ada yang ngasih Papa film kayak gitu juga efeknya hampir 15 hari Papa dirawat dirumah sakit gara – gara itu “ Fahmi berkisah
Mendengar cerita Fahmi Dina malah cekikikan …
“ Hihihi….. Papa lucu juga ya?” hehehehe ….”
“ Mama, kok Papa malah diketawain sih?”
“ Ya bukannya gitu Papa, biasanya kan kebanyakan cowok – cowok itu kan sukanya nyimpen bahkan sampai mengkoleksi barang – barang yang berbau pornografi kayak gitu, ini Papa malah alergi “
“ Tapi lebih baik kayak gini kan Ma, lagian film kayak gitu juga malah ngajak kita ke neraka, iya kan?”
“ Iya sih, Papa bener, bener banget “
{“ Ato jangan – jangan Mama dulu pernah liat film kayak gitu ya?” goda Fahmi
“ Ih … Papa sembarangan aja, Na’udzu billahi min dzalik Pa, ya emang sih dulu sering juga temen – temen mau ngasih liat film – film porno gitu sama Mama, tapi Mama tolak mentah – mentah, karena Mama gak mau masuk neraka seperti yang tadi Papa bilang “
“ Kalo begitu sehati donk kita “
Ujian skripsi Dina telah tiba, pertanyaan demi pertanyaan ia jawab dengan tepat, ia pun lulus dengan nilai terbaik, pas keluar dari ruangan, Dina yang ngeliat Fahmi yang emang sengaja nemenin dia langsung meluk Fahmi begitu eratnya, seolah tak peduli kalo di tempat itu temen-temennya pada kumpul,
“mama lulus pa, Alhamdulillah mama juga dapet nilai A”,
“ selamat ya ma”, sambut Fahmi .
“Ehem…. ehem….”, mendengar temannya pada ngeledekin, Dina pun segera melepaskan pelukannya.
“Selamat ya Din”, ucap kawan-kawannya.
Sepulang dari kampus, Fahmi mengajak Dina jalan-jalan, happy-happy.
“Oh ya ma, biasanya kalo orang pacaran itu ngapain aja”, Tanya Fahmi.
“biasanya sih ya…ngasih banyak hal, contohnya bunga gitu”,
tiba-tiba Fahmi ngasih serangkaian bunga mawar merah yang indah banget nan harum.
 “nih buat mama”,
“wah… makasih banget ya pa, tapi papa dapet dari mana kok cepet banget ?”,
“nyuri di taman deket kampus mama”,
“hah ? papa nyuri ? tega banget sih pa, jadi papa ngasih mama bunga hasil
curian ?”,
 “hahaha…… ih mama, ya enggak lah ma, mana mungkin papa ngelakuin itu ‘
“ huh papa tuh… ada-ada aja, tapi bunganya bagus lo pa”.
Acara wisuda juga telah di gelar, Dina pun dapat gelar terbaik, ia juga dapat beasiswa buta ngelanjutin S2-nya.
 Malam harinya Fahmi dan Dina menghadiri acara resepsi pernikahan Doni.
 “Selamat ya Don, semoga bahagia dunia akherat “do’a Dina.
“Makasih ya Din loe mau dating ke acara gue, selamat juga yak arena elo udah berhasil jadi yang terbaik”,
“makasih Don”.
Fahmi pun lagi-lagi dibuat cemburu, pas pulang,
 “apaan sih ma, pake sok akrab gitu sama Doni ?”,
Dina pun jadi tertawa,
“papa cemburu ya ?”,
“apaan sih ?
“ntar papa gigit loh ?! ancam Fahmi seraya tertawa,
“mau dong “, balas Dina.
Tiba-tiba Fahmi menghentikan mobilnya di jalanan yang sepi,
 “ loh, kenapa berhenti pa ?”,
“ma, di belakang , papa bawain baju buat mama, ganti gih ?!”, perintah Fahmi,
Dina pun mengambil sebuah tas di jok belakang,
 “ terus mama ganti dimana pa ?”,
“ ya disini aja ma, ganti gih ?!”,
 “terus papa?”,
“papa kenapa, ya papa disini aja ma”,
“tapi papa kan cowok ?”,
“ya udah dari dulu kali, kenapa ? udah ganti aja, lagi papa kan suami mama ? papa gak mungkin liat kok !”,
“tapi mama kan malu pa ?, pokoknya papa keluar !”, perintah Dina,
“iya deh sorry….”, Fahmipun keluar dari mobil,
“jangan ngintip loh ?!”, ancam Dina lagi.
15 menit kemudian Dina keluar dari mobil dengan memakai baju sutra berwarna hitam yang ada kelap-kelipnya di padu dengan jilbabnya dan mexinya pula serta dandananyang begitu cantik karena Fahmi juga ngebawain make up, Fahmi makin kagum.
“Ma ? ini beneran mama ?”,
“ya iyalah pa, emang siapa lagi ?”,
 “ya enggak, soalnya ini tempat sepi, takutnya ada bidadari masuk mobil papa”, canda Fahmi.
“Mama bener-bener cantik, mau bilang I love you kayaknya udah telat juga”,
 “maksud papa?”,
“mama cantiiiik sekali mala mini”.
Pas nyampe depan rumah, Fahmi ngebukain pintu mobil,
“selamat datang tuan putri”,
Dina pun turun dari mobil,
“eh sebentar Ma, maaf ya Papa tutupin mata Mama dulu”,
 “ ada apaan sih Pa ?”,
“ surprise lah !”,
Fahmipun menutup mata Dina dengan kedua sapu tangannya, ia pun menuntun Dina masuk kedalam rumah.
 Lamaaaaa….. sekali rasanya, tak lama kemudian Fahmi membuka tutup mata Dina, dan betapa terkejutnya Dina melihat rumah yang begitu indah, dihiasi bunga-bunga, ada lilin kecil yang menghiasi tangga menuju ke kamar mereka dan juga permadani, tampak Fahmi juga mengenakan jas sewaktu mereka menikah dulu.
 “Papa… indah sekali pa ?”,
“ ini semua buat mama, selamat ulang tahun ya Ma”, ternyata hari ini adalah hari ulang tahun Dina,
 “Masya Allah, Mama sempet lupa Pa, makasih banyak ya Pa”,
“ya udah, kita kekamar yuk, Papa masih punya kejutan lain Ma !”, pas Dina mau jalan.
“Eit… sebentar Ma, biar papa gendong ya, biar Mama gak capek”, Fahmipun menggendong Dina.
“Wah… ternyata Mama berat juga ya”,
“ih dasar !”, ujar Dina seraya mencubit hidung Fahmi yang mancung, mereka berdua pada tertawa.
Pas sampai di depan kamar, Fahmi menurunkan Dina, ternyata kamar mereka juga di hias persis seperti riasan kamar pengantin mereka dulu.
 “Ini semua apa maksudnya Pa?”, Tanya Dina tak mengerti,
“duduk dulu Ma”,
mereka berdua pun duduk di tepi ranjang yang di hiasi bunga-bunga, suasananya begitu romantic, harum semerbak dimana-mana.
“Maafin Papa Ma, karena papa udah bikin Mama menunggu saat-saat seperti ini begitu lama, Papa sadar Papa mulai jatuh hati sama Mama sejak beberapa waktu yang lalu, tapi waktu itu Papa masih ragu apakah ini yang di namakan cinta dan sekarang papa betul-betul sadar, bahwa Papa gak mau kehilangan Mama, Mama adalah anugerah terindah dari Allah buat Papa, Papa sayang sama Mama, Papa cinta sama Mama”,
Dina pun jadi terharu mendengarnya. Ia menitikkan air matanya seakan tak percaya.
“Ini beneran kan Pa? Papa gak bohong kan?”,
 “Ma, Papa cinta sama Mama, Papa Cuma mau menikah sekali seumur hidup, Papa Cuma mau Mama yang jadi istri Papa, I love you Ma !”, ucap Fahmi agak lirih,
 “I love you too Pa !”, ujar Dina  seraya memeluk Fahmi.
 “Terima kasih ya Allah, akhirnya Engkau kabulkan do’a-do’a hamba”, Fahmi melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata Dina,
“Mama jangan nangis lagi ya? Papa gak suka liat Mama nagis, yang penting sekarang  Papa akan selalu ada di samping Mama sampai maut memisahkan kita”,
Dina pun tersenyum mendengarnya,
“kita sholat sunnah yuk Pa, Mama pengen bersyukur sama Allah atas semua ini, yuk?!”.
“Ayo Ma!”,
mereka pun sholat bersama.
Seusai sholat, mereka kembali duduk di tepi ranjang, saling melirik, lamaaaaa sekali, mereka terdiam, rasanya persis seperti saat-saat malam pertama, lalu…….
”Assalamu’alaikum !”, sapa Fahmi,
“Waalaikumsalam!”,
“oh ya, anggur ini manis sekali loh ma, cobain deh !”, ujar Fahmi seraya menyuapkan buah anggur merah.
“Manisnya sama seperti Papa”, ucap Dina,
 “terima kasih Ma !”, setelah itu mereka kembali terdiam.
 “Ma,papa boleh gak buka jilbab Mama ?”,
Dina hanya menganggukkan kepalanya, dengan perasaan yang berdebar-debar, Fahmi pun membuka jilbab Dina secara perlahan dan terurailah rambut panjang Dina yang begitu harum dan lembut, Fahmi pun membelainya.
“ Oh ya Papa masih ada surprise lagi buat Mama, ikut yuk?!” ajak Fahmi
Nyatanya Fahmi ngajak Dina ke tepi kolam renang yang sudah ia hias sedemikian rupa, ditengah – tengah kolam ada bunga dan lilin – lilin kecil yang menghias bertuliskan FAHMI LOVE DINA FOREVER, Dina benar – benar terharu melihatnya
“ Manis sekali Pa “
“ Ini semua buat Mama “ ujar Fahmi seraya memeluk Dina
“ Terima kasih banyak Pa “
“ Kalo boleh tahu sejak kapan sih pastinya Mama jatuh hati sama Papa ?”
“ Pastinya sih Mama lupa, tapi yang jelas sejak Papa melamar Mama, sejak itu Mama udah ngerasa sayang sama Papa, nah kalo Papa ?
“ Pastinya sih sejaaaaaaak Mama ada disamping Papa “
“ Ih Papa curang, kenapa gak bilang dari dulu?”
“ Ya Papa takut Ma, Papa takut aja kalo perasaan itu ternyata bukan cinta tapi hanya hasrat semata, hasrat dengan cinta kan beda sayang?”
“ Iya Papa betul, Mama juga salut sama Papa, hampir setahun kita nikah tapi Papa gak pernah maksain Mama buat ngelakuin kewajiban Papa, padahal kan biasanya cowok itu paling gak tahan kalo liat cewek cantik ?” komentar Dina
“ Hehehehe, Mama bisa aja, ya Papa gak mau ngelakuin hal itu karna hasrat semata, Cinta kan tidak harus berarti ataupun berujung kesana, yang penting kan bagaimana kita bisa membuat pasangan kita merasa nyaman dan tenang disamping kita, aman dan bahagia “
“ Oh gitu ya Pa ?
‘ Iya donk, tapiiiiii, kalo misalnya sekarang Papa udah gak bisa nahan gimana ?” bisik Fahmi ditelinga Dina
Mendengar itu Dina hanya tersenyum saj, ia pun melepaskan pelukan Fahmi dan langsug berlari menuju ke kamar, Fahmi pun mengejarnya, sesampainya di kamar, mereka kembali duduk – duduk di tepi ranjang , lamaaaaaaa sekali mereka berdua saling terdiam hingga akhirnya …..
“Ma, papa boleh… menc….”,
belum selesai Fahmi berkata Dina menutup bibir Fahmi yang merah dengan jari telunjuknya, gadis cantik itu kembali menganggukkan kepalanya, Fahmi pun tersenyum bahagia, ia pun mulai mencium kening Dina
“ Ini adalah ungkapan terima kasih Papa, karena Mama udah begitu setianya menunggu Papa “
Selanjutnya Fahmi mencium kedua pipi Dina kanan dan kiri
“ Ini sebagai ungkapan terima kasih Papa karena Mama udah mau temani Papa dalam keadaan suka maupun duka “
Selanjutnya Fahmi mencium hidung Dina
“ Ini sebagai ungkapan terima kasih Papa karena Mama udah begitu perhatiannya sama Papa “
Fahmi pun mencium dagu Dina
“ Ini adalah ungkapan sayang Papa sama Mama , dan sebagai ungkapan cinta Papa sama Mama …… “
Fahmi pun mencium bibir Dina, mereka berdua pun kembali berpagutan setelah sama – sama mengucap basmalah.
  Malam itu mereka habiskan waktu untuk menikmati indahnya cinta, bertasbih atas karunia Allah, tak terasa Dina sempat menitikkan air matanya saat ia sudah harus melepaskan apa yang selama ini ia jaga, memasrahkan dirinya untuk suami tercinta sebagai ibadah.
Pagi hari menjelang shubuh pas Dina lagi mau mandi, tiba-tiba Fahmi masuk ke kamar mandi.
 “Papa ngapain sih pa?”, ujar Dina terkejut,
doski saat itu lagi mau ngelepasin pakaiannya.
“Mandiin papa dong ma?”, canda Fahmi,
Dina pun tertawa,
“oh… ya, makasih banyak ya Ma yang semalem”,
“Emm… mau lagi dong Pa?!”, goda Dina,
tiba-tiba Fahmi memegang perutnya,
“aduuh!!”
“kenapa Pa? pengen pipis lagi?”,
 “ih Mama segitunya sih ?”,
mereka berdua pun kembali tertawa.
“Emm….. Mama beneran mau lagi ?”, bisik Fahmi.
“ Udah ah Pa, Mama mau mandi dulu, Papa keluar dulu donk?! Gantian mandinya “ pinta Dina
“ Oke Boss” sahut Fahmi seraya segera pergi meninggalkan Dina
              Pagi harinya Fahmi muter – muter didepan kaca, doski lagi ngeliatain ada tanda cupang merah dilehernya
“ Ada apa Pa?” Tanya Dina
“ Ini Ma, lagi liatin stempel merah dileher Papa “ canda Fahmi
Dina jadi malu,
“ Itu sih mending Cuma satu Pa, nah Mama, nih ….? Sambut Dina seraya memperlihatakan ada begitu tanda cupang dilehernya
“ Oh iya, hehehehe “ ujar Fahmi seraya menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.
“ Hari ini Papa pingin jalan – jalan berdua sama Mama, kita pergi yuuuk?!” ajak Fahmi
Hari itu Fahmi ngajak Dina jalan – jalan kesuatu tempat yang begitu indah mereka berdua happy – happy disana, jadi kayak pengantin baru yang berbulan madu gitu deh..
1 bulan telah berlalu, di suatu pagi……..
“Pa, mama ada kejutan buat papa ‘ujar Dina pas sarapan
“kejutan apa sayang?”
 “ Ada aja, nih ?! ujar Dina seraya menyerahkan sesuatu
 “apa ini ma?
 sedang Dina Cuma senyum aja,
Fahmi pun membuka bungkusan tersebut ternyata tes kehamilan yang bertanda positif.
“Ma…. mama hamil? Tanya Fahmi sambil membelalakkan matanya, ia tak percaya.
“Iya pa, mama hamil “ jelas Dina bahagia
“bener Ma? Tapi Ma… apa ini gak salah? “
“Maksud papa?” Dina terkejut dengan kata-kata Fahmi
“ya waktu itu kan papa Cuma nyoba doang ! goda Fahmi
“iih papa jahat banget sih? emang Mama bahan percobaan apa? “
Fahmi tertawa
 ‘haha.. ha… maaf ya Ma, Papa Cuma bercanda, maafin Papa ya Ma, Papa bahagia banget Ma! “
ia pun menggendong Dina lalu muter – muter
“pelan-pelan, ntar Mama jatuh lagi”
 “oh iya sorry Papa lupa “
“Papa berangkat dulu ya Ma? jaga si kecil baik-baik Assalamualaikum!... “
“Waalaikumsalam, hati-hati Pa! “
pas Dina masuk kedalam rumah, tiba-tiba terlihat mobil Fahmi balik lagi,
“ loh itu kan Papa, Dina membuka pintu
 “ada apa?” ada yang ketinggalan? Tanya Dina
“iya Ma, Papa lupa gak nyium Mama “goda Fahmi…
mereka tertawa bersama.

BERSAMBUNG …..

1 komentar:

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.